Ibu

Semua diawali dari sebuah proses membesarkan anak dimana anak sangat tergantung dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang tidak pernah bisa dipenuhi orang lain. Cara Ibu memenuhi kebutuhan atau tidak memenuhi kebutuhan anak akan mempengaruhi anak tersebut sampai dewasa. Jika perlakuan ibu dalam membesarkan anak tidak sempurna, tidak memenuhi kebutuhan secara emosional, dan penuh dengan ketidaknyamanan dalam membesarkan anaknya, sangat mempengaruhi kehidupan anak tersebut sampai dengan dewasa.

Hampir semua anak mengasihi ibunya, namun ada hal yang mengganjal dan menjadi masalah dengannya. Ada sebagian orang menyimpan kenangan-kenangan buruk masa lalu yang masih menghantui dirinya saat ini, dan ada pula sebagian orang yang mengalami kesulitan-kesulitan dalam berhubungan dengan seorang ibu. Mungkin ada pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik hati tentang perlakuannya dulu. Bagaimana saya bisa memiliki hubungan yang baik dengan ibu saya sendiri, sedangkan terlebih dahulu dia bersikap kasar dengan saya.

Apakah masalah-masalah dalam pekerjaan dan hubungan yang saya alami saat ini terpengaruh dari cara ibu saya membesarkan saya?. Apa yang benar dan apa yang salah dalam cara saya membesarkan anak, dan bagaimana keterkaitan antara masa kecil saya dengan kehidupan saat ini serta bagaimanakah cara yang terbaik untuk membesarkan anak saya saat ini?.

Ada sebagian orang yang sekian lama hidup dalam pergumulan berat berkaitan dengan ibu, karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan berkaitan dengan cara dibesarkan oeh ibunya, dengan segala kebaikan dan keburukannya. Ada juga sebagian orang yang melihat banyak mukjizat terjadi bagi mereka yang melihat itu sebagai suatu pelajaran, pemulihan diri, bagaimana memaafkan dan bagaimana mengasihi dan sekarang memiliki hubungan yang lebih berbuah dan berarti dengan ibunya dan akhirnya juga hubungannya dengan orang lain.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dan sekian banyak lagi pertanyaan pertanyaan lainya bukanlah suatu sikap yang tidak positif terhadap seorang Ibu. Allah telah menetapkan keistimewaan pada diri seorang ibu “Hormati ibumu, ibumu, ibumu, baru bapakmu” (Al-Hadist) dan kita diwajibkan untuk tetap menghormati orangtua hingga akhir hayat mereka. Adakalanya terdapat sesuatu perlakuan yang kurang menyenangkan walaupun demikian wajib untuk tetap menghormatinya.

Pada akhirnya menyelesaikan permasalahan dengan seorang ibu, dan bertanggung jawab untuk mengampuni serta memulihkan diri sekaligus menerima bahwa pengalaman hidup tersebut adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus kita pahami dan kita terima apa adanya secara ikhlas serta bertanggung jawab.

Ibu, atau ditinggalkan!

Kedudukan seorang ibu dalam keluarga sangatlah strategis dan mulia, khususnya dalam membangun pribadi-pribadi yang dipercayakan Allah kepada masing-masing keluarga. Namun demikian ada sebagian perempuan yang menyepelekan peran ibu dalam membangun keluarga, terutama dalam membesarkan anak-anak dan mengelola rumah tangganya. Jika direnungkan pekerjaan dan tanggung jawab yang biasa dilakukan oleh ibu, membuatnya menjadi suatu daftar pekerjaan yang panjang, maka barulah disadari betapa banyak tugas yang dikerjakan ibu dan betapa besarnya pengorbanan yang dilakukannya.

Jika disusun daftar “job description” dan “responsibility” yang dapat dilakukan oleh seorang yang bekerja dengan jabatan seorang ibu? Maka hasilnya adalah “luar biasa” kehebatan seorang perempuan yang diciptakan Allah untuk memegang tanggung jawab ini sebagai seorang ibu?

Itulah salah satu penyebab rendahnya kualitas anak usia dini saat ini, disamping pengabaian peran ibu sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Saat ini, banyak para ibu yang tidak memahami perannya sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Ada ibu yang mempunyai waktu tetapi tidak mengetahui cara mendidik anak, ada juga ibu yang tidak mempunyai waktu untuk mendidik anak-anaknya karena tuntutan pekerjaan, urusan keluarga, serta aktivitas-aktivitas yang tidak perlu lainnya semua ini disebabkan oleh ketidaksadaran akan perannya sebagai pendidik pertama dan utama.

Apabila hal ini terus berlangsung maka besar kemungkinannya generasi bangsa ini untuk selanjutnya akan memiliki kualitas diri yang rendah. Eksploitasi anak, gaya hidup yang hedonis, pengendalian emosi yang kacau serta kenakalan-kenakalan lainnya dari anak dan remaja mengakibatkan mentalitas yang rendah dan menjadi mudah stres. Mereka tidak akan mempunyai tujuan hidup yang ideal, dan yang paling mengkhawatirkan adalah apa jadinya bangsa ini kelak dikemudian hari.

Doroty Law Nolte dalam puisinya Children learn what they live, menggambarkan bahwa seorang anak belajar dari kehidupannya. Itu sebabnya, jika anak dibesarkan oleh seorang pembantu, maka proses tumbuh kembang mereka pun akan dipengaruhi pula oleh sikap dan perilaku sang pembantu.

Tidak keliru kalau pada saat ini banyak keluarga terhormat yang memiliki anak dengan sikap dan perilaku yang identik dengan pembantu rumah tangganya. Atas dasar itu, barangkali kita semua akan sepakat apabila peran ibu, disamping tentunya pula peran bapak, akan sangat besar artinya dalam memelihara tumbuh kembang anak. Atas dasar itu pula, kita juga akan sepakat bahwa peran penting dan mulia itu tidak begitu saja dapat digantikan dengan kehadiran orang lain. Hal inilah yang menjadi penting dan harus diperhatikan untuk dijadikan suatu bahan kajian sekaligus renungan bagi kita semua.

Advertisements

Anak Memberikan Pelajaran Hidup Pada Orangtua

Orangtua masa kini menghadapi tantangan yang sungguh tidak ringan. Anak hidup dalam lingkungan yang tidak menentu dan tanpa aling-aling. Suguhan-suguhan yang penuh dengan kekerasan, seks, sinisme, kekacauan moral. Kemudian pengaruh pada perilaku merekapun membuat urusan rumah tangga yang telah disusun menjadi berantakan, kesibukan lain yang telah direncanakan menjadi kacau, mengganggu waktu tidur orangtua, semua itu menguji kesabaran orangtua. Tekanan ekonomi yang juga menjadi salah satu alasan, alih-alih orang tua berkerja untuk kepentingan anak, tidak dipungkiri ternyata aktivitas bekerja ini cukup banyak memangkas waktu produktif orang tua terhadap anak. Namun bila orangtua menyadari lebih jauh sebenarnya, aktivitas dan proses kehidupan anak-anak bukan hanya menjalankan proses tumbuh kembang anak, tetapi perjalanan tersebut memberi orangtua berlimpah dengan pelajaran hidup.

Perjalanan hidup sebagai orangtua bisa menjadi sebuah perjalanan spiritual yang sarat akan makna serta pengalaman yang dapat memperkaya dan mengubah diri orangtua. Anak menunjukkan kepada orangtua untuk menyadari makna kehidupan yang sesungguhnya. Spiritual disini adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai, moral dan rasa memiliki. Spiritual memberi arah dan arti dalam kehidupan dan kepercayaan bahwa adanya kekuatan non fisik yang lebih besar dari kekuatan diri kita, suatu kesadaran yang menghubungkan diri dengan yang Maha Kuasa

Setiap momen dalam kehidupan orangtua, apapun bentuknya, apakah hal tersebut sepele ataupun sesuatu yang menantang menyimpan hal yang bermakna. Hidup bersama anak memperkaya dan memberikan kesempatan untuk orangtua berubah dan bertumbuh, ini terjadi apabila orangtua mau menyadarinya. Seperti belajar disebuh sekolah kehidupan yang mengajarkan semua pengalaman, memberi pemahaman dan perhatian yang kuat.

Bayi yang baru lahir akan menikmati kehangatan, detak jantung dan gurih susu ibunya. Ini sebuah anugrah yang terindah sekaligus membangun suatu kelekatan secara fisik maupun psikis. Kebersamaan ketika menyusui merupakan bukti cinta dari seorang ibu kepada anaknya. Tetapi ternyata proses ini juga mengajarkan pada ibu pentingnya menikmati ‘sang waktu’, hadir ketika menyusui “saya ada disini bersamamu”

Hidup bersama anak ada hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Kedua situasi ini juga memberikan pembelajaran bagi orang tua. Coba perhatikan, misalnya saat orangtua membawa anak ke kebun binatang untuk mengenalkan berbagai bintang yang ‘dianggap’ orang tua menarik. Harapan orang tua anak akan tertarik dengan singa, monyet, ataupun jerapah, tapi pada kenyataannya anak tidak tertarik, mereka malah mengejar-ngejar burung dara, melihat situasi ini tentu orangtua akan kecewa, namun bagi anak burung dara menarik perhatiannya dan merasakan bukan binatang biasa dan sangat istimewa. Mungkin bagi orangtua hal ini tidak menyenangkan karena berkunjung ke kebun binatang untuk melihat berbagai binatang tapi anak hanya mengejar burung dara. Kalau orangtua mau menyadari apa dibalik perilaku anak, ternyata bagi anak semua istimewa walaupun seekor burung darapun berarti bagi anak. Kalau orangtua menyadari lebih dalam, anak mengajarkan pada orangtua untuk melihat dunia dengan sudut pandang yang baru, jika dilihat lebih dalam kejadian ini adalah sebuah pembelajaran kehidupan yang membuat orangtua berkembang.

Kadang orangtua berharap agar anak berperilaku sesuai dengan target yang sudah dicanangkan orangtua, berharap agar anak mau mengikuti, bila perilaku anak tidak sesuai dengan harapan orangtua yang terjadi rasa tegang, cemas, penuh dengan kemarahan orangtua. Akhirnya orangtua tidak bisa memahami dunia anak dan tidak bisa menikmati kesenangan bersama anak. Bila orangtua mau menyingkirkan segenap harapannya, maka kehidupan orangtua akan menjadi lebih ringan dan lebih bisa menikmati hubungan keluarga dengan menyenangkan.

Silahkan periksa, bila mempunyai pengharapan yang tinggi atas orang lain maupun diri sendiri maka akan menjadi tegang dan kaku serta perasaan takut dan kecewa. Ketika tidak memasang target yang tinggi atau sama sekali tidak berharap, maka akan menjadi lebih santi karena sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan setiap manusia pasti melakukan kesalahan. Inilah nilai kerendahan hati. Hidup dalam beban pengharapan melelahkan bagi setiap orang, khususnya seorang anak kecil.

Bersama anak memberikan kesempatan pada orangtua untuk menyuburkan kesabaran dalam diri, mengasah kecerdasan hati, menemukan makna dalam hidup, tanpa disadari diri ini akan merasakan kebahagiaan dari arah tidak disangka sangka datangnya bila orangtua mau membuka diri, pikiran dan hati dan kesediaan untuk belajar karena banyak hal yang diajarkan anak pada orangtua.

Mari kita perhatikan bersama, seorang insinyur bekerja dengan semen dan metal, dokter dengan sel dan organ tubuh, seniman dengan garis warna dan suara, koki dengan bumbu dan bahan makanan. Mungkin kadang kesadaran diri bahwa sebagai orangtua betapapun membosankannnya dalam mendidik anak, tidak seperti profesi lainnya, namun coba lihat lebih dalam, ternyata banyak hal-hal yang sangat bermakna untuk dipelajari orang tua dari seorang anak. Bagi orangtua menciptakan kehidupan seorang anak, melahirkan, memelihara, mendukung, membantu mengeluarkan potensi diri anak , ini yang disebut seni adi luhung suatu perbuatan yang luhur, mulia dan wajib dipelihara. Hal yang sangat uar bisa maknanya bagi semua umat….. Jadi jika Anda saat ini sudah menjadi orang tua, bersyukurlah, nikmatilah momen ini sebagai suatu kenikmatan belajar kehidupan dari seorang guru kecil bernama “anakku”……

sumber:

http://nanamaznahzubir.com/anak-memberikan-pelajaran-hidup-pada-orangtua/

Membangun Self Awareness

nana_nuansaoleh: Dra. Hj. Nana Maznah Prasetyo, M.Si

SELF Awareness (kesadaran diri) adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya. Prosesnya berupa semacam refleksi dimana seseorang secara sadar memikirkan hal-hal yang ia alami berikutnya emosi-emosi mengenai pengalaman tersebut. Dengan kata lain, self awareness adalah keadaan keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut.

Kesadaran diri merupakan proses mengenali motivasi, pilihan dan kepribadian kita lalu menyadari pengaruh faktor-faktor tersebut atas penilain, keputusan dan interaksi kita dengan orang lain. Kesadaran diri adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya.

Kesadaran diri juga merupakan keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut. Kesadaran akan diri sendiri yang diawali dengan mengenal diri sendiri dan kemudian memilih menjadi diri sendiri merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mengoptimalkan pengembangan diri. Pengembangan diri selalu diawali dengan kesadaran akan apa yang terjadi pada diri sendiri.

Apa pentingnya self Awareness ini bagi dirimu sendiri? Self awareness sangat penting bagi saya pribadi dikarenakan self awareness untuk meningkatkan rasa percaya diri. Meningkatkan rasa percaya diri dimulai dengan bahasan untuk mengenal potensi diri dan hal-hal yang mendukung rasa percaya diri kita mengenal diri, mengolah potensi dan faktor pendukung, lebih bisa menerima diri, menjadi lebih percaya diri, tahu cara mengembangkan diri sendiri.

Bagaimana caranya Anda mengembangkan/meningkatkan Self Awareness? Pertama-tama kita harus mengenal dasar-dasar ketrampilan dalam berhubungan dengan orang lain. Indikasinya dapat dilihat dari meningkatnya hubungan baik dengan orang lain, seperti kesadaran diri, motivasi pribadi, pengaturan diri sendiri, empati, dan kemampuan bersosialisasi.

Selain itu, melatih integritas, berarti sinkronisasi perbuatan dengan nilai, keyakinan dan hati nurani. Seseorang disebut berintegritas jika sikapnya mencerminkan nilai, keyakinan dan hati nuraninya. Apa yang membuat diri sendiri lebih bermakna setiap keberadaannya. Begitulah jiwa ‘Sang Aku’ dapat dirasakan. Melalui suara hati, jiwa dapat berekspresi sesuai dengan apa yang dirasakan oleh diri sendiri.

Kesadaran diri dapat dibangun dengan mengaktifkan bagian otak yang disebut neokorteks. Ini adalah bagian otak yang terkait dengan penggunaan bahasa. Artinya, untuk meningkatkan kesadaran diri, Anda perlu “membahasakan”, mengidentifikasi, dan menamai emosi yang Anda rasakan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:

1. I Messages (Pesan “Saya…..”)
Menuliskan atau menyatakan perasaan dengan menggunakan pesan yang diawali dengan “Saya….”. Contohnya: “Saya merasa perilaku Anda sama sekali tidak menghargai kerja keras saya” atau “Saya kecewa dengan keputusan yang kamu buat”. I message menyadarkan Anda bahwa kendali dari permasalahan yang terjadi ada di tangan Anda. Anda yang merasakan sebuah emosi, Anda yang menyatakan, dan Anda yang memiliki kendali untuk mengubah keadaan.

2. Berbagai Cara Berbagai Warna
Menggunakan berbagai metode untuk melukiskan dan mendeskripsikan perasaan:

• Warna, contoh: warna kuning untuk emosi senang, biru untuk sedih, merah untuk marah, dan lain lain. Anda bisa menggunakannya dalam berpakaian, tinta alat tulis, warna font di komputer, dan sebagainya.
• Skala, contoh: “Saya cukup merasa bahagia, kira-kira 80 dari 100 lah”. Ini memberi gambaran yang cukup terukur kira-kira seberapa kuat intensitas emosi yang Anda alami. Jika Anda bisa mengatakan bahwa kesedihan Anda berskala 50:50, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk berlarut-larut dalam kesedihan itu.
• Analogi, contoh : “Kalau saya ini gunung, saya sudah mau meletus!”. Analogi ini juga bisa digunakan sebagai pengukur intensitas emosi Anda. Bagi orang Indonesia, analogi seperti ini biasanya lebih mudah dipahami karena budaya kita memang banyak mengajarkan simbolisasi dalam bahasa (contoh: bagai kacang lupa kulitnya).

3. Menuliskan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Hal ini ditujukan untuk menjelaskan kepada diri sendiri alasan dari emosi yang sedang Anda rasakan. Contoh: ketika Anda marah pada saat staf Anda tidak ikut memikul beban kerja yang sama, Anda bisa menuliskan “Saya ingin dia ikut lembur ketika saya lembur” beserta kebutuhan/keinginan lain yang Anda sadari. Semakin banyak kebutuhan/keinginan yang Anda tuliskan, maka Anda akan semakin menyadari keadaan emosi diri.

4. Menuliskan yang ingin dilakukan
Sebenarnya ini sudah memasuki tahap lanjutan dari Self Awareness. Setelah Anda menyadari emosi-emosi yang sedang dialami, langkah selanjutnya adalah menentukan hal apa yang ingin Anda lakukan selanjutnya terkait dengan emosi tersebut. Pada contoh Anda marah pada staf yang malas-malasan tadi, Anda bisa menuliskan “Saya ingin memotong gajinya kalau pulang lebih cepat lagi” atau “Saya akan langsung menegurnya jika ia menolak penugasan”. Dengan menuliskan hal yang ingin dilakukan, Anda memberikan kesempatan bagi otak untuk kembali berpikir: apakah hal-hal tersebut sudah sesuai dan tidak menyalahi norma yang berlaku.

Dengan membiasakan hal-hal di atas, Anda akan bisa merasa lebih nyaman menghayati emosi-emosi Anda tanpa harus larut dan lepas kendali. Nah, setelah Anda belajar banyak tentang emosi dan Self Awareness, tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk merasa tidak berdaya ketika dilanda suatu emosi yang kuat. Baik itu emosi negatif, maupun emosi positif. Sekarang Anda sudah belajar untuk membuat diri Anda sendiri menyadari emosi-emosi tersebut. Tinggal separuh langkah selanjutnya dimana Anda merencanakan perilaku yang sesuai untuk mengekspresikan emosi tersebut kepada orang lain.// (eko)

Kendalikan Emosi dengan Self Awareness

emotion

PERNAHKAH Anda ditinggal seseorang sehingga Anda merasa kesepian yang amat sangat dan hidup seperti tidak berarti lagi, dimana Anda sulit menanggulangi emosi Anda sendiri? Atau ketika Anda berkendara di jalan raya, mungkin Anda sering merasa ‘tersinggung’ ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalur Anda, sehingga kemudian Anda tancap gas untuk kembali menyusul kendaraan tersebut? Atau pernahkah Anda memaki-maki supir kendaraan umum yang seenaknya menghentikan kendaraan di tengah jalan untuk menaikkan penumpang?

Itulah emosi, suatu reaksi mental dan psikologis yang muncul secara spontan ketika seseorang berhadapan dengan kondisi tertentu. Tanpa disadari, emosi banyak sekali mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.

Emosi sebenarnya tidak memiliki muatan ‘benar’ atau ‘salah’ karena ini merupakan reaksi manusiawi dalam menghadapi sesuatu. Perilaku yang mengikuti emosi lah yang bisa dinilai ‘benar’ atau ‘salah’.

Perlu diperhatikan bahwa tidak hanya emosi negatif seperti takut, marah, atau sedih saja yang bisa membuat kita menunjukkan perilaku yang ‘salah’. Emosi positif seperti bahagia juga bisa merugikan jika kita tidak paham bagaimana cara mengaturnya menjadi perilaku yang sesuai.

Salah satu contoh adalah siswa-siswa yang baru lulus ujian akhir nasional. Mereka menunjukkan luapan kegembiraan dengan melakukan konvoi di jalan, membuat coret-coretan di dinding, atau bernyanyi-nyanyi dengan suara keras yang mengganggu orang lain. Tentunya kegembiraan mereka tidak salah karena mungkin mereka memang telah berusaha maksimal untuk lulus, namun cara mereka menunjukkan kegembiraan itulah yang tidak wajar dan dinilai salah menurut umum.

Wah, kalau emosi positif saja bisa merugikan, berarti kita benar-benar harus pandai mengendalikan perilaku yang menyertai emosi tertentu. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan perilaku emosional kita?

Langkah pertama adalah memiliki self awareness. Untuk dapat mengendalikan perilaku emosional, kita perlu mengenali dulu emosi apa yang kita rasakan pada suatu waktu. Self awareness (kesadaran diri) adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya. Prosesnya berupa semacam refleksi dimana seseorang secara sadar memikirkan hal-hal yang ia alami berikut emosi-emosi mengenai pengalaman tersebut. Dengan kata lain, self awareness adalah keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut.

Seorang pakar psikologi yang banyak menekuni permasalahan emosi, John D. Mayer, mengatakan bahwa umumnya ada tiga gaya yang tampil ketika seseorang menghadapi emosinya.

1. Terbebani (Engulfed)

Tipe ini tenggelam dalam emosi-emosinya dan tidak mampu keluar dari situasi ini. Mereka tidak memahami emosinya sendiri sehingga bisa mudah larut terbawa emosi. Akibatnya, mereka tidak banyak berusaha untuk keluar dari kondisi emosi tertentu dan akhirnya tidak mampu mengontrol perilaku emosionalnya. Contohnya adalah kasus putus cinta, atau kasus orang yang memaki-maki pengendara lain karena lalu lintas yang macet. Mereka tidak meluangkan waktu lebih banyak untuk menyadari emosi sedih atau marah yang sedang mereka rasakan. Begitu merasakan emosi tertentu, tanpa pikir panjang mereka langsung bereaksi sesuai dorongan emosi tersebut.

2. Menerima (Accepting)

Orang-orang ini sebenarnya menyadari emosi apa yang mereka rasakan namun cenderung menerima begitu saja emosi yang sedang terjadi dan tidak mencoba memahami emosi tersebut lebih jauh. Pada akhirnya mereka tidak berusaha untuk beradaptasi dengan emosi yang muncul. Hal ini bisa menjadi masalah ketika emosi yang dialami adalah sedih, lalu dibiarkan berkepanjangan sehingga bisa menimbulkan perasaan tertekan (depresi). Hal lain terjadi ketika emosi yang dirasakan adalah marah atau takut. Mungkin saja dalam jangka panjang, emosi marah yang dibiarkan ini bisa berubah jadi perasaan dendam, sedangkan emosi takut bisa menjadi paranoid (rasa takut berlebihan yang tidak jelas alasannya).

3. Sadar diri (Self-aware)

Orang-orang dengan gaya ini menyadari dan memahami emosi yang terjadi pada dirinya. Mereka mengetahui batas-batas norma yang perlu dijaga dan berpikir untuk mengelola emosi yang dirasakan agar perilakunya masih berada dalam ambang batas tersebut. Pada waktu merasakan emosi positif, orang-orang yang sadar diri mampu menunjukkan kegembiraannya dengan sesuai dan bisa mempertahankan perasaan menyenangkan dari emosi itu untuk beberapa lama. Di lain pihak, ketika mengalami emosi negatif, mereka tidak terlalu terobsesi dengan hal yang memicu emosi tersebut dan bisa segera keluar dari perasaan tidak nyaman. Contohnya ketika orang yang sadar diri mengalami putus cinta. Kemungkinan besar ia akan memahami bahwa emosi sedihnya itu wajar ia rasakan, namun tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Ia akan mencari kegiatan lain yang lebih produktif untuk mengatasi perasaan sedih yang mendalam tersebut.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa ketika sadar diri kita jadi lebih mudah mengontrol emosi yang dirasakan sehingga bisa lebih efektif mengendalikan perilaku emosional kita. Kita bisa lebih memahami emosi kita berikut alasan-alasan yang menjelaskan kenapa kita merasakan emosi tersebut. Dan dengan menyadari alasan munculnya suatu emosi, berarti kita telah mendorong otak kita berpikir tentang tingkat kepentingan sumber masalah.

Begini contohnya. Misalnya seorang karyawan terjebak di kemacetan. Orang yang sadar diri akan menyadari bahwa ia merasakan emosi marah karena dirinya lelah sepulang dari hari yang padat di kantor. Ia ingin cepat tiba di rumah karena anak dan istri telah menunggu. Ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalurnya, sebenarnya si karyawan sudah siap untuk murka, melampiaskan amarahnya pada pengemudi kendaraan yang tidak sopan itu. Tapi karena ia sadar diri, ia berpikir lagi alasan kenapa dirinya ingin cepat-cepat pulang. Pada akhirnya ia bisa menyadari bahwa jauh lebih penting untuk bisa tiba di rumah dengan selamat daripada menyulut perkelahian di jalan raya. Nah, pilihan yang tepat bukan?

Dengan keuntungan-keuntungan menjadi orang yang sadar diri, tentu kita ingin menjadi orang yang demikian. Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah caranya? //**

Bersambung…

Memahami Kriteria Bobot, Bibit, Bebet dalam Mencari Jodoh

sakinah

BOBOT bibit bebet adalah filosofi Jawa yang berkaitan dengan kriteria mencari jodoh atau pasangan hidup. Filosofi ini dipakai untuk memperoleh gambaran tentang kriteria calon jodoh versi Jawa. Atau paling tidak  menjadi alat kalibrasi atas kriteria yang selama ini sudah dikantongi oleh masing-masing para pencari jodoh dalam rangka uji proper and test calon atau sosok yang akan diincar.
Berkenaan dengan pasangan hidup, orang Jawa sangat berhati-hati – meski tidak terlalu selektif – dalam mencari siapa yang akan bersanding sebagai garwo (sigare nyowo) ing geghayu bahteraning orep (dalam mengarungi bahtera kehidupan) dalam kesetiaan sampai kiki nini koyo’ mimi lan mintuna.

Hal ini karena memilih pasangan hidup yang ideal adalah salah satu bagian terpenting dalam perjalanan hidup seseorang yang ingin berumah tangga dan berketurunan. Sebab kesalahan memilih pasangan yang dinikahi dapat berdampak buruk pada kualitas hidup pribadi, anak, dan keluarga di masa depan. Kata pepatah “Malapetaka besar yang dialami oleh seseorang adalah ketika ia salah memilih siapa yang menjadi pasangan hidupnya.”

Perlu diketahui, filosofi Jawa mengatakan bahwa ada lima perkara dimana manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti peran dan nasib perjalanan hidupnya; siji pesthi (mati), loro jodho (jodoh), telu wahyu (anugerah), papat kodrat (nasib), lima bandha (rizki).

Meskipun perjodohan adalah “departemen asmara” yang berada dibawah kepengawasan dan kendali Gusti Allah Yang Maha Kuasa, bukan berarti kita hanya bisa berdiam dan berpangku tangan menunggu runtuhnya durian. Namun kita wajib ikhtiar supaya tidak salah memilih yang akhirnya terpuruk  dalam penyesalan.

Seperti kita ketahui bahwa Aristoteles pernah mengatakan bahwa pada dasarnya manusia tidak bisa hidup tanpa yang lain. Karena mereka adalah makhluk sosial atau zoon-politicon, yang mana mereka akan mencoba melakukan interaksi dan komunikasi satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan, baik tubuh dan jiwa. Nah, di sinilah letak perlunya mencari pasangan yang serasi agar dapat hidup harmonis dalam duka maupun duka. Falsafah Jawa BOBOT, BIBIT, BEBET dapat menjadi alternatif bijak untuk menjawab konsep dalam  The Law of Attraction “getaran jiwa memancar, mencari, mendekat dan menarik getaran jiwa yang sama”.

BOBOT adalah kualitas diri baik lahir maupun batin. Meliputi keimanan (kepahaman agamanya), pendidikan, pekerjaan, kecakapan, dan perilaku. Filosofi Jawa ini mengajarkan, ketika mau ngundhuh mantu akan mempertanyakan hal-hal tersebut kepada calon menantunya. Hal ini mereka lakukan sebagai kewajiban orang tua terhadap hak anak, yakni menikahkan dengan seseorang yang diyakini mampu membahagiakan anaknya. Karena setelah menikah tanggung jawab akan nafkah, perlindungan dll berpindah ke suami. Oleh karena itu, tak heran terkadang ada orang tua yang cenderung memaksa atau intervensi urusan yang satu ini kepada putrinya. Sebab, siapa sih yang rela dan tega bila putri kesayangannya yang mereka besarkan dengan penuh kasih sayang harus menjalani hidup penuh deraian air mata di tangan suami yang kejam yang tak kenal sayang? Untuk itu konsepsi BOBOT ini diterapkan dalam rangka memberi perlindungan, kasih sayang dan penghormatan kepada wanita.

Standar Kompetensi dalam BOBOT dalam filosofi ini meliputi; (1) Jangkeping Warni (lengkapnya warna), yaitu sempurnanya tubuh yang terhindar dari cacat fisik. Misalnya, tidak bisu, buta, tuli, lumpuh apalagi impoten; (2) Rahayu ing Mana (baik hati) bahasa kerennya “inner beauty”. Termasuk kategori ini adalah kepahaman agama sang menantu; (3) Ngertos Unggah-Ungguh (mengerti tata krama); (4) Wasis (ulet/memiliki etos kerja). Dalam filosofi ini kita diajarkan untuk tidak silau oleh harta dan kemewaan yang dimiliki calon menantu.

BIBIT adalah asal usul/keturunan. Di sini kita diajarkan untuk konsen terhadap asal-usul calon menantu. Jangan sampai memilih menantu bagai memilih kucing dalam karung, yang asal-usulnya ndak jelas, keluarganya juga remang-remang, pekerjaannya cuma begadang di jalanan. Namun, bukan berarti bahwa kita harus mencari menantu keturunan “darah biru”, tetapi setidaknya calon menantunya punya latar belakang yang jelas dan berasal dari keluarga yang baik-baik.

Menurut teori Gen oleh Gregor mendel yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan berikutnya, bahwa manusia pada dasarnya mewarisi sifat-sifat fisik dan karakter dari orang tuanya, atau juga nenek dan kakeknya secara genetik. Ciri-ciri ini nampak melalui aspek tinggi badan, warna kulit, warna mata, keadaan rambut lurus atau kerinting, ketebalan bibir dan sebagainya. Demikian pula bahwa sifat dan tingkah laku manusia juga mengalami pewarisan daripada induk asal. Sebagai contoh sifat pendiam, cerewet, dominan atau pasif adalah ciri-ciri sifat alamiah manusia yang tidak dipelajari melalui pengalaman, tetapi hasil warisan generasi sebelumnya.

Jadi. Filosofi Jawa yang memperhatikan BIBIT bukan isapan jempol semata. Sebab menikah dengan mempertimbangkan segi keturunan bukanlah deskriminatif, tapi salah satu alternative yang bijak dalam “laku babad” untuk menjaga dan melestarikan keturunan yang baik sebagai tanggung jawab moril terhadap kesehatan mental – spiritual generasi bangsa selanjutnya.

BEBET merupakan status sosial (harkat, martabat, prestige). Filosofi Jawa memposisikannya dalam urutan ketiga. Bebet ini memang penting tapi tidak terlalu penting. Dalam filosofi Jawa mengatakan, “Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman”, (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi). Tetapi, apa salahnya kalau status sosial sesorang juga menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan calon menantu. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa status sosial juga merupakan kebutuhan dasar manusia. Itulah filosofi Jawa tentang bobot, bibit, bebet. Bagaimana dengan Anda? Wallahua’lam. //**  (dari berbagai sumber)

Apakah Begini Cara Anda Mendidik Anak?

Para filsuf mengatakan bahwa pendidikan yang paling baik adalah pendidikan yang dilakukan melalui contoh. Nenek moyang dan kakek moyang kita juga mengatakan hal yang sama. Demikian juga para psikolog. Mereka mengatakan bahwa manusia sangat mudah mengingat dan meniru apa saja yang dilihat dan dialaminya pada usia bayi sampai pada usia remaja dan akil balik.

DEWASA ini ada kebiasaan keluarga muda yang belum atau tidak punya mobil, jalan-jalan sore naik motor tanpa seorangpun yang memakai helm. Skuter matik jalan pelan-pelan mengambil jalur agak ke tengah, sambil ngobrol. Suami-istri ini sedang mendidik anak yang diboncengnya itu tentang cara melanggar tertib berlalu-lintas.

Dan saat polisi menangkap, dengan enteng bapak ini memberikan uang kesepakatan ke Pak Polisi dan urusan selesai, bebas melenggang. Inilah bapak yang sedang melatih dan membiasakan anaknya yang masih kecil untuk menyogok saat ada urusan apapun, dan agar meminta sogokan saat orang lain berurusan dengannya. Bapak yang sedang mempersiapkan generasi koruptor.

Demikian juga keluarga muda yang sudah punya mobil. Mereka sekeluarga keliling-keliling Jakarta dengan suami menyetir sambil mengobrol melalui ponsel. Sementara, sang istri yang cantik yang duduk di depan di sebelah suami, yang sedang makan buah rambutan, kulit rambutan dibuang langsung melalui kaca jendela depan yang terbuka sedikit. Inilah ibu yang sedang mendidik anaknya untuk membuang sampah sembarangan. Dan inilah bapak yang sedang mendidik anaknya untuk melanggar aturan berlalulintas.

Dan, bapak yang sangat menyayangi anaknya ini turun tangan langsung ketika anaknya terancam tidak naik kelas di SD, atau di SMP, atau di SMA, karena nilai-nilai ujian anaknya yang di bawah standar. Bertemu wali kelas, guru, terutama kepala sekolah. Menawarkan sesuatu, berdebat, bernegosiasi, atau bahkan mengancam, hingga pada akhirnya anaknya naik kelas atau paling tidak pindah sekolah sambil naik kelas. Inilah bapak yang sedang mendidik anaknya bagaimana cara menangani urusan.

Anak-anak bisa digambarkan seperti kertas putih bersih yang belum ada isinya. Tergantung kita sebagai orang tua yang mengisinya. Anak akan menyerap hal-hal yang baik dan buruk dari lingkungan terdekatnya. Sekarang bagaimana kita sebagai orang tua bisa mensortir dari perilaku-prilaku yang buruk. Cara yang paling efektif adalah memberi contoh perilaku yang baik di hadapannya. Meskipun anak belum bisa berbicara, anak sudah bisa meniru apapun yang kita kerjakan, baik dari kata-kata ataupun tingkah laku. Berikut berbagai tingkah laku kita yang akan ditiru oleh anak.

1. Berbicara Kasar
Mungkin masih terdengar lucu bila si kecil menyapa ayahnya dengan nama panggilannya. Tetapi bagaimana jika si kecil mengeluarkan kata-kata kasar seperti yang kita ucapkan? Si kecil mungkin tidak paham apa maksudnya, tetapi dia selalu aktif meniru apa yang dia dengar.

2. Kasih Sayang
Memberi contoh kepada si kecil tentang rasa sayang adalah cara efektif mengajarkan dia kasih sayang terhadap sesama. Tunjukkan kepada si kecil kepedulian kita terhadap keluarga, guru, orang-orang tak mampu, tetangga, bahkan terhadap hewan piaraan. Perhatian yang penuh kasih sayang menjadikan anak tumbuh dan berkembang dengan baik secara kognitif dan fisik.

3. Perilaku
Memberi contoh perilaku manis ketika di meja makan, berkunjung ke rumah teman atau tetangga atau di mana saja, agar dia dapat meniru perilaku-perilaku yang baik tersebut. Berikan contoh kata-kata yang seharusnya diucapkan, seperti kata “terima kasih” dan “tolong”, dan meminta maaf ketika berbuat salah.

4. Berbagi
Ketika mainan atau makanannya diminta oleh temannya atau orang lain dan dia menolaknya, kata favorit yang biasa diucapkan si kecil adalah “ini punyaku!”. Kita bisa mengajarkannya dengan membagikan makanan kita kepada teman-temannya dan kepadanya, kemudian menjelaskan kenapa kita melakukannya. Berikan dia dorongan untuk selalu berbagi dengan teman-temannya di sekolah dan di rumah, dan berikan dia pujian atas apa yang telah dia lakukan.

5. Makan Sehat.
Tentu tidak adil jika orang tua makan makanan enak berlemak seperti sate, bakso, atau es krim; sementara kita memaksa anak makan sayur. Sebenarnya orang tua mewarisi kebiasaan makan anak; bahkan sejak si kecil masih dalam kadungan selera makan anak sudah mulai terbentuk.

Oleh karena itu, kita seharusnya menyediakan makanan dengan kandungan gizi seimbang dan biasakan makan bersama mereka. Perlihatkan ekspresi wajah yang menunjukkan enaknya makanan yang sedang disantap, untuk menggoda dia untuk ikut serta makan bersama kita.

6. Percaya diri
Tingkat kepercayaan diri orang tua akan mempengaruhi tingkat percaya diri anak. Sebaiknya kita tidak mencela diri sendiri ketika berbuat kesalahan atau di depan cermin, dan di atas timbangan badan. Meskipun kita termasuk tipe orang suka menertawakan diri sendiri.

Anak yang tumbuh dengan percaya diri yang sehat, ia akan mampu mengatasi berbagai masalah dalam hidupnya, entah dalam hal pekerjaan, percintaan atau yang lain. Agar ia bangga atas apa yang telah dikerjakannya, berikan pujian atas prestasi, kebaikan dan kemajuan yang telah dibuat oleh si kecil.

7. Penghargaan terhadap diri sendiri
Orang tua perlu mengajarkan murah hati dan berbagi kepada anak, dan menunjukkan kepada anak bagaimana membedakan batas-batas bagi mereka sendiri. Bila orang tua terlalu penurut terhadap semua apa keinginannya, anak akan belajar untuk mengambil keuntungan dari orang tuanya. Dari sikap penurut orang tua ini, kemungkinan anak juga akan menirunya. Anak menjadi selalu mengalah dan tidak pernah memperoleh apa yang diinginkannya.

8. Menghargai orang lain.
Anak juga akan belajar banyak dari orang tuanya tentang cara menghargai orang lain. Ketika ia memasuki taman kanak-kanak, sikap sok tahu (sarkasme) akan membuat dia sulit untuk berteman. Maka ketika mendiskusikan hal-hal yang buruk, usahakan anak tidak mendengarnya.

9. Sikap Toleransi
Secara otomatis anak akan meniru anda, jika anda sering merendahkan budaya lain. Walaupun toleransi sulit unutk diajarkan, ada beberapa contoh tindakan yang bisa mengajarkannya tentang toleransi. Misalanya tanya apa pendapatnya tentang warna tas yang dipakai temannya. Jelaskan mengapa ada temannya beribadah dengan cara yang berbeda. Mengajarkan tentang hal-hal kecil ini akan membantunya mengerti masalah yang lebih besar ketika dia sudah beranjak dewasa.

10. Kepedulian terhadap lingkungan
Masalah lingkungan sudah menjadi isu penting saat ini, dan kerusakan lingkungan sudah parah. Oleh karena itu mengajarkan tentang kepedulian, mencintai dan memilihara lingkungan sejak dini sangatlah penting. Banyak tindakan kecil yang bisa kita contohkan, misalnya membuang sampah pada tempatnya, mematikan lampu yang tidak digunakan, mematikan televisi saat tidak digunakan, menghemat penggunaan air, atau mengajarinya menanam pohon.  Jelaskan kepada mereka kenapa kita harus membuang sampah pada tempatnya dan apa akibatnya jika kita membuang sampah sembarangan.//**

Pornografi Merusak Otak Anak

Tantangan yang dihadapi anak Generasi-Z salah satunya adalah kerusakan otak akibat pornografi. Temuan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH), Jakarta, terutama terhadap siswa kelas 4 hingga 6 SD, sepanjang tahun 2008 sampai awal 2010 di Jabodetabek, 67 persen dari mereka telah melihat atau mengakses pornografi, 37 persen di antaranya mengakses dari rumah sendiri.

APA sih Generasi-Z? Mereka adalah anak-anak yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi. Generasi-Z lahir setelah tahun 1990an. Bagi generasi ini, teknologi sudah merupakan bagian dari hidup mereka sejak lahir di dunia ini. Jangan heran jika anak-anak dari Generasi Z sangat mahir menggunakan teknologi apapun.

Coba lihat saja di jalan-jalan, begitu banyak anak usia SD dan SMP yang mengendarai sepeda motor dengan sangat nyamannya. Mereka pun sangat familiar dengan berbagai gadget seperti handphone dan kamera digital. Bahkan untuk menjalankan komputer mereka tidak perlu kursus. Cukup lihat kakak atau orang tuanya mengoperasikan komputer, mereka dengan cepat bisa belajar mengoperasikannya. Berbeda dengan generasi sebelumnya terutama Baby Boomers, yang lahir antara tahun 1946-1964, yang menguasai teknologi dengan kursus atau pelatihan.

Generasi Z dapat hidup di alam cyber. Kehidupan bersosialisasi mereka cukup terpenuhi dari jejaring sosial, game online, dan forum-forum di internet. Intinya, Generasi Z adalah generasi yang lahir dan hidup dengan teknologi tinggi saat ini.  Tidak mudah mengasuh anak dari Generasi Z, yang banyak mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi, bermain, dan bersosialisasi. “Banyak orangtua yang tidak mengetahui atau menyadari apa yang telah disaksikan anak-anak mereka melalui berbagai fasilitas yang mereka berikan untuk anak-anak mereka, seperti TV, games, handphone, internet, dan sebagainya,” kata Elly Risman, Psi, psikolog dari YKBH.

Bagaimana sebenarnya pornografi dapat merusak otak anak? Ahli bedah otak dari Amerika Serikat, Dr Donald Hilton Jr, mengatakan bahwa pornografi sesungguhnya merupakan penyakit karena mengubah struktur dan fungsi otak. Bagian yang paling rusak adalah prefrontal cortex (PFC) yang membuat anak tidak bisa membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, serta mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls. Bagian inilah yang membedakan antara manusia dan binatang.

Mark Kastleman, penulis buku The Drugs of the New Millenium, memberi nama pornografi sebagai visual crack cocaine atau narkoba lewat mata. Kastleman juga menyebut adiksi pornografi pada anak tidak terlepas dari bisnis pornografi yang memang menyasar anak-anak sebagai target pasar. Perangkap yang diberikan bermacam-macam. Misalnya, awalnya gratis, lama-lama bayar. “Persis kayak  jual narkoba. Cicip dulu sedikit, setelah ketagihan, pasti si anak akan mencari. Bedanya, orang kecanduan narkoba masih kelihatan, misalnya sakau. Tapi, kecanduan pornografi tidak. Kalau sudah kecanduan banget baru bisa,” urai Elly.

Ciri-ciri kecanduan pornografi antara lain anak menghabiskan waktu lebih banyak dengan perangkat teknologi, seperti internet, games  atau ponsel. Anak menjadi gampang marah, self esteem-nya rendah, kalau bicara tidak mau menatap mata kita, melawan, suka berkhayal, prestasi akademik merosot tiba-tiba, dan pendiam.

“Anak juga biasanya mengamuk kalau ditegur untuk berhenti melakukan aktivitas tertentu tadi,” kata Elly. Anak seringkali ingin keluar dari jerat adiksi tadi tapi tidak mampu karena tidak ada yang bisa membantunya. //**

——- ** ——–

TIPS BUAT ORANG TUA

Di bawah ini adalah beberapa poin yang bisa Anda terapkan supaya anak terhindar dari pornografi:

1. Tunjukkan wewenang Anda sebagai orangtua.

Lakukan hal ini secara bijaksana dan lembut. Tunjukkan bahwa Anda tetap orangtuanya walau hubungan Anda dengannya terjalin seperti sahabat. Sebagai orangtua, Andalah yang berhak mengambil keputusan akhir tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keamanan anak. Anda berhak mengetahui siapa saja temannya, di mana ia berada, dan apa yang sedang ia lakukan.

2. Berikan contoh yang baik.

Orangtua adalah yang pertama kali akan dicontoh anak di rumah. Jika ingin anak berperilaku baik, Anda juga harus melakukan hal yang sama. Jangan malah ikut-ikutan mengunduh video porno.

3. Pasang pengaman di komputer atau televisi.

Saat ini tersedia banyak software yang bisa digunakan untuk mencegah dibukanya situs-situs porno di internet atau saluran-saluran khusus dewasa di televisi. Pasanglah software itu di rumah sebagai pengamanan.

4. Kontrol “password” internet.

Jangan berlakukan sistem otomatis pada sambungan internet di rumah, melainkan terapkan sistem manual. Saat anak masih kecil, yang boleh mengetahui password ini hanya Anda dan suami. Ganti password secara teratur supaya keamanannya terjaga.

5. Letakkan komputer atau televisi di ruang publik.

Maksudnya, ruangan yang dipakai bersama-sama anggota keluarga lain, misalnya ruang keluarga. Dengan demikian, Anda bisa mengawasi apa saja yang sedang ditonton atau diakses anak. Hindari memberikan komputer atau televisi pribadi sepanjang anak belum membutuhkannya. Namun, jika ia memilikinya, Anda harus mengetahui password komputer atau akun jaringan sosialnya supaya tetap bisa melakukan pengawasan terhadap anak.

6. Buat aturan soal internet.

Selain menentukan waktu pemakaian internet, tentukan juga apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menggunakan internet.

7. Jangan berikan ponsel canggih.

Kalau anak memang membutuhkan ponsel, berikan ponsel yang paling sederhana, tanpa kamera, video, ataupun internet. Ponsel seperti itulah yang ia butuhkan saat ini. Katakan padanya bahwa fungsi utama ponsel adalah untuk berkomunikasi. Jika memerlukan internet, ia bisa gunakan komputer di rumah.

8. Dampingi saat menonton televisi atau menggunakan internet, terutama untuk yang masih kecil.

Sebaiknya Anda yang memegang remote control-nya. Setiap kali muncul adegan yang kurang pantas, segera ganti salurannya dan tunjukkan ketidaksukaan Anda. Tujuannya agar anak menjadi terbiasa dan tahu bahwa yang seperti itu memang tidak pantas. Ia pun tak akan tertarik pada hal-hal semacam itu meskipun sedang tidak berada dalam pengawasan Anda. Lakukan tindakan yang sama pada media lain. Ketika ia sudah lebih besar, Anda bisa berdiskusi soal seks dan memberikan penjelasan lebih mendalam.

9. Sediakan waktu untuk keluarga.

Banyak orang mengakses pornografi karena merasa bosan dan tidak memiliki kegiatan lain. Inilah sebabnya keluarga sebaiknya menghabiskan waktu bersama-sama, setidaknya sekali seminggu. Ajak anak ke taman, makan di luar, atau yang lainnya, supaya ia terhibur. Diskusikanlah dengannya mengenai kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa bosan. Dengan demikian, ia tidak berpaling ke televisi atau internet untuk mencari hiburan.

10. Sertakan mereka dalam kegiatan bermanfaat.

Daftarkan anak dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Pilihan lain adalah bekerja sama dengan para orangtua di sekolah atau lingkungan rumah. Anda bisa menyediakan aktivitas kecil-kecilan untuk mereka, misalnya, mendirikan klub membaca atau melukis.

11. Periksa teman anak.

Bukan tidak mungkin anak mendapatkan materi pornografi dari temannya. Jadi, tidak ada salahnya jika Anda cermat memilih dengan siapa ia bisa bergaul. Kalau tahu bahwa teman anak suka dengan hal-hal berbau pornografi, bicaralah dengan orangtua teman anak tersebut. Sebagai sesama orangtua, katakan bahwa Anda menginginkan yang terbaik untuk masa depan kedua anak. Apabila cara ini tidak berhasil, jauhkan anak dari sang teman.

12. Libatkan diri dalam kegiatan akademis anak.

Cari tahu apa saja yang diajarkan dan yang sedang terjadi di sekolah. Anda bisa berbicara dengan wali kelasnya. Utarakan keprihatinan Anda tentang isu pornografi. Bekerja samalah dengannya beserta orangtua lain untuk mencegah murid-murid terekspos pada hal itu di sekolah. Contohnya, dengan memasang sistem pengaman pada komputer-komputer di sekolah.

13. Beri penjelasan secara baik-baik dan dengan tenang.

Jika anak ketahuan sedang melihat materi pornografi, jangan langsung marah. Tanyakan baik-baik alasannya. Berilah penjelasan mengapa hal itu tidak pantas untuknya. //**