Resep Anti Galau

oleh: Ustadz Aceng Karimullah

Assalamu ‘alaikum, Pak Ustadz.

Saya mau bertanya. Terkadang saya suka merasa gelisah, padahal keluarga dan teman-teman ada bersama saya. Gelisahnya itu entah kenapa, tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Hal ini sudah lama saya alami.

Menurut Bapak kenapa hal itu bisa terjadi dengan saya ya ? Apakah hal semacam itu biasa terjadi pada setiap orang ataukah seperti apa ? Terimakasih, Pak.

Nona, ibukota.

Wa ’alaikumus-salaam warohmatullohi wabarokatuh.

Nona yang saya hormati, dalam kehidupan di dunia dengan berbagai persoalan yang kita hadapi, adalah lumrah kalau orang jadi galau. Tapi kalau galaunya berkepanjangan, akan menjadi penyakit dalam hidup kita yang akan menjadikan kita jadi susah untuk “move on”. Maka lebih baik kalau kita bahas saja resep-resep anti galau sebagai berikut:

DZIKIR

Ada satu firman Alloh dalam surah ar-Ro’d ayat 28 yang berbunyi:

(yaitu) orang-orang beriman yang hati mereka tenteram dengan dzikir pada Alloh. Ketahuilah bahwa dengan dzikir pada Alloh hati akan merasa tenteram”.

Dari ayat ini kita mestinya bisa mawas diri bahwa kalau kita sering galau, bisa jadi karena kita kurang dzikir. Karena bagi yang sudah membiasakan dzikir, Alloh menjanjikan baginya ketenteraman hati alias tidak galau.

ISTIGFAR

Apa yang harus kita baca? Memang banyak macam kalimat dzikir yang bisa kita baca, diantaranya adalah istigfar.
Salah satu sabda Rasululloh SAW dalam hal keutamaan istigfar adalah: “Barangsiapa yang membiasakan membaca istigfar maka Alloh akan:
• memberinya jalan keluar dari setiap problema hidup yang dia hadapi,
• memberinya kemudahan dari segala kesulitan hidupnya,
• memberinya rejeki dari sumber atau arah yang dia tidak duga sebelumnya”.(HR Ibnu Majah).
Jadi hikmah dari istigfar pun, selain sebagai penghapus dosa, juga adalah sebagai penghilang galau.

TAHLIL dan TASBIH

Di surah al-Anbiya’ ayat 87 – 88 Alloh menceritakan:

“dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi sambil marah-marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka ia menyeru dalam kegelapan [*]: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim”.

“Maka Kami mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan, dan seperti itulah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”

[*] Yang dimaksud dengan “dalam kegelapan” ialah di dalam perut ikan, di dalam laut dan di malam hari.
Maka kita pun bisa membaca tahlil dan tasbihnya Nabi Yunus ini untuk menghilangkan kegalauan: “Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin”.

ISTIQOMAH

Di dalam surah Fushshilat ayat 30 – 31 Alloh berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan Kami adalah Allah” kemudian mereka istiqomah, maka para malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah kalian takut dan janganlah merasa sedih; dan gembiralah dengan sorga yang telah dijanjikan pada kalian”.

Kamilah (Alloh) kekasih pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kalian akan memperoleh apa yang kalian inginkan dan bagi kalian di dalamnya apa yang kalian minta.

Sikap istiqomah, teguh pendirian, konsekwen dan konsisten, “tetap menetapi” peraturan-peraturan Alloh,mestinya membawa kita pada kehidupan yang gembira dan tidak galau. Apalagi Alloh menjadi kekasih pelindung kita. Bukankah tidak ada yang lebih baik dari pada itu?

TAHMID

Rasulullah SAW pernah menyabdakan: “Aku kagum dengan sikap orang beriman terhadap ketentuan Alloh. Jika Alloh menentukan nikmat, maka dia bertahmid dan bersyukur; jika Alloh memberinya musibah, dia bertahmid dan bersabar. Berarti dia mendapat kebaikan dari setia keadaan”. (HR Ahmad bin Hanbal).

Kalau kita memahami hikmah dari tahmid (membaca “Alhamdu lillaah”) sambil syukur dan sabar maka mestinya hidup kita tidak jadi galau dong, karena hidup kita akan selalu diisi oleh Alloh dengan kebaikan.

PERCAYA ADANYA TAKDIR

Tegaknya iman kita dengan percaya pada rukun iman yang enam. Rukun iman yang ke-enam adalah percaya adanya takdir. Tidak percaya dengan adanya takdir bisa membuat seseorang menjadi kufur. Dan Rasululloh SAW menyabdakan: “Beriman pada takdir bisa menghilangkan kesusahan besar maupun kesusahan kecil”. (HR al-Hakim).

Atau sebagaimana nasehat seorang shahabat Nabi yang bernama ‘Ubadah bin Shamit: “Engkau tidak akan merasakan manisnya iman sampai engkau yakin bahwa apa yang telah ditakdirkan untukmu itu tidak akan luputdarimu dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu maka tidak akan terjadi padamu”. (HR Abu Dawud).

BERPRASANGKA BAIK DAN SABAR

Dalam suatu hadits qudsi Alloh berfirman: “Aku berada pada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku”. (HR Muslim). Dalam memilih antara berprasangka jelek (su-uzhzhon) dan berprasangka baik (husnuzhzhon) maka akal sehat akan membawa kita pada husnuzhzhon. Hadapilah hidup ini dengan optimistis, jangan selalu pesimistis karena akan membuat hidup kita jadi galau.

Ibarat kalau sekarang ini musim kemarau, buat apa kita selalu galau mengkhawatirkan jangan-jangan rumah kita kebanjiran. Kalaupun mau galau, jangan hanya sekedar galau tanpa usaha nyata, tapi lebih baik kita bikin tanggul atau kita tinggikan lantai rumah kita. Kalaupun musim hujan datang dan ternyata rumah kita masih kebanjiran juga, berarti kita harus putar otak lagi mencari jalan lain. Karena pada hakekatnya orang sabar itu bukan orang yang pasif menyerah pada takdir, tapi orang sabar itu adalah orang yang menghadapi hidup dengan penuh taktik dan strategi, sebagaimana digambarkan dalam surah al-Anfal ayat 66:

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia tahu bahwa padamu ada kelemahan, maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus musuh; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu musuh dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Dalam dunia masa sekarang yang semakin tajam tingkat persaingannya, bagaimana kita bisa muncul sebagai pemenang kalau tidak punya planning, management, taktik dan strategi yang mumpuni. Dan itulah tandanya orang yang sabar, seraya kepada Alloh-lah tempat kita bertawakal.

Walloohul-musta’aan walaa haula walaa quwwata illaa billaah.

Wassalaamu ‘alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Advertisements

Hadits Qudsi

Diasuh oleh : Ustadz Aceng Karimullah

Assalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Ustadz, alhamdulillaah dalam umur saya yang mulai “kepala 4” sekarang ini, saya mulai tertarik untuk membaca bacaan-bacaan tentang agama Islam.

Nah, ketika saya membaca rubrik tentang agama Islam di koran-koran atau majalah umum, seringkali saya menjumpai rujukan hadits yang ditulis sebagai firman Alloh.Yang menjadi pertanyaan saya: Bukankah hadits itu adalah sabda Nabi Muhammad SAW ? Bukankah firman Alloh itu adanya dalam kitab suci al-Quran ?

Mohon Ustadz bisa menjelaskannya kepada saya. Maklumlah Ustadz, saya bukan jebolan pesantren. Atas kesediaan Ustadz memenuhi permohonan saya maka saya ucapkan terima kasih.

Wassalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Red One – Sum.Sel.

Wa ‘alaikumus-salaam warohmatullohi wabarokatuh.

Pertama perlu kita ketahui bahwa Alloh itu Maha Berkehendak. Kalau dalam “SifatDuapuluh” kita kenal sebagai sifat “Iradat”. Kalau dalam al-Quran, diantaranya dalam surah al-Buruuj ayat 16 difirmankan sebagai:

فَعَّالٌ۬ لِّمَا يُرِيدُ

Alloh selalu melaksanakan apa yang menjadi kehendak-Nya”.

(QS. Al Buruuj ayat 16)

Tidak ada satu pihak pun yang bisa menghalangi kehendak Alloh. Jadi kalau pun Alloh berkehendak untuk menyampaikan firman-Nya kepada Nabi Muhammad di luar al-Quran, itu adalah hak prerogative-Nya, dan tidak ada yang berhak untuk protes.

Sdr. Red One, memang cukup banyak hadits yang disampaikan oleh Nabi Muhammad yang diawali dengan frasa “Alloh telah berfirman”.

Hadits yang demikian itu disebut dengan “Hadits Qudsi”. Dengan kata lain, hadits Qudsi adalah hadits yang adalah firman Alloh. Atau, bisa juga dikatakan bahwa hadits Qudsi adalah firman Alloh yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di luar al-Quran. Sedangkan hadits yang semata-mata disampaikan sebagai sabda Nabi Muhammad SAW disebut sebagai Hadits Nabawi.

Jadi kalau kita mau tinjau perbedaan antara hadits Qudsi dan hadits Nabawi adalah sebagai berikut:

•    Hadits Qudsi adalah firman Alloh yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW kemudian beliau menyampaikannya kepada para shahabat dengan susunan kata-kata beliau sendiri. Dengan kata lain, hadits Qudsi itu materinya/pengertiannya dari Alloh sedangkan redaksinya/susunan kata-katanya dari Nabi Muhammad SAW.

•    Adapun hadits Nabawi, materi/pengertian dan susunan kata-katanya berasal dari Nabi Muhammad SAW sendiri.

Salah satu contoh hadits Qudsi adalah: Rasulullah Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa Alloh ta’ala telah berfirman:  “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia berdzikir mengingat-Ku, dan jika dia mengingat-Ku dalam sendirian maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku sendiri, dan jika dia mengingat-Ku dalam sebuah kelompok/perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari kelompoknya tersebut, dan jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya satu depa, dan jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berjalan cepat”. (HR  Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah).

Adapun perbedaan antara al-Quran dan hadits Qudsi adalah bahwa di dalam sholat, setelah kita membaca surah al-Fatihah, (kalau dalam sholat wajib, pada rakaat pertama dan rakaat yang ke-dua), kita bisa membaca surah lain dari al-Quran. Namun untuk hal ini kita tidak boleh membaca hadits Qudsi. Jadi meskipun hadits Qudsi itu firman Alloh juga, tapi tidak boleh dipakai sebagai bacaan di dalam sholat.

Perbedaan selanjutnya antara al-Quran dan hadits Qudsi adalah:

Membaca al-Quran termasuk suatu ibadah yang utama, berdasar:

•    Sabda Rosululloh SAW: Alloh telah berfirman: “Barangsiapa yang disibukkan untuk membaca al-Quran ketimbang berdzikir atau berdoa maka Aku akan member lebih kepada yang membaca al-Quran  ketimbang yang Aku berikan kepada orang yang berdoa”. (HR At-Tirmidzi).

•    Sabda Rosululloh SAW: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Alloh maka baginya (akan mendapat) kebaikan yang nilainya sepuluh. Aku tidak mengatakan bahwa “Alif Laam Miim” itu satu huruf, tetapi “Alif” sendiri satu huruf, “Laam” sendiri satu huruf, “Miim” sendiri satu huruf”.  (HR At-Tirmidzi juga).

Dan banyak lagi hadits yang menerangkan tentang keutamaan al-Quran. Keutamaan-keutamaan ini (seperti halnya nilai 10 pahala untuk setiap huruf) itu berlaku untuk yang membaca al-Quran dan tidak termasuk untuk yang membaca hadits Qudsi. Tapi bukan berarti bahwa membaca hadits Qudsi tidak ada pahalanya, karena untuk setiap ibadah/kebaikan yang kita kerjakan dengan tulus ikhlas karena Alloh maka Alloh akan menjanjikan pahala, sebagaimana firman-Nya:

مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَلِنَفۡسِهِۦ‌ۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡہَا‌ۖ

Barangsiapa yang berbuat suatu kebaikan maka (pahalanya) bagi dirinya sendiri”.

(QS al-Jaatsiyah ayat 15).

Demikian yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan anda.

Walloohul-musta’aan, walaa haula walaa quwwata illaa billaah.

Wassalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Mahrom

Rubrik Konsultasi Agama
Diasuh oleh: Ustadz H. Aceng Karimullah

Assalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Pak Ustadz, batas-batas mahrom itu sampai di mana? Dan apa saja yang harus dan yang tidak boleh dengan adanya batasan mahrom tadi? Mohon penjelasan Pak Ustadz. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.
Wassalaamu ‘alaikum wr.wb.

Rohmat – Jakarta Selatan

Wa ‘alaikumus-salaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Mahrom adalah seorang pria yang masih ada hubungan keluarga dekat dengan seoang wanita sehingga di antara keduanya haram untuk menikah.

Dari ayat-ayat Al-Quran surah An-Nisaa’ ayat 22 dan 23 dapat diketahui bahwa wanita yang mahrom bagi seorang pria adalah :

1. Wanita yang telah dinikahi oleh ayah, alias ibu tiri.
2. Ibu kandung
3. Anak perempuan kandung
4. Saudara perempuan (se-ayah se-ibu, se-ayah saja, atau se-ibu saja)
5. Saudara perempuan ayah (tante dari ayah)
6. Saudara perempuan ibu (tante dari ibu)
7. Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan)
8. Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan)
9. Ibu susuan
10. Saudara perempuan sepersusuan
11. Mertua perempuan
12. Menantu perempuan
13. Anak tiri perempuan dari isteri yang telah digauli.

Di samping yang 13 golongan tersebut, bagi seorang pria masih ada wanita yang haram untuk dinikahi walaupun tidak termasuk keluarga dekat, merujuk pada ayat 23 dan 24 dari surah An-Nisaa’ dan hadits riwayat Imam Muslim, yaitu:

14. Saudara perempuan isteri (ipar perempuan)
15. Setiap wanita yang bersuami
16. Saudara perempuan dari mertua perempuan (tantenya isteri dari pihak ibunya)
17. Saudara perempuan dari mertua laki-laki (tantenya isteri dari pihak ayahnya)

Untuk nomor 14 sampai 17 di atas ini, meskipun tidak termasuk mahrom namun termasuk muharromaat (wanita yang haram dinikahi).

Untuk nomor 14 bunyi ayatnya: ”Dan (diharamkan) mewayuh antara dua wanita bersaudara”. Sedangkan untuk nomor 16 dan 17 bunyi hadits-nya: ”Tidak boleh mewayuh seorang wanita dengan tantenya dari pihak ibunya maupun tantenya dari pihak bapaknya”.

Keharusan bagi wanita muslimah ketika berhadapan dengan pria yang bukan mahromnya adalah berjilbab.

Adapun hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pria muslim dan wanita muslimah terhadap lawan jenisnya yang bukan mahrom adalah:

• Ber-khalwat (menyepi, berdua-duaan)
• Bersentuhan
• Dan yang paling berat tentu saja adalah perzinahan.

Larangan ber-khalwat tergambar dalam hadits yang berbunyi: ”Tidak menyepi seorang pria dengan seorang wanita yang bukan mahromnya kecuali di situ mesti ada syetan yang menjadi pihak ketiganya”. (HR At-Tirmidzi).

Larangan bersentuhan tergambar dari hadits yang berbunyi: ”Niscaya jika ditusuk kepala seseorang dengan jarum yang terbuat dari besi itu masih lebih baik baginya ketimbang dia bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahromnya”. (HR At-Thobroni).

Dalil tentang beratnya resiko orang berzina banyak sekali dijelaskan dalam Al-Quran maupun dalam Al-Hadits. Demikian penjelasan singkat dari saya, mudah-mudahan ada manfaat dan barokahnya. Walloohul-musta’aan, wa laa haula wa laa quwwata illaa billah.

Wassalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Semangat Hijrah

Rubrik Konsultasi Agama
Diasuh oleh : Ustadz H. Aceng Karimullah

SEMANGAT HIJRAH

Assalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Pak Ustadz, setiap tanggal 1 Muharram kita kaum muslimin pada umumnya  beramai-ramai memperingati tahun baru hijriyah. Sebetulnya hikmah apa yang bisa kita petik dari peringatan tahun baru hijriyah ini ? Mohon uraian penjelasan dari Pak Ustadz. Terima kasih.

Wassalaamu ‘alaikum wr.wb.
John Rahman, somewhere.

Wa ‘alaikumus-salaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sistem kalender yang dipakai oleh ummat Islam dimulai tahun pertamanya dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah. Kenapa dipilih peristiwa itu? Karena di situ terkandung semangat yang harus terus digelorakan, yaitu semangat hijrah, yang diantaranya mencakup:

1. Semangat Perubahan Menuju Kondisi Yang Lebih Baik
Kalaulah Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya, dalam rangka menyelamatkan akidah keimanan mereka, pernah berhijrah dari Mekkah ke Madinah, maka pemerintah NKRI pun dalam rangka menyelamatkan kemerdekaannya pernah berhijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pada hakekatnya hijrah adalah pindah dari kondisi yang tidak baik menuju ke tempat atau kondisi yang lebih baik. Sehingga hijrah tidak hanya pindah atau berubah tempat tinggal saja, tapi juga termasuk perubahan sistem, pola pikir atau segala sesuatu yang memang harus berubah menjadi lebih baik.

Semangat hijrah atau semangat perubahan itu harus muncul dari diri kita sendiri, karena sebagaimana firman Alloh dalam surah Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

2. Memupuk Persaudaraan dan Kepedulian
Setibanya Rasululloh dan para sahabatnya di Madinah, maka terbentuklah di Madinah dua kubu masyarakat yaitu kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Dua kubu masyarakat ini mempunyai ciri-ciri kekhasan masing-masing yang sebenarnya mengandung potensi konflik.

Kaum Anshor rata-rata mereka adalah kaum pedagang yang sudah mapan kondisi ekonominya, sedangkan kaum Muhajirin banyak yang datang hanya berbekal pakaian yang lekat di badan saja, dhu’afa dan pengangguran.

Menyadari bahwa sekecil apapun potensi konflik, kalau tidak ditangani secara bijak, bisa menjadi ”bagai api dalam sekam”, maka Rosululloh banyak mempersaudarakan antara kaum Anshor dan kaum Muhajirin agar ukhuwwah di antara dua golongan ini bukan hanya diikat dengan tali ta’aruf (saling kenal) tapi juga diikat dengan tali tafahum (saling memahami kondisi saudaranya).

Salah satu pasangan orang Anshor yang dipersaudarakan dengan orang Muhajirin adalah Sa’d bin Robi’ (sebagai salah seorang tokoh ”aktsarul-anshoori maalaa”) dengan Abdur-Rahman bin ’Auf.

Sa’d bin Robi’ sebagai orang yang faham pada kondisi saudaranya yaitu Abdur-Rahman bin ’Auf yang sedang dalam kondisi krisis ekonomi dan krisis moneter, mengatakan kepada Abdur-Rahman bin ’Auf : ”Laka nishfu maalii”, anda boleh ambil separuh harta saya. Malah-malah jika anda ingin nikah, anda boleh pilih salah seorang dari isteri saya, saya akan thalaq dia dengan baik-baik, dan bila ‘iddahnya telah habis, anda bisa nikahi dia”. Subhaanalloh. Begitulah yang ditawarkan oleh Sa’d bin Robi’, seorang saudara sejati dalam rangka ta’awun atau saling menolong dengan saudaranya, yaitu Abdur-Rahman bin ’Auf.

Ukhuwwah yang begitu mesra antara Kaum Muhajirin dan Kaum Anshor dilukiskan dengan indahnya dalam surah Al-Hasyr ayat  9 yang artinya : “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah (yaitu orang-orang Anshor) dan telah beriman sebelum kedatangan orang-orang Muhajirin, mereka (kaum Anshor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka (orang-orang Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kekhususan. Dan barangsiapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang berbahagia”.

3. Memupuk Etos Kerja dan Semangat Memberi
Bagaimana reaksi Abdur-Rahman bin ’Auf menyambut tawaran yang menggiurkan dari Sa’d bin Robi’ bahwa separuh hartanya boleh diambil dan seorang isterinya boleh dipilih dan dinikahi ? (Dengan berdasar pada aturan tentunya).

Ternyata Abdur-Rahman bin ’Auf bukan model orang yang “nggragas”, bukan model orang yang ingin cepat kaya dengan jalan instant tanpa usaha yang memadai seperti banyak diperlihatkan oleh sebagian orang-orang jaman sekarang.

Dengan anggunnya Abdur-Rahman bin ’Auf menjawab : “Baarokalloohu  laka fii ahlika wa maalika. Dulluunii ‘alas-suuq”.  Terima kasih atas tawaranmu wahai saudaraku, Sa’d. Semoga Alloh tetap memberi kebarokahan dalam harta dan keluargamu. Sekarang tunjukkan saja padaku mana jalan ke pasar. Aku akan berniaga. Aku akan berbisnis. Aku akan berusaha sendiri. Begitulah etos kerja seorang muslim ummat Muhammad.

Rosululloh S.A.W. pernah mengajarkan: ”Lebih baik anda pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar dan anda pikul sendiri ke pasar untuk dijual daripada anda hanya menengadahkan tangan mengemis dan mengharap belas kasih orang lain yang mungkin saja diberi tapi mungkin juga tidak diberi”. (ref. Shohih Al-Bukhori).
Pada kesempatan lain beliau shollallohu ‘alaihi wasallam menyabdakan: “Sebaik-baik yang kalian makan adalah dari hasil keringat kalian sendiri”. (ref. Shohih Al-Bukhori).

Etos kerja ini selanjutnya akan menggugah kaum muslimin untuk selalu punya semangat untuk memberi, memberi dan memberi. Sebagaimana pelajaran dari Kangjeng Nabi Muhammad S.A.W. : ”Al-yadul-’ulyaa khoirum-minal-yadis-suflaa”, bahwa tangan yang di atas (maksudnya: yang memberi) adalah lebih baik daripada tangan yang di bawah (maksudnya: yang minta). (ref. Al-Baihaqi).

Kita bisa lihat buktinya, betapa etos alyadul-’ulya yang dimiliki oleh Sa’d bin Robi’ yang rela menawarkan separuh hartanya untuk diberikan kepada saudaranya yaitu Abdur-Rahman bin ’Auf, disambut oleh etos kerja  dari Abdur-Rahman bin ’Auf yang menurut riwayat hadits-nya tidak lama kemudian setelah kejadian tersebut ternyata Abdur-Rahman bin ’Auf dapat berhasil dalam bisnisnya dan menjadi aghniya yang dermawan.

Walloohul-musta’aan, wa laa haula wa laa quwwata illaa billah.
Wassalaamu ’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Pembagian Zakat Fitrah

Diasuh oleh : Ustadz Aceng Karimullah

Assalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Dari seorang penceramah  yag memberikan taushiah Romadhon, saya mendengar bahwa fungsi zakat fitrah itu ada dua. Pertama, sebagai pembersih jiwa bagi orang yang berpuasa. Kedua, sebagai santunan makanan bagi kaum fakir miskin di hari raya. Dengan demikian bukankah berarti bahwa beras zakat fitrah itu harus habis dibagikan hanya kepada fakir miskin saja?. Betulkah pengertian saya, Pak Ustadz?. Mohon konfirmasi atau jawaban dan penjelasan dari Pak Ustadz.

Wassalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Khoiru Ummah – Banten

Wa ‘alaikumus-salaam warohmatullohi wabarokatuh.

Saudara (atau Saudari?) Khoiro Ummah yang saya hormati, rupanya anda adalah seorang yang teliti dan cermat dalam menerima dan mendengarkan taushiah. Saya salut kepada anda dan mendokan semoga Alloh mengisi dada anda dengan sebanyak-banyak hikmah. Aamiin.

Apa yang disampaikan oleh penceramah yang anda sebutkan di atas, merujuk kepada sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dari Ibnu Abbas bahwa Rosululloh, shollallohu ‘alaihi wasallam, mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kecabulan serta sebagai santunan makanan bagi kaum miskin.
Sedangkan dalam Al-Quran surah At-Taubah ayat 60 diterangkan sebagai berikut:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya (pembagian) shodaqoh (zakat) itu untuk: (1) Kaum fakir, (2). Kaum miskin, (3). Para amil, (4). Kaum muallaf, (5). Kaum riqob (sahaya yang sedang dalam proses memerdekakan dirinya), (6). Kaum ghorim (orang-orang yang sedang keberatan utang untuk menunjang kelangsungan hidupnya), (7). Sabilillah (sarana prasarana ibadah), dan (8). Ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal, dengan syarat dan ketentuan berlaku). Itulah ketentuan dari Alloh. Dan Alloh Maha Tahu dan Maha Menghukumi”.

Kedelapan sasaran pembagian itu biasa disebut sebagai “delapan ashnaf”.

Diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud bahwa suatu ketika Ziyad bin Al-Haarits meminta bagian zakat kepada Rosululloh. Tapi beliau, shollallohu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Alloh tidak berkenan pada pembagian yang ditetapkan oleh Nabi atau orang lain dalam hal pembagian zakat, sehingga Dia sendiri yang menetapkannya menjadi delapan ashnaf. Kalau anda termasuk salah satu dari delapan ashnaf itu, baiklah, akan saya beri”.  (Kalau tidak, ya tidak).

Jadi bagaimana prakteknya pembagian zakat fitrah itu?. Tentunya kita harus mengacu kepada apa yang telah dilaksanakan oleh Rosululloh atau para sahabatnya.

Salah satu acuan yang bisa kita rujuk adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan telah dinilai oleh Al-Albani sebagai berisnad shohih, bahwa Ibnu Umar menyerahkan zakat fitrahnya kepada amil sehari atau dua hari sebelum hari raya. Logikanya: Kalau pembagian zakat fitrah hanya untuk kaum fakir miskin maka mestinya Ibnu Umar tidak menyerahkan zakat fitrahnya kepada amil. Jadi, meskipun ada hadits yang menerangkan bahwa fungsi zakat fitrah itu untuk santunan bagi kaum fakir miskin, bukan berarti meniadakan fungsi amil dan ashnaf yang lainnya. Hadits tersebut hanya menegaskan bahwa fakir miskin harus menjadi prioritas dalam pembagian zakat fitrah agar mereka betul-betul bisa berhari-raya, tidak usah disibukkan dengan mencari nafkah pada hari itu. Keterangan tersebut didapat dari:

• Fiqhus-Sunnah juz 1. Setelah membahas hadits yang berbunyi bahwa zakat fitrah itu harus diserahkan sebelum sholat ied dilaksanakan, Syekh Sabiq (Penyusun) menjelaskan bahwa zakat fitrah dibagikan kepada delapan ashnaf sebagaimana yang termaktub dalam surah At-Taubah ayat 60.

• Risalah fil-Fiqh al-Muyassar juz 1: Pembagian zakat fitrah sebagaimana pembagian zakat pada umumnya, hanya saja kaum fakir miskin diutamakan dari pada ashnaf yang lain, merujuk pada sabda Rosululloh, shollallohu ‘alaihi wasallam: “Cukupilah mereka (kaum fakir miskin, agar terbebas) dari minta-minta pada hari itu”. (HR Ad-Daruquthni).

• Al-Manahil Al-Hassan: Disebut zakat fitrah disandarkan pada kewajibannya dilaksanakan menjelang iedul-fitri. Adapun pembagiannya seperti pembagian zakat harta umumnya (sesuai ketentuan surah At-Taubah ayat 60).

Rujukan-rujukan tersebut menegaskan bahwa mustahiq zakat fitrah itu sama dengan mustahiq zakat maal. Demikian yang bisa saya jelaskan, mudah-mudahan ada manfaatnya. Walloohul-musta’aan, walaa haula walaa quwwata illaa billaah.

Wassalaamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Sholat Khusyu’

Rubrik Konsultasi Agama
Diasuh oleh : Ustadz Aceng Karimullah

Assalamu ‘alaikum warohmatulloh wabarokatuh.

Pak Ustadz, saat ini sedang marak diterbitkan buku/tulisan tentang sholat khusyu’, sampai-sampai dibuatkan pelatihannya segala.

Pertanyaan saya : Memangnya sholat kita tidak akan diterima jika tidak khusyu’?
Terus terang pikiran saya suka ngambrak/tidak fokus, malah kadang-kadang bablas sampai lupa rakaatnya. Bagaimana caranya agar dalam sholat kita bisa khusyu’?

Itulah pertanyaan-pertanyaan saya untuk kali ini, Pak Ustadz. Mudah-mudahan Pak Ustadz berkenan menjawabnya. Terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum warohmatulloh wabarokatuh.
MIB – Bandung Barat

Wa‘alaikumus-salam warohmatulloh wabarokatuh.

Saudara MIB dan para pembaca, firman Alloh dalam surah Al-Mukminun ayat 1 dan 2 berbunyi :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Artinya: (1). Sungguh beruntung orang-orang beriman, (2). yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.
Dari kedua ayat tersebut bisa kita pahami bahwa kalau kita mengaku sebagai orang beriman maka selayaknya kita harus berusaha agar sholat kita selalu khusyu’. Atau dengan kata lain, jika kita belum bisa khusyu’ dalam sholat kita, mestinya kita bertanya pada diri kita sendiri: masih layakkah kita mengaku sebagai orang beriman yang benar-benar beriman? Astaghfirullohal-‘azhim.

Bagaimana agar dalam sholat kita bisa khusyu’? Apakah mata harus dipejam-pejamkan sehingga kita tidak melihat apa-apa? Apakah kuping harus kita tuli-tulikan sehingga kita tidak mendengar apa-apa?

Orang yang harus kita teladani dalam hal kekhusyu’an sholat tentu saja adalah Rosululloh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Bagaimana kalau beliau sedang sholat? Apakah beliau menutup mata dan kupingnya? Ternyata tidak. Dalam hadis diriwayatkan bahwa suatu ketika sehabis sholat beliau mengatakan: ”Rencananya aku mau membaca surah yang panjang, tapi tadi aku mendengar seorang bayi menangis, maka langsung aku ganti dengan membaca surah yang pendek saja agar tidak memberatkan bagi si ibu bayi tadi”. Berarti selama sholat itu beliau mendengar suara-suara yang ada di sekitar beliau. Hal itu tidak mengganggu kekhusyu’an sholat. Dan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabrani diceritakan bahwa beliau tidak menyarankan seseorang yang sedang sholat untuk memejamkan matanya. Biarkan mata tetap terbuka, tidak mesti harus dipejam-pejamkan. Jadi bagaimana agar kita bisa khusyu’? Saya akan membuat ibarat.

Misalnya kita dipanggil untuk menghadap Presiden. Ketika sedang diajak bicara oleh beliau, maka rasa hormat kita pada beliau akan mencegah kita dari pikiran ngambrak dan tidak fokus. Nah, ketika kita sedang sholat, rasakanlah bahwa kita sedang berbicara kepada Alloh yang harus kita hormati dan agungkan. Dengan demikian, untuk bisa khusyu’ itu sudah semestinya kita menghayati setiap kata dan kalimat yang kita baca sepanjang sholat kita. Kalau rasa ini hilang, itulah yang bisa membuat pikiran jadi ngambrak dan tidak fokus, malah kadang-kadang sampai   lupa rakaatnya.

Misalnya lagi, sebetulnya Pak atau Bu Presiden memanggil kita itu karena beliau ingin menawari kita suatu jabatan tinggi. Tapi karena selama pembicaraan dengan beliau kita kelihatan tidak fokus, malah berani “angop” di depan Presiden, maka bisa saja beliau pun menyuruh asistennya untuk mencoret pencalonan kita karena kita dianggap “sok sibuk dan kurang menghargai” beliau. Jangan-jangan selama ini rahmat Alloh pun terhalang kepada kita karena kita dianggap “sok sibuk”, masih selalu memikirkan hal-hal lain meskipun di tengah-tengah sholat. Jadi, sisihkanlah dulu pikiran-pikiran yang lain selama sholat dan fokuslah kepada Alloh untuk memohon agar Alloh memberi kita rahmat, pertolongan dan perlindungan.

Dengan maraknya buku-buku yang menjelaskan tentang bagaimana cara mencapai sholat yang khusyu’ tentu banyak ragam fatwa atau petunjuk yang diberikan oleh penulis buku atau para ustadz-ustadzah. Namun intinya (menurut saya), agar kita bisa khusyu’ dalam sholat maka hayatilah setiap kata atau kalimat yang kita baca sepanjang sholat kita. Untuk bisa menghayatinya berarti kita harus tahu makna dan arti dari bacaan sholat itu.

Selain itu, tentu saja sejak sebelum sholat kita harus menjauhkan hal-hal yang bisa mengganggu kekhusyu’an sholat kita, seperti: hand-phone kita matikan, anak-anak kecil kita suruh tenang, sampai-sampai kantong baju yang atas kita kosongkan supaya ketika kita ruku’ atau sujud isinya tidak jatuh dan bertebaran di lantai. (Bagaimanapun juga ’kan bisa mengganggu kekhusyu’an kita).
Demikian jawaban singkat dari saya, mudah-mudahan ada manfaatnya.
Walloohul-musta’aan, walaa haula walaa quwwata illaa billaah.
Wassalamu ‘alaikum warohmatulloh wabarokatuh.

(Catatan pinggir):

Agar kita bisa khusyu’ dalam sholat maka hayatilah setiap kata atau kalimat yang kita baca sepanjang sholat kita. Untuk bisa menghayatinya berarti kita harus tahu makna dan arti dari bacaan sholat itu.