Jumuah Mubarakah

Pas libur imlek tahun ini, saya dapat hadiah istimewa.Tidak hanya saya bisa jumatan bareng anak saya, yang mengasyikkan, tapi lebih dari itu. Bertemu orang yang mau berbagi dalam kebenaran dan kesabaran. Selesai jumatan, diguyurlah sebuah pituah yang menentramkan sekaligus menghentak dari seseorang yang belum saya kenal.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (Surah Al-Jumu’ah : 9-10)

Orangnya sepantaran saya. Berperawakan sedang dengan penampilan bisaa.Tanpa peci, rambut pendek-cepak. Gaya bicara sedang-sedang saja. Tidak menggebu-gebu, menunjukkan usianya yang telah matang. Sinar matanya teduh, dan terkesan pendiam. Sungguh yang disampaikan benar-benar sejuk dan menyentuh. Tersentuh mata batin saya, tergugah emosi saya menyadari apa yang dikatakannya. Dalam dan menantang. Yang disampaikan hanya satu ayat yaitu Surat Al-Hijr:99, Allah berfirman: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang yakin (mati) kepadamu.”

Hal pertama yang disampaikan adalah kenapa kata yaqin di ayat itu dimaknai mati? Kemudian ia menguraikan panjang lebar atsar-atsar yang mendasarinya secara runut dan rinci. Baik secara terminologi maupun tanasubul-ayat (hubungan antar ayat). Semangat mendengarkannya, hingga kami faham kenapa yaqin diartikan mati.Jarang mendapat ‘hadiah’ yang seperti ini. Mungkin juga karena momentnya, bisa juga.Yang jelas begitu terasa.

Secara terminologi yakin adalah sebentuk keimanan yang berhasil tidaknya dibatasi oleh waktu dan kematian. Ada kalanya hamba bisa menjumpai apa yang diyakini ini ketika masih hidup, namun ada juga sampai mati belum kesampaian. Ada juga hal –hal yang diyakini itu memang hanya bisa dijumpai setelah kematian.

Nah, demikian juga dalam konteks beribadah, ada surga, ada neraka, ada alam qubur, itu hanya bisa diketahui setelah mati .Oleh karena itu yakin dalam beribadah ukuran (batas waktu) nya adalah mati.

Ayat Al-Hijr: 99 menurut Ibnu Katsir berhubungan dengan surat al-Muddatsir ayat 42-47 yang artinya: “Apakah yang memasukkan kamu yang ke dalam neraka saqor?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang yang mengerjakan sholat, dan kami tidak memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama orang-orang yang membicarakannya dan kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian.” Jadi, “Wa’bud Rabbaka” adalah melakukan semua ibadah baik ibadah yang bersifat privasi seperti sholat, puasa dll, juga ibadah yang bersifat maslahat publik seperti memberi makan orang miskin, tidak menggunjing aib sesama maupun yang berhubungan dengan keimanan hati seperti meyakini hari akhir.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(Q.S ali-Imran, 3:102)

“Terkadang Kami perlihatkan kepadamu (wahai Muhammad) sebahagian dari azab yang Kami janjikan untuk mereka (yang ingkar) atau Kami wafatkan kamu sebelum melihatnya, maka tidaklah menjadi hal, karena tanggunganmu hanyalah menyampaikan hukum-hukum yang Kami turunkan kepadamu dan urusan Kami menghitung dan membalas amal mereka.” (Ar-ra’d: 40)

Nah, yang lebih menarik lagi adalah sasaran tembak dari ayat ini. Dengan cerdik, Pak Iqsal membidik pendengarnya dengan kemerosotan umat akhir-akhir ini. “Sekarang kita lihat, kalau Anda itu pada yakin, kenapa ngaji aras-arasen? ibadah malas-malasan?. Seringkah Anda doa di sepertiga malam yang akhir?. Katanya yakin Allah turun ke langit dunia, kenapa tidak bangun malam?”… dan banyak lagi hal-hal sederhana yang menjadi refleksi kami dari nasehat ayat itu. Malu menyadarinya dan tersipu menghadapinya.

Setengah jam berlalu tanpa terasa. Dan rasanya ingin lebih dan lebih. Jiwa ini, yang memang kering dan haus nasehat seperti ketagihan; minta lagi dan lagi. Sayang, dengan permintaan maaf yang dalam, Pak Iqsal mengakhiri nasehatnya. Dan mempersilahkan para jamaah jumuah mubarakah menggali potensi diri masing-masing untuk menemukan keyakinan diri; berlomba dalam kebaikan dan keimanan. Dia undur diri.

Di akhir nasehat saya bertanya ke teman sebelah; “Siapa dia?”

“Pak Iqsal ,” jawabnya.

Oh, ternyata saya masih punya Pak Iqsal, sebuah mutiara terpendam yang selama ini tidak pernah muncul kepermukaan. Alhamdulillah ya Allah, Engkau pertemukan kami dengan hikmah-Mu lewat dia.

Advertisements

Asmi’

Manusia adalah makhluk tidak sempurna. Oleh karenanya, Allah membuatnya berpasang-pasangan. Pada tingkatan yang lebih tinggi, untuk menutupi lubang-lubang jiwa yang bernama kekurangan itu, Allah membentuk umat manusia dalam suku-suku dan bangsa. Maksudnya agar manusia bisa menutupi ketidak- sempurnaan itu dengan saling bekerjasama.

Allah berfirman; ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat:13)

Dalam bahasa lain, sering para tetua memberikan perumpamaan manusia laksana burung bersayap sebelah. Jika mau bisa terbang tinggi harus mau bergandengan satu dengan yang lain. Tanpa itu mustahil. Akhirnya terbentuklah konsep bermasyarakat. Sejak awal dibentuk, konsep masyarakat diniatkan untuk menutupi lubang-lubang jiwa ini. Sebagian urusan manusiawi memang ditutupi oleh keberadaan masyarakat, tapi sulit dihindari bahwa masyarakat juga menciptakan lubang baru dalam jiwa manusia. Sebut saja keberadaan barang-barang konsumtif yang berlimpah. Di satu sisi, ia memang menutupi lubang keinginan. Di lain sisi, ia menciptakan lubang-lubang keinginan baru yang cenderung lebih besar. Hal ini terjadi karena kebanyakan manusia mencari penutup lubang-lubang jiwa kekurangannya keluar, bukan ke dalam.

Fitrah inilah yang kemudian dijawab oleh Allah dengan konsep ibadah secara berjamaah, yang tidak mengenal suku, bangsa dan negara. Asal bisa menutupi ketidak-sempurnaan, menutupi jiwa-jiwa yang berlubang, menutupi kekurangan dan memenuhi kebutuhan, itulah yang dicari oleh setiap diri. Cirinya berorientasi ke dalam bukan keluar. Islam menawarkan lebih dari itu.

Belajar dari perjalanan masyarakat di negara maju, di mana keinginan demikian kencangnya dipenuhi, kecenderungannya tidak makin sehat. Di Jepang dan Korea di mana masyarakatnya demikian kompetitif, angka bunuh diri naik terus. Meminjam penemuan Mary Pipher dalam The Shelter of Each Other, di tahun 1990 72% warga Amerika Serikat tidak mengenal tetangganya. Eropa pasca krisis keuangan membuka banyak rahasia, keinginan bila dipenuhi terus akan bernasib seperti memadamkan api dengan bensin. Sebagai akibatnya, masyarakat manusia bergerak dari satu lubang ke lubang lainnya. Dan belum ada tanda-tanda kapan lubang-lubang keinginan ini akan sepenuhnya bisa ditutup, selama orientasinya keluar.

Setiap sahabat yang menghabiskan waktu lama menolong orang-orang dengan gangguan kejiwaan mengerti, apa yang mereka paling butuhkan untuk menutupi lubang jiwanya adalah seseorang yang bisa mendengarkan.

Kristina Nobel yang menghabiskan masa kecilnya di Inggris Utara secara sangat menyedihkan pernah bercerita: “Apa yang kami butuhkan tatkala mengalami luka jiwa yang demikian mendalam adalah satu orang yang mau mendengarkan”. Oleh karena itu, Kristina setelah berhasil, kemudian menghabiskan banyak waktu di Vietnam mendengarkan banyak sekali korban perang di sana. Sedihnya, kemajuan ekonomi, pengetahuan, teknologi di mana-mana membuat semakin langkanya manusia yang maumenyediakan dirinya mendengar orang lain.

Dulunya, tatkala banyak wanita jadi ibu rumahtangga, ada seseorang yang menyediakan diri untuk mendengar di rumah. Sekarang, jangankan di rumah, di sekolah, di kantor, bahkan dalam kelompok spiritual dan religius pun sedikit manusia yang mau mendengar. Semuanya hanya mau didengar. Sebagai hasilnya, di mana-mana hadir jiwa yang haus, dahaga dan kering.

Sebagaimana dialami banyak penyembuh, percakapan adalah sebentuk pertukaran energi. Lebih-lebih bila dalam percakapan ini ada yang menyediakan diri untuk mendengar. Hasilnya, mendengarkan itu menyembuhkan. Ia tidak saja menyembuhkan yang didengarkan, juga menyembuhkan yang mendengar. Yang didengarkan sembuh karena merasa sampah-sampah jiwanya keluar.Yang mendengarkan sembuh karena merasa hidupnya bermakna dan berguna.

Dan inilah makna lain dari asmi’ yang sering kita dengar. Dengan sedikit jembatan pemahaman ini, akhirnya kita tahu bahwa rahmat itu benar-benar ada. Dengan mendengarkan berarti menyembuhkan, maka dengarkanlah, asmi’.

Nutrisi Jiwa

oleh: Kusmono FA

Lidah memang tidak bertulang. Oleh karena itu, si empunya bisa berbuat apa saja dengan mudahnya. Mau dipakai jujur, bisa. Mau dipakai ngibulpun, oke saja. Bahkan dijadikan masakanpun, mau jenis sop, rujak, atau gulai, nurut saja. Dan semua tahu, enak rasanya.

Berbeda dengan masakan dari bahan lidah yang mak nyuss rasanya, dalam kehidupan justru banyak lidah yang lebih pedas dari sambal Jawa. Lebih menyakitkan dari sakit gigi. Tak jarang, malah menimbulkan pertikaian dan pembunuhan. Hanya gara-gara lidah. Omongan yang dihasilkan lebih menghunjam daripada rudal. Hasilnya memporak-porandakan sekitar. Maka para tetua sering mengingatkan; mulutmu harimaumu. Jangan sampai kita binasa karena ulah lidah kita sendiri.

Seorang ibu muda yang belajar mandiri, mengeluh kepada suaminya. Ia mulai tidak sabar dengan ulah tetangganya yang berlidah liar. Omong sak omong selalu menyakitkan. Underestimate dan sok-sokan, sehingga membuat si tetangga tersebut dijauhi. Berkali-kali juga si suami mengingatkan istrinya untuk sabar menghadapi semua ini. Banyak ngalah. Menjadi pendengar yang baik. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Namun, kesabaran ada batasnya. Dibalik rasa galaunya yang memuncah, si istri menggugat suami. Alih-alih bersabar, kini si ibu muda itu mempertanyakan; “Kok bisa ya, padahal dia kan orang pengajian?”

Tersadar dengan pertanyaan tak terduga sang istri, jiwa sang suami seolah tercerahkan dengan maksud Allah dalam KitabNya; “Kenapa orang iman diharuskan selalu menjaga omongan dan selalu berusaha untuk omong yang baik dan benar?”Karena ini adalah nutrisi jiwa. Kebutuhan jiwa yang ada benih – benih keimanan dan ketakwaan di sana, untuk menumbuh-kembangkan benih itu hingga subur, berkembang dan berbuah, sehingga mendamaikan diri sendiri, lingkungan sekitar dan bermanfaat untuk semesta.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat keuntungan yang besar.” (QS Al-Ahzab: 70–71)

Nah, menjawab kegalauan si ibu muda tadi, sang suami bertutur bijak; “ Karena ia mengambil nutrisi yang salah dari menu pengajian yang ada. Ketika diajak berbicara yang benar, dia memilih untuk tidak berbicara yang benar. Akibatnya, jiwanya kurang nutrisi, keimanan tidak berkembang dan cenderung menjadi pesakitan. Ketaqwaan pun jauh dari genggaman. Dan Allah tidak berkehendak menghiasi orang itu dengan amal-amal yang baik dalam keseharian. Mengganti amalan yang tidak baik, menjadi amal baik adalah bukti pengambilan nutrisi yang tepat dari menu yang ada. Selama malnutrisi, gizi buruk, akibatnya akan malpraktik. Bahkan mungkin berujung kematian keimanan.”

Dalam jiwa yang sudah bergizi cukup, kehidupan menunjukkan wajah yang berbeda. Di sana – sini dipenuhi dengan warna kedamaian dan darma. Dalam keimanan dan ketakwaan yang tumbuh berkembang, kehidupan adalah sarana beramal shalih; menebar kebaikan, menyemai kebajikan. Hayatan thayyibah. Kerja sebagai contoh, bagi jiwa yang kekurangan gizi (mengeluh, protes, tidak pernah puas) adalah serangkaian keterpaksaan yang membosankan. Sebagian orang bahkan dibikin sakit dan berpenyakit oleh kerja. Stres, depresi, workaholic dan sebagainya. Bagi jiwa yang bergizi cukup (tulus, tekun, ikhlas), bertetangga selalu dalam koridor saling menjaga dan menghormati. Tak mau menyakiti dan disakiti. Bagi yang kekurangan gizi, menganggap tetangga sebagai asupan gizi yang harus di”makan” untuk memenuhi kekurangannya.

“Similar to flower which is fragrant, the language of the enlightened so touching, because language is the fragrance of the soul“. Serupa bunga yang wangi, bahasa makhluk tercerahkan oleh keimanan demikian menyentuh (halus, sopan, indah dan dalam) karena bahasa adalah wewangian yang disemprotkan dari kedalaman jiwa. Artinya, tidak saja jiwanya penuh dengan keimanan, tingkah lakunya pun mencerminkan keimanan itu dalam hal-hal yang nyata. Dengan kalimat lain tetua berkata; tidak saja iman dan takwa menjadi nyanyian jiwa, bahasa juga bagian dari nyanyian jiwa. Sejuk dan mendamaikan dimana saja, kapan saja.

Dan saya pun terpesona begitu memahami indahnya pesan Allah dari dua ayat di atas. Begitu mendamaikan.

Budi Luhur Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara

chrisoleh: Ir. H. Chriswanto Santoso

Manusia dalam kehidupannya selalu ada ketergantungan terhadap orang lain, karena masing-masing individu manusia itu selalu memiliki kelemahan dan kelebihan sehingga timbul kondisi saling membutuhkan. Manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat majemuk harus dapat melakukan hubungan sosial, membawa diri dan bisa meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Hal ini sangat penting karena disamping keinginan untuk mendapatkan hak azasi masing-masing di dalam beragama, bermasyarakat berbangsa dan bernegara, juga perlu pemahaman tentang hak-hak orang lain, kelompok lain, institusi lain.

Budi luhur pada dasarnya adalah budi pekerti/akhlaq yang baik yang secara nilai dasar umum bisa diterima oleh masyarakat sebagai ucapan/perilaku/sikap/tindak-tanduk yang baik. Pengertian dari budi luhur adalah segala perilaku/perbuatan yang sesuai dengan peraturan agama dan menetapi peraturan pemerintah yang sah, mulai dari RT sampai dengan pemerintah tingkat pusat serta menetapi norma-norma yang berlaku dalam masyarakat setempat.

Pada saat ini dimana sendi-sendi kehidupan banyak yang goyah karena terjadinya erosi moral, budi luhur menjadi sangat relevan dan perlu direvitalisasi. Budi luhur bisa diartikan juga secara sederhana, yaitu: Perbuatan luhur dilahirkan oleh pikiran yang jernih dan baik (Budi Luhur). Kalau berbudi luhur, maka jalan kehidupan kita paling tidak akan selamat, sehingga bisa berkiprah menuju ke kesuksesan hidup, kerukunan antar sesama dan berada dalam koridor perilaku yang baik. Sebaliknya, kalau kita melanggar prinsip-prinsip budi luhur (budi asor), maka akan mengalami hal-hal yang tidak nyaman, dari yang sifatnya ringan, seperti tidak disenangi/dihormati orang lain, sampai yang berat seperti melakukan pelanggaran hukum sehingga bisa dipidana.

BUDI LUHUR SEBAGAI AJARAN AGAMA ISLAM

Seiring dengan kemajuan zaman, khususnya terkait dengan globalisasi telah terjadi pergeseran nilai-nilai budi pekerti di masyarakat. Sesuatu perbuatan yang tadinya dipandang tabu, karena dampak globalisasi telah menjadi sesuatu yang biasa. Sikap yang tadinya dipandang sebagai hal yang memalukan seperti kawin di luar nikah, karena pandainya iblis mengemas godaannya, sekarang telah menjadi hal yang biasa, dan lain sebagainya. Akan tetapi seorang muslim haruslah memahami bahwa budi luhur/budipekerti yang baik bukanlah sekedar sebagai kultur yang bisa berubah karena kondisi, karena waktu, karena tempat, tapi budi luhur haruslah difahami sebagai ibadah yang menjadi perintah Allah dan Rasulullohi SAW.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ* سورة القلم 4

Sesungguhnya engkau (Muhammad) niscaya diatas budi pekerti yang agung (luhur).

Lebih tegas lagi, Nabi Muhammad SAW sendiri diutus oleh Allah dalam rangka untuk menyempurnakan budipekerti/akhlaq

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ * رواه البيهقى
Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Dengan demikian mengamalkan budi luhur bukanlah semata-mata urusan kemasyarakatan, akan tetapi mengamalkan budi luhur adalah kewajiban individual untuk menetapi ibadah sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan Rasulullohi SAW, yang diberi kedudukan derajat yang mulia di sisi Allah kelak,

إَنَّ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ * رواه ابن أبى الدنيا
Sesungguhnya akhlaq yang mulia adalah merupakan amalan-amalan ahli surga.

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِى الْمِيْزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ * رواه أبوداود عن أبى الدرداء
Tidak ada dari sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan amal (di hari kiamat) daripada budi pekerti yang baik.

PENERAPAN BUDI LUHUR

Sudah menjadi kesepakatan bangsa ini bahwa negara ini dibangun atas dasar perbedaan/ heterogenitas. Hal ini tercermin dari semboyan yang muncul di lambang negara burung Garuda yaitu ”Bhineka Tunggal Ika”. Itu merupakan suatu ungkapan bahwa adanya perbedaan adalah dibenarkan dan harus difahami itu merupakan kodrat dari Alloh Subhanahu Wata`ala

Oleh karena itu adalah suatu sikap yang sangat tidak bijaksana apabila kita membicarakan atau mempermasalahkan perbedaan. Seharusnya adalah bagaimana kita bisa bersama sama dalam perbedaan tersebut untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu sangat diperlukan sikap saling menghormati/menghargai terhadap kepentingan sesama yang penerapannya adalah dengan mengamalkan sikap/perilaku yang berbudi luhur yaitu saling memegang aturan yang berlaku dan saling menghormati.

Memperhatikan uraian diatas, dimana perbedaan adalah dibenarkan sebagai hak dan kodrat individu, maka penerapan budi luhur haruslah diawali dari dalam diri sendiri yang kemudian melebar ke keluarga dan seterusnya ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Penerapan Budi luhur Pada Diri Sendiri

Individu seseorang adalah elemen terkecil dari sebuah lingkungan sosial, dimana segala proses interaksi sosial itu berawal dari kepentingan individu dengan individu lainnya. Proses interaksi inilah yang sering kali menimbulkan masalah sosial ketika salah satu atau kedua individu tersebut tidak berbudi pekerti luhur (tidak berperilaku baik), baik itu lewat ucapan, tingkah laku, atau janji yang tidak ditepati sehingga menimbulkan kekecewaan salah satu pihak.

Dengan dasar inilah maka praktek budi luhur ini haruslah diawali dengan memahamkan diri sendiri bahwa;

Penerapan budi luhur pada diri sendiri ini bukanlah sesuatu yang begitu saja dengan mudah berubah, tapi harus dilatih terus-menerus pada diri sendiri bahwa ”saya harus berbudiluhur”. Pada hakikatnya budi luhur juga merupakan sikap pengendalian emosi kita untuk melakukan sesuatu yang belum tentu sesuai dengan hati kecil kita. Hal ini terjadi karena setiap manusia punya egoisme (أناني) yang sering muncul sebagai individu yang merasa mempunyai kelebihan dari orang lain, tidak mau ngalah, perasaan harus menang dll. Sehingga dengan sikap emosional tersebut sering muncul dalam hati kecil suatu ungkapan: .. kenapa saya yang harus memulai?.., kenapa saya harus mengalah?…, emangnya gua takut?.., dan lain sebagainya yang akan menjadi penghalang munculnya perilaku budi luhur. Padahal mempraktekkan budi luhur bukanlah berarti sebagai ungkapan bahwa kita lebih rendah dari orang lain, atau kita kalah dengan orang lain, akan tetapi budi luhur dalam hal ini harus dilihat sebagai sikap sosial yang harus dilakukan oleh individu yang melakukan interaksi sosial dengan individu yang lainnya. Bahkan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam pun, sebagai pimpinan umat islam se dunia, juga harus melunakkan hatinya agar umat bisa menerima keberadaan Nabi, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur`an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
* سورة أل عمران 159

Maka sebab rahmat dari Allah maka lunak hatimu (Muhammad) pada mereka, Jikalau keras hatimu niscaya mereka akan lari dari sekitarmu. Maafkanlah mereka dan mintakan ampun mereka, dan bermusyawarohlah dengan mereka di dalam perkara. Maka ketika sengaja engkau, maka menyerahlah kepada Allah, Sesungguhnya Allah senang dengan orang yang menyerah.

Apakah itu berarti Nabi telah kalah dengan umatnya? Tentunya tidak, tapi itu adalah pengendalian hawa nafsu/emosional untuk dapat berperilaku budi luhur agar dapat diterima oleh umatnya karena disadari tentang adanya kepentingan individu lainnya (umatnya) yang juga harus dihargai.

Penerapan Budi luhur Pada Lingkungan Keluarga

Selanjutnya praktek budi luhur harus dikembangkan dalam lingkungan yang sedikit lebih luas, yaitu lingkungan keluarga. Diantara anggota keluarga perlu pula dikembangkan sikap budi luhur yaitu untuk saling menghormati kepentingan masing-masing anggota keluarga, menerapkan akhlaqul karimah.

Penerapan budi luhur pada level keluarga ini adalah sangat penting, karena pada level ini ada ikatan emosional yang sangat kuat sehingga sangat memungkinkan dilakukan keterbukaan untuk saling belajar, saling mendidik, saling menasehati dan saling mempengaruhi. Inilah tataran pendidikan yang paling dasar yang sangat mempengaruhi perilaku seseorang.

Interaksi sosial yang terjadi pada level ini adalah antara ayah, ibu, anak, pembantu rumah tangga atau mungkin ada pula kakek, nenek, cucu dan lain lainnya. Sesuai kapasitas dan kualitas yang dimiliki, diantara masing-masing anggota keluarga pasti ada perbedaan-perbedaan. Saling memahami dan menghormati perbedaan inilah sebetulnya kunci budi luhur dalam keluarga.

Penerapan Budi luhur Pada Lingkungan Masyarakat

Manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat majemuk harus dapat membawa diri dan bisa meningkatkan kepedulian sosial, sehingga semua kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di segala aspek dapat berjalan dengan kondusif, aman dan lancar. Dengan demikian kondisinya sangat memungkinkan untuk mensejahterakan masyarakat.

Kehidupan sosial di dalam masyarakat tentunya jauh lebih komplek dari pada kehidupan sosial dalam keluarga, apalagi kondisi ekonomi negara yang belum sepenuhnya pulih telah menimbulkan dampak, dimana emosi seseorang menjadi lebih mudah tersulut hanya karena masalah-masalah yang sebetulnya tidaklah signifikan (masalah sepele). Timbulnya masalah Ambon dan Poso yang menelan ribuan nyawa sebenarnya juga berawal hanya dari perkelahian beberapa orang pemuda yang mabuk. Akan tetapi akibat adanya kesenjangan sosial sebagai dampak masalah ekonomi, masalah kecil tersebut menjadi mudah disulut untuk menjadi masalah yang besar. Kalau kita dengan bijak melihat dampak yang ditimbulkannya, pastilah kita akan sepakat untuk lebih baik melakukan tindakan preventif dari pada terlanjur terjadi masalah yang lebih besar. Tindakan preventif tersebut adalah dengan mengamalkan praktek budi luhur sebagaimana ajaran Allah dan Rasululloh SAW.

Untuk mewujudkan hal tersebut semuanya dituntut untuk mampu mengendalikan hawa nafsu dan emosinya untuk mengalah dan lebih bisa mementingkan kepentingan yang lebih besar dibandingkankan dengan kepentingan pribadi sesaat. Karena dampak dari perilaku budi asor bisa sangat besar sekali yang tidak hanya menimpa pada diri pelaku itu sendiri, akan tetapi juga membawa dampak pada pencitraan jelek pada keluarga, kelompok atau institusi si pelaku. Yang akhirnya bisa menjadikan kondisi yang tidak stabil (kacau) dalam masyarakat. Tetapi sebaliknya jika masing-masing bisa berbudi pekerti yang luhur sehingga dinilai baik oleh masyarakat luas sehingga terjadi pencitraan yang baik, maka itu tidak hanya baik untuk dirinya sendiri tapi juga baik untuk keluarga, kelompok atau institusinya. Akhirnya kehidupan bermasyarakat juga akan bertambah lancar yang berarti itu andil dalam menciptakan suasana damai, tentram yang berpahala besar.

Bentuk implementasi budi luhur secara sederhana dalam masyarakat adalah dengan proaktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di masyarakat, baik dalam bentuk bantuan materiil maupun tenaga. Jangan mengabaikan bahkan acuh terhadap kegiatan di lingkungan sekitar sehingga berakibat munculnya penilaian negatif dari masyarakat yang pada akhirnya menimbulkan antipati.

Penerapan Budi luhur Pada Tataran Berbangsa dan Bernegara

Sebagian besar ulama di Indonesia telah sama sama sepakat bahwa bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini adalah sudah final dan tidak bisa ditawar lagi. Sikap ini bahkan telah diperkuat dalam ijtimak ulama se Indonesia dalam pertemuan para ulama dibawah koordinasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Pondok Gontor, Ponorogo pada tahun 2006.

Dengan dasar ini maka seluruh warga negara Indonesia khususnya umat islam dituntut untuk ikut menjaga tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan selalu menjadikan agama dan perundang-undangan yang berlaku sebagai penuntun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena disadari sebagaimana keterangan pada bab sebelumnya bahwa Indonesia ini sangat beragam/heterogen, maka persatuan dan kesatuan hanya dapat dibangun atas dasar saling menghargai, berfikiran positif (husnudzon), saling rela berkorban untuk menyamakan persepsi/pola pikir (Taswiyatul Manhaj atau Manhaj al-fikr), sehingga terciptanya kesamaan/keserasian langkah (Tansiqul Harokah). Disinilah budi luhur menjadi kunci untuk bisa menyatukan persepsi dan menyerasikan langkah. Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat.

Bersyukur

Seorang wanita yang baru saja meninggal ternyata merindukan kehidupan yang baru saja ditinggalkannya. Ia berharap bisa ”mengunjungi” kembali salah satu hari yang ”tidak penting” yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ketika harapannya dikabulkan, ia menyadari betapa selama ini ia menjalani hidupnya tanpa rasa syukur, seakan-akan semua itu sudah selayaknya menjadi miliknya.

Akhirnya kunjungannya itu menjadi beban berat yang tak tertanggungkan olehnya. ”Saya tidak menyadari,” katanya dengan penuh sesal, ”Semua yang terjadi tak pernah kita sadari benar. Selamat tinggal, rumahku. Suami dan putri kesayanganku…. Ibu dan ayah…. Selamat tinggal detak jam dinding dan bunga-bunga yang indah di pekarangan. Dan makanan dan kopi. Dan baju-baju yang baru diseterika dan air mandi hangat …. dan saat-saat tidur dan terjaga. Oh hidup, kau terlalu mengagumkan hingga orang tak menyadari betapa mengagumkannya engkau.”

Itulah salah satu adegan yang cukup menyentuh sanubari dalam sebuah drama karya Thornton Wilder – seorang pengarang Amerika — berjudul Our Town. Wilder nampaknya ingin mengingatkan kita untuk senantiasa menikmati hari dengan penuh rasa syukur. Setiap hari sebetulnya adalah istimewa. Sayang, kita sering tak menyadarinya karena ”mata” kita tertutup.

Nah, situasi seperti ini – yang menjebak – telah diingatkan oleh Allah dalam ayat-ayatnya. Agar kita bisa menyibak setiap hari kita dengan kesyukuran, Allah memerintahkan menggandeng syukur tersebut dengan kesabaran. Allah berfirman : Sesungguhnya di dalam yang demikian itu niscaya menjadi ayat bagi tiap-tiap orang yang sabar lagi bersyukur. (Surat Ibrohim ayat 5, Surat Luqman ayat 31 dan Surat  Saba’ ayat 19). Bagaimana cara kita bersabar dalam bersyukur itu?

Dalam hidup ini kita seringkali tak dapat menemukan hal-hal yang patut disyukuri karena kita sering merasa bahwa sesuatu itu sudah semestinya terjadi. Sudah biasa. Kulino. Padahal, segala sesuatu tidak terjadi begitu saja. Semuanya karena rahmat Allah Yang Esa. Mungkin kita tidak merasa mendapatkan hal istimewa pada suatu hari. Tapi, bukankah hari itu kita dan seluruh anggota keluarga sampai di rumah dengan selamat? Bukankah kita masih bisa menikmati makanan yang lezat? Bukankah jantung kita masih terus berdetak, nafas kita pun tak pernah berhenti? Bukankah kita masih dapat melihat, mendengar, berjalan, dan bekerja?

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS AN-Nahl:18)

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS Ibrahim: 34)

Hal-hal yang tersebut di atas seringkali kita anggap sebagai sesuatu yang remeh, dan terjadi begitu saja. Given. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Coba Anda saksikan acara ”Oprah Winfrey Show” yang disiarkan salah satu televisi swasta, atau acara Tali Kasih yang dipandu Dewi Hughes beberapa waktu yang lalu. Anda akan sadar, bahkan mungkin sambil meneteskan air mata menyaksikan betapa banyaknya orang yang tak dapat menikmati hal-hal yang kita anggap remeh tadi. Menyaksikan acara-acara seperti ini akan membuka mata hati kita akan betapa banyaknya rahmat yang sering kita lupakan dalam hidup ini. Sungguh sangat disayangkan. Simaklah kisah pendek sufi berikut untuk meningkatkan kesyukuran kita.  Pada suatu hari Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada Ibrahim bin Adham.

Syaqiq bertanya, ”Bagaimana model kehidupan Anda?”
Ibrahim menjawab, ”Jika kami memperoleh rezeki kami bersyukur, jika tidak maka kami bersabar.”
”Itu sama halnya dengan kebiasaan anjing-anjing di Khurosan,” timpal Syaqiq.
Ibrahim terhenyak dan kemudian bertanya, ”Memangnya bagaimana model kehidupan Anda?”
Syaqiq menjawab, ”Jika kami mendapat rezeki, maka kami dermakan, jika tidak maka kami bersyukur.”

Nah, sabar dalam bersyukur mengajak kita menikmati setiap detik dari kehidupan ini sebagai sesuatu yang indah. Setiap keadaan yang kita jumpai adalah anugerah dari Yang Kuasa. Sebagai belas kasih dan rahmat yang tak terhingga. Sabar dalam bersyukur tidak harus menunggu kabar baik saja untuk memulai dan ingat untuk bersyukur. Tapi dalam keadaan biasa, tanpa kabar baik maupun kabar buruk tetap pol syukurnya. Sebab sabar meniti setiap detik sebagai nikmat yang tidak semua orang menjumpainya. Sabar dalam bersyukur mampu mengubah yang biasa menjadi luar biasa.

Falsafah Jawa mengenal istilah ”Masih untung.” Ini sebuah cara pandang yang sangat spiritual. Paradigma ”Masih untung” ini bukanlah sekadar untuk menghibur dan menyenang-nyenangkan diri. Sikap ini didasari oleh keyakinan mendalam bahwa Tuhan senantiasa melindungi kita. Bahwa rahmat selalu ada di sekitar kita betapa pun kecilnya. Ini akan mengubah penolakan menjadi penerimaan, kekacauan menjadi keteraturan, dan kekeruhan menjadi kejernihan. Lebih dari itu hidup kita akan senantiasa diliputi perasaan penuh. Apapun yang sudah kita miliki menjadi cukup, bahkan berlebih. Itu tak lain adalah sebuah sikap bersyukur. Buah dari kesyukuran ketika kita telah dapat menerapkan sabar dalam bersyukur dalam diri kita. Ketika itu kita akan menemukan arti sesungguhnya dari dalil lain syakartum la-aziidannakum.

Terus, bagaimana memulainya? Caranya gampang. Mulailah mengakhiri setiap kegiatan kita dengan bersyukur. Jika yang ini masih terlupa, susah, maka tuturkanlah sebelum tidur rasa syukur kita. Berapa banyak? Cukup 3 nikmat saja. Dan tiga kesyukuran setiap hari saya kira cukup untuk mengubah cara pandang kita terhadap hidup ini. Insya Allah dengan kiat sederhana ini akan terasa hidup ini begitu indah, penuh rahmat, berkecukupan, dan berkelimpah-ruahan. Inilah pintu menuju sabar dalam bersyukur.

Remote Control

Hampir semua peralatan elektronik sekarang memakai remote control. Malah, dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita melihat anak-anak berkelahi memperebutkan remote control. Seolah-olah ia simbol kekuasaan.

Menurut survei Institut Televisi Amerika, 34% konsumen pernah terjatuh dari sofa ketika mengambil pengendali jauh yang jatuh. Sebanyak 25% konsumen mengambilnya dengan kaki atau jari kaki, 53% konsumen meminta anggota keluarga lain melemparkan remote control kepadanya daripada harus bangun. Sebanyak 60% konsumen rela memindahkan baterai dari alat lain ketika baterai di remote control habis. Tanpa terasa, remote control yang kecil ini telah menciptakan gaya hidup baru. Di Amerika ada istilah ”couch potato”, gaya hidup bermalas-malasan, hanya duduk di sofa menonton TV berjam-jam. Hal ini dimungkinkan gara-gara remote control tadi.

Cerita remote control tak lepas dari Eugene McDonald dan Eugene Polley. Dua orang inilah pioneer dalam hal ini. Di era 1950-an, Eugene Mc Donald kesal karena layar kaca dipenuhi iklan. Untuk melawan arus komersialisasi di televisi, ia berpikir menciptakan TV kabel bebas iklan. Akhirnya ia menemukan obat mujarab melawan iklan. Yaitu remote control, agar orang bisa pindah kanal ketika satu saluran menayangkan iklan.

Remote control pertamanya dipasarkan pada 1950 dengan merek unik, ”Lazy Bones”. Unit pertamanya masih jauh dari sempurna karena masih menggunakan kabel. Konsumen mengeluh karena repot dan sering kesandung. Eugene tak puas. Ia memerintahkan anak buahnya menciptakan remote control tanpa kabel. Beberapa tahun kemudian, seorang insinyur yang kebetulan namanya mirip, Eugene Polley, menciptakan ”Flashmatic”, pengendali jauh pertama tanpa kabel. ”Flashmatic” cukup primitif. Ia menggunakan sinar senter beneran yang diarahkan ke sel foto yang menangkap sinyal perintah.

Baru pada 1956, Zenith meluncurkan ”tombol jauh” berkualitas baik yang dinamakan ”Space Command”, menggunakan gelombang ultrasonik. Konsep ini bertahan 25 tahun. Pada awal 1980-an, gelombang ultrasonik digantikan dengan inframerah yang digunakan hingga kini. Begitu hebatnya remote control ini, sampai – sampai dalam kehidupan ini, banyak sekali orang-orang yang menyerahkan remote control kehidupannya kepada orang lain.

Serupa dengan kehidupan nyata sekarang, beberapa abad yang lampau Nasruddin sudah mengingatkan. Dalam bentuk cerita yang menggelitik dan jenaka, ia mengingatkan akan bahaya kehidupan ala remote control ini. Alkisah, Nasruddin bersama putranya pergi ke pasar mengendarai keledai, sementara putranya berjalan di sampingnya. Ketika melewati kerumunan, terdengar celoteh, “Dasar orang tua semena-mena, masak anaknya disuruh berjalan kaki.” Merasa tidak nyaman dengan celotehan, Nasruddin turun dari punggung keledai dan berganti posisi dengan si anak.

Di kerumunan lain, terdengar cemoohan, “Dasar anak durhaka, tega sekali membiarkan bapaknya berjalan kaki, sementara ia duduk enak di atas keledai.” Ia menyuruh putranya turun dan berjalan kaki bersamanya, sementara keledainya dituntun.

Beberapa langkah kemudian, orang-orang berkomentar, “Orang aneh, mengapa keledai itu tidak dinaiki.” Ia bersama sang anak menaiki punggung keledai. Di lokasi selanjutnya, orang-orang berseloroh, “Bapak dan anak sama dungunya, masak seekor keledai lemah ditunggangi berdua.” Tak mau dianggap orang bersalah, Nasruddin dan anaknya turun, lalu keledai itu dipanggul berdua. Anak-anak kecil yang melihatnya girang dan tertawa-tawa, karena menmganggapnya gila. Keduanya berjalan hingga sampai di jembatan kecil. Nasruddin bingung dan serba salah. Akhirnya, keledai itu dilemparnya ke sungai.

Cerita di atas adalah gambaran orang yang tidak teguh dalam prinsip. Orang yang banyak dipengaruhi oleh apa kata orang, bukan apa yang terbaik buat dirinya. Orang yang banyak dikendalikan oleh sekitarnya. Bukan tumbuh dari keyakinan diri. Karakter di atas menurut teori kepribadian dikenal dengan conformist personality, pembawaan kepribadian yang cenderung membiarkan sikap dan pendapat orang lain untuk menguasai dirinya. Tindakan ini muncul karena ada perasaan khawatir tidak mendapat pengakuan dari orang lain. Dampak dari kepribadian ini adalah rentan untuk dikuasai oleh pengaruh-pengaruh lian dan tak mampu mempertahankan tujuan dan prinsip. Ini sangat berbahaya.

Jika diumpamakan TV adalah pribadi-pribadi dan sekitar yang banyak pengaruhnya itu layaknya remote control, maka sadarlah.

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya sungguh oleh pengaruh orang-orang kafir di dalam negeri.” (QS Ali Imron:196)

“Tetap teguhlah kamu pada jalan yang benar sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.” (QS Hud: 112).

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran: 159).

Biarlah sekarang banyak remote control di rumah dan sekitar kita, tapi jangan serahkan kendali remote control itu kepada yang lain.

SAPMB AJKH

Salam,
pf

Kenyang

Ah, rasanya baru kemarin. Ternyata, sudah 19 tahun yang lalu. Bobot tubuh saya bertambah, 10 kg. Dari 63 kg saat menikah, kini menjadi 73 kg. Pertambahan yang signifikan. Sebab menurut BMI (Body Mass Index) sudah masuk kategori obes alias kegemukan. Walau istri saya bilang masih kurus, masih pantes untuk nambah berat badan lagi maksudnya, terus terang saya terobsesi untuk kembali mempunyai bobot ideal di angka 70 kg atau kurang.

Sebenarnya secara keseluruhan kesehatan masih oke punya, tak ada keluhan berarti. Hanya kolesterol yang perlu dikontrol dengan baik dibarengi olah raga yang cukup. Pola dan menu makan yang perlu dirubah sebagai antisipasi kandungan darah dan kontrol berat badan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah kenapa sampai usia kepala empat masih dijajah nafsu makan yang berlebih. Buktinya, BB (berat badan) yang terus meningkat dan nafsu makan yang tiada matinya melihat gelimpah makanan, apalagi kalau itu gratis.

Dalam perjalanan waktu dan dalam kerangka instrospeksi diri, seolah dipermalukan oleh perut yang terus membuncit, badan yang melar dan nafsu yang terumbar, terbersit kesadaran yang mendalam. Semakin hari semakin menguat dalam tekad yang bulat menuju gerakan menyayangi diri.  Menyuguhkan yang dibutuhkan dan memberikan seperlunya untuk memenuhi hak-hak diri. Tak berlebih. Tak kurang. Secukupnya. Sebab dibalik itu semua telah menunggu saatnya beribadah dengan paripurna. Apalagi kalau mengingat sabda Rasulullah SAW. Dari Miqdam bin Ma’dikarib ra. menyatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda; “Tiada memenuhi anak Adam suatu tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah untuk anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada cara lain, maka sepertiga (dari perutnya) untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk bernafas.” (Riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Jelas walau bukan larangan, sepenuhnya saya tidak bisa mengikuti ajaran mulia di atas. Kadang sudah bersendawa, tanda 1/3 udara di perut sudah setara, masih saja terus nambah dan nambah. Susah menghentikannya. Dan kadang tidak lagi tegak tulang punggung ini sehabis makan. Yang ada justru  kepenuhan dan susah bergerak karena kekenyangan. Dan suka sembelit, sebagai tanda kurang minum, kebanyakan makanan. Walau jenis makanan yang dimakan halal adanya, tapi berhati-hatilah ketika batas proporsional tidak lagi diindahkan. Allah berfirman, ”Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak senang terhadap orang yang berlebih-lebihan.” (QS Ala’raaf [7]: 31).

Dikisahkan Nabi Yahya AS berjumpa iblis yang sedang membawa alat pancing. Bertanya Yahya AS, ”Untuk apa alat pancing itu?” ”Inilah syahwat untuk mengail anak Adam.” ”Adakah padaku yang dapat kau kail?” Iblis menjawab, ”Tidak ada, hanya pernah terjadi pada suatu malam engkau makan agak kenyang hingga kami dapat menggaet engkau sehingga berat untuk mengerjakan shalat.” Yahya AS terkejut. ”Kalau begitu aku tak akan mau kekenyangan lagi seumur hidupku.”

Kekenyangan membuat tubuh menjadi malas bergerak. Mengerjakan ibadah jadi berat, sehingga mudah bagi iblis membisikkan tipu dayanya. Tidak kekenyangan saja malas beribadah, apalagi kekenyangan. Tidak kekenyangan saja malas bangun malam, apalagi kekenyangan. Pasti bablas. Sebab tanpa kita sadari kekenyangan membuat otak pun menjadi tidur, ditandai serangan kantuk yang menghebat, tubuh jadi gemuk karena berlebihan asupan, dan lemak menumpuk-numpuk karena kurang gerak pembakaran. Itulah kombinasi yang sempurna.

Imam Ghazali dalam Al-Ihya, mengutip ucapan Abu Bakar Shiddiq RA dalam hal ini, ”Sejak aku memeluk Islam, belum pernah aku mengenyangkan perutku karena ingin dapat merasakan manisnya beribadah, dan belum pernah aku kenyang minum karena sangat rindunya aku pada Ilahi.”

Makan sampai kenyang memang diperbolehkan. Hukum asalnya boleh, namun jika keseringan dan akibatnya memudharatkan, maka akan jatuh kepada israf atau berlebih-lebihan. Hadis riwayat Ibnu Umar ra. dari Nabi SAW., beliau bersabda: “Orang kafir itu makan dalam tujuh usus sedangkan orang mukmin makan dalam satu usus.” (Shahih Muslim No.3839)

Dari Abu Hurairah ra, katanya: Ada seorang laki-laki yang biasanya banyak makan. Setelah masuk Islam, makannya sedikit. Hal itu diceritakan orang kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Orang yang beriman makan untuk satu perut. Orang kafir makan untuk tujuh perut.” (Shahih Bukhari)

Jelaslah bagi kita sekarang, mengapa atsar-atsar membenci tindakan berlebih-lebihan, dalam hal ini banyak makan bin kekenyangan. Di samping dari sisi kesehatan akibat banyak makan tentu bisa menimbulkan berbagai penyakit, banyak makan memberatkan pula seseorang untuk beribadah.  Apalagi di jaman sekarang ini, makan sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan tujuan kesenangan serta gengsi. Walau banyak di sisi bumi lain orang yang kesulitan makan, di belahan lain kita mendapati sekumpulan orang yang susah menjumpai rasa lapar. Bahkan banyak di antara kita yang tidak mengenal lagi bagaimana indahnya rasa lapar itu.