Ada Sirine “Nguuk” di Masjid Agung Baitunnur Blora

masjid_blora

MASYARAKAT Kabupaten Blora tentunya tak asing lagi dengan Masjid Agung Baitunnur, masjid yang terletak di tengah Kota Blora, yakni di alun-alun barat Kota Blora. Masjid tertua di Blora ini berdiri pada masa kepemimpinan Mataram, yaitu pada zaman pemerintahan Sultan Agung antara tahun 1613-1645.

Masjid ini dulunya dikenal dengan nama Masjid Doro Ndekem (Merpati duduk-red), karena pada saat berdirinya letak tanahnya lebih rendah dibanding alun-alun kota tersebut, sehingga tampak seperti burung merpati yang sedang duduk (Ndekem-bahasa Jawa-red).

Sebagaimana kebiasaan pada zaman dahulu, alun-alun adalah sebagai tempat yang strategis suatu pemerintahan. Sehingga kegiatan apapun selalu dipusatkan di situ. Dengan pertimbangan itulah maka Pangeran Pojok yang saat itu merupakan salah satu panglima perang, memutuskan membangun masjid di seputar alun-alun.

Saat ini masjid yang berluas kurang lebih 2 ribu meter persegi ini sudah masuk cagar budaya dan merupakan aset sejarah nasional, bersama lima masjid tertua di Jawa Tengah. Oleh sebab itulah keaslian di dalam masjid ini sampai sekarang masih terjaga. Seperti ruang atas masjid yang letaknya di bawah kubah utama. Lokasi yang dahulu menjadi tempat penyimpanan kitab dan pusaka serta bersemedi masih tetap terpelihara rapi.

Namun dalam perkembangan zaman Masjid Baitunnur ini, mengalami perubahan yang cukup banyak. Diantaranya yang sangat mencolok adalah tambahan tempat ibadah di depan, dan tempat wudhu yang serasa berada di bawah tanah, yaitu di sebelah timur lebih bawah dari ruang masjid utama.

Ada satu kebiasaan unik dan sangat dinanti-nantikan warga muslim Blora setiap bulan Ramadhan, yaitu bunyi sirine kuno nguuk peninggalan Belanda, yang menandai telah masuk waktu berbuka puasa atau imsak. Suara sirine ini akan menggema cukup keras dan terdengar sampai sejauh 5 kilometer lebih.

Bunyi sirine ini selalu mendahului suara adzan maghrib dari masjid manapun yang ada di Blora. Sebab suara sirine yang sering disebut “nguuk” oleh warga Blora ini dijadikan rujukan semua masjid dan musholla. Setelah sirine berbunyi, Masjid Agung Baitunnur seketika langsung mengumandangkan adzan maghrib, dan adzan maghrib Masjid Agung Baitunnur ini menjadi rujukan bagi masjid-masjid dan musholla lainnya di Blora untuk segera mengikuti mengumandangkan adzan. Jika Masjid Agung Baitunnur belum adzan maka masjid yang lain juga belum adzan. Masjid yang lain akan bersahut-sahutan mengumandangkn adzan ketika Masjid Agung telah selesai mengumandangkan adzan.
Oleh karena itu setiap sore suara sirine itu selalu dirindukan seluruh warga Blora mendekati waktu berbuka. Hal ini menjadi salah satu ciri khas nuansa ramadhan di Kota Blora. Bahkan konon bunyi sirine itu bisa terdengar lebih jauh misalnya sampai Kecamatan Tunjungan dan lainnya. Atau di desa-desa pelosok di wilayah Kecamatan Kota. Semakin jauh dan sepinya suasana desa konon suara sirine itu semakin jelas terdengar. Sehingga sirine ini dirasa efektif untuk menandai saatnya berbuka puasa dan waktu imsak.

Entah siapa yang memulai menggunakan suara sirine itu sebagai penanda buka puasa, soalnya hal ini sudah menjadi tradisi turun temurun di wilayah Blora. Yang pasti sudah sangat lama sirine itu difungsikan seperti ini.

Pada zaman kolonial Belanda dahulu suara sirine ini digunakan untuk tanda pemberlakuan jam malam. Setelah sirine berbunyi, semua warga dilarang keluar rumah dan sebagai tanda bahaya yakni adanya serangan dari penjajah. Sirine dibunyikan dengan harapan warga berkemas dan para pejuang bersiap menghadapi musuh. Sehingga kondisi dahulu dengan sekarang sangat berbeda fungsinya.

Jika dahulu warga sangat tidak berharap sirine tersebut dibunyikan, sebab jika sirine itu dibunyikan maka akan ada bahaya yang datang. Tetapi kini selama ramadhan bunyi sirine itu selalu dinantikan untuk pertanda waktunya berbuka puasa. Selain saat ramadhan, sirine ini juga dibunyikan saat Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi setiap tanggal 17 Agustus di Alun-alun Blora. //**

Advertisements

Masjid Agung Sumedang

masjidagung_sumedang

KALAU Anda berwisata ke Kota Sumedang, Jawa Barat, jangan hanya memborong tahu pong-nya saja yang tersohor dan memang nikmat. Coba sempatkan mampir pula ke Masjid Agung Sumedang yang bersejarah itu untuk sholat berjamaah.

Arsitektur masjid ini bergaya Cina dengan jumlah tiang seluruhnya 166 buah, 20 buah jendela berukuran tinggi 4 meter dan lebar 1,5 meter. Di bagian depan terdapat ukiran kayu jati sebagai ornamen. Menara adzan utamanya berbentuk limas yang disebut mamale dengan tinggi 35,5 meter.
Di masjid ini terdapat Al-Qur’an berukuran besar terbuat dari kayu yang ditempatkan di depan masjid. Keberadaannya menarik perhatian sejumlah jamaah yang baru kali pertama bertandang, sehingga banyak wisatawan yang menyempatkan diri berfoto di samping Al Qur’an raksasa tersebut. Selain Al Qur’an kayu, di masjid ini juga terdapat tiga buah beduk berukuran panjang 3 meter dan diameter 0,6 meter serta mimbar juga dari kayu jati bertiang 4 yang sudah berumur ratusan tahun.

Masjid yang pernah menjadi pusat penyebaran Islam di Sumedang dan sekitarnya ini semula berada Kampung Sukaraja yang dibangun tahun 1781-1828, pada masa pemerintahan Bupati Sumedang Pangeran Korner. Kemudin pada masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata yang bergelar Pangeran Sugih pada tahun 1836-1882 M, masjid ini dipindahkan ke lokasinya yang sekarang, di atas tanah wakaf dari R. Dewi Siti Aisyah, seluas 6.755 meter persegi.

Pembangunan masjid di lokasi barunya sekarang di mulai tanggal 3 juni 1850 M dan selesai tahun 1854 M dengan Imam pertama Penghulu RH. Muhammad Apandi.

Restorasi Masjid Agung Sumedang pertama kali dilakukan pada tahun 1913 M oleh Pangeran Aria Soeriaatmadja yang bergelar Pangeran Mekah. Selanjutnya tahun 1962, 1982, dan terakhir tahun 2002 seperti terlihat sekarang, yang peresmiannya dilakukan Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan pada 22 April 2004.

Mudah sekali mencapai Masjid Agung Sumedang yang berada di Alun-alun Kota Sumedang, Jalan Prabu Geusan Ulun, Kelurahan Regol Wetan, kecamatan Sumedang Selatan ini. Dari Terminal bus antarkota Sumedang, Anda tinggal naik angkot yang melewati alun-alun dengan ongkos Rp 3.000 per orang. Manggaaa mampir! //**

Masjid Cipto Mulyo, Pengging: Untuk Menciptakan Kemuliaan Dunia Akhirat

masjid_pengging

BERIBADAH di suatu tempat yang memiliki nilai sejarah adalah suatu kenikmatan tersendiri. Demikian juga ketika beribadah di Masjid Cipto Mulyo, Anda akan merasakan suasana yang berbeda dibandingkan beribadah di masjid-masjid biasa. Selain itu, suasananya yang sejuk karena berada di tengah-tengah lokasi sumber mata air menjadikan masjid ini nyaman untuk tempat beribadah.
Masjid Cipto Mulyo terletak di Jalan Raya Pengging, Desa Dukuh, Kelurahan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Lokasi Masjid Cipto Mulyo terletak sekitar 1,5 kilometer dari Jalan Raya Solo-Semarang dan berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Boyolali atau sekitar 17 kilometer dari Kota Surakarta. Akses menuju ke lokasi ini cukup mudah karena dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Kawasan ini juga dapat dicapai melalui jalur udara dengan tujuan Bandara Internasional Adi Sumarmo, Surakarta.

Masjid Cipto Mulyo adalah salah satu masjid bersejarah di Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya berada di Kawasan Wisata Pengging. Dulu, kawasan ini merupakan tempat pemandian keluarga Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sri Paduka Susuhunan Pakubuwono X. Di tempat ini, keluarga raja sering menghabiskan waktu untuk bersantai. Oleh karena itu, Pakubuwono X merasa perlu membangun tempat jujugan (peristirahatan) sekaligus tempat beribadah sesuai siraman (mandi).
Pada Selasa, 24 Jumadil Akhir 1838 Hijriah atau tepatnya tahun 1905 Masehi, Sri Paduka Pakubuwono X mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Masjid Cipto Mulyo, yang berarti menciptakan kemuliaan di dunia dan akhirat. Nama masjid ini cukup unik karena menggunakan bahasa Jawa yang berbeda dari kebanyakan masjid yang memakai bahasa Arab.

Selain namanya yang unik, bangunan Masjid Cipto Mulyo juga menampilkan desain Jawa kuno yaitu berbentuk limasan dan menyerupai pendopo. Masjid ini memiliki 5 pintu utama yang semuanya terletak di bagian depan bangunan masjid. Di atas setiap pintu diberi ukiran-ukiran yang disisipkan tulisan “P.B. X” sebagai tanda bahwa masjid itu dibangun pada masa pemerintahannya. Tulisan seperti ini juga terlihat jelas pada bagian atas gerbang serambi yang berada di depan masjid.

Pada bagian atas gerbang serambi tersebut juga terdapat tulisan aksara Jawa Kuno yang bertuliskan “Adegipun Masjid Cipto Mulyo, Selasa Pon, Kaping 24 Jumadil Akhir 1838 Hijrah”. Selain itu, juga terdapat sebuah beduk berukuran besar yang diletakkan di sisi kanan serambi masjid. Sementara di tengah-tengah serambi terdapat sebuah tanda arah mata angin yang berfungsi sebagai penunjuk arah kiblat. Jarum penunjuk arah kiblat ini sengaja dipasang oleh Departemen Agama Wilayah Jawa Tengah karena posisi bangunan masjid ini memang miring sekitar 24° ke utara arah kiblat. Oleh karena itu, shaf di dalam masjid ini harus dibuat miring mengikuti arah kiblat. Kesalahan posisi bangunan masjid ini kiemungkinan terjadi karena arsitek pembangunan masjid adalah orang Belanda.

Masjid Cipto Mulyo sudah beberapa kali direvonasi, namun hanya bagian atap dan lantainya saja diganti. Sementara bagian dalam masjid, termasuk pilar dan tiangnya yang terbuat dari kayu jati tidak diganti karena masih kuat. Demikian pula dengan posisi arah bangunan masjid yang miring tetap dipertahankan atas instruksi dari pihak Keraton Surakarta. Hingga saat ini, masjid bersejarah ini masih berdiri kokoh di Kawasan Wisata Pengging. //**

Masjid Taqwa Tompong, Saksi Penyebaran Islam di Bantaeng

bantaengjun13

MASJID Taqwa Tompong, yang berdiri kokoh di Kampung Tompong, Kelurahan Letta, bukan hanya dikenal sebagai masjid tertua. Masjid ini juga menjadi saksi bisu sejumlah pertemuan raja, pemangku adat dua belas, serta aktivitas penyebar agama Islam di Bantaeng, pada masa lalu.

Pada tahun 1887, pesatnya penyebaran agama Islam di Bantaeng mencapai puncaknya. Kondisi ini membuat para pemangku adat dua belas, –“legislator” pada masa itu, mengusulkan untuk membangun langgar. Walhasil, Raja Bantaeng, Karaeng Panawang, yang merupakan raja pertama, menyetujuinya.

Setelah melalui musyawarah panjang. Langgar pun dibangun di kampung Tompong, untuk menjadi tempat beribadah umat Islam, dan melakukan pengajian, serta kegiatan-kegiatan penyebaran Islam. Tempat ini juga kerap digunakan raja bersama para pemangku adat dengan melakukan pertemuan dan rapat.

Beberapa waktu kemudian, Langgar itu lalu diubah menjadi masjid bernama Taqwa Tompong. Pembangunan masjid dibangun oleh Raja Bantaeng, Pemangku Adat 12, atas bantuan seorang pedagang kaya asal Wajo Kabupaten Sengkang, bernama La Bandu.
La Bandu ini yang mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid. Meski dari Wajo, La Bandu tinggal dan menetap di Bantaeng. Dia beristri dengan orang Bantaeng. La Bandu kemudian mendatangkan arsitek asal Bone, bernama La Pangewa untuk membangun masjid.

Masjid pun dibangun dengan bentuk dan arsitektur yang sarat dengan simbol-simbol filosofis, yang tak sekadar indah dan menarik. Di dalam masjid ada empat tiang beton, berarti empat sahabat Nabi Muhammad saw, yaitu Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab,Usman bin Affan, dan Ali Bin Abu Thalib. Empat tiang ini tidak pernah diganti, cuma dilapisi tegel.

Selain itu, langit-langit masjid yang memiliki 17 balok rangka menandakan 17 rakaat sholat lima waktu.  Selain itu masjid ini punya lima pintu. Artinya lima rukun Islam, dan enam jendela, yaitu enam rukun iman. Sejak dibangun, bentuk masjid yang sarat filosofis tersebut tak pernah diubah.

Masjid Tompong berdiri di atas lahan 857 meter persegi. Masjid ini juga banyak menyimpan peninggalan sejarah penyebaran Islam. Diantaranya adalah puncak atap masjid yang berbentuk tumpeng tiga. Pada bagian pucuknya, terdapat sebuah guci zaman Dinasti Ming yang masih berdiri tegak. Selain guci zaman Dinasti Ming, di masjid kuno ini juga masih tersimpan Al-quran tua yang ayat-ayatnya itu ditulis tangan.

Mesjid Taqwa Tompong itu memiliki tinggi 16 meter, terdiri dari tiga tingkat. Untuk saat ini pada tingkat kedua dan tiga tidak lagi difungsikan. Sebelumnya tingkat kedua dan tiga digunakan untuk tempat belajar agama dan mengaji bagi anak-anak setempat,  dan juga tempat adzan.

Masjid Taqwa Tompong masih mempertahankan bentuk asli bangunannya, namun untuk menghindari terkelupasnya dinding masjid karena sudah berumur ratusan tahun, mesjid tersebut dipasangkan keramik tambahan pada dindingnya. Sampai sekarang, selain sebagai tempat beribadah, masjid kuno ini juga dijadikan sebagai tempat pertemuan untuk membahas permasalahan yang dihadapi warga sekitar. //**

Kampung Gelgel Klungkung; Pintu Masuk Islam di Bali

BALI selama ini dikenal sebagai daerah yang mayoritas penduduknya menganut Hindu. Tapi, tahukah Anda, jika Islam ternyata sudah lama hadir di provinsi tersebut. Ini dibuktikan dengan adanya Masjid Nurul Huda yang terletak di Kampung Muslim Gelgel, Klungkung, Bali.

Kampung Gelgel adalah desa yang berada di Klungkung, Bali. Di Kampung Gelgel terdapat masjid tertua di Bali, Nurul Huda, yang dibangun oleh pengawal Muslim yang mengiringi Dalem Waturenggong sepulangnya dari Majapahit. Itulah sebabnya, daerah ini dikenal pula sebagai Kampung Islam.

Masjid Nurul Huda berdiri pada akhir abad ke-13. Ketika itu Bali dikuasai raja Kerajaan Gelgel yang bernama Ketut Dalem Klesir. Konon, usai menghadiri pertemuan raja-raja nusantara di Majapahit pada akhir abad ke-13, Raja Gelgel kembali pulang ke Bali dengan dikawal 40 prajurit Majapahit. Setibanya di Klungkung, pengawal dari Kerajaan Majapahit yang sebagian sudah memeluk Islam kemudian menetap di Gelgel. Mereka lalu menyebarkan agama Islam tanpa paksaan atas seizin Raja Gelgel.

Hingga kini, Masjid Nurul Huda tetap terawat dengan baik dan menjadi kebanggaan warga. Sementara hubungan antara warga Muslim Kampung Gelgel dan masyarakat Hindu sekitarnya juga berjalan harmonis serta penuh toleransi.

Akses menuju Kampung Gelgel Klungkung, dari Denpasar memakan waktu sekitar sejam. Masjid Nurul Huda berdiri megah di tengah-tengah perkampungan Gelgel yang berpenduduk sekitar 300 keluarga. Di halaman masjid, terdapat sebuah menara tua tegak menjulang setinggi 17 meter.
Masuknya Agama Islam ke Bali dimulai dari daerah Klungkung ini setelah runtuhnya Majapahit. Klungkung merupakan kerajaan Hindu yang terbesar dan berwibawa di Bali.

Menurut cerita rakyat, sekitar tahun 1500 M datanglah Raja Dalem Ketut (saudara Raja Dalem pasuruan) masih termasuk dinasti Majapahit, dari Jawa ke Bali. Kedatangannya ke Bali pada waktu itu karena Majapahit sudah masuk Islam.

Tak lama kemudian datanglah Ratu Dewi Fatimah dari Majapahit yang telah menjadi seorang muslimah. Ratu Dewi Fatimah selain sebagai saudara sepupu adalah kekasih Raja Dalem Ketut sewaktu masih di Jawa. Oleh keyakinan agamanya dan cintanya kepada Raja Dalem Ketut, maka Ratu Dewi Fatimah datang ke Bali, tepatnya Klungkung dengan niatnya untuk berusaha mengajak Raja Dalem Ketut memeluk agama Islam.

Raja Dalem Ketut yang bertemu dengan Ratu Dewi Fatimah adalah Dalem Ketut Sri Krisna Kepakisan. Pada Babad Bali menyebutkan bahwa Dalem Ketut Sri Krisna Kepakisan beristana di Samperangan daerah Gianyar-Bali. Ia memerintah di Bali atas pengangkatan Maha Patih Gajah Mada.

Ada juga yang berpendapat bahwa yang mula-mula datang ke Istana Gelgel untuk menghadap Sri Waturenggong (Raja waktu itu) adalah Fatahillah (Raden Fatah) seperti yang ditulis oleh Gorasirikan dalam buku “Dung Paman Cangah” dimana pada tahun Candra Sangkala yaitu tahun Saka 1400 atau tahun 1478 M. kerajaan Majapahit jatuh karena diserang oleh pasukan Girindera Wardana dari Kediri. Pada kesempatan itulah Raden Patah, Putra Raja Brawijaya, Raja Majapahit terakhir yang lahir dari seorang Padmi dari Palembang oleh para Wali dan Alim Ulama’ dinobatkan menjadi Sultan Demak (Jawa Tengah).

Raja Bali yang bernama Sri Dalem Waturenggong memerintah dari tahun 1460-1550 M yang beristana di Gelgel. Beliau sangat sakti dan bijaksana mengatur pemerintahan. Ini terbukti beliau memerintah sangat lama ± 90 tahun. Wilayah yang dikuasai meliputi seluruh Bali, Sasak (Lombok), Sumbawa, Belambangan hingga Kugar.

Dengan menggunakan politik pendekatan Raja-Raja pada saat pemerintahannya itu datanglah serombongan orang Islam ke istana Gelgel. Ternyata waktu itu baginda masih muda. Datanglah utusan dari Mekkah membawa gunting dan pisau cukur hendak mengislamkan baginda. Baginda amat marah. Pisau cukur langsung dicukurkan pada telapak kaki baginda (Sri Dalem Waturenggong) dan tumpullah pisau cukur itu. Guntingnya diguntingkan pada jari tangan baginda namun gunting itu terpisah.

Utusan dari Mekkah dimaksud adalah orang-orang dari Demak yang beragama Islam. Karena gagal mengislamkan Raja, maka rombongan kembali ke Demak (Jawa). Beberapa orang pengiringnya masih tinggal di Gelgel. Rombongan dari Demak datang ke Gelgel diperkirakan 1460 M, yaitu semasa pemerintahan Raden Fatah di Demak. Orang-orang yang tinggal di Gelgel inilah yang kemudian menurunkan orang-orang Islam di Gelgel sampai saat ini. //**

Masjid NURUL ISLAM; Masjid Bersejarah diatas Bunker Gudang Senjata

MELIHAT Sawalunto dari bukit di sekitarnya maka mata akan tertuju pada masjid besar berkubah tiga. Dialah Masjid Nurul Islam. Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Agung Sawahlunto ini adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak di Kelurahan kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawah Lunto, Sumatera Barat. Lokasinya berjarak sekitar 150 meter dari Museum Kereta Api Sawahlunto.

Masjid yang dibangun pada masa Penjajahan Belanda ini pada awalnya merupakan bangunan pusat pembangkit listrik, yang dibangun pada tahun 1894. Bangunan itu berubah fungsi menjadi masjid sejak tahun 1952, sementara cerobong asapnya kemudian dijadikan sebagai menara dengan tambahan kubah setinggi 10 meter.

Bangunan utama masjid berukuran 60 × 60 meter dan memiliki satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah dengan ukuran yang lebih kecil. Di bawah bangunan masjid ini terdapat lubang perlindungan yang memiliki nilai sejarah di masa perebutan kemerdekaan pada 1945.

Ruang bawah tanah dari semen cor bekas pembangkit listrik tenaga uap zaman Belanda itu, saat itu digunakan para pejuang untuk bersembunyi, merakit senjata, dan sekaligus menyimpan senjata ketika melawan penjajah Jepang. Bahkan tempat itu dikenal sebagai satu dari dua ‘pabrik senjata’ di Sawahlunto waktu itu. Satu lagi, bengkel Perusahaan Tambang Batubara Ombilin.

Bangunan bawah tanah dengan banyak lorong dan pintu keluar, dan tidak terlihat dari luar karena rata dengan tanah itu, sulit diketahui keberadaannya oleh orang asing. Karena itu menjadi persembunyian yang aman di tengah kota.

Tempat itu sangat penting sebagai pabrik penyuplai senjata para pejuang untuk Sawahlunto dan sekitarnya. Bom-bom yang panjangnya hingga 4 meter buatan Inggris, Jerman dan lain-lain disimpan di tempat itu, lalu dengan gagah-berani dijinakkan dan diambil pejuang mesiunya untuk dijadikan senjata.
Selama Indonesia merdeka, tak banyak orang di Kota Sawahlunto yang tahu pasti bagaimana bentuk ruangan bawah tanah yang terletak di bawah Masjid Raya Agung Nurul Islam itu.

Pada 5 Juni 2005 itu Wali Kota Sawahlunto, Amran Nur memerintahkan aparatnya dari Kantor Dinas Pariwisata dengan didampingi polisi untuk membuka ruangan tersebut secara resmi, setelah sebagian besar ruangan di sana dibersihkan.
Pemko Sawahlunto menjadikan bangunan itu situs sejarah dan terbuka untuk umum. “Seperti Lubang Jepang di Bukittinggi,” kata Walikota Amran Nur.//**

Masjid Agung al Barkah Bekasi; Ikon Kota yang Representatif

MASJID yang terletak di Jalan Veteran, kawasan alun-alun, di pusat pemerintahan Kota Bekasi, ini seakan menjadi ikon Kota Bekasi. Kubah berukuran besar ditambah dua menara yang cukup tinggi menjulang ke langit menjadi ciri khas masjid Agung yang lokasinya berseberangan dengan Rumah Sakit Daerah Kota Bekasi.

Arsitektur masjid mengadopsi masjid Timur Tengah yang disublimasi dengan unsur tropis. Masjid di Timur Tengah umumnya tidak mengenal teras atau kanopi. Tetapi karena iklim Indonesia tropis, masjid membutuhkan kantilever dan kanopi agar air hujan tidak tempias ke dalam masjid, maka kemudian masjid ini dilengkapi dengan teras.

Delapan daun pintu dari kayu jati berukir kaligrafi mencerminkan 8 pintu menuju surga. Daun pintu tersebut terbuat dari kayu jati yang dipesan langsung dari Jepara, Panitia pembangunan Masjid bahkan datang langsung ke Jepara untuk memilih kayu yang benar-benar bagus dari pohon yang sudah berusia di atas 90 tahun. Kubah masjid memiliki diameter 18 meter dan dibawahnya bertuliskan 99 Asma’ul Husna.

Tiang-tiang masjid dilapisi kayu untuk memberi kesan hangat. Ini diadopsi dari Masjid Agung Demak yang dibuat dari kayu. Juga terdapat elemen floral dan ornamen Islam seperti bintang atau bentuk segi delapan yang umum banyak dipakai pada bangunan masjid. Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi dilengkapi tempat thaharah, gedung pertemuan dan tempat majelis taklim, perpustakaan, kantor ta’mir dan kantor remaja masjid, taman, plaza dan area Parkir.

Arsitektur masjid tidak lepas dari simbolisasi Islam, setiap detil bangunan memiliki arti. Simbolisasi Islam bisa kita jumpai pada 4 buah menara yang memiliki arti 4 tiang ilmu, yakni bahasa Arab, syariah, sejarah dan filsafat. Serta syarat hidup bahagia yakni aqidah, akhlak, syariah dan ibadah. Tiga bagian bentuk dasar bangunan menara mencerminkan iman, Islam dan ikhsan, sedangkan ketinggian menara 35 meter diambil dari salah satu surat Al-qur’an.

Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi, dibangun tahun 1890 dipelopori oleh Penghulu Lanraad (Alm) H. Abdul Hamid, diatas tanah wakaf dari (Alm) Haji Barun, seluas 3000 m2 yang terletak di Jalan Veteran. Bangunan yang belum mencirikan bangunan sebuah masjid pada umumnya.

Tahun 1967 bangunannya direhab menjadi bentuk masjid oleh Bupati Bekasi Subandi (ketika itu Kota Bekasi masih menjadi bagian dari Kabupaten Bekasi). Subandi yang merupakan Bupati Bekasi pertama asal Kampung Gabus Kabupaten Bekasi itu, melibatkan setiap jiwa warga Kabupaten Bekasi turut berpartisipasi menyumbang pembangunan masjid ini sebesar Rp 1,-.

Dalam kemajuan yang terjadi di Bekasi, oleh Bupati Bekasi H Abdul Fatah, pada 1985 kembali dilakukan pembangunan. Bangunannya pada bagian depan masih menggunakan awning berwarna-warni yang saat itu sangat banyak diminati masyarakat dalam setiap melaksanakan pembangunan. Dan saat itu pulalah masjid ini ditetapkan menjadi Masjid Agung Al Barkah Kabupaten Bekasi.

Dengan ditetapkan sebagai Masjid Agung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi mulai campur tangan dalam pembangunannya. Pembangunan di tahun 1985 menghabiskan biaya Rp 225 juta. Pada 1997 Pemerintah Kabupaten Bekasi saat bupatinya dijabat Muh Djamhari kembali melakukan pembangunan dengan tambahan biaya Rp 100 juta.

Pada saat Kota Bekasi terbentuk tahun 1997 dan terpisah dari Kabupaten Bekasi di zaman Walikota dijabat H Achmad Zurfaih yang merupakan putra asli Bekasi, perhatian pemerintah daerah semakin besar dalam membangun masjid yang kini menjadi kebanggaan kota Bekasi. Mulai tahun 2004 hingga 2008, pembangunan besar-besaran pun dilakukan.

Persiapan pembangunan masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi ini mulai dilakukan tahun 2003 dengan penataan ulang tata ruang alun-alun, jalan dan fasilitas lain yang ada. Masjid dirancang lebih modern, namun tetap mencirikan arsitektur Timur Tengah. Ada keinginan dari walikota saat itu untuk menghadirkan sebuah masjid agung yang referesentatif dan menjadi ikon Kota Bekasi. Masjid yang juga dapat dimanfaatkan sebagai area publik, dimana orang bisa ibadah dan menikmati pesona taman kota. //**