Asmi’

Manusia adalah makhluk tidak sempurna. Oleh karenanya, Allah membuatnya berpasang-pasangan. Pada tingkatan yang lebih tinggi, untuk menutupi lubang-lubang jiwa yang bernama kekurangan itu, Allah membentuk umat manusia dalam suku-suku dan bangsa. Maksudnya agar manusia bisa menutupi ketidak- sempurnaan itu dengan saling bekerjasama.

Allah berfirman; ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat:13)

Dalam bahasa lain, sering para tetua memberikan perumpamaan manusia laksana burung bersayap sebelah. Jika mau bisa terbang tinggi harus mau bergandengan satu dengan yang lain. Tanpa itu mustahil. Akhirnya terbentuklah konsep bermasyarakat. Sejak awal dibentuk, konsep masyarakat diniatkan untuk menutupi lubang-lubang jiwa ini. Sebagian urusan manusiawi memang ditutupi oleh keberadaan masyarakat, tapi sulit dihindari bahwa masyarakat juga menciptakan lubang baru dalam jiwa manusia. Sebut saja keberadaan barang-barang konsumtif yang berlimpah. Di satu sisi, ia memang menutupi lubang keinginan. Di lain sisi, ia menciptakan lubang-lubang keinginan baru yang cenderung lebih besar. Hal ini terjadi karena kebanyakan manusia mencari penutup lubang-lubang jiwa kekurangannya keluar, bukan ke dalam.

Fitrah inilah yang kemudian dijawab oleh Allah dengan konsep ibadah secara berjamaah, yang tidak mengenal suku, bangsa dan negara. Asal bisa menutupi ketidak-sempurnaan, menutupi jiwa-jiwa yang berlubang, menutupi kekurangan dan memenuhi kebutuhan, itulah yang dicari oleh setiap diri. Cirinya berorientasi ke dalam bukan keluar. Islam menawarkan lebih dari itu.

Belajar dari perjalanan masyarakat di negara maju, di mana keinginan demikian kencangnya dipenuhi, kecenderungannya tidak makin sehat. Di Jepang dan Korea di mana masyarakatnya demikian kompetitif, angka bunuh diri naik terus. Meminjam penemuan Mary Pipher dalam The Shelter of Each Other, di tahun 1990 72% warga Amerika Serikat tidak mengenal tetangganya. Eropa pasca krisis keuangan membuka banyak rahasia, keinginan bila dipenuhi terus akan bernasib seperti memadamkan api dengan bensin. Sebagai akibatnya, masyarakat manusia bergerak dari satu lubang ke lubang lainnya. Dan belum ada tanda-tanda kapan lubang-lubang keinginan ini akan sepenuhnya bisa ditutup, selama orientasinya keluar.

Setiap sahabat yang menghabiskan waktu lama menolong orang-orang dengan gangguan kejiwaan mengerti, apa yang mereka paling butuhkan untuk menutupi lubang jiwanya adalah seseorang yang bisa mendengarkan.

Kristina Nobel yang menghabiskan masa kecilnya di Inggris Utara secara sangat menyedihkan pernah bercerita: “Apa yang kami butuhkan tatkala mengalami luka jiwa yang demikian mendalam adalah satu orang yang mau mendengarkan”. Oleh karena itu, Kristina setelah berhasil, kemudian menghabiskan banyak waktu di Vietnam mendengarkan banyak sekali korban perang di sana. Sedihnya, kemajuan ekonomi, pengetahuan, teknologi di mana-mana membuat semakin langkanya manusia yang maumenyediakan dirinya mendengar orang lain.

Dulunya, tatkala banyak wanita jadi ibu rumahtangga, ada seseorang yang menyediakan diri untuk mendengar di rumah. Sekarang, jangankan di rumah, di sekolah, di kantor, bahkan dalam kelompok spiritual dan religius pun sedikit manusia yang mau mendengar. Semuanya hanya mau didengar. Sebagai hasilnya, di mana-mana hadir jiwa yang haus, dahaga dan kering.

Sebagaimana dialami banyak penyembuh, percakapan adalah sebentuk pertukaran energi. Lebih-lebih bila dalam percakapan ini ada yang menyediakan diri untuk mendengar. Hasilnya, mendengarkan itu menyembuhkan. Ia tidak saja menyembuhkan yang didengarkan, juga menyembuhkan yang mendengar. Yang didengarkan sembuh karena merasa sampah-sampah jiwanya keluar.Yang mendengarkan sembuh karena merasa hidupnya bermakna dan berguna.

Dan inilah makna lain dari asmi’ yang sering kita dengar. Dengan sedikit jembatan pemahaman ini, akhirnya kita tahu bahwa rahmat itu benar-benar ada. Dengan mendengarkan berarti menyembuhkan, maka dengarkanlah, asmi’.

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s