Kongres Umat Islam untuk Bangun Umat

Jakarta (5/2). LDII bersama MUI menggelar Pra-Kongres Umat Islam Indonesia, untuk menggali masukan-masukan yang penting untuk Kongres Umat Islam ke-6, yang sedianya akan dilaksanakan di Yogyakarta pada 8-11 Februari 2015. KUII ke-6 sangat penting bagi umat Islam, sebagai momentum kebangkitan umat Islam di tengah penggerusan budaya, liberalisme, dan keterpurukan ekonomi di sebagian besar negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam.

Untuk mendapat masukan dari berbagai komponen umat Islam, MUI dan DPP LDII menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) bertema Penguatan Politik, Ekonomi dan Budaya Indonesia Sebagai Manifestasi Komitmen Umat Islam Terhadap NKRI Berdasarkan Pancasila” pada Kamis (5/2/2015) di Gedung DPP LDII Senayan, Jakarta.

Dalam acara itu tersebut Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI, KH Adnan Harahap, menyampaikan demokrasi berakibat besar terhadap akhlak umat Islam. Tokoh-tokoh Islam yang berada di dalam partai politik saling serang dan membuka aib, yang menurutnya jauh dari nilai-nilai Islam. “Korupsi, kemiskinan, dan kebodohan tak pernah dikikis penyebabnya namun selalu diributkan akibatnya. Itulaah yang membuat umat Islam di Indonesia tertinggal dengan bangsa lain,” ujar KH Adnan Harahap.

Untuk itu KH Adnan Harahap berharap KUII ke-6 di Yogyakarta nanti benar-benar fokus kepada bagaimana membentuk umat Islam yang sebaik-baiknya umat, sebagaimana hadist Rasulullah SAW, di tengah-tengah keributan partai politik dan antara tokoh-tokoh Islam sendiri. “Pertama, Allah memuliakan umat Islam agar menjadi sebaik-baiknya umat. Umat Islam menjadi umat terbaik karena menyerukan kebaikan dan mencegah kejelekan,” ujarnya. Kedua, umat Islam disebut ummatan wasatan atau umat penengah yang netral. Dengan dua poin ini, ia berharap umat Islam menjadi kritis terhadap dirinya sendiri, sehingga selalu berbuat yang terbaik di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Senada dengan KH Adnan Harahap, Ketua Bahtsul Matsail, KH Arwani Faisol menyatakan umat Islam sebagaimana sabda Rasulullah SAW al islaamu ya’lu walaa yu’la ‘alaih, agung, tinggi berharga sebagaimana konsep umat di dalam Alquran dan Alhadits. “Allah menyatakan menjadi sebaik-sebaiknya umat, sedangkan Rasulullah bersabda sebaik-baiknya umat adalah yang bermanfaat bagi orang lain, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya,” papar KH Arwani Faisol. Bila umat Islam melaksanakan hal tersebut, maka tak ada kepentingan pribadi karena semua orang mengerjakan kepentingan umat manusia.

Tak seperti saat ini, konflik terus berlangsung, salah satunya KPK dengan Polri. Bila semua orang bekerja untuk umat tak ada kepentingan pribadi atau kelompok yang terus-menerus menciptakan konflik. Demikian halnya, di bidang ekonomi, seharusnya dengan kekayaan alam seperti ini, Indonesia kaya raya. Akibat prilaku umat Islam sendiri, umat Islam Indonesia mengalami kemiskinan. “Orientasi kebangsaan telah lenyap untuk membuat negeri gemah ripah, justru setelah merdeka banyak pemain yang membawa kepentingan. Hubud dunya, cinta dunia menjadi sumber kejahatan,” ujar KH Arwani Faisol.

Di lain sisi, KH Arwani Faisol memandang, pemerintah dan bangsa Indonesia sulit memberikan penghargaan bagi orang-orang yang terbaik. Para siswa pemenang olimpiade sains misalnya, masyarakat tak pernah tahu dapat apa dari pemerintah dan mereka saat ini bekerja di mana. Bahkan tokoh selevel Habibie, yang dapat berbagai penghargaan dari pemerintah Jerman, saat pulang ke Indonesia akhir tahun 1970-an sulit memperoleh pekerjaan dalam birokrasi.

Pada kesempatan yang sama Asrori S Karni dari Komisi Media dan Komunikasi MUI Pusat yang bertindak sebagai Panitia Pengarah KUII menyatakan harapannya memperoleh masukan dari FGD yang diadakan MUI dan LDII. Menurut Asrori, perhatian umat Islam yang mengikuti perbincangan-perbincangan sebelum KUII, mengerucut pada kepemimpinan, “Umat Islam itu merindukan pemimpin yang mampu mengatasi problem pokok umat Islam, seperti fragmentasi, friksi, dan konflik. Ukhuwah islamiyah harus menjadi prinsip pokok. Tanpa persatuan umat Islam sangat sulit untuk membangun kekuatan peran,” ujar Asrori. Dalam sejarah bangsa, aspirasi umat Islam selalu heterogen terhadap partai politik.

Pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana umat Islam yang heterogen ini tidak menjadi lemah. KUII sejak 1907 hingga saat ini, pada dasarnya mencari format penyelesaian masalah tersebut, “KUII sebenarnya mencari formulasi yang tepat untuk mencari solusi dari persoalan tersebut, termasuk di bidang politik. Apakah model seperti Masyumi, Majelis Ala Islam Indonesia, atau Majelis Syuro Umat Islam Indonesia,” ujar Asrori. Sementara itu, tantangan lainnya menurut Asrori, di dalam suasana kebatinan bangsa Indonesia pascareformasi adalah lebih memilih desentralisasi dibanding sentralisasi. “Ketika ada upaya penyatuan atau Majelis Syuro, muncul pula gugatan-gugatan, siapa yang memimpin? Sejauh apa wewenangnya? Atau mengapa dia yang memimpin?” ujar Asrori.

Asrori mengusulkan formula umat Islam yang terdiri dalam kelompok-kelompok agar menyatu, saling memperkuat satu sama lain, sesuai bidangnya masing-masing. “Bingkai NKRI, Pancasila, suka tidak suka menjadi pegangan. Peran partai politik, terutama ormas Islam yang bahkan lebih tua dari negara ini yang seharusnya menunjukkan peran. Jangan sampai umat Islam yang jadi mayoritas, menjadi minoritas karena terabaikan,” kata Asrori. (Noni/LINES)

Penyuluhan Wawasan Kebangsaan

Acara penyuluhan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Musi Rawas. Beliau memberikan apresiasi yang baik seperti yang disampaikan dalam sambutannya, bahwa acara ini luar biasa saya juga tidak menyangka sama sekali, organisasi keagamaan mampu melaksanakan kegiatan yang luar biasa, demikian tertibnya, pesertanya juga banyak dan satu lagi yang sangat mengagumkan adalah sikap disiplinnya, karena selama ini kalau kita ada cara selalu molor terus.

Disiplinnya ini artinya kita ada harapan besar ke depannya LDII untuk bersama-sama mengisi, membangun daerah yang kita cintai ini. Tadi jelas karena Musi Rawas mempunyai cita-cita demikian besar, tanpa dukungan, tanpa kebersamaan kita, tanpa gotong royong kita, tanpa persatuan dan kesatuan, cita-cita besar ini dak tahu kapan akan terwujudnya.

Setelah dibuka secara resmi oleh Wabub Musi Rawas Bapak Ir. H. HENDRA GUNAWAN, acara dilanjutkan dengan materi penyuluhan. Diawali materi dari Dandim 0406 Musi Rawas, Lubuklinggau dan Musi Rawas Utara yang disampaikan oleh MAYOR INFANTERI KHOIRUL ANSHORI.

Materi kedua dari Badan Kesbangpol Kab. Musi Rawas disampaikan oleh Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Musi Rawas, Bapak NAWAWI, M.M. Materi ketiga dari Polres Musi Rawas yang disampaikan oleh Kapolsek Tugumulyo Bapak IPTU SUARDIN T.

Kegiatan Awal Tahun ala LDII Madiun

Remaja LDII Kecamatan Manguharjo Madiun Kota mengadakan pengajian semalam suntuk dengan tema “BENTENGI GENERASI MUDA DARI NARKOBA DAN FAHAM RADIKAL” pada 31 Desember 2014 lalu. Acara ini juga menghadirkan dua narasumber dari Kepolisian Polresta Madiun Kota dan dari unsur TNI Kodim 0803 Madiun.

AKP. Sigit Siswadi S.Sos selaku Kasat Bimas Polresta Madiun menekankan kepada jajaran LDII se wilayah Kecamatan Manguharjo agar bekerjasama dengan aparat kepolisian dalam rangka memberantas berkembangnya narkoba dan obat adaftif lainnya. “ Sebagai generasi muda jangan sampai berurusan dengan polisi karena urusan hukum, dampaknya kalau kalian mau melamar kerja nanti perlu SKCK, di situ jejak kalian direkam,” papar Sigit.

Sementara, Kapten Jayadi, Danramil Kecamatan Manguharjo memberikan materi tentang wawasan kebangsaan dan bela Negara. Jayadi wanti wanti agar generasi muda LDII jangan sampai terpengaruh oleh ajakan ISIS yang ingin mendirikan Negara berdasarkan Kekholifahan. Diajak berjihad di Syuriah dan Irak.

Ketua PC LDII Kecamatan Manguharjo Madiun Kota, H. Mukarom Zakarya, ST mengatakan, bahwa kegiatan ini digelar rutin setiap tahun. Tujuannya untuk memberikan pembelajaran kepada generasi muda agar dapat memanfaatkan momentum pergantian tahun sebagai saat yang tepat untuk merefleksikan diri.

Deklarasi Penolakan dan Pemusnahan MIRAS di Kabupaten Sumedang

Lebih dari 2000 botol minuman keras dan minuman oplosan dimusnahkan di halaman belakang Kantor Pemda Kab. Sumedang. Kegiatan tgl 16 Desember 2014 tsb adalah rangkaian acara deklarasi penolakan peredaran minuman keras dan oplosan di Kab. Sumedang.

Diawali apel pagi yg diikuti karyawan di lingkungan Pemda Kab. Sumedang, jajaran TNI & POLRI, LSM, Ormas dan Siswa sekolah. Apel dpimpin oleh Wakapolda Jawa Barat, Brigjen. Pol. Drs. Taufik, dihadiri oleh Bupati Sumedang, Kapolres Sumedang, Dandim 0610 Sumedang, Kepala Kejaksaan Negeri Sumedang, Ketua Pengadilan Negeri Sumedang dan pejabat pejabat lain.

Pada kegiatan tersebut dilaksanakan juga tes urine bagi para pejabat di lingkungan Pemda Kab Sumedang, Polres Sumedang dan Kodim 0610 Sumedang. Ketua DPD LDII kab Sumedang hadir mngikuti rangkaian acara tersebut dan ikut membubuhkan tanda tangan sebagai dukungan pernyataan penolakan peredaran minuman keras di Kab. Sumedang.

Lebih dari 2000 botol minuman keras dan minuman oplosan dimusnahkan di halaman belakang Kantor Pemda Kab. Sumedang. Kegiatan tgl 16 Desember 2014 tsb adalah rangkaian acara deklarasi penolakan peredaran minuman keras dan oplosan di Kab. Sumedang.

Diawali apel pagi yg diikuti karyawan di lingkungan Pemda Kab. Sumedang, jajaran TNI & POLRI, LSM, Ormas dan Siswa sekolah. Apel dpimpin oleh Wakapolda Jawa Barat, Brigjen. Pol. Drs. Taufik, dihadiri oleh Bupati Sumedang, Kapolres Sumedang, Dandim 0610 Sumedang, Kepala Kejaksaan Negeri Sumedang, Ketua Pengadilan Negeri Sumedang dan pejabat pejabat lain.

Pada kegiatan tersebut dilaksanakan juga tes urine bagi para pejabat di lingkungan Pemda Kab Sumedang, Polres Sumedang dan Kodim 0610 Sumedang. Ketua DPD LDII kab Sumedang hadir mngikuti rangkaian acara tersebut dan ikut membubuhkan tanda tangan sebagai dukungan pernyataan penolakan peredaran minuman keras di Kab. Sumedang.

LDII Balikpapan Cegah Maraknya Radikalisme

BALIKPAPAN – Krisis kebangsaan terkait berkembangnya isu radikalisme mengatasnamakan Islam akhir-akhir ini cukup meresahkan sebagian masyarakat. Sebagai wujud kepedulian terhadap nasib bangsa, LDII Kota Balikpapan menyelenggarakan dialog kebangsaan dan bela negara, yang berlangsung di Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan, Sabtu (31/1/2015).

“Tujuan diselenggarakan kegiatan ini agar para mubaligh-mubalighot, para dai-daiyah, yang menjadi tulang punggung LDII memiliki pandangan yang luas tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, diatas kepentingan pribadi dan golongan,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Provinsi Kalimantan Timur, H Sutamsis SH MH MKn, ketika memberikan sambutan.

“Jika pemahaman berbangsa dan bernegara dilaksanakan dengan baik oleh kader-kader LDII, baik yang berkiprah dalam organisasi masyarakat, pemerintahan, dan jabatan-jabatan penting lainnya, insyaa Allah, segala kebijakan, langkah, dan keputusan yang diambil akan senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara,” terang H Sutamsis.

Ketua DPW LDII Kalimantan Timur pun tak lupa menyampaikan terima kasih kepada pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kota Balikpapan yang telah melaksanakan kegiatan ini. Ia berjanji akan mendorong daerah-daerah lain di Kalimantan Timur untuk melaksanakan kegiatan serupa, mengingat kegiatan tersebut sesuai dengan program kerja organisasi.

Sementara itu, Ketua DPD LDII Kota Balikpapan, H Abdul Rachman Zain SE, dalam sambutannya menyoroti pentingnya pemahaman wawasan kebangsaan secara menyeluruh di berbagai lapisan masyarakat, tidak terputus antar generasi sehingga terwujud rasa aman dalam menjaga ketahanan kota, daerah, serta ketahanan nasional dan bangsa hingga ke gererasi berikutnya.

“Kita bisa bayangkan, jika negara dalam keadaan aman dan sehat, maka warga negara secara bersama-sama dapat mengembangkan dirinya menjadi lebih baik, umat beragama pun dapat menjalankan ibadah serta mengembangkan diri dengan baik,” jelas H Abdul Rachman Zain.

Acara resmi dibuka secara simbolis, ditandai dengan pemukulan gong oleh Drs Bahriansyah MSi mewakili Wali Kota Balikpapan, yang disaksikan oleh pengurus LDII, baik tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) atau setingkat kelurahan, Pimpinan Cabang (PC) setingkat kecamatan, hingga pengurus DPD berserta sekira 150 peserta dan undangan.

Dalam dialog kebangsaan ini, panitia mengundang narasumber yang cukup berpengalaman dan berkompeten di bidangnya. “Ada Kepala Kesbangpol Kota Balikpapan Drs Astani, kemudian Mayor (Inf) Masrukhan Kepala Staf Kodim 0905, dan yang ketiga AKP H Sarbini, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Balikpapan Utara, yang mewakili Kapolres Kota Balikpapan,” ujar H Asrul Sani BA, ketua panitia kegiatan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan Bidang Dakwah dan Ukhuwah Islamiyah, Drs KH M Idris, turut hadir memenuhi undangan, meski sebelum memasuki sesi inti meminta ijin atau pamit mengikuti kegiatan di tempat lain.

Dialog Kebangsaan

Memasuki sesi inti, satu persatu narasumber mengupas materi yang telah dibagikan kepada peserta. Sesi pertama Kepala Kesbangpol Kota Balikpapan Drs Astani memberikan paparan mengenai mengapa wawasan kebangsaan dibutuhkan oleh setiap warga negara.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya wawasan kebangsaan, yaitu menonjolnya kepentingan kelompok dan golongan, primordialisme, penggunaan kekerasan dan pemaksaan kehendak, masuknya budaya asing dan menghujat budaya sendiri, hingga sikap apatis terhadap pembangunan nasional.

Meski sisa waktu terbatas, dari pukul 10.00 – 12.30 WITA, dan isi materi umumnya menjemukan, namun Mayor Masrukhan mampu membuat suasana jadi segar. Ada hal-hal baru yang diungkap.

Menurutnya, negara akan berhasil mencapai tujuannya ditentukan oleh lima komponen bangsa, yaitu agamawan, cendekiawan, pemerintah, ekonomi yang stabil dan kekuatan angkatan bersenjata.

Komponen agamawan menjadi perhatian penting baginya dan sangat tepat dalam dialog ini. Ini mengingat LDII merupakan organisasi masyarakat yang bergerak di bidang keagamaan. “Komponen agamawan punya peran sangat penting. Dengan moral baik, bangsa akan terhindar dari tindakan yang mengarah pada penyimpangan peraturan dan agama,” ujar Mayor Masrukhan, yang asli kelahiran Lamongan Jawa Timur ini.

Sesi berikutnya pun tak kalah hebohnya, bahkan suasana makin segar dan beberapa kali applause menggema serentak. Ini karena H Sarbini, yang juga ahli dalam berdakwah ini membawa ayat-ayat Alquran ketika menyampaikan materi wawasan kebangsaan.

“Jadi, berbicara tentang NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia itu harga mati, itu bukan jawaban dari polisi atau tentara. Lebih dari itu, justru Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman (agar menjaga negara),” ujar H Sarbini, sambil mengutip Alquran Surat Ali Imron ayat 200 dan 103.

“Adakah butir-butir Pancasila itu bertentangan dengan ayat-ayat Alquran?” ujar putra Madura ini lantang kepada peserta. Peserta pun menjawab tidak ada. Menurutnya, orang-orang yang mengatakan Pancasila bertentangan dengan Alquran adalah generasi baru, yang tidak pernah melihat dan mengalami beratnya perjuangan melawan penjajah.

Menginjak akhir sesi, H Abdul Rachman Zain, sempat membuat peserta terhibur dan acara kembali heboh, padahal moderator bermaksud menutup acara mengingat waktu telah berakhir. Kedua narasumber, baik dari TNI/Polri, diajak maju ke depan, dan ditanya mengenai perbedaan posisi topi baret yang dikenakannya. Keduanya pun menjawab ramah dengan sedikit dibumbui canda.

Menurut Mayor Masrukhan, untuk TNI topi baret miring ke kanan sebagai simbol kesatuan pasukan tempur siap membela negara dari ancaman luar. Sedangkan untuk kepolisian, lanjutnya, topi baret miring ke kiri menunjukkan kesatuan non tempur, tetapi menegakkan hukum.

AKP Sarbini menambahkan, itulah mengapa posisi TNI ada di sebelah kanan Polri saat keduanya berbaris disejajarkan. “Jadi, TNI miring ke kanan, Polri miring ke kiri, maknanya untuk melindungi,” ujar Sarbini, sambil memberi isyarat kedua tangan miring ke kiri dan ke kanan. Keduanya pun menjelaskan bahwa hal itu sudah menjadi ketentuan TNI/Polri. (SA/Yasin/LINES)

LDII-Polda Sulsel Siap MoU Dai Kamtibmas

MAKASSAR – Tidak hanya berfokus berdakwah secara lisan (dakwah bil lisan), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) juga mengembangkan dakwah dengan perbuatan (dakwah bil hal). Sehubungan dengan hal tersebut, LDII diberbagai wilayah di Indonesia telah melakukan langkah strategis.

“Kita (LDII) berbicara soal go green, bicara ekonomi syariah, pemberdayaan masyarakat pesisir di Bantaeng, dan mangrove di Kendari. Go green, kita sudah canangkan secara nasional,” kata Ketua DPP LDII Hidayat Nahwi Rasul saat bertemu Kapolda Sulsel, Irjenpol Drs Anton Setiadji SH MH di Mapolda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 16, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/1/2015).

Menurut Hidayat, bagi LDII, menanam pohon adalah suatu amal jariah. Orang islam yang menanam pohon, lanjut Hidayat, lalu buahnya dimakan oleh binatang atau manusia, maka itu menjadi ladang jariah. Meskipun yang menanamnya telah meninggal dunia, pahala tetap mengalir.

Hidayat menambahkan, LDII juga berpartisipasi dan bekerjasama menciptakan suasana yang kondusif ditengah masyarakat. “Dalam suasana tertib sosial dan keamanan itu, justeru tempat lahirnya manusia-manusia berkualitas,” ujarnya.

Disamping itu, soal mewujudkan keamanan dan ketertertiban masyarakat, kata Hidayat, bukanlah tanggungjawab polri semata. Akan tetapi juga tanggung jawab masyarakat.

Dilain pihak, Kapolda Sulsel Anton Setiadji memaparkan persepsi masyarakat terhadap institusi kepolisian. Selama ini, kata Anton, masyarakat masih menganggap negatif terhadap aparat.

“Kalau aura negatif dikeluarkan terus, jadinya negatif. Makanya saya selalu mengajak agar kita selalu positive thinking,” kata Anton.
Namun, Anton berusaha keras untuk memperbaiki institusi yang ia pimpin.

“Saya tidak ingin merubah mindset masyarakat tentang polisi. Tetapi, saya ingin merubah polisi dengan baik,” kata mantan Kadiv Hukum Polri tersebut.
Sementara itu, Wakil Ketua DPW LDII Sulsel Dr Sukardi Weda dalam kesempatan yang sama memaparkan rencana Musyawarah Wilayah (Muswil) yang akan LDII Sulsel gelar. Sukardi menjelaskan, LDII Sulsel akan melaksanakan Muswil pada 28-29 Maret 2015 di Hotel Singgasana Makassar.

“Di dalam Muswil nanti tema yang kami angkat adalah LDII sebagai Learning Organization Berkontribusi untuk Mewujudkan Indonesia yang Semakin Bermartabat,” imbuh Sukardi. Dalam Muswil ke VI tersebut, LDII Sulsel mengangkat 4 kluster.

Kluster pertama yang LDII angkat, jelas Sukardi, perihal bela negara dan wawasan kebangsaan. Kluster kedua, keamanan dan ketertiban masyarakat. Kluster ketiga mencakup pendidikan, peradaban, dan ipteks. Sedangkan kluster keempat berkenaan dengan produktivitas dan entrepreneurship.

“Keempat kluster ini menjadi roh dari Muswil,” tutur dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) tersebut.

Sehubungan dengan kluster keamanan dan ketertiban masyarakat, kata Sukardi, LDII Sulsel mengusulkan kerjasama dengan Polda dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU). Sebelumnya, Kapolda Sulsel telah mencanangkan 9 program unggulan yang salah satunya ialah “Program Kampung Kamtibmas”.

“Kami berharap, ada sinergitas antara “Dai Kamtibmas” yang LDII lakukan dengan Kampung Kamtibmas dari Polda,” ujar Sukardi.

Kapolda Sulsel menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas niat dan maksud LDII tersebut. (*)