Pembagian Zakat Fitrah

Diasuh oleh : Ustadz Aceng Karimullah

Assalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Dari seorang penceramah  yag memberikan taushiah Romadhon, saya mendengar bahwa fungsi zakat fitrah itu ada dua. Pertama, sebagai pembersih jiwa bagi orang yang berpuasa. Kedua, sebagai santunan makanan bagi kaum fakir miskin di hari raya. Dengan demikian bukankah berarti bahwa beras zakat fitrah itu harus habis dibagikan hanya kepada fakir miskin saja?. Betulkah pengertian saya, Pak Ustadz?. Mohon konfirmasi atau jawaban dan penjelasan dari Pak Ustadz.

Wassalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Khoiru Ummah – Banten

Wa ‘alaikumus-salaam warohmatullohi wabarokatuh.

Saudara (atau Saudari?) Khoiro Ummah yang saya hormati, rupanya anda adalah seorang yang teliti dan cermat dalam menerima dan mendengarkan taushiah. Saya salut kepada anda dan mendokan semoga Alloh mengisi dada anda dengan sebanyak-banyak hikmah. Aamiin.

Apa yang disampaikan oleh penceramah yang anda sebutkan di atas, merujuk kepada sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dari Ibnu Abbas bahwa Rosululloh, shollallohu ‘alaihi wasallam, mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kecabulan serta sebagai santunan makanan bagi kaum miskin.
Sedangkan dalam Al-Quran surah At-Taubah ayat 60 diterangkan sebagai berikut:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya (pembagian) shodaqoh (zakat) itu untuk: (1) Kaum fakir, (2). Kaum miskin, (3). Para amil, (4). Kaum muallaf, (5). Kaum riqob (sahaya yang sedang dalam proses memerdekakan dirinya), (6). Kaum ghorim (orang-orang yang sedang keberatan utang untuk menunjang kelangsungan hidupnya), (7). Sabilillah (sarana prasarana ibadah), dan (8). Ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal, dengan syarat dan ketentuan berlaku). Itulah ketentuan dari Alloh. Dan Alloh Maha Tahu dan Maha Menghukumi”.

Kedelapan sasaran pembagian itu biasa disebut sebagai “delapan ashnaf”.

Diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud bahwa suatu ketika Ziyad bin Al-Haarits meminta bagian zakat kepada Rosululloh. Tapi beliau, shollallohu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Alloh tidak berkenan pada pembagian yang ditetapkan oleh Nabi atau orang lain dalam hal pembagian zakat, sehingga Dia sendiri yang menetapkannya menjadi delapan ashnaf. Kalau anda termasuk salah satu dari delapan ashnaf itu, baiklah, akan saya beri”.  (Kalau tidak, ya tidak).

Jadi bagaimana prakteknya pembagian zakat fitrah itu?. Tentunya kita harus mengacu kepada apa yang telah dilaksanakan oleh Rosululloh atau para sahabatnya.

Salah satu acuan yang bisa kita rujuk adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan telah dinilai oleh Al-Albani sebagai berisnad shohih, bahwa Ibnu Umar menyerahkan zakat fitrahnya kepada amil sehari atau dua hari sebelum hari raya. Logikanya: Kalau pembagian zakat fitrah hanya untuk kaum fakir miskin maka mestinya Ibnu Umar tidak menyerahkan zakat fitrahnya kepada amil. Jadi, meskipun ada hadits yang menerangkan bahwa fungsi zakat fitrah itu untuk santunan bagi kaum fakir miskin, bukan berarti meniadakan fungsi amil dan ashnaf yang lainnya. Hadits tersebut hanya menegaskan bahwa fakir miskin harus menjadi prioritas dalam pembagian zakat fitrah agar mereka betul-betul bisa berhari-raya, tidak usah disibukkan dengan mencari nafkah pada hari itu. Keterangan tersebut didapat dari:

• Fiqhus-Sunnah juz 1. Setelah membahas hadits yang berbunyi bahwa zakat fitrah itu harus diserahkan sebelum sholat ied dilaksanakan, Syekh Sabiq (Penyusun) menjelaskan bahwa zakat fitrah dibagikan kepada delapan ashnaf sebagaimana yang termaktub dalam surah At-Taubah ayat 60.

• Risalah fil-Fiqh al-Muyassar juz 1: Pembagian zakat fitrah sebagaimana pembagian zakat pada umumnya, hanya saja kaum fakir miskin diutamakan dari pada ashnaf yang lain, merujuk pada sabda Rosululloh, shollallohu ‘alaihi wasallam: “Cukupilah mereka (kaum fakir miskin, agar terbebas) dari minta-minta pada hari itu”. (HR Ad-Daruquthni).

• Al-Manahil Al-Hassan: Disebut zakat fitrah disandarkan pada kewajibannya dilaksanakan menjelang iedul-fitri. Adapun pembagiannya seperti pembagian zakat harta umumnya (sesuai ketentuan surah At-Taubah ayat 60).

Rujukan-rujukan tersebut menegaskan bahwa mustahiq zakat fitrah itu sama dengan mustahiq zakat maal. Demikian yang bisa saya jelaskan, mudah-mudahan ada manfaatnya. Walloohul-musta’aan, walaa haula walaa quwwata illaa billaah.

Wassalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s