Kisah Nabi Shaleh

Tsamud adalah nama suatu suku yang di suatu dataran bernama yang terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk wilayah kekuasaan suku Aad yang telah habis binasa disapu angin sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud.

Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud. Tanah-tanah subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan ternak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yang indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung.

Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram, sejahtera dan bahagia, merasa aman dari segala gangguan alam.

Tuhan Mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berkurban, tempat mereka minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan.

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hambaNya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya seorang Rasul untuk memberi penerangan dan memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan adzab dan siksaan kepada suatu umat sebelum mereka diperingatkan dan diberi petunjuk olehNya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasulNya. Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mereka telah diutus Nabi Shaleh seorang yang telah dipilihNya dari suku mereka sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya.

Nabi Shaleh memperkenalkan mereka kepada Tuhan yang patut mereka sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah menciptakan mereka, menciptakan alam di sekitar mereka, menciptakan tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup mereka, menciptakan binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mereka.

Nabi Shaleh memperingatkan kaumnya, “Wahai kaumku, tinggalkan tuhan-tuhan selain Allah. Tidak ada yang patut kita sembah selain Allah. Aku mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi kalian. Aku tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam kerugian dan kesengsaraan. Aku hanyalah utusan Allah, dan apa yang aku serukan kepada kalian adalah amanat Allah yang harus aku sampaikan untuk kebaikan kalian di dunia dan akhirat kelak. Bertaubatlah dan mohon ampun kepada Allah atas dosa dan perbuatan syirik yang telah kalian lakukan selama ini”.

Terperanjatlah kaum Shaleh mendengar seruan dan dakwah Nabi Shaleh yang bagi mereka merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mereka sendiri. Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi Shaleh itu seraya berkata mereka kepadanya, “Wahai Shaleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbanganmu selalu tepat. Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Engkau selalu memimpin kami menyelesaikan hal-hal rumit yang kami hadapi. Tetapi ternyata kau telah tergelincir dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat dan tata cara hidup kami. Apa yang engkau serukan kepada kami? Engkau menghendaki agar kami meninggalkan sesembahan nenek moyang kami? Sesembahan yang telah menjadi darah daging kami? Kami tidak akan meninggalkannya dan kami tidak akan mengikuti seruanmu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai omong kosongmu, bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan sesembahan mereka dan mengikuti jejakmu.”

Nabi Shaleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar mengikuti ajakannya beriman kepada Allah yang telah mengaruniai mereka rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan pula kepada mereka kisah kaum-kaum yang mendapat siksa dari Allah karena menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu dapat terjadi di atas mereka jika mereka tidak mau menerima dakwahnya dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur sebagai seorang anggota dari keluarga besar mereka dan tidak mengharapkan atau menuntut upah dari mereka.

Sekelompok kecil kaum Tsamud yang kebanyakan terdiri dari orang-orang duafa’ menerima dakwah Nabi Shaleh, sedangkan sebagian besar golongan orang-orang kaya menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Shaleh dan mengingkari kenabiannya, “Wahai Shaleh! Engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu sudah kacau sehingga kau tidak sadar telah mengeluarkan kata-kata yang tidak masuk akal. Engkau mengaku diutus oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apa kelebihanmu daripada kami sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang diantara kami yang lebih pantas menjadi nabi. Engkau hanya bertujuan mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi pemimpin kaummu.

Nabi Shaleh menjawab, “Aku sudah katakan bahwa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun dari kalian sebagai imbalan. Aku lakukan ini semata-mata atas perintah Allah dan dari-Nya kelak aku harapkan alasan dan ganjaran. Bagaimana aku dapat mengikuti kalian dan menterlantarkan amanat Allah kepadaku, sedangkan aku telah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran dakwahku. Janganlah sesekali kalian berharap aku melanggar perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya. Siapa yang akan melindungiku dari murka Tuhanku jika aku berbuat demikian? ”

Setelah gagal menghentikan dakwah Nabi Shaleh, mereka menantang Nabi Shaleh untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.

Nabi Shaleh sadar bahwa tantangan kaumnya yang menuntut bukti darinya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mereka. Nabi Shaleh membalas tantangan mereka dengan menuntut janji pada mereka apabila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mereka minta, mereka harus meninggalkan sesembahan mereka dan akan mengikuti Nabi Shaleh serta beriman kepadanya.

Sesuai dengan permintaan pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Shaleh memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan kaumnya. Ia memohon kepada Allah dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina yang dikeluarkan dari sebuah batu besar yang terdapat di sisi sebuah bukit.

BERSAMBUNG…

Advertisements

Kisah Nabi Ayyub [2]

H. Dave Ariant Yusuf W., Spd.I, CSPS
Dept. Pendidikan Agama dan Dakwah DPP LDII

Nabi Ayyub adalah satu manusia pilihan dari sejumlah manusia pilihan yang mulia. Allah telah menceritakan dalam kitabNya dan memujinya dengan berbagai sifat yang terpuji secara umum dan sifat sabar atas ujian secara khusus. Tetapi Iblis kesal mendengar kata-kata pujian untuk seorang keturunan Adam yang ia telah bersumpah akan menyesatkannya ketika ia dikeluarkan dari surga karenanya. Ia tidak rela melihat anak cucu Adam menjadi seorang mukmin yang baik, ahli ibadah yang tekun dan melakukan amal sholeh sesuai dengan perintah dan petunjuk Allah.

Iblis pun berusaha menggoyahkan iman Nabi Ayyub dengan cara menghancurkan harta kekayaan Nabi Ayyub. Akan tetapi usaha Iblis itu sia-sia. Walaupun Nabi Ayyub jatuh miskin ia tetap bersyukur kepada Allah dan semakin mendekatkan diri kepadaNya.

Iblis kemudian pergi bersama para sekutunya menuju tempat tinggal putra putra Nabi Ayyub, sebuah gedung yang penuh dengan kemewahan dan kemegahan. Lalu digoyangkanlah gedung itu hingga roboh berantakan menimpa seluruh penghuninya. Setelah itu Iblis bergegas mendatangi Nabi Ayyub di rumahnya, menyerupai salah seorang teman Nabi Ayyub, yang datang menyampaikan berita dan menyatakan turut berduka cita atas musibah yang menimpa putra-putranya. Iblis yang menyerupai temannya itu berkata kepada Nabi Ayyub,

“Hai Ayyub, sudahkah engkau mendengar kabar putra-putramu yang mati tertimbun reruntuhan gedung yang roboh akibat gempa bumi? Rupanya Allah tidak menerima ibadahmu selama ini dan tidak melindungimu sebagai balasan bagi amal sholeh dan rukuk sujudmu siang dan malam”
Mendengar perkataan Iblis, menangislah Nabi Ayyub seraya berkata, “Allahlah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali. Segala puji bagiNya, Tuhan yang Maha Pemberi dan Maha Pencabut”.

Lalu Iblis keluar meninggalkan Nabi Ayyub dalam keadaan bersujud dan bermunajat. Iblis makin kesal dan marah pada dirinya sendiri karena gagal lagi membujuk dan menghasut Nabi Ayyub.

Selanjutnya Iblis memerintahkan kepada para sekutunya agar menaburkan benih-benih penyakit ke dalam tubuh Nabi Ayyub. Benih-benih penyakit yang ditaburkan itu segera berpengaruh pada kesehatan Nabi Ayyub, sehingga ia menderita berbagai penyakit, demam, batuk dan lain-lain hingga menyabkan badannya makin lama makin kurus, tenaganya makin lemah, wajahnya menjadi pucat dan muncul bintik-bintik di kulitnya. Bintik-bintik itu lama kelamaan menjadi luka bernanah dan menebarkan aroma yang tidak sedap. Luka bernanah itu mulai menjalari sekujur tubuh Nabi Ayyub, bau busuk pun memenuhi ruangan dimana Nabi Ayyub terbaring lemah tak berdaya. Siapapun yang berada di dekat Nabi Ayyub pasti tidak tahan dengan bau busuk yang keluar dari luka-luka di tubuhnya. Ditambah lagi berita yang tersebar bahwa penyakit Nabi Ayyub dapat menular dengan sangat cepat kepada orang-orang yang mendekatinya. Akibatnya Nabi Ayyub mulai dijauhi oleh teman-teman dekatnya bahkan oleh orang-orang sekampungnya. Ia menjadi terasing dari pergaulan dan hanya istrinya yang tetap setia mendampingi, merawat dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, melayani segala keperluannya tanpa mengeluh atau menampakkan kekesalan hati atas penyakit yang diderita suaminya.

Iblis terus memperhatikan Nabi Ayyub. Dalam keadaan yang sudah sangat parah itu Nabi Ayyub tidak meninggalkan kebiasaannya, ia tetap beribadah dan berdzikir. Bila Nabi Ayyub merasakan sakit di sekujur tubuhnya, ia tidak pernah mengeluh maupun mengaduh, tetapi hanya nama Allah yang selalu ia sebut. Kalimat permohonan ampunan dan perlindungan Allah selalu menghiasai bibirnya. Iblis semakin kesal melihat ketabahan hati Nabi Ayyub menanggung derita, serta kesabarannya menerima berbagai musibah dan ujian. Iblis kehabisan akal dan tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuannya merusak akidah dan iman Nabi Ayyub. Ia lalu meminta pendapat kepada para sekutunya, apa yang harus dilakukan lagi untuk menyesatkan Nabi Ayyub setelah segala usahanya tidak membuahkan hasil.

Iblis bertanya kepada para sekutunya, “Di manakah kepandaian tipu daya kalian? Yang selama ini tidak pernah sia-sia dan selalu berhasil menyebar benih was-was dan keraguan ke dalam hati manusia?

Salah satu sekutu Iblis menjawab, “Engkau telah berhasil mengeluarkan Adam dari surga, dari arah mana Engkau mendatangi Adam?”

“Owh.. Dari istrinya, iya dari Hawa maksudmu?” jawab Iblis.

“Iya, datangi ia melalui istrinya, gunakan siasat itu Ayyub, hembuskan racunmu ke telinga istrinya yang sudah tampak lelah merawatnya, namun masih tetap patuh dan setia” jawab sekutu Iblis.

“Tepat! ,hanya tinggal itu satu satunya jalan yang belum aku coba. Pasti kali ini degan cara menghasut istrinya aku akan berhasil” jawab Iblis
Dengan rencana barunya pergilah iblis mendatangi istri Nabi Ayyub, menyamar sebagai teman suaminya. Ia berkata kepada istri Nabi Ayyub, “Apa kabar dan bagaimana keadaan suamimu saat ini?”

“Itu dia terbaring menderita kesakitan, namun mulutnya tidak pernah berhenti berdzikir menyebut nama Allah. Ia benar-benar sudah keadaan parah, mati tidak, hidup pun tidak”

Kata-kata istri Nabi Ayyub itu menimbulkan harapan bagi Iblis bahwa kali ini ia akan berhasil. Maka diingatkanlah istri Nabi Ayyub akan masa mudanya di mana ia hidup dengan suaminya dalam keadaan sehat, bahagia dan makmur. Diingatkannya pula kenang-kenangan dan kemesraan masa lalu bersama Nabi Ayyub.

Kemudian keluarlah Iblis dari rumah Nabi Ayyub meninggalkan istri Nabi Ayyub duduk termenung seorang diri, mengenang masa lalunya, masa kejayaan suaminya dan kesejahteraaan hidupnya, membanding-bandingkannya dengan masa di mana berbagai penderitaan dan musibah dialaminya, yang berawal dengan musnahnya kekayaan dan harta benda, disusul dengan kematian putranya, lalu diikuti oleh penyakit suaminya yang parah dan sangat menjemukan itu. Isteri Nabi Ayyub merasa kesepian berada di rumah sendirian bersama suaminya yang terbaring sakit. Tidak ada sahabat maupun kerabat, semua menjauhi mereka karena takut tertular penyakit Nabi Ayyub.

Istri Nabi Ayyub menarik nafas panjang mendatangi suaminya seraya berbisik, “Wahai suamiku, sampai kapan Engkau tersika oleh Tuhanmu ini? Dimana kekayaanmu, putra-putramu, sahabat-sahabatmu dan tetangga-tetanggamu? Oh, Alangkah indahnya masa lalu kita, usia muda, badan sehat, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup selalu kita rasakan bersama keluarga. Akankah terulang kembali masa yang manis itu? Mohonlah wahai suamiku kepada Allah, agar kita dibebaskan dari segala penderitaan dan musibah yang berkepanjangan ini”

Berkatalah Nabi Ayyub menjawab keluhan istrinya itu, “Wahai istriku, Engkau menangisi kebahagiaan dan kesejahteraan masa lalu, menangisi anak-anak kita yang telah meninggal diambil oleh Allah dan engkau minta aku memohon kepada Allah agar kita dibebaskan dari kesengsaraan dan penderitaaan yang kita alami saat ini. Aku hendak bertanya kepadamu, berapa lama kita tidak menikmati masa hidup yang mewah, makmur dan sejahtera itu?”,
Istrinya menjawab “Delapan puluh tahun”

“Lalu berapa lama kita telah hidup dalam penderitaan ini?” tanya Nabi Ayyub

“Tujuh tahun” jawab sang istri

Nabi Ayyub melanjutkan perkataannya, “Aku malu, memohon kepada Allah agar membebaskan kita dari kesengsaraan dan penderitaan yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masa kejayaan yang telah Allah kurniakan pada kita…..”

[bersambung]

Pelajaran Berharga untuk Nabi Musa (lanjutan)

Pengasuh:
H. Dave Ariant Yusuf W., Spd.i
Dept. Pendidikan Agama dan Dakwah DPP LDII

Allah telah membebaskan orang-orang Bani Israil dari kekuasaan Fir’aun dan bala tentaranya dengan menenggelamkan kaum kafir itu ke Laut Merah. Nabi Musa selalu mengingatkan dan menjelaskan pada kaumnya bahwa semua itu semata-mata nikmat dan anugerah dari Allah yang harus mereka syukuri.

Ringkasan cerita yang lalu:

Nabi Musa merasa dirinya paling pandai dan banyak ilmu di muka bumi. Dengan sikapnya itu Allah memperingatkan bahwa ada orang yang lebih pandai dan berilmu daripadanya, yaitu Nabi Khadir. Nabi Musa pun penasaran ingin bertemu dan berguru kepada hamba Allah tersebut. Setelah mengalami perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya Allah mempertemukan Nabi Musa dengan Nabi Khadir. Keduanya pun sepakat untuk jalan bersama dengan syarat, Nabi Musa tidak boleh bertanya apapun kejadian yang mereka alami di sepanjang perjalanan, sebelum Nabi Khadir menjelaskannya. Jika syarat itu dilanggar, maka Nabi Khadir tidak lagi mengijinkan Nabi Musa berjalan bersamanya. Perjalanan pun diawali dengan menyeberangi lautan, menumpang perahu milik seorang nelayan yang dengan sukarela memberikan tumpangan kepada Nabi Musa dan Nabi Khadir tanpa meminta imbalan sepeser pun.

Perahu pun meluncur membelah lautan luas. Burung-burung laut beterbangan di atas perahu seolah mengucapkan selamat jalan mengiringi keberangkatan mereka. Hingga ada seekor burung yang hinggap pada tepian perahu, lalu berkali-kali mamatokkan paruhnya ke lautan. Melihat tingkah burung yang lucu itu Nabi Khadir berkata, “Wahai Musa, ilmu Allah yang diberikan kepada kita tidak lebih dari setetes air dalam paruh burung itu, sedangkan lautan yang terbentang luas tanpa batas itulah ilmunya Allah”.

Setibanya di seberang lautan, Nabi Musa dikagetkan dengan perbuatan Nabi Khadir yang tiba-tiba melubangi perahu yang baru saja mereka naiki, papan-papan perahu dicopotnya hingga perahu itu tidak bisa digunakan lagi. Di mata Nabi Musa, tindakan Nabi Khadir itu adalah tindakan yang tercela. Kemudian bangkitlah emosi Nabi Musa sebagai bentuk kecemburuannya kepada kebenaran. Ia pun terdorong untuk bertanya, “Khadir! Mengapa kau rusak perahu yang telah mengantarkan kita ke seberang lautan, bahkan kita tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk membayar pemilik perahu itu!”

Dengan tenang Nabi Khadir menjawab, “Bukankah sudah aku katakan bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar mengikutiku”

Nabi Musa sadar bahwa ia telah melanggar janjinya untuk bersabar. Namun Nabi Musa tetap ingin belajar banyak ilmu kepada Nabi Khadir, “Wahai Khadir.. Maafkan aku. Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku, biarkan aku tetap bersamamu”. Permintaan maaf Nabi Musa diterima oleh Nabi Khadir.

Kedua Nabi Allah itu pun kembali berjalan hingga bertemu dengan sekelompok anak-anak yang sedang bermain di kebun. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di sebuah pohon. Tiba-tiba Nabi Khadir menghampiri anak itu, lalu membunuhnya. Nabi Musa terhenyak, dengan lantang ia berkata “Khadir! Kau baru saja membunuh seorang anak tak berdosa, mengapa kau lakukan itu!”

Nabi Khadir pun menjawab, “Bukankah sudah aku katakan bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar mengikutiku”

Kali ini kedua kalinya Nabi Musa lupa akan janjinya. Sehingga Nabi Musa betul-betul memohon pada Nabi Khadir agar memaafkannya.

“Wahai Khadir.. Maafkan aku. Berilah aku kesempatan sekali lagi. Jika aku mengulangi kesalahanku, jangan ijinkan aku mengikutimu lagi”. Nabi Khadir kembali menerima permintaan maaf Nabi Musa.

Keduanya melanjutkan perjalanan yang cukup jauh hingga sore hari tibalah mereka di suatu perkampungan. Baik Nabi Musa maupun Nabi Khadir sama-sama merasakan letih dan lapar, sehingga keduanya mendatangi rumah penduduk kampung itu, meminta makanan dan minuman sekedar untuk mengganjal perut. Tetapi apa yang terjadi? Tidak seorang pun penduduk kampung itu yang mau memberi makanan maupun minuman pada keduanya. Nabi Musa kesal melihat perlakuan penduduk kampung yang tidak menyenangkan dalam menyambut tamu, namun perasaan itu dipendamnya dalam-dalam. Nabi Khadir dan Nabi Musa pun duduk bersandar di sebuah dinding yang hampir roboh. Tiba-tiba Nabi Khadir berusaha membangun dinding itu, bahkan ia menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding itu hingga kembali berdiri dengan kokoh. Nabi Musa sangat heran melihat tindakan Nabi Khadir. Baginya, penduduk desa yang bakhil itu tidak layak mendapat perlakuan seperti itu.

Disinilah ternyata Nabi Musa tidak kuat menahan perasaannya. “Khadir, apalagi yang kau lakukan? Bukankah mereka telah menolak permintaan kita. Mengapa malah engkau tegakkan dinding rumah mereka? Jika kau mau, minta saja upah pada mereka”.

“Wahai Musa. Inilah perpisahan antara engkau dan aku”.

Kemudian Nabi Khadir menceritakan kepada Nabi Musa tentang kebingungan dan kesamaran yang telah membuatnya tidak mampu menahan diri untuk bertanya.

“Pertama, perahu yang aku rusak itu milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, di hadapan mereka ada seorang raja kejam yang akan merampas semua perahu milik mereka. Dengan aku merusaknya, perahu itu tidak akan dirampas oleh raja sehingga mereka bisa memperbaiki kembali setelah raja itu pergi. Kedua, anak yang aku bunuh, kedua orang tua anak itu adalah orang-orang yang beriman sedangkan anak itu kelak ketika dewasa menjadi orang kafir dan akan memaksa kedua orang tuanya ke dalam kesesatan dan kekafiran. Aku berharap agar Allah mengganti untuk kedua orang tuanya dengan anak yang lain yang lebih baik dan lebih suci serta lebih sayang terhadap ayah dan ibunya. Ketiga, dinding rumah itu adalah milik dua bocah yatim di kampung itu dan di bawahnya terdapat harta peninggalan hak milik mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Allah menghendaki supaya mereka sampai pada masa dewasanya dan mengeluarkan simpanan harta peninggalan itu.
Kalau sampai dinding itu roboh sedangkan keduanya masih belum dewasa, aku kuatir hartanya akan ditemukan orang sehingga dibuat rebutan”.

“Wahai Musa itulah penjelasanku, semoga engkau mengerti, selamat tinggal”.

Jelas sudah, bahwa semua tindakan Nabi Khadir itu bukanlah atas inisiatifnya sendiri melainkan digerakkan oleh Allah Yang Maha Tinggi dimana pada setiap kehendakNya selalu menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi. Tindakan Nabi Khadir yang secara lahiriah tampak keras namun pada hakikatnya justru terdapat rahmat dan kasih sayang didalamnya. Hal inilah yang tidak diketahui oleh Nabi Musa. Meskipun Nabi Musa memiliki ilmu dan pengetahuan yang sangat luas tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hamba Allah yang bernama Khadir.

Nabi Khadir telah memberikan dua pelajaran berharga kepada Nabi Musa, pertama bahwa ilmu manusia itu terbatas sedangkan ilmu Allah sangatlah luas, sehingga tidak pantas bagi manusia merasa bangga dengan ilmu yang dimilikinya. Kedua bahwa banyak musibah terjadi di muka bumi justru dibalik itu terdapat hikmah yang banyak, sehingga tidak semestinya manusia terlarut dalam kesedihan dikala tertimpa musibah karena dibalik musibah itu terdapat kelembutan dan kasih sayang Allah yang begitu besar.

Itulah akhir dari kebersamaan Nabi Musa dan Nabi Khadir. Andaikan Nabi Musa bisa menahan diri untuk bersabar, mungkin dapat lebih lama lagi belajar bersama Nabi Khadir. Tetapi itulah kehendak Allah, kedua Nabi Allah itu harus berpisah secepat itu. Padahal masih banyak rahasia ilmu Allah yang belum terungkap.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan menjadi tinta, ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah keringnya, niscaya tidak akan habis-habisnya dituliskan kalam Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” QS. Luqman 27

Musibah adalah bagian dari cobaan Allah kepada hambaNya. Rasulullah SAW bersabda, “Besarnya pahala tergantung besarnya cobaan. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Allah memberinya cobaan. Maka barangsiapa ridha dengan cobaan Allah, baginya ridha dari Allah, sebaliknya barang siapa murka, maka baginya murka dari Allah” HR. Tirmidzi

Selalu ada hikmah dibalik setiap musibah…

Nabi yang Mencari Tuhan

Siang itu di halaman sebuah rumah, duduk seorang bocah memperhatikan laki-laki setengah baya yang sedang sibuk memahat batu yang besar.

“Ayah, apakah engkau akan membuat patung lagi?” tanya bocah itu kepada laki-laki yang dikenal sebagai seorang pembuat patung di dataran Babilonia.

“Iya nak.. patung-patung yang telah maupun yang sedang ayah buat adalah tuhan-tuhan agung sesembahan kita”

Ibrahim kecil keheranan melihat tingkah laku ayahnya maupun tingkah laku masyarakat Babilonia yang telah menganggap tuhan terhadap patung-patung yang mereka buat sendiri. Karunia Allah telah menjadikannya seorang bocah yang memiliki akal cemerlang. Allah telah menghidupkan hatinya dan memberinya banyak hikmah. Ia sering berpikir betapa bodohnya mereka. Apa yang mereka lakukan tidak dapat diterima dengan akal sehat manapun. Kegelisahan Ibrahim tak kunjung reda sampai ia beranjak dewasa.

Sebagai seorang anak yang dilahirkan di tengah-tengah keluarga seniman pemahat patung yang sangat dihormati masyarakat, Ibrahim semakin tertekan batinnya. Di depan matanya setiap hari Ibrahim menyaksikan patung-patung bisu dan tuli itu dipahat dan disembah oleh Azar, ayahnya. Sudah ribuan patung diciptakan ayahnya dan tersebar ke seluruh masyarakat Babilonia, karena patung-patung itu memang diperjual belikan. Tak jarang Ibrahim diperintah untuk mengantarkan patung-patung ke rumah orang-orang yang telah memesannya kepada Sang Ayah. Ibrahim sesekali memandangi patung-patung itu. Namun setiap kali patung-patung itu dipandang, dimata Ibrahim patung-patung itu tak lebih dari sebongkah batu dan seonggok kayu yang tidak mampu berbicara, tidak mampu mendengar, tidak makan dan minum, bahkan seandainya ada seseorang yang menjungkir balikkannya ia tidak mampu bangkit dan berdiri. Bagaimana mungkin manusia beranggapan patung-patung itu dapat mendatangkan bahaya dan memberikan manfaat.

Ibrahim sering berdialog dengan ayahnya akan hal ini. Namun dialog itu selalu berakhir dengan kemarahan Azar kepada Ibrahim. Ibrahim menggunakan logika seorang yang berpikir sehat untuk mematahkan semua argumen Azar yang hanya mendasarkan semua itu pada keyakinan turun temurun yang sesat dan hati yang gelap. Bahkan Azar tidak segan-segan melayangkan pukulannya terhadap Ibrahim untuk menyelesaikan dialog.

Setiap malam Ibrahim selalu gelisah. Terjadi perang batin dalam dirinya. Ia tidak bermaksud menentang ayahnya, apalagi melukai perasaannya. Ia hanya ingin mengajak ayahnya ke jalan yang benar. “Ya Tuhanku.. Berilah aku petunjuk. Kalau tidak pastilah aku menjadi golongan orang-orang yang sesat seperti mereka..”
Malam itu Ibrahim tidak dapat memejamkan matanya. Ia berjalan keluar rumah, matanya memandang langit. Hatinya terasa damai ketika memperhatikan bintang-bintang gemerlap yang bertaburan di langit.

“Wow..! Indah sekali.. Mungkin inilah Tuhan yang aku cari.. Yeah! Inilah Tuhanku..!”

Ibrahim merasa telah menemukan apa yang ia cari. Ia kembali masuk kamarnya dan tidur dengan perasaan yang lega. Hingga keesokan harinya, begitu bangun tidur ia segera menghambur keluar ingin melihat kembali Tuhan yang telah ia temukan semalam. Namun alangkah kecewa ia ketika melihat bintang-bintang itu tidak tampak lagi.

“Kemana perginya bintang-bintang itu… Aku tidak suka Tuhan yang hilang!”

Malam berikutnya Ibrahim kembali memperhatikan langit. Ia seolah bosan melihat bumi yang telah dipenuhi kesesatan dan kemusyrikan. Menjelang tengah malam muncul bulan purnama yang terang. Ibrahim terkesiap.. “Luar biasa..! Inilah Tuhanku.. Begitu besar dan bercahaya…”

Malam itu Ibrahim kembali tidur dengan hati yang tenang. Namun keesokan harinya ia kembali dikecewakan dengan hilangnya cahaya bulan dari pandangan matanya. Ia keluar ke tanah lapang sambil memandangi langit, mencari-cari kemana perginya bulan. “Kenapa yang ini hilang juga?! Jika Tuhanku yang sebenarnya tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”

Tiba-tiba Ibrahim tersadar bahwa ada sesuatu yang hangat meresap ke pori-pori kulitnya. Ia memandang ke atas. Tampak matahari dengan cahayanya yang menyilaukan. Ia tersadar bahwa ternyata ada sesuatu yang lebih besar dan lebih terang daripada apa yang telah ia lihat pada malam sebelumnya. “Pasti! Pasti inilah Tuhanku..! Yang ini lebih besar!”

Akan tetapi kegembiraan Ibrahim tidak berlangsung lama karena menjelang maghrib pastilah matahari terbenam. Ibrahim pun menyerah dan meyakini bahwa bintang, bulan maupun matahari bukanlah Tuhan, apalagi berhala-berhala buatan manusia.

“Wahai kaumku.. Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”

Ibrahim telah mendapatkan petunjuk dari Allah. Ia yakin bahwa Tuhan yang sebenarnya itu ada walaupun tidak dapat dilihat wujudnya. Ibrahim telah menemukan kedamaian dan jalan yang benar. Allah selalu memberikan hujjah yang kuat kepadanya sehingga ia mampun menghadapi kaumnya. Ia terus melanjutkan pertentangan kepada penyembahan berhala. Pergulatan dan pertentangan antara Ibrahim dan kaumnya semakin tajam. Beban yang paling berat adalah saat ia harus berhadapan dengan ayahnya. Diantara masyarakat Babilonia Azar-lah yang paling marah dan menentang sikap Ibrahim. Keduanya dipisahkan oleh prinsip-prinsip yang berbeda.

Bersambung…

Su’ul Khotimah (Akhir kehidupan yang jelek)

oleh: Ustadz Dave Ariant Yusuf Wicaksono

Sebagian manusia ada yang terlahir dalam keadaan iman, hidup dalam keimanan tetapi mati dalam kekafiran… “Dalam suatu perjalanan sebuah kapal dagang yangberkeliling ke beberapa pulau di luar negeri, terdapatseorang pemuda bernama Somad yang bekerja sebagai pembantu nahkoda kapal tersebut. Pemuda tersebutmemiliki akhlaq yang sangat mulia. Ketaqwaan hatinyaterpancar dari cahaya wajahnya yang teduh penuh kepasrahan kepada Allah. Dia adalah seorang pemuda yang gemar melakukan shalat sunah dan bibirnya selalu basah dengan kalimat-kalimat dzikir kepada Allah.

Hari itu kapal bersandar di pelabuhan wilayah kepulauan India. Para awak kapal turun ke darat. Itulah kebiasaan mereka, apabila kapal berhenti beberapa hari pada suatu tempat, mereka turun untuk sekedar berjalan-jalan dan beristirahat setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan. Mereka berkeliling ke pasar-pasar kota tersebut untuk membeli souvenir ataupun barang-barang kerajinan daerah setempat sebagai oleh-oleh untuk anak-anak dan keluarga mereka. Mereka kembali ke kapal apabila malam sudah mulai menjelang. Selain itu ada juga beberapa orang diantara mereka yang sengaja mencari tempat-tempat hiburan, perjudian maupun tempat-tempat maksiat yang lainnya.

Sementara itu Somad tidak pernah mau turun dari kapal.Hari-hari selama kapal berlabuh ia habiskan untuk memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, seperti menggulung tali kapal atau menyusunnya dan mempererat kayu kapal yang longgar. Kemudian ia sibukkan dirinya dengan berdzikir, membaca Al Quran, shalat sunah hingga kadang air mata menetes dari pelupuk matanya membasahi jenggotnya.

Pada suatu hari ketika Somad sedang sibuk dengan pekerjaannya, Joni salah seorang temannya yang sama-sama bekerja di kapal tersebut menghampiri, “Hai Mad…Aku perhatikan selama ini kamu selalu menyendiri dan tidak pernah meninggalkan kapal ini. Mengapa kamu sesekali saja tidak pernah turun dari kapal? Aku tahu, mungkin kamu tidak ingin membuang-buang waktumu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal Mad, dengan kamu melihat bagaimana corak ragam kehidupan manusia di dunia ini, kamu akan semakin dapat merasakan betapa besar kekuasan Allah atas manusia di dunia ini. Banyak sekali manfaat yang dapat kamu peroleh. Tentu saja aku tidak akan menyarankanmu untuk pergi ke tempat-tempat maksiat. Tidak mungkin aku mengajakmu ke sana. Aku hanya ingin mengajakmu pergi melihat permainan-permainan ular, orang-orang yang mengendarai gajah, bagaimana gajah itu menjadikan belalainya sebagai tangga bagi pawangnya, lalu si pawang naik ke atas belalainya. Kamu pasti belum pernah melihat orang-orang yang berjalan di atas paku-paku runcing dan tidak terluka sedikit pun. Kamu juga bisa melihat orang-orang yang dengan enaknya memakan bara api seperti makan roti saja. Ada juga orang-orang yang meminum air laut sampai sepenuh perutnya.

Wahai Somad sahabatku, ayolah…kita turun, sekali ini saja… Jika setelah jalan-jalan nanti ternyata kamu tidak terkesan, besok aku tidak akan mengajakmu lagi” demikian Joni merayu Somad agar mau menemaninya turun dari kapal. Perangai Joni sangat bertolak belakang dengan Somad, dia adalah pemuda yang suka berhura-hura dan selalu menuruti hawa nafsunya. Hari-harinya lebih banyak disibukkan dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma agama.

Somad terdiam mendengar omongan Joni itu. Dalam diamnya ia mempertimbangkan antara mengikuti ajakan Joni atau menolaknya. “Hmm benar juga kata Joni. Aku harus lebih banyak mengetahui tentang dunia ini agar aku bisa lebih mensyukuri nikmat Allah dan merasakan tanda-tanda kebesaran Allah”. kata Somad dalam hati. “Jon..Apa benar yang kamu ceritakan tadi ada di dunia ini?” tanya Somad. “Untuk apa aku berbohong, Mad. Semua yang aku ceritakan tadi benar-benar ada di kota ini. Turunlah, kamu akan melihat banyak hal-hal yang menyenangkan”.

Akhirnya kedua pemuda itu turun dari kapal. Mereka menelusuri jalan-jalan dan pusat keramaian di kota itu. Dari mulut Somad seringkali terucap “Subhanalloh!” manakala ia melihat suatu pemandangan yang menakjubkan. Hingga sampailah mereka pada sebuah gang sempit yang diujung gang itu ada sebuah rumah kecil.

“Somad…Aku mau bertemu dengan temanku di rumah itu. Kamu tunggu di sini sebentar ya.. Jangan sekali-kali kamu mendekati rumah itu, apalagi masuk ke dalamnya..”. “Baiklah Jon…Aku duduk disini saja”. Somad duduk agak jauh dari rumah tersebut sambil membaca hafalan Al Qurannya dan berdzikir. Sesaat setelah itu tiba-tiba dari dalam rumah itu terdengar suara orang laki-laki dan perempuan tertawa cekikikan, sesekali terdengar suara rintihan dan jeritan-jeritan kecil.

“Suara apa itu?” pikir Somad “Apa yang dilakukan oleh Joni di dalam rumah itu ya?” Somad semakin penasaran karena suara itu makin jelas terdengar. Ia pun berjalan mendekati rumah itu. Ia ingin melihat dan mengetahui lebih jauh apa yang sedang dilakukan oleh temannya. Lalu ia mengintip dari celah pintu rumah dan memperhatikan apa yang terjadi di dalam rumah dengan seksama.

”MasyaAllah..!” teriak Somad. Ia menyaksikan suatu pemandangan yang belum pernah ia lihat selama ini. Dadanya berdegup kencang, darahnya berdesir dan keringat dingin membasahi tubuhnya. “Sialan! Ternyata Joni sedang bersenang-senang dengan seorang perempuan!” gerutu Somad.

Setelah beberapa saat Somad menunggu, keluarlah Joni dari dalam rumah itu. “Jon..Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan?” Somad mulai menasehati Joni. “Kamu telah melakukan perbuatan yang dimurkai dan dikutuk Allah!” lanjut Somad. Joni hanya diam mendengar nasehat Somad sambil terus berjalan kembali ke kapal. Setelah sampai di kapal, sebelum keduanya berpisah menuju kamar masing-masing Joni membisikkan sesuatu ke telinga Somad “Wahai sobat…Semua apa yang aku lakukan adalah urusanku. Kau tidak berhak melarangku. Uruslah dirimu sendiri..”

Malam itu Somad tidak dapat memejamkan matanya sampai pagi. Ia gelisah memikirkan apa yang ia saksikan malam itu. Konsentrasinya mulai terganggu. Berdzikir dan membaca Al Quran menjadi suatu pekerjaan yang berat baginya. Pemandangan yang membakar syahwat pada malam itu betul-betul selalu terbayang di matanya. Setiap malam ia tidak bisa tidur.

“Aku tahu itu perbuatan dosa…Tetapi kalau aku hanya menonton tanpa turut melakukan, pasti dosaku tak sebesar itu..” pikir Somad. Hingga akhirnya Somad nekat turun dari kapal menuju tempat kemarin ia menyaksikan kejadian itu. Pada awalnya ia hanya berniat melihat-lihat saja, tetapi ia tidak sadar bahwa apa yang ia lakukan itu telah membuka celah bagi syetan untuk memasuki peredaran darahnya. Malam itu juga Somad melakukan perbuatan yang dikutuk oleh Allah. Bahkan hampir setiap malam dihabiskannya untuk bersenang-senang dengan para wanita penghibur. Sampai beberapa temannya yang sama-sama bekerja di kapal itu bertanya-tanya,

“Mu’adzin kita kemana ya?”. “Iya nih…sudah beberapa malam hari Somad tidak kelihatan di mushola”. “Aku juga tidak pernah lagi mendengar ia membaca Al Quran atau berceramah..”

Somad si pemuda kampung yang polos dan taat beribadah itu kini telah terjerumus ke dalam lembah dosa. Perbuatan keji dan nista telah menjadi bagian hidupnya. Kini ia harus membayar sangat mahal atas perbuatannya itu, hilang wibawanya di dunia, kefakiran selalu membayangi hidupnya dan jatah umurnya di dunia kurangi oleh Allah. Selain itu jelek seluruh hisaban (perhitungan) amalnya kelak di akhirat, Allah memurkainya dan tubuhnya akan dibakar api neraka selama-lamanya tiada batas akhirnya.

Somad telah lengah. Bermula dengan meremehkan perbuatan dosa yang ia anggap kecil dan mudah diampuni. Namun ia tidak sadar bahwa ternyata dosa-dosa kecil itu terus merasuk ke dalam denyut nadinya bagaikan virus-virus ganas yang menggerogoti keimanannya hingga akhirnya berakibat fatal bagi dirinya. Na’udzubillahi min dzaalik

Ingat sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam : “Takutlah kalian akan dosa-dosa kecil, sebab dosa kecil itu akan menumpuk pada seseorang (yang melakukannya) hingga merusaknya”.HR.Ahmad.

Ingat Firman Allah : “Maka ketika mereka (sengaja) menyimpang, Allah akan menyimpangkan hati mereka… QS. As-Shaf 5.

Ingat Firman Allah : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya… QS.AnNur 30

Sekian

Kedengkian Sang Patih

oleh: ustadz Dave Ariant Yusuf Wicaksono

Di sebuah negeri yang makmur tersebutlah seorang raja yang berhasil memajukan kesejahteraan rakyatnya. Raja mempunyai dua orang patih yang sangat dipercaya. Raja memang memerlukan dua orang patih karena wilayah negerinya terbagi dua, yaitu wilayah barat dan wilayah timur. Maka kedua patih itu pun disebut Patih Barat dan Patih Timur.

Masing-masing wilayah berbeda keadaannya. Wilayah barat, daerahnya kaya dan subur tanahnya. Sedangkan wilayah timur tanahnya kurang subur dan tidak potensial. Sungguh beruntung Patih Barat, dia tidak usah bekerja terlalu keras hingga larut malam. Sebaliknya Patih Timur, walaupun pendidikannya tidak setinggi Patih Barat tetapi ia bekerja tulus untuk Raja dan kemakmuran negerinya.

Patih Barat selalu takut hasil kekayaan yang dihasilkan wilayah barat, dipakai untuk membiayai wilayah timur. Padahal Raja berhak saja menentukan dan memeratakan kemakmuran di seluruh negerinya. Patih Timur yang selalu penuh ide untuk memberdayakan rakyatnya, tak pernah berpikir untuk meminta dana bantuan kepada Raja, meskipun Raja membolehkannya. Sebaliknya Patih Barat yang terlalu banyak waktu luang malah mempunyai keinginan-keinginan yang tidak berpihak kepada rakyat banyak. Toh rakyatnya sudah cukup makmur, pikirnya. Dia selalu memata-matai sepak terjang Raja, dia tidak rela hasil kekayaan wilayah barat dipakai membantu wilayah timur.

Patih Timur yang cerdik tidak pernah merasa putus asa walaupun daerahnya termasuk daerah yang gersang. Dengan selalu berdoa kepada Allah, dia tidak segan-segan turun ke lapangan. Dia tidak pernah merasa gengsi. Dia membuka sebuah lahan dan bersama-sama rakyatnya bahu membahu mengumpulkan sampah-sampah organik lalu ditutup tanah agar menjadi kompos.

Setahun kemudian kerajaan berencana mengadakan pesta besar untuk hari jadi negeri itu. Para pembesar negeri akan berdatangan sambil melaporkan keadaan negerinya. Patih Barat yang tidak pernah bersusah payah memakmurkan negerinya mempunyai perangai yang kian buruk dan semena-mena hingga rakyat dan punggawanya banyak yang mengeluh. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena Patih Barat tidak segan-segan menghukum siapa saja yang berani menentangnya.

Sehari sebelum acara pesta kerajaan, Patih Barat mengundang Patih Timur. Ketika Patih Timur datang….”Nah itu dia Patih Timur, tapi kok pakaiannya mewah betul, dari mana dia dapat pakaian seperti itu. Jangan-jangan Raja mengirimkan bantuan uang kepadanya. Uang itu pasti dari pajakku setiap bulan. Huh..! tidak pantas bagi patih sampah itu berpenampilan mewah” kata Patih Barat. Lalu ia pun berpikir dengan penuh kedengkian, ”Hmm..Aku punya rencana untukmu, Patih Timur…”.

Keesokan harinya Patih Barat membuat undangan makan pagi di rumahnya, menu yang disediakan adalah makanan-makanan yang baunya khas menyengat, seperti oseng-oseng petai, semur jengkol, sedangkan buah pencuci mulutnya durian dan nangka.

Patih Timur yang sebetulnya tidak menyukai petai dan jengkol itu terpaksa dengan santunnya mencicipi makanan-makanan tersebut demi menyenangkan tuan rumah.

“Wahai Patih Timur, sebentar lagi akan ada pertemuan dengan Raja, “ujar Patih Barat memulai rencana jahatnya, “aku lupa makanan ini dapat membuat mulutmu beraroma menyengat. Bila kamu berbicara dengan Raja nanti, sebaiknya kau tutupi mulutmu”.

Setelah makan pagi selesai Patih Timur segera bergegas menuju istana Raja beserta para pengawalnya. Sementara Patih Barat yang merasa rencana pertamanya berhasil pun bergegas menuju istana Raja melalui jalur lain agar ia sampai terlebih dahulu. Ternyata benar, Patih Barat sudah sampai istana terlebih dahulu sebelum Patih Timur. Ia pun segera menemui Baginda Raja untuk melancarkan siasatnya…

“Mohon ampun, paduka. Saya hendak menyampaikan rahasia penting”
“Apa itu, Patih? Tanya Sang Raja.
“Seperti Paduka ketahui bahwa utusan dari negeri timur sudah menuju ke Ibukota ini. Namun ada berita rahasia, mata-mata kami mendengar bahwa Patih Timur telah menyebarkan fitnah yang besar. Katanya mulut raja baunya busuk dan masyarakat sudah mengetahui. Lihat saja sikapnya nanti, ia ingin menunjukkan pada orang lain bahwa mulut Paduka bau. Ia akan menutup mulutnya bila Paduka berbicara”.

Terkena hasutan Patih Barat, Sang Raja geram, “Kurang ajar Patih Timur! Dasar hidupnya di negeri sampah, pantas saja hatinya busuk! Akan kubuktikan. Kalau berita itu benar kau akan kuberi hadiah dan Patih Timur akan ku penjarakan!”

Ketika saatnya tiba, Raja sudah tidak sabar lagi menunggu rapat laporan tahunan. Namun sebelumnya Raja mengadakan pertemuan khusus dengan Patih Timur. Sementara Patih Timur sudah gemetaran bakal kena damprat, mengingat bau mulutnya yang menyengat ketika berbicara dengan raja. Ia menutupi mulutnya. Raja pun berkata dalam hati, “Hmm,, benar juga laporan Patih Barat. Patih Timur benar-benar kurang ajar!”

Kemudian Raja menuju ke laci tempat kerjanya, ia menulis sesuatu dalam secarik kertas lalu dimasukkannya ke dalam amplop. Ternyata diam-diam Patih Barat ada dibalik pintu berusaha menangkap isi pembicaraan Raja dengan Patih Timur. Tetapi dia hanya mendengar, “Ini hadiah yang pantas untukmu! Sebelumnya kau harus mendapat persetujuan dari Hakim, “titah Raja.

“Hadiah yang pantas?” Patih Barat terperangah.
“Sial benar aku! Aku tak rela dia mendapat hadiah. Itu pasti hasil pajak dari negeriku. Harus kurebut amplop itu”.

Sambil terheran-heran Patih Timur keluar ruangan sambil menutupi mulutnya. “Aneh, laporan keberhasilan negeriku belum dibicarakan, kok Raja sudah memberiku hadiah…”

Patih Timur yang tidak mengetahui dirinya diikuti, terus saja berjalan menuju rumah pak Hakim. Selang beberapa meter dari rumah pak Hakim, Patih Barat telah berhasil menyusul Patih Timur.
“Patih Timur, mau kemana kau?” tanya Patih Barat.
“Aku harus menyampaikan pesan ini kepada pak Hakim”, jawab Patih Timur.
“Hei, sebagai sahabatmu aku patut memperingatkanmu, kau cuci mulutmu dulu, baru menghadap Hakim yang galak itu. Sini kupegang amplop itu” pinta Patih Barat.
“Oh betul juga ya” kata Patih Timut polos sambil menyerahkan surat kepada Patih Barat.

Disaat Patih Timur sedang mencari air untuk berkumur, Patih Barat berlari menuju rumah pak Hakim. Kebetulan pak Hakim sedang tidak sibuk.
“Selamat siang pak Hakim, aku menyampaikan pesan ini dari Baginda Raja yang harus disetujui oleh pak Hakim”.

Pak Hakim segera membuka amplopnya, lalu mengerutkan keningnya. Sementara Patih Barat berdebar-debar menunggu keputusan pak Hakim. Tiba-tiba pak Hakim berteriak, “Pengawal! Tangkap dia dan jebloskan ke dalam penjara!”

Karena isi surat dari Sang Raja tertulis: “Penjarakan patih yang membawa surat ini, akibat perbuatan jahatnya”

Patih Barat kaget bukan kepalang. Ia meronta-ronta sambil berteriak bahwa dirinya tidak bersalah. Namun pak Hakim tidak menggubrisnya. Ia tetap memerintahkan pada pengawalnya untuk menyeret Patih Barat ke dalam penjara bawah tanah.

Tak lama kemudian Patih Timur muncul menanyakan keberadaan Patih Barat, apakah sudah menyampaikan surat dari Sang Raja kepada pak Hakim.
“Perintah Raja sudah kulaksanakan” ujar pak Hakim, tuan Patih Timur tolong sampaikan surat ini kepada Baginda Raja”.

Patih Timur pun kembali ke istana. Sesampainya disana, Sang Raja sangat terkejut melihat kehadirannya dengan membawa surat dari pak Hakim. Sang Raja langsung membaca surat itu, “Baginda Raja,, tugas sudah saya laksanakan. Patih Barat sudah berada di penjara bawah tanah”

Sang Raja benar-benar bingung dengan kejadian ini. Ia pun meminta Patih Timur untuk menjelaskannya. Patih Timur yang merasa mulutnya sudah tidak bau lagi segera menceritakan perjalanannya. Raja pun mempertanyakan mengapa mulutnya tidak ditutupi lagi. Berceritalah Patih Timur tentang undangan makan pagi di rumah Patih Barat.

Akhirnya terbongkarlah rencana busuk Patih Barat yang kini mendekam di penjara akibat perbuatannya sendiri. Siapa yang menabur akan menuai. Patih Barat telah menuai kesengsaraan akibat kedengkian yang telah ia taburkan.

Takutlah kalian pada perbuatan dengki. Sebab perbuatan dengki dapat merusak semua amal kebaikan, seperti api yang membakar kayu-kayu kering. [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah]

Nabi yang Dibakar Api

daveariantoleh: Ustadz Dave Ariant

(lanjutan kisah NABI YANG MENCARI TUHAN)

Ibrahim telah mendapatkan petunjuk dari Allah. Ia yakin bahwa Tuhan yang sebenarnya itu ada walaupun tidak dapat dilihat wujudnya. Ibrahim telah menemukan kedamaian dan jalan yang benar. Allah selalu memberikan hujjah yang kuat kepadanya sehingga ia mampun menghadapi kaumnya. Ia terus melanjutkan pertentangan kepada penyembahan berhala. Pergulatan dan pertentangan antara Ibrahim dan kaumnya semakin tajam. Beban yang paling berat adalah saat ia harus berhadapan dengan ayahnya. Diantara masyarakat Babilonia, Sang Ayahlah yang paling marah dan menentang sikap Ibrahim. Keduanya dipisahkan oleh prinsip-prinsip yang berbeda.

“Ibrahim! Engkau telah berkhianat dan bersikap tidak terpuji terhadap ayahmu sendiri!”

“Ayah.. Mengapa ayah menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun? Ayah.. Allah telah memberiku sebagian ilmu yang belum ayah ketahui, ikuti aku ayah.., aku akan menunjukkan ayah ke jalan yang lurus. Ayah.. Janganlah ayah menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, aku khawatir ayah akan mendapat adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah”.

Sang Ayah segera bangkit dengan muka merah padam, hatinya geram. Ia tak kuasa lagi membendung luapan amarahnya.

“Diaam! Bencikah kau dengan tuhan-tuhan ayahmu wahai Ibrahim..!? Jika kau teruskan ocehanmu, akan kulempar kau dengan batu-batu ini! Tinggalkan rumah ini! Aku tidak ingin melihatmu lagi!”

“Baik ayah.. Kalau memang itu keinginan ayah, aku akan pergi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada ayah. Semoga Tuhanku memberi ayah petunjuk dan memaafkan semua kesalahan ayah”

Ibrahim pun pergi meninggalkan rumah. Perlakuan Sang Ayah yang telah mengancam dan mengusirnya dari rumah tidak meredupkan cahaya iman dalam diri Ibrahim. Semangat dakwahnya semakin membara, ia bertekad untuk mendatangi kaumnya yang mungkin masih mau mendengarkan ajakannya. Namun di sepanjang jalan yang dilaluinya tampak lengang dan sepi.

“Kemana perginya orang-orang ini? Ah.. mungkin sedang berada di rumah ibadah mereka”.

Ibrahim pun menuju ke suatu tempat yang biasa digunakan oleh kaumnya untuk upacara penyembahan berhala. Ternyata di sana pun juga sepi. Tak lama kemudian ada seseorang yang lewat memberitahu bahwa hari itu sedang ada pesta rakyat yang diadakan di tepi sungai sehingga orang-orang berbondong-bondong kesana.
Ibrahim memandang sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh ratusan patung dengan berbagai bentuk dan ukuran. Di hadapan patung-patung itu telah tersedia hidangan makanan dan minuman sebagai sesaji. Ibrahim mendekati salah satu patung lalu berkata,

“Hei..! Mengapa makanan itu kau biarkan dingin? Mengapa makanan itu tidak kau makan! Hei..! kenapa kau diam saja tidak menjawab pertanyaanku..!”
Ibrahim berjalan mengambil kapak yang kebetulan tergantung di salah satu sudut ruangan. Kemudian ia menghampiri patung yang membisu tidak menjawab pertanyaannya. Diangkatnya kapak tinggi-tinggi lalu ia ayunkan, “BRAAK!!” menghantam kepala patung itu hingga hancur berantakan. Selanjutnya patung-patung yang lain pun mendapat giliran hingga semua patung yang berada di dalam ruangan itu hancur tak berbentuk lagi, kecuali satu patung yang sengaja ia biarkan tetap utuh. Ia pandangi sejenak patung yang bentuk dan ukurannya paling besar itu, lalu ia kalungkan kapak di leher patung tersebut. Ibrahim pun pergi meninggalkan tempat itu.

Menjelang sore pesta perayaan rakyat usai. Orang-orang kembali ke rumah mereka masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah rumah ibadah. Orang-orang pun berhamburan menuju rumah ibadah mereka. Sampai di sana ternyata Raja Namruj penguasa negeri itu sudah berada di dalam ruangan. Semua tercengang demi melihat tuhan-tuhan mereka hancur. Mereka saling pandang satu sama lain dengan geram, lalu menerka-nerka siapa pelaku kekacauan ini. Sang Raja berteriak penuh amarah,

“Siapa yang berani melakukan ini!”
“Kami dengar ada seorang pemuda yang suka mencela tuhan-tuhan kita”
“Ya! Benar! Namanya Ibrahim!”
“Panggil dia kemari!” perintah Sang Raja.
Tak lama kemudian Ibrahim datang ke tengah-tengah mereka.
“Apakah benar kau yang melakukan semua ini wahai Ibrahim?” tanya Sang Raja.
“Tidak! Bukan aku yang melakukannya” jawab Ibrahim.

Ibrahim lalu menunjuk ke arah patung yang paling besar, “Apakah kalian tidak melihat kapak yang tergantung di leher tuhanmu itu? Dialah pelakunya. Mungkin saja tadi dia marah lalu menghancurkan tuhan-tuhan pesaingnya”
“Bodoh sekali kau Ibrahim! Mana mungkin patung bisa melakukannya!” bentak Sang Raja.

Dengan tenang Ibrahim membalas, “Yang lebih bodoh lagi adalah orang yang menyembah patung itu. Sudah jelas tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa berbicara, tidak mampu memberikan manfaat maupun mendatangkan mudharat, tidak berguna sama sekali, kenapa malah dipertuhankan..”
Manusia-manusia yang hatinya telah terbelenggu oleh setan tidak lagi dapat berpikir dengan akal sehat. Yang ada hanyalah hawa nafsu yang membabi buta.
“Tangkap Ibrahim! Bakar dia! Belalah tuhan-tuhan kalian jika kalian benar-benar setia menyembahnya!” perintah Sang Raja.

Dengan cepat berita pembakaran Ibrahim pun tersebar ke seluruh negeri. Orang-orang berdatangan dari berbagai pelosok negeri untuk menyaksikan hukuman bagi orang yang berani menentang tuhan bahkan menghancurkannya. Ibrahim sudah terikat tangan dan kakinya, sementara orang-orang sibuk menimbun tubuh Ibrahim dengan kayu bakar hingga tak terlihat.
“Laksanakan!” perintah Sang Raja.

Api mulai menyala membakar kayu-kayu kering yang menutup tubuh Ibrahim. Asap mulai membumbung tinggi, orang-orang yang menyaksikan mulai bergerak mundur menjauh dari kobaran api karena saking panasnya. Namun apalah arti panasnya api bagi Ibarahim, Allah telah menjadikan api itu dingin untukknya, “Wahai api.. jadilah engkau dingin dan membawa keselamatan kepada Ibrahim”. Ibrahim merasakan kesejukan dan kedamaian bagai berada di dalam taman yang indah. Api hanya membakar tumpukan kayu dan tali pengikat tubuh Ibrahim. Ketika kayu-kayu sudah mulai ludes terlalap api, nyala api pun mulai mengecil. Orang-orang berebut mendekat ingin melihat jasad Ibrahim yang mereka kira sudah menjadi abu.

Tiba-tiba sisa-sisa tumpukan kayu itu bergerak dan muncullah Ibrahim dengan wajah segar berseri diliputi dengan cahaya kebesaran. Pakaian yang dipakainya masih utuh tak terjilat api sedikitpun. Tentu saja kejadian ini membuat semua orang yang menyaksikan terperangah. Mereka hanya dapat berdiri terpaku dan terdiam seribu bahasa. Para penduduk Babilonia itu terguncang hatinya, mereka mulai tersadar dan berpikir tentang kebenaran Ibrahim.
Allah telah memilih Ibrahim menjadi seorang Rasul yang siap menjalankan tugas berat memberantas segala macam bentuk kemusyrikan dan kebatilan di muka bumi hingga Allah mendatangkan kemenangan dan kejayaan.

“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah dan kebenaran…” QS:21:51

Sumber ; QS:6:74-83, QS:21:52-56, QS:19:42-70, QS:37:91-92