Abad Media dan Melek Media

Hidayat Nahwi Rasul

Ketua DPP LDII/Ketua Forum Telematika KTI

Agak sulit kita menghindar dari terpaan media (media exposure) saat ini. Kalaupun itu terjadi, maka hidup akan terasa sepi dan dianggap ketinggalan informasi!. Coba liat betapa disekeliling kita di”kepung” oleh media informasi dan komunikasi. Televisi, radio, surat kabar, TV kabel. Apalagi kalau penyiaran digital dimulai tahun 2015 (sekarang sedang uji coba). Dalam penyiaran digital, 1 kanal frekuensi yang saat ini digunakan oleh TV akan menjadi 8-12 kanal!. Jadi dari 11 kanal TV nasional, akan menjadi 88-131 kanal / siaran TV digital. Belum termasuk media online melalui  internet yang berisikan berbagai media online seperti  radio dan TV streaming.

Bilamana  kita “kekeuh” menghindari media massa, kita akan terlibat dalam pembicaraan publik atau kelompok ataupun pribadi di social media seperti Facebook, Twitter, Blackberry Messengger (BBM) yang juga isi pembicaraannya tidak lepas dari isu isu yg juga dibahas dalam media massa.

Inilah yang disebut abad media, abad konten, era informasi, era komunikasi! teknologi komunikasi dan informasi menjadi pendorong utama era ini. Selain terdapat lebih dari 2 (dua) Milliar manusia di dunia yang tersambung dengan internet, dan di Indonesia sdh mencapai 50 juta netter, kita juga menyaksikan betapa teknologi komunikasi dan informasi saat ini membuat manusia dapat menyaksikan sebuah perisiwa dalam waktu yang sama. Pertandingan sepakbola antara Chelsea dan Bayern Muenchen yg berlangsung tanggal 20 Mei 2012 dinihari,  dimenangkan oleh Chelsea  melalui adu pinalti ditonton oleh milyaran orang melalui ratusan jaringan siaran TV satelit, berbayar dan terrestial di seluruh antero bumi. Selera masyarakat dan mimpi masyarakatpun tentang sepak bola bukan hanya meluas akan tetapi meningkat kualitasnya sembari mengidolakan pemain bola mereka ; Ronaldo, Messi, dan David Beckham.
Media massa khususnya televisi, bukan hanya menghibur akan tetapi juga memberitakan. Pemberitaan tentang suatu perampokan toko waralaba atau perampokan bank secara detail dan berulang-ulang bukan hanya memberi tahu dan memberi warning kepada khalayak akan tetapi bisa menjadi pelajaran berharga bagi orang-orang yang berniat jahat untuk melakukan hal serupa!. Demikian pula tontonan yang berbau  kekerasan  dan pornografi pun tidak jarang kita jumpai efeknya dalam kehidupan anak dan remaja kita.

Dalam studi komunikasi massa,terdapat 2 efek yg terjadi ketika seseorang mendapatkan terpaan media (media exposure)  radio, TV, surat kabar, majalah, media online internet, yaitu efek  kognitif (pengetahuan) dan behavior (tingkah laku). Secara kognitif bisa pengetahuan bertambah,  peneguhan sebuah pikiran, bingung dan bahkan bisa frustrasi. Secara tingkah laku terpaan media dapat mengubah sikap dari negatif ke positif atau sebaliknya, dan kemungkinan dapat terjadi peneguhan sikap karena adanyapembenaran yang diinformasikan oleh media.

Informasi yang dikonsumsi dan diproduksi oleh suatu bangsa  akan menentukan arah peradaban bangsa itu. Bahkan menentukan kualitas dan daya saing SDM suatu bangsa. Pertanyaannya apakah kita sudah mampu memilah dan menyeleksi informasi untuk kebutuhan kita?. Dan apakah media informasi  sudah menyajikan informasi yang berkualitas untuk kita konsumsi?.

Sayangnya, sajian informasi oleh media massa kita, khususnya televisi masih banyak dipengaruhi oleh motivasi ekonomi dan bisnis. Betapa tidak, menurut Inke Maris, nilai bisnis iklan televisi sepanjang tahun 2011 sebesar 43 Trilyun rupiah!. Jumlah tersebut diperebutkan oleh 11 stasiun TV nasional. Televisi kemudian berlomba untuk membuat program sensasional agar ditonton oleh khalayak. Makin tinggi rating sebuah program TV, maka makin  banyak iklan yang jadi sponsor acara. Acara TV kita lalu menjadi seragam dan terus berulang (ubiquitous) seperti sinetron, musik show, infotainment, reality show, berita, dan lain lain yang tidak terlepas dari kekerasan, violence, pornografi, mistik dan judi. Tidak jarang persoalan moralitas, budaya dan norma hukum dilanggar untuk mencapai rating yang tinggi. Padahal, kalau stasiun TV kita membuat program yang berkualitas, mendidik, dan menjunjung moralitas, tentu akan meningkatkan kualitas dan produktivitas pemirsa yang pada akhirnya akan meningkatkan daya beli. Bila daya beli masyarakat meningkat, iklan produk akan laku terjual dan tentu keberlangsungan industri televisi juga terjamin!.

Demikian halnya dalam pengembangan opini dan kemasan informasi (Agenda Setting Theory and Framming Theory) banyak bergantung pada kelompok siapa yang menguasai dan memiliki stasiun TV dan media tersebut. Ada anekdot yg berkembang di masyarakat, bahwa baik-buruknya negeri ini bergantung pada segelintir orang pemilik stasiun TV di negeri ini. Padahal fungsi media ada 4 (empat) dan harus berdasar pada fakta yaitu: Informasi, Mendidik, Menghibur, dan Kontrol Sosial.

Urgensi Melek Media (media literacy)

Melek media adalah kemampuan mengurai konten media sehingga seseorang bisa memilah-milah mana konten yang sifatnya memberikan informasi, menghibur dan merupakan kemampuan instinct untuk mengejar apa yang ada di belakang produksi media, apa motifnya, uangnya, nilai-nilai dan pemiliknya, dan kemampuan instinct untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor ini mempengaruhi konten media (Jane Tallim, 2011).

Menurut Elizabeth Thoman (2011), terdapat 3 tahapan dalam melek media yaitu:

Tahap pertama adalah tahap dimana kita cukup dituntut untuk menyadari pentingnya kita menata “asupan” media kita, yakni bagaimana kita memilih dan mengurangi waktu yang kita luangkan untuk menonton tv, video, bermain game, nonton film dan melihat berbagai media cetak lainnya.

Tahap kedua adalah belajar melihat kritis, seperti belajar menganalisa dan menanyakan apa yang terkandung dalam suatu kerangka media, bagaimana itu dikonstruksi, dan apa yang kemungkinan tertinggal/tidak tercakup. Keterampilan melihat kritis ini sebaiknya dipelajari di dalam kelas atau kegiatan interaktif lainnya dalam kelompok, termasuk mempelajarinya melalui kegiatan menciptakan media sendiri.

Tahap ketiga adalah mengeskplorasi secara lebih dalam isu isu di belakang frame suatu media. Siapa yang memproduksi media yang kita alami, dan apa maksudnya? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang dirugikan? Tahap analisis sosial, politik dan ekonomi ini melihat bagaimana setiap orang dalam masyarakat memaknai media, dan bagaimana media massa mengatur arah ekonomi global masyarakat. Hasil eksplorasi ini kadang kadang menuntut perlunya upaya-upaya advokasi media untuk membenahi kebijakan-kebijakan publik dan praktek praktek bisnis.

Dari berbagai pendapat tentang pentingnya melek media,  terdapat beberapa indikator bahwa secara individu seseorang atau suatu masyarakat sudah melek media yaitu:

1). Mampu memilih (selektif) dan memilah (mengkategori/mengklasifikasi) media, mana yang manfaat mana yang mudharat.
2). Memahami bahwa radio, terutama televisi merupakan lembaga yang ‘syarat’ dengan kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya, dan lain lain.
3). Memahami bahwa radio dan televisi bukan menampilkan realitas dan kebenaran satu-satunya, namun bisa merupakan ‘rekayasa’ dari pelaku-pelakunya.
4). Mampu bersikap dan berperilaku kritis pada siaran radio dan televisi.
5). Menyadari bahwa sebagai konsumen media, khalayak semua mempunyai hak dan kewajiban atas isi siaran radio dan televisi.
6). Menyadari tentang dampak yang ditimbulkan media dan mengidentifikasi hal-hal yang harus dilakukan ketika menggunakan media.
7). Hanya mempergunakan media untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan tertentu.
8). Membangun filter yang kokoh, baik bagi dirinya maupun terhadap orang-orang di lingkungannya, sehingga secara personal tidak mudah dipengaruhi media.

Sebagai sebuah upaya melek media, majalah Nuansa dan LDII TV tentu layak disimak dan dikembangkan!. Selamat Hari Komunikasi Se-dunia Mei 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s