Colosseum

oleh: H. Teddy Suratmadji

Colosseum adalah sebuah amphitheater terbesar di dunia yang terletak di kota Roma, Itali. Sebuah tempat hiburan berdarah-darah pertarungan hidup-mati para gladiator, dan hiburan perburuan manusia oleh binatang buas. Sebuah bangunan yang menyimpan sejarah yang erat kaitannya dengan 2 kenabian agama samawi: Isa dan Muhammad.

Muhammad diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun dan wafat pada usia 63 tahun. Artinya, Muhammad menyebarkan Islam selama 23 tahun. Sedangkan Isa, sejak masih dalam gendongan Maryam sudah berkata ”Innii ‘abdullooh aataaniyal kitaaba waja’alanii nabiyyan – Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab dan Dia menjadikan aku seorang Nabi” (QS XVIII:30). Isa diangkat ke langit pada usia 30 tahun.

Colosseum didirikan tahun 70 M oleh Kaisar Romawi Vespasian. Artinya sekitar 40an tahun setelah Isa diangkat ke langit. Karena Muhammad lahir tahun 573 M, maka Colosseum sudah berumur 500an tahun pada saat Muhammad lahir. Artinya, sampai Muhammad diangkat Nabi, maka para pengikut Isa adalah orang-orang Iman. Dalam catatan sejarah, pertarungan gladiator berlangsung sampai tahun 435 dan perburuan binatang buas sampai tahun 523. Colosseum dialih-fungsikan di akhir abad ke-6 Masehi.

Berkesempatan berkunjung ke Colosseum, membuat perasaan menjadi campur aduk. Mixed feeling.

Pertama, Colosseum adalah bangunan simbol super power zaman dulu. Kekaisaran yang berkuasa begitu lama 27 SM s/d 476 M (Kekaisaran Barat) dan 330 M s/d 1453 M (Kekisaran Timur). Karena menguasai wilayah yang sangat luas di Eropa, Afrika dan Asia dalam waktu yang sangat lama, maka pengaruh Romawi begitu kuat mempengaruhi agama, bahasa, filsafat, hukum, dan pemerintahan yang kemudian lebih menyebar lagi ke seluruh dunia ketika Eropa menjadi bangsa penjajah dunia.

Kedua, Kekaisaran Romawi dijadikan nama sebuah surat dalam Al-Quran. “Ghulibatir Ruum. Fii adnal ardli wa hum min ba’di gholabihim sayaghlibuun – Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya. Dan di hari kemenangan itu bergembiralah orang-orang yang beriman” (QS XXX:2-4). Kekaisaran Romawi akhirnya jatuh tahun 1453 M oleh pasukan yang dikomandoi seorang pemuda Muslim bernama Al-Fatih. Bukti tidak ada kekekalan di dunia ini.

Ketiga, perhatikan lukisan karya Jean-Léon Gérôme berjudul The Christian Martyrs’ Last Prayer. Jika menelusuri timeline, Colosseum berfungsi sebagai arena jagal manusia berlangsung antara tahun 70 s/d 523 M saat Muhammad belum lahir. Artinya, saat itu penganut Injil adalah orang-orang Iman sebagaimana orang-orang Iman penganut Al-Quran masa kini.

Maka Insya Allah yang nampak dalam lukisan itu adalah ahli-ahli sorga pengikut Injil asli sebelum kelahiran Muhammad, yang harus membayar keimanannya dengan nyawa. Sebagian disalib dan dibakar dengan api kecil supaya lama merasakan siksanya. Sebagian lagi, orang-orang lemah, diumpankan kepada singa dan harimau yang sengaja dibuat lapar terlebih dahulu dengan tidak diberi makan sekian lama, agar supaya lebih buas lagi memangsa orang-orang Iman. Orang-orang Iman terdahulu, harus menebus sorganya dengan nyawa. Asyiah, Masitoh, Zakariya, dll.

Bagaimana dengan kita? Cukup dengan ta’at perintah Allah yang ada di dalam Al-Quran dan perintah Rosul yang ada di dalam Al-Hadits. Itupun dengan mastatho’na – semampunya. Perintah agama yang kuat untuk dikerjakan, silahkan dikerjakan. Jika tidak kuat, jangan dipaksakan, tetapi juga jangan malah membenci perintahnya. Kemudian diniati akan mengerjakan manakala sudah kuat. Plus ta’at kepada Pemerintah yang sah yang selama ini telah menjamin kebebasan kehidupan beragama.

Ingin mati syahid ada do’a dan caranya. Tanpa harus tersiksa seperti dalam lukisan Colosseum. Tanpa harus ke Afrika mengumpankan diri untuk disantap harimau, atau berperang mencari mati menjadi tentara Irak-Suriah.

Fa aina tadzhabuun?/**

Advertisements

Jokowi – Prabowo

oleh: Ir. H. Teddy Suratmadji, MSc

Judul tulisan ini bukan karena urut alfabet dimana “J” disebut duluan daripada “P”. Bukan pula diurut umur yang muda disebut duluan, atau berdasarkan berat badan yang ramping disebut duluan. Judul seperti itu karena Capres Joko Widodo datang ke Rapimnas LDII 2014 duluan, baru kemudian Capres Prabowo Subianto belakangan.

Di Rapimnas13-15 Mei 2014, DPP LDII berhasil menghadirkan kedua Capres di hari pertama di sore hari dan di hari kedua di malam hari. Sebuah upaya yang patut diacungi jempol karena saat itu adalah hari-hari genting penentuan mitra koalisi.

Tulisan ini bukan akan mengulas curriculum vitae atau membahas visi-misi keduanya melainkan hendak menjelaskan untuk apa LDII mengumpulkan para pengurus organisasi dari seluruh tanah air kalau hanya untuk mendengarkan visi-misi para Capres? Bukankah LDII ormas Islam yang tidak mengurusi politik praktis?

LDII menyatakan diri sebagai ormas yang “Netral-Aktif”. Netral artinya tidak memihak siapapun. Aktif artinya tidak golput alias harus memilih.

Kenetralan LDII dibuktikan dengan kehadiran kedua Capres di Rapimnas LDII 2014. Kalau LDII tidak netral, tidak mungkin LDII menghadirkan keduanya. Sebaliknya kalau salah satu diantara keduanya tahu bahwa LDII tidak netral, dia juga mungkin tidak akan datang di Rapimnas LDII.

LDII memutuskan untuk netral karena misi LDII adalah dakwah, dan dakwah itu perlu diterima oleh segala kalangan. Bayangkan kalau LDII tidak netral. Sudah tentu ada segelintir orang merasa dipilih-kasihi: mengapa LDII memihak sono dan bukan sini?

LDII tidak sendirian. Muhammadiyah sebagai ormas Islam besar juga menyatakan netral. Bahkan ruling party PD juga sampai tulisan ini naik cetak masih menyatakan netral.

Sikap LDII untuk netral itu mendatangkan hikmah. Pertama, karena kenetralannya LDII tidak bisa ikut kampanye baik sekedar menggunakan atribut LDII apalagi menampilkan pengurus LDII. Artinya, di tengah hiruk-pikuknya massa kampanye, warga LDII mah tetap istiqomah saja dengan aktifitas dakwahnya. Kedua,kelak dengan yang kalah hubungan tetap baik, apalagi dengan yang menang.

Lalu aktifnya dimana? Bukankah “aktif” itu kontradiktif dengan “netral”?

Aktifnya warga LDII adalah di TPS, di bilik suara. “Aktif ghoib”, aktif manakala tidak ada seorangpun yang melihat. Dengan mengucapkan Bismillaah, pilihan dijatuhkan dengan menusuk kertas suara. Josss..!!

Agar warga LDII tidak golput itulah maka diselenggarakan Rapimnas 2014, dimana DPP LDII memfasilitasi untuk mempertemukan para Pimpinan DPW Provinsi dan DPD Kabupaten-Kota dari seluruh Indonesia dengan para Capres. Sebab bagaimana warga LDII di daerah-daerah mau menetapkan pilihan jika tidak pernah muwajjahah bertatap wajah? Idealnya, setidaknya Pimpinan dari ratusan PC dan ribuan PAC hadir, tapi mana ada gedung yang muat?

Para Capres Jokowi-Prabowo adalah putera-putera terbaik pilihan rakyat Indonesia. Setelah melewati proses yang luar biasa ketatnya, dan menyisihkan banyakputera-putera Indonesia lainnya, hanya keduanya itulah yang lolos. Didukung 4 parpol (PDIP-Nasdem-PKB-Hanura) dan 6 parpol (Gerindra-PPP-PAN-PKS-PG-PBB) yang -di atas kertas- ekivalen dengan dukungan masing-masing 49,9 juta dan 61,1 juta suara, artinya, ada 100 juta lebih rakyat di belakang keduanya. Vox populi, vox dei– suara rakyat, suara Tuhan. Wowww..!!

Nah, lewat para Pimpinan DPW dan DPD itulah gesture, body language, penampilan, dan visi-misi keduanya bisa dijelaskan kepada warga LDII di seluruh Indonesia. Jadi apalagi yang diragukan saat di bilik suara ketika memilih sesuai nurani? Josssss..!!

IN MEMORIAM: AHMAD SUARNO

oleh: Ir. H. Teddy Suratmadji, MSc

“MBAH WARNO”, demikian almarhum kerap dipanggil. “Si Baju Merah”, adalah nama panggilan yang lain. Karena kemana-mana dan dalam acara apa saja, selalu mengenakan baju merah. Bukan mengenakan baju partai, tapi pencerminan dari warna darah, simbol keberanian dan semangat yang luar biasa.

Suaranya lantang, bahkan ketika sudah sulit dimengerti. Matanya tetap beringas, bahkan ketika langkahnya sudah digusur. Kondisi seperti demikian itu karena almarhum pernah beberapa kali kena stroke. Tapi dengan semangat merah darahnya itu, bahkan beberapa minggu sebelum menghadap Sang Khaliq, almarhum masih sempat hadir di sebuah acara nasional, lalu naik mimbar dengan suara menggelegar sambil mengacungkan 5 jari, tetapi 1 jari jempol dilipat. Bagi sebagian hadirin mungkin ada yang bertanya apa maksudnya.

Dalam kondisi fisik yang sudah demikian udzur, almarhum sebenarnya diberi keringanan dengan tidak pernah diundang didalam acara-acara organisasi. Namun siapa yang dapat mengalahkan semangat juangnya? Bayangkan, dalam kondisi demikian, almarhum kemana-mana masih menyetir mobil sendiri.

“Saya ingin mati syahid”, demikian selalu jawabannya setiap ditanya mengapa almarhum harus memaksakan diri hadir di acara-acara organisasi baik di Ibukota maupun di Provinsi lainnya.

Di usianya yang ke 68, Kamis malam Jum’at 19 September 2013 kemarin, Pak Ahmad Suarno meninggal dunia. Di dalam ajaran Islam, itu sudah masuk hari Jum’at. Ya, Mbah Warno wafat di hari Jum’at, hari kematian yang dirindukan setiap orang, karena barangsiapa yang meninggal di hari Jum’at akan dibebaskan dari siksa kubur (al hadits).

Mati syahid tidak harus pergi perang. Walau maata ‘ala firosyihi – walaupun mati diatas tempat tidur, atas kehendak Allah, bisa ditetapkan sebagai mati syahid. Oleh karena itu, walaupun wafat di atas tempat tidur di ruang ICU, semoga keinginan almarhum untuk mati syahid dikabulkan Allah. Aamiin.

Mesjid bertingkat di Cengkareng itu mbludak dengan pelayat sampai berkali-kali MC mengingatkan untuk naik ke lantai atas. Solat jenazah yang dipimpin Dewan Penasehat Pusat KH Edy Suparto S.Ag itu berjalan dengan khusyuk. Almarhum yang begitu gagah penuh semangat semasa hidupnya, saat itu berbaring didalam keranda. Seorang teman berbisik, mengapa kain penutup kerandanya tidak berwarna merah. Tentu saja canda pertanda sayang kepada almarhum “Si Baju Merah”. Apa boleh buat, dimana-mana di seluruh dunia penutup kain keranda warnanya hijau.

Konvoi mobil pengantar ke TPU Tegal Alur luar biasa panjangnya. Termasuk motor yang membawa bendera kertas pertanda rombongan jenazah lewat. SMS dan BBM berseliweran mengapa benderanya tidak berwarna merah. Kembali canda sayang pertanda mereka concern dengan warna kesayangan almarhum.  Tapi tentu saja bendera pertanda ada kematian dimana-mana di seluruh Indonesia warnanya kuning.

Sebagai salah satu kader tempaan langsung Soekarno, almarhum adalah organisatoris sejati. Plus seorang orator. Ketika tampil di mimbar, benar-benar selalu menguasai publik karena baik topik, retorika maupun intonasi suaranya selalu memukau.

Sikapnya sangat mewarnai berbagai organisasi yang dibidaninya. Kecintaannya kepada Indonesia memunculkan gagasan untuk menyelenggarakan bergelombang-gelombang pendidikan kaderisasi Wawasan Kebangsaan baik di pusat maupun di daerah, sehingga semangat hubbul wathon minal iman – cinta negara merupakan bagian dari iman, merasuk ke seluruh anggota organisasi, bahwa NKRI adalah harga mati.

Namun sehebat apapun kepakaran dalam berorganisasi, almarhum bukanlah malaikat yang tidak pernah berbuat salah. Pernah dalam sebuah Munas, seorang Ketua DPP yang mendapat dukungan suara untuk maju menjadi Ketua Umum tetapi mengundurkan diri, kemudian oleh formatur dimana almarhum termasuk diantara unsur pimpinannya, Ketua DPP itu malah ditetapkan sebagai Wakil Sekjen.

Sebetulnya sah-sah saja, dan Ketua DPP tadi sudah “sami’naa wa atho’naa”, apalagi susunan kepengurusan baru sudah pula dimuat di media. Tetapi peristiwa itu menimbulkan reaksi negatip dari sebagian peserta Munas karena itu nyata-nyata adalah sebuah demosi. Kebetulan saja dalam hitungan hari ada Ketua terpilih lain yang tiba-tiba berhalangan tetap, sehingga dari Wakil Sekjen bisa dikembalikan menjadi Ketua.

Salah satu peristiwa heroik yang pernah ditorehkan almarhum yang akan dikenang sepanjang masa adalah ketika menyelamatkan pasal AD/ART tentang syarat untuk menjadi Ketua Umum sesuai dengan Tata-Tertib dalam Mubes 1990. Demikian gentingnya situasi Mubes saat itu sehingga almarhum jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit.

Sekian puluh tahun kemudian, beberapa organisasi dimana almarhum berperan besar turut membidaninya, semua sudah menjadi organisasi besar. Benar-benar besar dan menjadi “bayi-bayi ajaib” yang cepat besar. Organisasi-organisasi yang ujug-ujug berada di seluruh Provinsi di Indonesia. Semua akan menjadikannya sebagai amal jariah, mengalirkan pahala buat almarhum.

Bagi murid-muridnya dalam organisasi, almarhum adalah seorang “Juggernaut”, bulldozer atau tank baja yang unstoppable – yang tidak punya rem dan persneling mundur. Organisasi maju terus! Menjalankan tugas pokok fungsinya!

Selamat jalan Pak Warno, guru organisasi kita semua. Selamat beristirahat dengan damai. Nam sholihan – tidurlah yang indah, bagaikan tidurnya pengantin baru. Mari teruskan perjuangan Mbah Juggernaut melestarikan instrumen-instrumen perjuangan ilaa yaumil qiyaamah.

Bil khusus kepada sebagian dari kita yang masih saja menyepelekan dan mengecilkan arti dan kepentingan dari organisasi; kepada yang masih mengatakan “Untuk apa organisasi?”; kepada yang masih berpendapat “Tanpa organisasi bisa hidup”: Fa aina tadzhabun?

Masya Allah

oleh: Ir. H. Teddy Suratmadji

Masya Allah sebetulnya lebih tepat ditulis ‘Maa Syaa- Allah’ yang artinya ‘apa-apa yang dikehendaki oleh Allah’. Namun dalam bahasa Indonesia sudah menjadi sebuah frasa ‘Masya Allah’. Bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah semata-mata kehendak Allah. Tidak ada siapapun yang bisa menghalangi-Nya.

Siapa tidak kenal Facebook? Baru-baru ini Mark Zuckerberg pemiliknya ‘rugi’ 8,1 milyar dollar karena harga sahamnya terjun bebas. Bisa Pencak Silat? Mungkin tahu, tapi belum tentu bisa. Karena popularitasnya masih kalah dengan beladiri impor. Padahal seni bela diri asli Indonesia itu sudah menyebar ke 40an negara. Percepatan mendunianya tidak diimbangi dengan ketersediaan pesilat di negeri asalnya. Akibatnya permintaan pelatih kualitas ‘ekspor’ sulit dipenuhi. Padahal itu sebuah peluang ma’isyah. Masya Allah.
Kaisar, raja-diraja, penguasa dunia, orang-orang dan pemimpin super jenius seperti Iskandar Zulkarnain, Darius, Shih Huang Ti, Genghis Khan, dll, sejak dulu tidak ada satupun yang bisa meramal dan menghindar dari kehendak-Nya.

Kekuasaan Masa Lalu

Penguasa dunia yang paling lama eksis adalah kekaisaran Romawi atau Roman Empire, sejak 753 M sampai dengan 1453 M atau selama 22 abad. Lihat saja peninggalan kekaisaran Romawi yang tersebar dimana-mana di seluruh dunia.

Manusia masa sekarang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, kagum membayangkan seperti apa kekuasaan kekaisaran Romawi pada masa jayanya. Tidak akan terbayangkan oleh manusia pada masa itu bahwa kekaisaran yang demikian luar biasa itu akan nenjadi puing-puing.
Semasa Nabi Muhammad hidup, kaisar Romawi saat itu bernama Heraklius (610-641) atau di hadits disebut Hirokla. Saat itu kejatuhan Romawi sudah disebutkan didalam Al-Quran. Baca saja surat Ar-Rum. Dan menjadi kenyataan pada tahun 1453.

Saat itu, Khilafah Utsmaniyah atau Ottoman Empire merebut kekaisaran dengan cara yang sangat heroik. Benteng kota Konstantinopel dijebol oleh pasukan Muslim dipimpin Sultan Mehmet II yang baru berusia 21 tahun. Muslim memiliki senjata paling canggih saat itu: meriam dengan peluru batu yang siang-malam menggempur benteng selama hampir 2 bulan. Kekaisaran Romawi runtuh.

Lalu Allah memberi waktu 6 abad sampai tahun 1923 dimana Khilafah terhapuskan dari muka bumi karena digempur oleh tentara Sekutu dengan persenjataan yang lebih canggih, dan Negara superpower pindah dari Timur ke Negara-negara Barat. Seperti apa nasib keturunan Khilafah penguasa dunia dimasa lalu? Sungguh tragis. Mereka dibuang oleh rakyatnya sendiri. Lihat saja di youtube dengan keyword “The youngest Members of the Ottoman Royal Family”. Masya Allah.

Kekuasaan Masa Kini.

Pada masa kejayaannya, Uni Sovyet adalah pesaing terbesar Amerika Serikat. Stalin, Lenin, adalah nama-nama pemimpinnya yang menakutkan. Ternyata umur Uni Sovyet tidak sampai berabad-abad, berdiri 1922 di zaman Joseph Stalin dan runtuh 1991 di zaman Michail Gorbachev, lalu terpecah menjadi 15 negara-negara kecil Rusia, Georgia, Ukraine, Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Tajikistan dll.

Kurang apa kekuasaan penguasa negara-negara Arab yang kaya dengan minyak? Ketika Allah menghendaki jatuh, tidak ada satupun yang bisa menghalanginya. Arab Spring arau Revolusi Arab dimulai dari Tunisia pada Desember 2010, lalu merembet ke Aljeria, Lebanon, Yordan, Mauritania, Oman, Arab Saudi, Mesir, Yaman, Djibouti, Sudan, Irak, Bahrain, Libia, Kuwait, Maroko, Sahara Barat, Siria, dan Suriah. Pemimpin Arab yang demikian berkuasa sekelas Moammar Khadafi dan Husni Mobarak, bertumbangan.

Siapa yang mengira Orde Baru yang lebih dari 3 dekade demikian berkuasa kemudian jatuh? Bagaimana tidak berkuasa kalau, diantaranya, seluruh Gubernur dan Bupati Kepala Daerah diputuskan dari Cendana?. Penyebab awal kejatuhannya bukan karena perlawanan rakyat kepada kepemimpinan yang represif, melainkan karena krisis ekonomi Asia yang berdampak kepada ekonomi dalam negeri Indonesia. Dalam waktu 6 bulan, kurs dolar Amerika melesat dari Rp. 2.200,- menjadi Rp. 16.500,-. Ekonomi hancur. Para pengusaha dan konglomerat dalam sekejap jatuh miskin. Negara bangkrut diambang kehancuran, dan Mei 1998 Soeharto mundur. Masya Allah.

Pilkada Masya Allah

Tumbangnya Orde Baru merubah pola pemilihan kepala daerah dari yang asalnya dipilih Cendana menjadi dipilih langsung oleh rakyat. Luar biasa drama kehidupan akibat pemilihan langsung kepala daerah oleh rakyat ini. Yang berhasil di pilkada, walapun seorang preman bisa jadi Bupati. Akibatnya, karena ketidak-mengertian administrasi pemerintahan, di ujung masabakti justru ditunggu penjara. Yang gagal di pikada, bisa jatuh miskin berhutang milyaran ibaratnya tinggal celana, stress, bahkan ada yang sampai gila. Yang tertipu sama ‘makelar pilkada’ sama sengsaranya.

Pilkada di Ibukota baru-baru ini adalah contoh ketidak-mampuan manusia untuk ‘meramal’ kehendak Allah. Bayangkan, 5 lembaga survey dengan metodologi dan teknologi canggih, semua keliru. Kalau 1 atau 2 keliru, itu biasa. Tapi kalau semuanya keliru? Seorang walikota dari daerah berpenduduk ½ juta hanya didukung minoritas parpol bisa mengungguli pemimpin incumbent berpenduduk 10 juta dimana organisasi birokrasi di provinsi, kota, kecamatan, kelurahan, RW dan RT ada didalam kontrolnya, serta didukung mayoritas parpol, para Ulama dan Habaib. Masya Allah, Masya Allah.

Terima kasih Bang Fauzi Bowo atas pengabdiannya di DKI  selama 35 tahun sejak 1977 meniti karir menjadi Karo, Kadis, Wagub dan terakhir Gubernur. Selamat datang di DKI Mas “Jokowi” Joko Widodo yang di Solo cukup dekat hubungannya dengan LDII.

Mawas Diri

Kejatuhan Khilafah Utsmaniyah sebagai penguasa dunia adalah karena saat itu penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah, Khurofat) sudah luar biasa merajalela sampai ke pihak istana Sultan. Kejatuhan negara-negara Arab adalah karena begitu besarnya ketidak-adilan, jarak sosial ekonomi antara para penguasa dan aparatnya dengan rakyatnya. Revolusi Arab dipicu oleh aksi bakar diri pedagang miskin yang gerobaknya dirampas aparat. Masya Allah.

Banyak yang tidak menyadari bahwa negara adikuasa Amerika pada tahun 2008 yang lalu hampir runtuh, bukan dengan gempuran meriam seperti Sultan Mehmet II melenyapkan kekaisaran Romawi dari muka bumi pada tahun 1453, tetapi akibat sistem ekonomi ribawi. Bagaimana kompleksnya ribawi penyebab hampir runtuhnya Amerika, silahkan search di Google dengan kerwords ‘Too Big To Fail’. Terbukti sudah mengapa riba itu haram.

Sudah terlalu banyak contohnya organisasi adidaya di masa lalu akhirnya ‘bubar jalan’. Apalagi sekedar organisasi majelis ta’lim atau lembaga dakwah. Maka mawas dirilah. Jangan sampai sembuh dari TBC, malah kena AIDS (Arogan-sombong, Intimidator-pengancam, Dengki-iri, Sompral-nyablak). Sebab  jika bukan karena Dzat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Masya Allah, manusia itu bisa apa?  Fa aina tadzhabuun?

Thailand, September 2012

Count Down (Menghitung Mundur)

oleh: Teddy Suratmadji

WA’BUD Robbaka hattaa ya-tiyakal yaqiin – Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang ajal.

Itulah tantangan paling besar bagi manusia yang ingin masuk sorga selamat dari neraka: harus ibadah kepada Allah sampai datang ajal mati masing-masing, tidak boleh berhenti barang sejenakpun.

Mengapa itu adalah sebuah tantangan? Karena semuanya berurusan dengan Malaikat Izroil yang tidak mengenal kompromi.

Husnul Khotimah

Pertama, karena mati itu harus “GOOD ENDING”, husnul khotimah – akhir yang baik, sebagaimana perintah Allah ”walaa tamuutunna illaa wa antum muslimuun” – dan janganlah kamu sekalian ketika Izroil mencabut nyawamu kecuali dalam keadaan Muslim, menyerah.

Kedua, karena mati itu “ANYTIME”, datangnya sewaktu-waktu, sebagaimana firman Allah ”idzaa jaa-a ajaluhum laa yasta-khiruuna saa’atan walaa yastaqdimuun” – ketika Izroil datang, tidak ada seorangpun yang bisa menolak supaya memperlambat atau mengundang supaya mempercepat pencabutan nyawa, barang sedetikpun.

Ketiga, karena mati itu “ANYWHERE”, tidak ada tempat menghindar darinya ”walau kuntum fii burujim musyayyadah” – walaupun lari ke bintang di langit lalu dibentengi dengan kerangkeng baja yang super kuat, tidak akan mampu  menghindar dari kehadiran Izroil untuk memisahkan nyawa dari jasad.

Bagi Muslim, bukan “Happy Ending” seperti di cerita film yang dicari, melainkan “Good Ending”. Karena mati yang menggembirakan dalam pandangan dunia belum tentu baik di sisi Allah. Misalnya orang kaya setara Qorun yang mati dalam keadaan kaya-raya dan dikelilingi anak-anak isteri-isteri yang hidup bahagia, tetapi ternyata semuanya diperoleh dengan cara-cara yang tidak halal.

Sebaliknya, yang mati dalam pandangan dunia sepertinya mengenaskan, tetapi di sisi Allah justru mulia. Misalnya para syuhada sebagaimana Hamzah paman Nabi yang matinya ditombak musuh, dan jantungnya diambil dan dimakan mentah-mentah oleh Hindun. Padahal rohnya harum dan disambut malaikat untuk disemayamkan di tembolok burung di sorga.

Laa tahsabannalladziina yuqootiluuna fii sabiilillaahi amwaat – janganlah kalian mengira orang yang terbunuh didalam sabilillah itu mati. Roh para syuhada itu hidup dengan luar biasa bahagia. Bahkan mereka memohon kepada Allah dengan sebuah permintaan: minta dihidupkan lagi! Untuk apa? Supaya pergi fii sabiilillah lagi, lalu dibunuh lagi, demi mati sebagai syuhada!

Pengecualian Musa

Satu pengecualian tentang saat kematian hanya bisa dilakukan oleh Nabi Musa yang melawan bahkan menempeleng Izroil ketika Musa hendak dicabut nyawanya. Izroil datang menghadap Allah, mengadu atas kelakuan Musa. Allah kemudian menyuruh Izroil kembali menemui Musa untuk negosiasi.

Kepada Musa dihamparkanlah selembar kulit sapi, dan disuruh menghitung jumlah bulunya. Selembar bulu setara dengan 1 tahun penambahan umur. Pikir Musa, berapa ribu lembar pun jumlah bulu sapi, berapa ribu tahun pun umurnya ditambah, akhirnya nyawa yang dikandung badan akan dipisahkan juga oleh Izroil. Akhirnya Musa menyerah, dan memilih mati saat itu juga.

Jasad mummi Firaun yang diduga hidup sezaman dengan Musa sudah ditemukan, dan dengan teknik ilmu kimia murni ‘paruh waktu’ secara ilmiah umurnya dapat dihitung. Ternyata umur mummi itu 3000 tahun. Ah, andaikan Musa mengambil keputusan lain, dan jumlah bulu sapi saat itu ada 3001 lembar saja. Lumayan, masih ada kesempatan 1 tahun lagi untuk ketemu. Syukurlah, Musa mengambil keputusang yang tepat.

Bertambah vs Berkurang

Pemikiran manusia umumnya terbalik dengan Nabi. Saat milad alias hari ulang tahun, manusia umumnya menyatakan “umur bertambah”. Padahal Nabi mengatakan setiap ganti tahun justru disebutnya “umur berkurang”. Artinya, manusia umumnya “menghitung maju”, sedangkan Nabi “menghitung mundur” atau “count down”.

Count-down adalah seperti ketika pesawat ulang alik akan diluncurkan ke angkasa, maka menara kontrol akan menghitung mundur: ten .. nine .. eight .. seven .. six .. five .. four .. three .. two .. ZERO! dan pesawat pun melesat ke angkasa.

Atau ketika pergantian tahun baru. Pada tanggal 31 Desember jam 23:59 orang-orang yang merayakan akan menghitung mundur: sepuluh .. sembilan .. .. .. tiga .. dua .. satu .. HAPPY NEW YEAR! Sambil terompet dibunyikan sekeras-kerasnya, diikuti pelanggaran dan kemaksiatan lainnya. Itulah makanya generus di kalangan lembaga dakwah dilarang mengikuti acara seperti itu. Lebih baik dikumpulkan di suatu tempat, dan mengaji atau melaksanakan ibadah bentuk lainnya.

Mengapa count-down? Sebab batasnya sudah dipastikan zero alias nol. Sedangkan count-up harus disepakati dulu batasnya: 10? 25? 50? Dst.

 Referensi 63 Tahun.

‘Umru ummatii min sittiin ilaa sab’iin sanah – umur ummatku dari 60 sampai 70 tahun, demikian sabda Nabi. Sedangkan usia Nabi sendiri 63 tahun. Nah, karena merupakan sebuah rentang tahun yang terdiri atas 2 angka 60 dan 70, maka sulit untuk melakukan count-down, karena mau angka berapa yang akan dipakai sebagai batas atas?

“Berapa umurnya sekarang, Dik?” tanya Fulan.
“Limapuluh tiga, Mas” jawab Fulen.
“Alhamdulillah, masih ada sepuluh tahun lagi” kata Fulan.

Percakapan diatas sering terjadi diantara anggota lembaga dakwah. Tentunya dalam suasana joke alias bergurau. Memangnya siapa bisa mengatur umur? Namun tanpa disadari, sebetulnya ketika mengatakan ‘masih ada sepuluh tahun lagi’, Fulan sedang melakukan count-down, menghitung mundur dari angka 63.

“Mas sendiri usianya berapa?” balas Fulen.
“Alhamdulillah sudah dapat bonus lima tahun” jawab Fulan.

Tanpa perlu dijelaskan lagi, karena menggunakan angka referensi yang sama, maka umur Fulan adalah 63 plus bonus 5 atau 68 tahun.

Sekali lagi, itu semua dilakukan dalam suasana gurauan. Karena sesungguhnya mati itu kapan saja. Mati muda bahkan di usia anak-anak pantas. Mati tua apalagi.

Menyembah Tanpa Jeda.

Ibadah wajib tidak mengenal masa reses. Sholat lima waktu tidak boleh ditinggalkan walaupun hanya 1 sholatan. Tidak bisa sholat berdiri lakukan dengan duduk. Tidak bisa sholat duduk lakukan dengan berbaring. Tidak bisa sholat berbaring lakukan dengan isyarah. Kalau isyarah pun sudah tidak bisa, berarti orang itu sudah tinggal jasad tanpa roh.

Taat kepada orang-tua tidak mengenal jeda. Dalam situasi dan kondisi apapun, sepanjang tidak memerintah syirik kepada Allah, orang tua wajib dita’ati. Wa wasshoinal insaana bi waalidaihi husna – dan berwasiat kami Allah kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang-tua.

Boro-boro mengejek dan berkata sinis apalagi kotor, mengatakan “uffin” alias “ah” dalam bahasa kita saja, dilarang. Walaa taqullahumaa uffin – dan janganlah berkata kepada kedua orang tua “ah!”.

Mengapa tidak boleh mengenal jeda?

Karena jika maut datang menjemput pada saat sedang istirahat full tidak sholat lima waktu sehari saja, misalnya, maka matinya didalam dosa akbar. Man tarokaha faqod kafaro – barangsiapa yang meninggalkan sholat, maka orang itu sudah kufur. Na’uudzu billaah.

Karena ketika maut datang menjemput pada saat sedang bermasalah dengan orang tua, maka matinya didalam mega dosa. Ridlor robbii fii ridlol waliid wa sakhotor robbii fii sakhotol waliid – ridlo Allah bersama ridlo orang-tua dan murka Allah bersama murka orang-tua. Cukuplah Alqomah, seorang sahabat yang hampir saja dibakar karena sakratul mautnya lama sekali, hanya gara-gara ibunya sakit hati, dan belum memaafkannya.

Karena demikian besarnya resiko jeda dalam ibadah, buat apa coba-coba melakukannya? Karena yang jadi pertanyaan besar adalah: apakah saat jeda ibadah itu bisa bebas dari kematian? Bagaimana jika pada saat jeda ibadah tiba-tiba mati datang menjemput?

Jadi untuk apa lagi berani tidak taat kepada Allah, kepada Rasul, kepada Umaro dan kepada orang-tua, walaupun hanya sesaat? Fa aina tadzhabuun? Kemana engkau hendak pergi?

PUPU

oleh: Teddy Suratmadji

SAYYIDUL Qoum KhoodimuhumPemimpin Ummat Pelayan Ummat (PUPU). Demikian bunyi sebuah hadits tentang sebuah prinsip yang sangat mendasar mengenai kepemimpinan dalam ajaran Islam. Prinsip yang terlupakan.

Tentu saja terlupakan, bahkan terasa ‘asing’ bagi kebanyakan telinga orang. Sebab bukankah yang berlaku dimana-mana justru Pelayan Ummat Dilayani Ummat alias PUDU?

Bagi kebanyakan, pemimpin identik dengan kekuasaan (tahta) identik dengan kekayaan (harta) dan identik dengan kesenangan (wanita).

Zuhud

Padahal dalam sejarah Islam, pemimpin jauh dari menumpuk-numpuk harta. Justru sebaliknya. Ketika Abubakar RA diangkat menjadi Khalifah, 100% hartanya diserahkan ke Sabilillah. Ketika Umar RA diangkat menjadi Khalifah, 50% hartanya diserahkan ke Sabilillah. Ketika Utsman RA diangkat menjadi khalifah, entah berapa ribu unta lengkap dengan peralatan perangnya yang sudah diserahkan ke Sabilillah.

Bagaimana dengan Muhammad?

Beliau adalah pengusaha muda kaya yang beristerikan isteri yang kaya raya pula. Tetapi setelah menjadi Nabi, beliau sering ’unplanned fasting’ alias puasa sunnah yang sama sekali tidak direncanakan sebelumnya. Beliau puasa sunnah karena tidak mendapatkan makanan untuk sarapan pagi. Masya Allah …

Pada saat Raja Parsi, Raja Romawi bahkan Raja Habsyi pengikut Injil yang mengakui kenabian Muhammad semuanya tidur di atas kasur empuk di dalam kamar yang bisa jadi dikipasi dayang-dayang cantik jelita, Rosulullah tidur di lantai beralaskan tikar keras dan kasar yang meninggalkan bekas di kulit tangannya, yang menyebabkan hati Abu Bakar RA miris dan menangis karenanya.

Begitulah sifat zuhud alias kesederhanaan luar biasa yang ditunjukkan orang-orang shalih zaman dulu, sebelum dan sesudah mereka diangkat menjadi pemimpin.

Pemimpin adalah pengabdian. Ketika Umar RA dalam penyamarannya di malam hari mendapatkan sebuah rumah yang penghuninya kelaparan, beliau memanggul sendiri makanan dan mengirimkannya ke rumah keluarga itu.

Mereka justru menjadi miskin setelah menjadi pemimpin? ‘Ya’ dalam penampakan dunia. Tetapi ‘tidak’ dalam pandangan agama.

Sebab justru para pemimpin seperti itulah yang akan kaya-raya di akhirat nanti. Atas dasar keyakinan bahwa ‘harta yang dimiliki’ yang akan dijumpai lagi di akhirat, adalah harta yang sudah diserahkan ke Sabilillah. Adapun selainnya, bukan miliknya, melainkan milik ahli warisnya.

Faqih

Siapa memerlukan siapa? Apakah pemimpin yang memerlukan ummat, atau justru sebaliknya ummat yang memerlukan pemimpin?

Sabda Nabi, barangsiapa kaum yang mengangkat pemimpinnya ‘ala fiqhin atau atas dasar kefaqihan, maka akan hidup pemimpin, dan hidup pula kaum: hayatan lahu walahum.

Sebaliknya, barangsiapa kaum yang mengangkat pemimpinnya ‘ala ghoiri fiqhin atau bukan atas kefaqihan, maka akan rusak pemimpin, dan rusak pula kaum: halaka lahu walahum.

Jadi jelas atas dasar hadits itu, bahwa kaumlah yang memerlukan pemimpin. Bukan sebaliknya.

Sebab kaum tanpa pemimpin jelas hidupnya akan kacau balau. Sebaliknya pemimpin yang tanpa kaum ya bukanlah pemimpin. Karena tanpa kaum artinya tidak ada orang lain. Artinya dia soliter, hidup sendiri.

Istilah ‘pelayan ummat’ sebetulnya bukan barang baru di alam demokrasi. Di Amerika Serikat, Pemerintahan President Obama, misalnya, disebut ‘President Obama Administration’. Jadi ‘pemerintah’ itu tidak lebih dari ‘administratur’.

Disana, Pegawai Negeri Sipil (PNS) disebut ‘Civil Servant’ alias ‘pelayan sipil’. Di sana pula, rakyat bisa memaki-maki para pejabat dan pegawai pemerintahan dengan mengatakan “I am tax payer” – aku pembayar pajak yang dipakai untuk menggaji kalian! Maka jangan berbuat macam-macam kepada kami yang menggaji kalian. Begitu kira-kira bahasanya jika tanpa tedeng aling-aling.

Apakah ukuran kefaqihan atau kefahaman? Apakah menguasai ilmu-ilmu ipoleksosbudmil (ideologi-politik-ekonomi-sosial-budaya-militer)? Ternyata bukan.

Yang dimaksud pemimpin faqih yang akan berujung kepada ‘hidup pemimpin, hidup kaum’ sebagaimana dimaksudkan didalam hadits Nabi diatas, adalah pemimpin yang mengetahui ilmu agama. Ilmu Al-Quran dan Al-Hadits. Tetapi berbekal ilmu agama itu saja tidak cukup.

FAST

Pemimpin faqih adalah yang menguasai ilmu Al-Quran dan Al-Hadits, serta dapat melaksanakan 4 sifat pemimpin shalih berikut:

  1. S-idik alias jujur atau dalam terminologi manajemen modern disebut ‘integritas’. Berkata apa adanya. Tidak mengada-ada. Baik dikatakan baik, buruk dikatakan buruk. Berpegang teguh dengan value system alias nilai-nilai.
  2. A-manah alias dapat dipercaya alias tidak khianat atau terminologi manajemen modern disebut ‘transparan’. Tidak mengkhianati ummat yang telah memilihnya. Tidak mangkir dari tugas. Tidak KKN (korupsi-kolusi-nepotisme).
  3. T-abligh alias menyampaikan kebenaran atau dalam konteks terminologi manajemen modern disebut ‘komunikatif’. Berbicara langsung dan mendengarkan suara grassroot, alias lapisan ummat paling bawah. Tanpa perantara.
  4. F-athonah alias cerdas atau dalam terminologi manajemen modern disebut ‘work-smart’. Segala jenis pluralisme dan heterogenitas dihadapi dengan sikap wasathon umama alias ummat yang tengah yang dapat diterima semua pihak.

Dirangkai ulang, keempat sifat itu dapat disingkat menjadi Bahasa Inggeris ‘FAST’ yang memiliki 2 arti ‘cepat’ dan ‘puasa’, atau kalau disatukan menjadi ‘kerja mengpeng tirakat banter’ alias mujhid-muzhid.

Ketika sudah bicara FAST, maka Good Governance (GG) atau Good Corporate Governance (GCG) alias ‘tata-kelola’ atau ‘tata-kelola-usaha’ sudah menjadi tidak relevan lagi. Karena FAST adalah sifat-sifat para Nabi dan Rasul. Mana lagi sifat yang lebih sempurna dari itu?

Pemimpin Durhaka

Percakapan antara ummat dengan pemimpin berikut akan terjadi di akhirat nanti:

”Innaa kunnaa lakum taba’an – sungguh, dulu kami mengikutimu”, kata ummat.

“Fa hal antum mughnuuna ‘annaa min ‘adzaabillaahi min syaii – apakah engkau wahai pemimpin bisa mencegah sedikit saja adzab yang ditimpakan Allah kepada kami?, kata ummat lagi.

Bagaimana jawaban pemimpin?

“Lau hadaanalloohu lahadainaakum – seandainya dulu Allah memberi petunjuk kepadaku, niscaya akupun akan memberi kalian petunjuk”, kata pemimpin.

“Sawaaun ‘alaina ajazi’naa am shobarnaa maa lanaa min mahiish – sama saja bagi kita apakah menolak atau shabar menerima, semua tidak ada gunanya”, kata pemimpin lagi.

Astaghfirullaaaaaah, rupanya percakapan ummat pengikut dan pemimpinnya itu adalah percakapan di neraka. Ya, ummat dengan pemimpinnya bersama-sama berada di neraka.

Maka hati-hatilah, jangan sampai salah mengangkat atau memilih pemimpin. Pemimpin yang menjerumuskan. Pemimpin durhaka.

Boro-boro menolong ummatnya, menolong diri sendiri saja seorang pemimpin durhaka itu tidak bisa. Maka sekali lagi: hati-hatilah.

PUPU vs PUDU.

Sungguh mengerikan ‘lingkaran syetan’ atau lebih tepat disebut ‘lingkaran iblis’ akibat calon pemimpin membagi-bagikan uang atau dalam bentuk natura seperti sembako, sound system, karpet, dlsb. Tujuannya untuk apa lagi kalau bukan supaya ummat memilihnya sebagai pemimpin.

Disebut ‘lingkaran iblis’ karena tiga hal:

  • Untuk calon pemimpin, jika menang, akan menjadi pemimpin dengan biaya ‘modal’ yang sangat besar yang tidak mungkin ‘kembali modal’ kecuali harus melakukan mega-korupsi;
  • Untuk calon pemimpin, jika kalah, akan menjadi pecundang yang ketahuan ketidak-tulusannya ketika memberi; karena tidak sedikit yang kemudian tega-teganya menarik kembali pemberiannya;
  • Untuk ummat, memilih pemimpin karena imbalan dalam bentuk uang atau bentuk natura lainnya adalah pelanggaran terhadap dalil memilih pemimpin atas dasar kefaqihan; dan itu adalah rasuah, suap.

Pantas, sabda Nabi halaka lahu walahum – rusak pemimpin dan rusak kaum.

Yang terpilih bukanlah PUPU pemimpin yang faqih, melainkan PUDU pemimpin yang durhaka.

Akhirnya? Sebagaimana di percakapan yang ada didalam Al-Quran di atas, semuanya blung: masuk kedalam neraka. Na’uudzubillaahi min dzaalika.

foto: Abros, Rumgapres