Kapuas, Kalimantan Tengah

49-54 tugu kapuas

Kabupaten Kapuas
Pintu Gerbang Kalimantan Tengah

Ibu kota Kabupaten Kapuas adalah Kuala Kapuas. Kota ini dibangun sejak lama, sebelum adanya Palangka Raya, Ibu kota Kalimantan Tengah. Kuala Kapuas adalah kota yang indah, karena berada pada tepi sungai pada simpang tiga. Ketiga sungai tersebut adalah Sungai Kapuas Murung, Sungai Kapuas, dan Daerah Pantai/Pesisir Laut Jawa. Pada malam hari, lampu-lampu dari pemukiman penduduk di tepian sungai yang amat luas itu berkerlap-kerlip dipantulkan oleh sungai disertai sapuan angin yang sejuk yang membawa nuansa magis. Kuala Kapuas yang berawal dari pelabuhan perdagangan skala kecil antar pulau dan antar daerah, menjadi pintu gerbang sisi selatan Provinsi Kalimantan Tengah.

Musim “Asep” Jadikan Kapuas Lumbung Padi

Indonesia dikenal memiliki dua musim, hujan dan kemarau. Tetapi Kabupaten Kapuas, Kalteng, mempunyai musim yang tidak dimiliki daerah lain, yaitu musim tanam “asep”, singkatan dari April tanam, September panen. Inilah waktu-waktu dimana para petani di lahan pasang surut bercocok tanam padi. Kabupaten yang mempunyai motto Kota Air dan menjadi lumbung beras di Provinsi Kalteng ini bertanam padi memang hanya dilakukan dalam kurun waktu satu kali dalam satu tahun. Ditanam pada bulan April dan panen pada bulan September.

PROYEK lahan gambut satu juta hektar. Anda masih ingat? Ya inilah lahan gambut yang berada di Kalimantan Tengah, tepatnya di Kabupaten Kapuas, suatu lahan yang pada era orde baru akan disulap menjadi lahan pertanian. Sayang proyek itu gagal bersamaan dengan tumbangnya rezim orde baru. Dan lahan gambut itu kini telah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Kabupaten Kapuas dengan ibukotanya Kuala Kapuas adalah salah satu kabupaten otonom eks daerah Dayak Besar dan Swapraja Kotawaringin yang termasuk dalam wilayah Karesidenan Kalimantan Selatan. Suku Dayak Ngaju merupakan penduduk asli Kabupaten Kapuas.

Sektor pertanian dengan komoditi utama padi merupakan salah satu andalan daerah ini. Tak kurang dari 65 persen produksi beras di Kalteng dipasok oleh Kabupaten Kapuas. Kabupaten ini memang didukung lahan pertanian seluas 76,793 ribu Ha dari potensi lahan 277 ribu Ha. Prospek perluasan areal persawahan di daerah ini masih terbuka lebar. Misalnya di Kecamatan Selat, Kapuas Hilir, Kapuas Murung, Pulau Petak, Basarang, Kapuas Barat dan Kecamatan Mantangai. Inilah kawasan yang termasuk dalam program proyek lahan gambut tempo dulu yang kini tengah dibangkitkan lagi.

Selain padi, komoditi pertanian lainnya yang cukup potensial adalah usaha perikanan laut, plywood, karet (crumb rubber), sabut kelapa, anyaman rotan. Belum lagi industri meubeler, hasil kerajinan purun, perahu kayu, karet, sirap ulin, dan balok ulin.

Sektor Pertambangan juga cukup menjanjikan. Kabupaten ini kaya akan bahan tambang seperti intan, emas, batubara, mika, kaolin, batu kapur, pasir kuarsa dan gambut.

Tinjauan sektoral di Kabupaten Kapuas sendiri, terlihat bahwa sektor pertanian berperan signifikan dalam perekonomian daerah ini. Hal tersebut terlihat dari kontribusi sektor pertanian bagi PDRB yang mencapai 49,99 persen.

Untuk subsektor tanaman pangan, produk andalannya adalah padi, dengan jumlah produksi 240.846,90 ton, ketela pohon 22.136 ton, dan ketela rambat 3.725,34 ton. Berdasarkan jumlah produksi, setidaknya terdapat tiga kecamatan yang cocok dijadikan klaster produksi pangan khususnya padi, yaitu Kecamatan Kapuas Murung, Selat, dan Mantangai.

Selain tanaman pangan, petani di daerah ini juga menghasilkan produksi sayur-sayuran dengan jumlah produksi 13.729 ton dan buah-buahan dengan jumlah produksi 20.631 ton. Produk andalan sayur-sayuran adalah kacang panjang dengan jumlah produksi 2281 ton, ketimun 1.854 ton, dan terong 1.402 ton. Sedangkan produk andalan untuk buah-buahan adalah rambutan dengan produksi 6.023 ton, nangka/cempedak 4.218 ton, dan pisang 2.908 ton.

Kabupaten Kapuas juga menghasilkan produk perkebunan. Produk perkebunan andalan daerah ini adalah karet, kelapa, dan kopi. Klaster perkebunan karet cocok dikembangkan di Mantangai, Kapuas Tengah, dan Kapuas Timur.

Sedangkan klaster kelapa cocok dikembangkan di Kecamatan Kapuas Kuala, Selat, dan Basarang. Sementara klaster perkebunan kopi cocok dikembangkan di Kecamatan Mantangai, dan Kapuas Kuala. Selain perkebunan, Kabupaten ini juga menghasilkan produk kehutanan, terutama kayu. Realisasi produksi kayu bulat Tahun 2003 sebesar 250.841,78 M3.

Daerah Kapuas merupakan daerah penghasil produk-produk peternakan untuk Propinsi Kalimantan Tengah. Populasi sapi dan ayam buras di daerah ini merupakan yang tertinggi se Kalimantan Tengah. Sedangkan populasi babi merupakan terbesar kedua setelah Kabupaten Barito Utara.

Klaster peternakan sapi cocok dikembangkan di Kecamatan Basarang dan Selat. Klaster babi cocok dikembangkan di Kecamatan Kapuas Hilir, Kapuas Barat, dan Selat. Sedangkan klaster peternakan ayam buras cocok dikembangkan di Kecamatan Selat, Kapuas Kuala dan Kapuas Murung.

Untuk subsektor perikanan, daerah ini menghasilkan produk perikanan laut dan darat. Produksi ikan laut terkonsentrasi di Kecamatan Kapuas Kuala. Sedangkan produk ikan darat dihasilkan beberapa kecamatan antara lain Timpah, Mantangai, Kapuas Murung. Di ketiga kecamatan itu cocok dikembangkan klaster perikanan darat.
Pada kegiatan perdagangan, mayoritas pedagang di daerah ini adalah pedagang kecil. Jika dilihat dari sisi sebarannya, konsentrasi pedagang baik besar, menengah, atau kecil terjadi di Kecamatan Selat. Karena itu, Kecamatan Selat ini dapat dikatakan sebagai sentra perdagangan di Kabupaten Kapuas.

Pada Tahun 2003, jumlah perusahaan di daerah ini mencapai 127 buah. Jika dilihat dari sisi bentuk perusahaan, yang terbanyak adalah perusahaan perorangan, yaitu sebanyak 85 buah. Bentuk usaha lainnya yang ada di daerah ini adalah CV sebanyak 22 buah, PT 10 buah, dan koperasi 10 buah.

Pada sisi perdagangan internasional, perdagangan di Kabupaten Kapuas menghasilkan devisa dengan nilai yang cukup signifikan. PadaTahun 2003, Nilai Ekspor Kabupaten Kapuas mencapai US $ 13.825.256,99. devisa sebesar itu dihasilkan dari Nilai Ekspor Dowel/Moulding sebesar US $ 6, 85 juta, karet US $ 5 juta, dan plywood U S$ 1,95 juta.//**

Panen Padi Mayang Bulir Kecil

BUPATI Kapuas Ben Brahim S Bahat Selasa (9/9) pagi bertempat di Gapoktan Bersatu Handel Swarga Desa Anjir Mambulau Timur Kec Kapuas Timur seluas 180 hektare lakukan panen padi varietas unggul “Mayang Bulir Kecil” yang sangat dicari masyarakat karena bebulir kecil namun menjadi besar saat dimasak dan sangat nyaman dimakan.
Nampak mendampingi panen tersebut Ketua DPRD H Mahmud Iip Syafrudin, Kajari Subroto, mewakili Kadistan Prov Kalteng, Kapolres dan Dandim serta Kepala Kantor Kemenag Kapuas H Achmad Bahruni serta Sejumlah Kepala SKPD lingkup Pemkab Kapuas.

Ben Brahim dalam sambutannya usai memanen menyatakan bahwa kebutuhan beras terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, bahkan menurutnya pada tahun 2014 badan pangan dunia FAO memprediksi sekitar 1,2 juta ton Indonesia kekurangan beras akibat anomali cuaca yang kurang bersahabat.

Walaupun demikian Kalimantan Tengah yang mentargetkan 1 juta ton atau setara 630.000 ton beras akan dapat tercapai sebab melalui pelaksanaan index satu kali menjadi dua kali perluasan areal tanam sehingga hamparan lahan di Kabupaten Kapuas termasuk Kapuas Timur terus meningkat.

“Kapuas pemberi kontribusi terbesar untuk Kalimantan Tengah yakni sekitar 50% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir” ujar Ben yang disambut tepuk tangan ratusan masyarakat sekitar Handel Swarga. Ben juga mengharap agar masyarakatnya konsisten dan bekerja keras dalam menggarap lahan. Juga PPL, Mantri Tani, Pengamat Hama dan Pengamat Pengairan agar membantu dan membina para petani sehingga julukan “Kapuas Lumbung Padi Kalteng” tetap terjaga.

Berdasarkan perhitungan dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas hasil panen kali ini adalah rata-rata ubinan dari petak 1, 2 dan 3 adalah 1,57 Kg GKP produksi perhektare sebesar 2,52 ton GKP/Ha atau jika dikonversi ke gabah kering giling sebesar 2,16 ton GKG/Ha.

Masih ditempat yang sama Ben Brahim juga beri bantuan peralatan pertanian kepada Ketua Gapoktan Bersatu Buchari serta “Hasupa Hasundau” guna dengarkan langsung keluhan masyarakatnya. Terungkap bahwa hampir seluruh masyarakat Handel Swarga dan sekitarnya ingin meningkatkan hasil usaha pertanian dan perikanan.

“Suatu saat nanti padi akan lebih berharga dari emas dan perak sebab, lahan pertanian semakin sempit karena berubah fungsi menjadi perumahan, perkebunan atau lainnya, ini harus kita pertahankan” Ujar Ben.

“Berbagai usulan petani diantaranya mekanisasi pertanian berupa pengadaan hand traktor, mesin pemanen dan perontok padi, serta penataan pengairan, bibit ikan dan jalan usaha tani yang sangat diinginkan masyarakat menjadi tanggapan serius. Bahkan saat itu pula Bupati Kapuas memerintahkan Kepala SKPD terkait yang menyertainya agar mencatat dan menjadi prioritas pada TA 2015 mendatang.

Jalan masuk sekitar 5 kilometer yang dilalui saat ini serasa naik kuda karena sedang dalam proases semenisasi, akan terus dilanjutkan sehingga kedepan mulai dari muara sungai hingga lahan pertanian masyarakat menjadi mulus dan nyaman sehingga para petani semakin mudah hasil usaha pertanian” tiru Suwarno Muriyat yang menyertai kegiatan ini.//**

Cenderamata Getah Nyatu

KABUPATEN Kapuas memiliki beragam keunggulan yang menjadi simbol wilayah daerah ini, salah satunya kerajinan getah Nyatu. Pohon Nyatu merupakan tanaman eksotis Kalimantan Tengah yang hanya tumbuh di dua wilayah tertentu di provinsi tersebut, yaitu di Kabupaten Pangkalan Bun dan di Kecamatan Bukit Tangkiling, Kota Palangkaraya.

49-54 getah nyatu1

Meski banyak diminati wisatawan lokal maupun internasional, kerajinan getah Nyatu masih belum dapat diekspor sebagai komoditas andalan karena berbagai hal. Salah satunya karena semakin langkanya pohon Nyatu akibat perambahan hutan di Kalimantan.

Pemilihan pohon nyatu sebagai bahan dasar utama pembuatan kerajinana karena Pohon Nyatu memilki kemampuan berkembang biak dalam waktu singkat. Hanya dalam kurun waktu 6 bulan, ketinggian pohon nyatu sudah mencapai 8 meter. Dengan ketinggian itu, pohon nyatu sudah dapat dipangkas dan di ambil getahnya. Namun panen pohon nyatu tidak lantas dilakukan begitu saja. Panen phon nyatu dilakukan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh ketua adat. Hal ini harus dilakukan untuk menjaga tradisi agar selalu menjaga kelestarian lingkungan.

Untuk dibuat menjadi sebuah kerajinan, getah pohon nyatu harus melalui beberapa tahap yang cukup rumit. Pertama batang dipisahkan dari kulitnya, lalau batang direbus selama 3 kali untuk mendapatkan getah yang baik. Perebusan pertama menggunakan minyak tanah, fungsinya untuk memisahkan getah dengan batangnya. Tahap kedua cukup menggunakan air untuk memisahkan minyak tanah dengan getah. Sedangkan yang ketiga, untuk memberi warna pada getah nyatu dengan pewarna alami, seperti dengan daun yang memiliki kekhasan warna tertentu.

Setelah diberi warna, maka selanjutnya adalah pembentukan, hal ini dilakukan ketika getah masih panas, karena jika sudah dingin, getah nyatu akan seulit dibentuk. Kebanyakan bentuk getah nyatu didominasi oleh perahu naga dan perahu burung tingang. Ada juga yang dibentuk menjadi replika perahu yang digunakan dalam acara tiwah (perahu yang mengantarkan tulang orang yang meninggal). Selain bentuk-bentuk perahu yang beragam, getah nyatu juga dibentuk menjadi replika prajurit Dayak lengkap dengan aksesoris yang digunakan.

Selain memilki warna-warna yang terang, kedetailan pada getah nyatu juga tinggi sehingga cocok untuk dijadikan sebagai hiasan atau dekorasi ruangan. Harga yang dibandrol pun relatif terjangkau, tergantung bentuk atau ukurannya. Biasanya kerajinan getah nyatu berkisar antara puluhan ribu hingga jutaan rupiah. /**

Bupati Kab. Kapuas, Ir. Ben Brahim S. Bahat, MT.
Pemilik Hak Cipta dan hak Paten Konstruksi-ITS dan Metodanya

49-54 bupatiKALAU Anda memahami Konstruksi Instrumen Tower Sederhana (Konstruksi-ITS) dan Metodanya, yang kini sudah banyak diterapkan dalam pembangunan jembatan bentang panjang di Indonesia, maka sebaiknya Anda juga mengenal siapa penemunya. Beliau adalah Ir. Ben Brahim S. Bahat, MT, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kalimantan Tengah, yang kini menjadi Bupati Kabupaten Kapuas, Kalteng.

Konstruksi-ITS dan Metodanya ini ditemukan Ben Brahim pada tahun 2000, dan mulai disusun tahun 2002. Karya putera daerah Suku Dayak Kalteng dalam bidang teknologi ini telah mendapat pengakuan dan perlindungan dari Kementerian Hukum dan HAM dalam bentuk HAK CIPTA dan HAK PATEN.

Konstruksi-ITS dan Metodanya adalah peralatan untuk pelaksanaan erection jembatan bentang panjang. Dengan menggunakan konstruksi ini, maka pembangunan jembatan bentang panjang diyakini akan lebih efisien atau menghemat biaya pelaksanaan hingga 47% lebih, dan mempercepat waktu penyelesaian 1:1,5 dibandingkan dengan medote konvensional/perancah, sehingga lebih cepat dimanfaatkan.

Ben Brahim menceritakan, bahwa sejak dirinya bertugas di Kanwil Departemen PU Provinsi Kalteng (tahun 1986), bidang tugas yang banyak digeluti adalah bidang jalan dan jembatan. Salah satu jembatan yang ditanganinya (sebagai Pimpro), pada waktu itu adalah Jembatan Kahayan yang terletak di tengah-tengah Kota Palangka Raya, yang panjang totalnya 640 meter. Jembatan Kahayan bentang tengahnya menggunakan konstruksi pelengkung (bentang khusus) sepanjang 150 meter yang didesign tahun 1997, dan merupakan yang pertama kali digunakan di Indonesia.

“Setelah fase design, timbul persoalan yaitu belum ditemukan bagaimana cara melaksanakan erection pada bagian konstruksi pelengkungnya. Berkali-kali kami dari Dinas PU Kalteng bersama konsultan melakukan diskusi dengan pihak Departemen PU di Jakarta, tetapi belum ditemukan cara yang efektif dan efisien,” jelan Ben.

Sebagai orang yang terlibat langsung dalam pembangunan Jembatan Kahayan ini, Ben Brahim, pada setiap kesempatan selalu berpikir bagaimana caranya agar pelaksanaan erection konstruksi pelengkung pada bagian tengah konstruksi jembatan bisa lebih efektif dan efisien daripada Metoda Perancah.

“Pada pertengahan tahun 2000, saya menemukan konsep metode erection menggunakan Tower, Kabel dan Peralatan Pendukung lainnya yang saya yakini dapat lebih efektif dan efisien dari Metoda Perancah,” Terang Ben.

Ketika mengikuti pendidikan Program S-2 Teknik Sipil di ITS Surabaya, Ben Brahim mengajukan konsep Konstruksi Tower, Kabel dan Peralatan Pendukungnya, yang kemudian diseminarkan pada 16 Januari 2002, dan lulus dengan memperoleh nilai A.

Ben Brahim kemudian menyusun tesis dengan judul “Study Alternatif Metode Erection Bangunan Atas Jembatan Bentang Panjang pada Jembatan Sungai Kahayan di Palangka Raya”. Dalam tesis ini disajikan secara detail mengenai alternatif metoda pelaksanaan erection menggunakan Konstruksi-ITS, dan kembali lulus dengan nilai A (Cum Laude).

Kepada NUANSA PERSADA Ben Brahim mengakatan, bahwa sudah banyak pelaksanaan ‘erection’ jembatan bentang panjang (bentang khusus/pelengkung) di Indonesia yang menggunakan Konstruksi-ITS dan Metodanya. Seperti di Pulau Jawa, Sumatera, Riau dan beberapa provinsi lainnya. Khusus di Kalteng, Konstruksi-ITS dan Metodanya ini digunakan pada Jembatan Kalahien (Barito Selatan), Jembatan Merdeka (Murung Raya), Jembatan Sungai Seruyan di Kabupaten Seruyan.

Pada tanggal 15 Pebruari 2010, Ben Brahim mendapatkan HAK CIPTA dengan judul ciptaan “KITS (Konstruksi-ITS)” dari Kementerian Hukum dan HAM RI, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Direktorat Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang, dengan nomor pendaftaran 046150. Ciptaan ini kemudian diumumkan secara nasional ke seluruh wilayah Indonesia dan ke luar negeri. Pada tanggal 29 Juli 2010, Ben Brahim mendapatkan HAK PATEN dengan judul “Konstruksi Instrumen Tower Sederhana dan Metodanya”.//**

Advertisements

Liputan Daerah: Kabupaten Sumedang

Kabupaten Sumedang
Nyaman untuk Singgah dan Wisata Kuliner

sumedang_tugu

SUMEDANG, kota kecil yang bersemboyan Sumedang Tandang Nyandang Kahayang, kini menjadi ibukota Kabupaten Sumedang, terkenal dengan tahu sumedang-nya. Kota yang mejadi tempat pengasingan seorang Srikandi Bangsa, Pahlawan Nasional dari Nangroe Aceh Darussalam, Cut Nya’ Dien di masa penjajahan Belanda, dan makam beliau pun kini menjadi salah satu objek wisata religi di Sumedang.

Zaman dahulu Sumedang terkenal dengan sebutan kerajaan Sumedang Larang. Sebuah kerajaan kecil yang didirikan oleh Baginda Prabu Resi Tajimalela. Beliau memerintah antara 1340-1350 M. Wilayah kerajaan Sumedang Larang waktu itu meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, sampai ke Bandung.

Kerajaan Sumedang Larang sempat dijadikan sasaran mengungsi kerabat Kerajaan Padjajaran beserta pusaka mereka. Sampai akhirnya Kerajaan Padjajaran benar-benar runtuh, Sumedang Larang masih tetap berdiri. Raja terakhir Sumedang Larang adalah Prabu Geusan Ulun yang memerintah pada 1608 M.

Percampuran budaya Sunda dari Bandung dan pengaruh sedikit budaya Jawa Tengah membuat kota Sumedang unik dan sangat menarik untuk dikunjungi. Apalagi bagi kita yang menempuh perjalanan darat ke arah Bandung dari Cirebon, pastilah ingin sekali singgah sebentar dan menikmati keindahan serta kuliner khas Sumedang.

Pembaca, Nuansa Persada edisi Desember 2013 ini mengekspose profil dan potensi “kota tahu” yang beberapa bulan terakhir sempat heboh karena produk senjata rakitan tersebut. Namun sayang, kami tidak sempat bertemu dan wawancara langsung dengan Bupati Sumedang H. Endang Sukandar, karena beliau keburu menghadap Yang Maha Kuasa. Selamat jalan Pak Bupati…!

Selayang Pandang
Mari Singgah… Lahap Tahunya, Tenteng Keranjangnya

Oleh-oleh yang selalu terlintas di benak banyak orang jika mendengar Sumedang, ya apa lagi kalau bukan tahu. Penganan dari kedelai ini ibarat cap abadi’yang pesonanya tersohor ke mana-mana, sama seperti asinan Bogor, mangga Indramayu, atau pisang molen Kota Bandung. Padahal, di balik tahu, masih banyak daya tarik lain di kabupaten ini, seperti objek Cadas Pangeran, Museum Prabu Geusan Ulun, makam pahlawan nasional Cut Nya Dien, air panas Conggeang, kuda renggong, adu domba, dan lain-lain.

JIKA Anda berkunjung ke Sumedang, tentu Anda akan melihat deretan kios dan toko yang menjual tahu sumedang. Si kotak kuning lezat ini sudah sejak lama menggoda setiap pengunjung kota kecil yang berjarak sekitar 45 km sebelah timur Kota Bandung ini untuk singgah, melahap dan menenteng keranjangnya. Sangat boleh jadi, jika mendengar nama Sumedang, yang pertama muncul di benak orang adalah ”tahu” dibanding dengan nama sebuah kabupaten di Jawa Barat. Kenyatannya memang demikian, di luar Jawa Barat, tahu sumedang lebih dikenal dari pada kota Sumedang itu sendiri.

Kabupaten Sumedang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Sumedang secara geografis terletak antara 6512 353 Lintang Selatan dan 107552 153 Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Sumedang sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Indramayu, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Majalengka, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Subang sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut. Luas wilayah Kabupaten Sumedang 1.522,21 km2. Kabupaten Sumedang terbagi menjadi dua puluh enam kecamatan dan 277 desa/kelurahan.

Tahu sumedang merupakan makanan ciri khas dari kabupaten ini. Saking terkenalnya makanan ini tidak hanya terdapat di Sumedang tapi juga dikota-kota lain. Selain tahu, Kabupaten Sumedang, tepatnya di daerah yang disebut Jatinangor, dikenal juga sebagai pusat pendidikan. STPDN, Ikopin, Universitas Wiyata Mukti, dan Unpad adalah empat perguruan tinggi negeri dan swasta yang berada di Jatinangor.

Karena dua image yang sudah begitu melekat di pikiran banyak orang itulah — kota tahu dan kota pendidikan — daerah lain di Kabupaten Sumedang, seperti Cipacing, tidak begitu dikenal banyak orang kecuali sebagai daerah penghasil senapan angin. Namun, sebagai daerah yang dikenal sebagai produsen kerajinan tangan lain, khususnya kerajinan tangan yang terbuat dari kayu, tidak banyak orang yang kenal. Padahal, produk kerajinan kayu dari daerah dengan luas 26,2 kilometer persegi (km²) ini sudah dipasarkan hingga ke mancanegara.

Barang-barang kerajinan yang dihasilkan dari Desa Cipacing, terdiri dari berbagai jenis. Selain wayang golek dengan berbagai tokohnya seperti Semar, Cepot (Bagong), Gareng, Dawala (Petruk), Rama, Shinta, dan lain-lain-di desa yang lokasinya tidak jauh dari pintu tol Cileunyi ini, dibuat juga berbagai kerajinan tangan lain, mulai dari produk khas Jawa Barat seperti satu set alat musik angklung dan kendang, hingga berbagai kerajinan khas daerah lain, seperti panah, tombak, hiasan dinding berbentuk cecak dan kepala orang Indian, hingga patung Asmat.

Pertanian adalah mata pencaharian utama penduduk Kabupaten Sumedang. Daerah ini terkenal dengan hasil padi. Jumlah produksi padi di Sumedang pada dua tahun terakhir ini meningkat hampir 5% per tahun. Peningkatan produksi padi tersebut merupakan capaian pemkab dalam rangka peningkatan produksi beras nasional (P2BN) yang dicanangkan pusat. “Peningkatan produksi padi sebesar 5% dari dua tahun ke belakang dengan panen tiga kali per tahun, dan ditargetkan peningkatan untuk tahun-tahun selanjutnya,” kata Dede Hermasah, Asisten Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Pemkab Sumedang.

Dede menuturkan, produksi padi di Sumedang akan terus digenjot dengan berbagai alasan, misalnya sebagai persiapan hilangnya lahan sawah akibat proyek nasional sehingga stok padi harus mencukupi serta sebagai strategi pemantapan pangan di Sumedang.

Selain itu, pertanian adalah mata pencarian utama penduduk Sumedang. Meski akan kehilangan ribuan hektare lahan sawah, Pemkab sudah mengantisipasi dengan melakukan ekstensifikasi pertanian yang dengan cara menanam padi di kebun. “Masih banyak wilayah di Sumedang yang cocok ditanami padi,” kata Dede.
Dia menambahkan, Sumedang saat ini memproduksi padi sebanyak mencapai 519.603 ton, 488.981 ton di antaranya merupakan padi dan 30.622 ton merupakan padi kebun. Produksi padi menyebar secara merata di semua kecamatan. Kecamatan penghasil padi sawah terbanyak adalah Kecamatan Buahdua dan Conggeang. Sedangkan penghasil padi ladang terbesar berasal dari Kecamatan Jatigede dan Tomo.

Di tempat terpisah, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Sumedang Yoyon Sudianto mengatakan, upaya peningkatan produksi padi tahun ini akan mengalami sedikit kendala karena penyakit blas, dan menyebabkan adanya bercak-bercak pada daun. Infeksi pada daun akan mudah berpindah atau menyebar ke daun lainnya dengan hembusan atau tiupan angin. Bila dibiarkan, penyakit ini akan mengancam padi menjadi puso.
“Harus ada pengendalian penyakit ini mengingat angin saat ini masih kencang karena ada perubahan cuaca. Jika dibiarkan tanpa pengendalian, penyakit ini bisa mengakibatkan puso,” kata Yoyon.

Angin kencang yang sering berhembus kencang terutama di Sumedang mengancam tanaman padi di ratusan hektare lahan sawah. Angin kencang ini bisa membantu menyebarkan penyakit blas. Penyakit blas atau Pyricularia grisea ini menginfeksi bagian daun padi. Di Sumedang, sudah ada 130 hektare lahan sawah, tersebar di 19 kecamatan yang sudah terserang. Penyakit ini bila tidak segera ditangani akan menyebabkan puso.

Produksi pertanian di Sumedang melejit pada tahun 2012. Pencapaian ini seiring dengan ditetapkannya Sumedang sebagai Kabupaten Agrobisnis pada 2011 lalu. Komoditas yang meningkat produksinya meliputi beras, kacang tanah, ubi jalar, talas, jagung, dan kedelai.

“Tahun 2012, ada banyak komoditas pertanian di Sumedang yang mengalami peningkatan produksi. Hal ini setelah dilakukan upaya keras untuk menggenjot pertanian seiring dengan diberlakukannya Sumedang sebagai kabupaten agrobisnis,” kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab Sumedang, Wowo Sutisna beberapa waktu lalu.

Peningkatan komoditas tersebut diantaranya, kedelai lokal meningkat 83 persen menjadi 3,483 ton sehingga ketersediaan stok kedelai di daerah juga meningkat sebanyak 50 persen. Hal ini berdampak pada kondisi pembelian kedelai impor yang menurun yang dapat merugikan petani kedelai lokal di Sumedang. Komoditas lainnya adalah beras yang meningkat sebesar 10% dari jumlah pencapaian produksi padi yang terealisasi sebanyak 704.280 ton GKG.

Menurut Wowo, keberhasilan realisasi tersebut karena adanya dukungan dari APBN dalam bentuk bantuan benih bermutu, penguatan peningkatan SDM petani melalui penguatan teknis pengelolaan usahatani. Sementara untuk komditas kacang tanah dan jagung meningkat sebanyak 80 persen. Peningkatan beberapa komoditas pertanian karena ada bantuan pengadaan bibit dari pemerintah provinsi sehingga luas tanam juga bertambah.

Meski demikian, dua produk lainnya yaitu produk buah-buahan yang menjadi komoditas unggul di Sumedang mengalami penurunan produksi akibat kurangnya pengalokasian dana untuk pengembangan komoditi. Dua produk ini yaitu Jeruk Cikoneng dan Mangga Gedong Gincu hanya mencapai target agribisnis pada tahapan pengembangan saja.

Selain padi dan palawija, kabupaten ini juga kaya akan sayuran. Mulai dari cabe merah, bawang merah sampai dengan cabe rawit terdapat di sana. Produk sayuran terbesar adalah kubis dan ketimun. Kubis banyak terdapat di Kecamatan Asukasari dan Pamulihan. Sedangkan ketimun banyak terdapat di Ujung Jaya dan Sumedang Utara.

Produk pertanian khas lokal di Kabupaten ini adalah ubi cilembu. Ubi ini cukup terkenal bagi mereka yang kerap melakukan perjalanan ke berbagai tempat wisata, baik di sepanjang jalan Ciawi menuju Sukabumi, Ciawi memnuju puncak, atau berbagai jalan menuju lokasi wisata di sekitar Bandung. Ubi ini hanya cocok tumbuh di tanah Kecamatan Tanjung Sari. Selain ubi, daerah Sumedang Selatan juga menghasilkan jeruk cikoneng, sawo semir, salak bongkok, dan pisang. Terakhir, kondisi tanahnya yang berbukit-bukit banyak dimanfaatkan menjadi lahan tanaman obat-obatan sekaligus wisata kesehatan. //**

Batik Sumedang
Geliat Nafira Batik Sumedang

nafira_sumedang

SUMEDANG, daerah sarat peninggalan budaya ini tak hanya dikenal sebagai kota tahu sumedang atau ubi cilembu, tetapi juga memiliki banyak industri kreatif lainnya. Sebut saja Batik Sumedang. Mungkin nama Batik Sumedang tidak terlalu dikenal seperti batik lain di Indonesia. Namun, Batik Sumedang kini mulai diminati pecinta batik.
Batik Sumedang juga disebut dengan Kasumedangan dan memiliki pola ceplokan. Beberapa perajin memiliki kreasi motif sendiri dan terkadang menamai batiknya sesuai dengan tempat maupun kondisi saat itu.

Salah satu pionir perajin Batik Sumedang adalah Ibu Nafisa, pemilik Nafira Collection, yang beralamat di Jl. Cipada No. 20 Sumedang, Tlp (0261) 203873, HP: 0852-21340514. Nafira Colletion yang memiliki workshop di Desa Cijeruk Di atas Cadas Pangeran ini, serta beberapa perajin lainnya yang ada di Sumedang bekerjasama dengan beberapa pihak yang peduli untuk turut mengangkat batik khas daerahnya sebagai salah satu aset budaya Indonesia.

Menurut Nafisa, Batik Sumedang sudah dipopulerkan sejak beberapa tahun lalu. Kepopuleran Batik Sumedang juga karena upaya pemerintah mensosialisasikannya dengan menganjurkan pemakaian seragam batik bagi para pegawai pemerintah daerah.

Dengan batik tulis, cap, dan printing yang dihasilkannya, Nafira Collection mengeluarkan beberapa motif pilihan, seperti Cadas Pangeran, Naga Paksi, Ragam Hias, Teratai, Cangkok Wijayakusumah, Tahu, Kuda Renggong, Sri Manganti, Hui Cilembu, Hanjuang, Binokasi dan Lingga. Beberapa motif yang dibuatnya, ada yang terinspirasi dari salah satu produk unggulan Kabupaten Sumedang yang terkenal, yaitu tahu dan ubi atau hui Cilembu. Namun, sebagian besar terinspirasi dari sejarah kerajaan Geusan Ulun di Sumedang.

Perajin batik lainnya adalah Hj. Ecin yang membuka bengkel batiknya di Desa Cibeureunyeuh Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang dengan nama Dapur Batik An-Nur Sumedang. Kemudian ada Bu Ina dengan Batik Wijaya Kusuma-nya, dan Sanggar Umimay Batik di Tanjungsari, serta Heaven Nissa Fashion di Dusun Neglasari Desa Sukamaju, Sumedang.

Menurut Nafisa, perajin batik di daerah Sumedang dituntut memiliki inovasi untuk mengangkat daerah Sumedang. Pemerintah Kabupaten Sumedang, ujar dia, sangat mendukung dalam pelestarian Batik Sumedang. Bahkan, beberapa motif Batik Sumedang dimasukkan ke dalam Peraturan Daerah.

“Misalnya motif Lingga, motif mengenai pusaka. Juga motif Ragam Hias yang ketika pada zaman Prabu Siliwangi dahulu harus ada di setiap rumah,” ujarnya.
Menurut Nafisa, masing-masing perajin mempunyai kreasi. Namun, tetap mengacu pada Perda. “Kalau di Sumedang batik memang belum terlalu memasyarakat. Apalagi perajinnya hanya sedikit. Bengkel batik hanya ada empat di Sumedang,” jelasnya.

Meski belum banyak diproduksi, Batik Sumedang, kata dia, juga mulai diminati pecinta batik di luar negeri. Ia mengaku, beberapa kali mendapat pesanan dari luar negeri. Ia berharap, pemerintah terus memberi fasilitas untuk perkembangan Batik Sumedang. Terutama dalam fasilitas pembelajaran dan pelatihan memproduksi batik dan memasarkannya. “Sebenarnya bisnis batik lumayan menjanjikan, namun belum terarah pemasarannya,” ujar Nafisa. //**

Wisata
Jelajah Wisata Sumedang

SUMEDANG, adalah kota yang eksentrik dan patut dinikmati di akhir pekan. Banyak sekali obyek wisata alam dan buatan yang bisa kita kunjungi, antara lain:

1. Monumen Lingga

Sebuah tugu berbentuk lingga ini terdapat di pusat kota dan menjadi icon bagi Kabupaten Sumedang. Sedianya monumen ini dibangun untuk mengenang jasa Pangeran Soeriatmaja yang hidup pada 1882 – 1919 M.

2. Museum Prabu Geusan Ulun

Merupakan museum yang dibangun oleh keluarga pewaris kerajaan Sumedang Larang. Dalam museum ini dipamerkan beberapa perabot dan pusaka kuno khas kerajaan tersebut. Di sana kita juga bisa melihat bagaimana dahulu Kerajaan Sumedang Larang berdiri dengan tentram di kota itu. Silsilah raja dan keturunannya juga bisa kita ketahui dari catatan yang dibuat oleh para ahli waris kerajaan.

3. Makam Dayeuh Luhur

Dayeuh luhur adalah sebuah daerah tempat raja terakhir Sumedang Larang memindahkan keratonnya. Di sanalah akhrinya Raja Sumedang itu dimakamkan. Ada makam Prabu Geusan Ulum dan istrinya Harisbaya. Di kompleks pemakaman tersebut juga terdapat makam Kyai Damang Cipaku.

4. Makam Cut Nyak Dien

Pasti kita akan bertanya-tanya mengapa makam pahlawan wanita Aceh itu ada di Sumedang. Nah, ceritanya sewaktu akhir hidupnya Cut Nyak Dien memang ditangkap dan diasingkan oleh Belanda agar tak lagi mengajak orang-orang di daerahnya untuk memberontak. Akhirnya wanita yang gagah berani tersebut diasingkan ke Jawa Barat, dan beliau meninggal serta dimakamkan di Sumedang.

5. Makam Pasarean Gede

Makam ini merupakan salah satu makam bersejarah seorang pemuka agama Islam yang menyiarkan ajaran Islam di Sumedang pada1530. Beliau adalah pangeran santri atau yang bernama asli Kosoemadinata I. Pangeran santri menjalankan syiar Islam saat Sumedang Larang diperintah oleh Kanjeng Ratu Dewi Inten Dewata atau yang terkenal dengan sebutan Ratu Pucuk Umum.

6. Makam Gunung Lingga

Meskipun namanya makam, namun kita bisa menikmati pemandangan alam yang sangat eksotik di sini. Pegunungan yang menawan, terasing, dan gundukan bukit berpadu cekungan lembah menggambarkan lukisan alam nan menawan. Sungguh sebuah penampakan alam nan unik dan patut untuk dikunjungi.

7. Makam Marongge

Sebuah makam di Sumedang yang menyimpan misteri. Di kompleks pemakaman tersebut ada sebuah kisah tentang mbah Gebug yang dikejar oleh musuhnya. Kemudian dia beserta semua saudaranya menghilang di makam tersebut. Sampai sekarang suasana penuh misteri masih dapat kita nikmati di kompleks yang sudah jarang dikunjungi oleh wisatawan tersebut.

8. Air Panas Cipanas Sekarwangi

Cipanas yang ini berbeda dengan istana Cipanas yang ada di Bogor. Sebuah wisata alam yang menghadirkan pemandian air panas alami ini dari Sumedang ini sungguh mengangumkan. Keaslian penampakan alamnya berpadu dengan banyaknya fasilitas yang disediakan bagi para wisatawan. Ketika kita berkunjung ke sana tak perlu lagi memikirkan sarana bermalam karena sudah ada kompleks penginapan bersih yang siap menyambut para tamu agar betah berwisata di sana. Wisata ini terdapat sekitar 15 km arah utara kota Sumedang. Sungguh memikat karena letaknya di bawah kaki Gunung Tampomas, Desa Sekarwangi, Kabupaten Sumedang.

9. Sumber Air Panas Cilengsing

sumedang_wisataair

Letaknya tak jauh dari Cipanas Sekarwangi, yaitu di Desa Cilangkap Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang. Wisata Air Panas Cilengsing ini kandungan belerangnya sangat banyak sehingga seringkali dijadikan alternatif bagi orang-orang untuk menyembuhkan penyakit seperti sakit kulit, capek-capek, dan beberapa penyakit lainnya.

10. Cadas Pangeran

Tugu peringatan berbentuk patung dua orang pembesar zaman penjajahan Belanda yang berada di Sumedang ini ditujukan untuk mengenang jasa Pangeran Kornel. Beliau adalah seorang pangeran yang menentang penjajahan Belanda. Dalam tugu tersebut digambarkan sang Pangeran berdamai dengan guberbur Hindia Belanda Daendles namun jabat tangannya terasa sangat hati-hati dan siaga penuh.

11. Bumper Kiara Payung

Lokasi perkemahan Pramuka ini terletak di wilayah Jatinangor, dekat dengan salah satu sekolah kedinasan di Sumedang. Daerah yang menjadi wewenang Pemda Jabar ini sering dipakai untuk berkemah para Pramuka dan kegiatan jambore daerah maupun tingkat provinsi.

12. Copanteuneun

Memandang sebuah kolam besar yang terbentuk secara alami, akan membuat mata kita menjadi segar dan penuh binar bahagia. Apalagi kalau sampai bisa memancing ikan atau menangkapnya di sana. Wisata yang terletak hanya 5 km dari Kota Sumedang ini memang kaya harmoni. Bisa dijadikan referensi bila ingin memancing di kaki Gunung Tampomas.

13. Kampung Toga

Kalau obyek wisata yang satu ini memang sengaja dibuat untuk memberikan sarana rekreasi keluarga yang murah, meriah, sehat, alami, dan mendidik. Kampung tanaman obat-obatan, begitu kepanjangannya hanya terletak 3 km dari pusat Kota Sumedang. Berkunjung ke sana menyenangkan bagi keluarga beserta anak-anak mereka. //**

Kabupaten Boyolali

DULU KOTA SUSU SAPI, KINI TUJUAN INVESTASI

Boyolali, Jawa Tengah, sejak dulu dikenal sebagai kota susu yang komoditas susunya mampu membawa nama harum Boyolali di tingkat nasional. Bahkan sampai dibikin lagu “Susu Boyolali” dan menjadikan kabupaten tersebut semakin tenar. Hal ini dikarenakan daerah tersebut merupakan sentra peternakan sapi perah terbesar di Jawa Tengah. Daerah ini pun lantas menjadi tempat percontohan bagi peternak dari luar daerah yang ingin membudidayakan sapi perah.

Sayangnya, perkembangan sapi perah sebagai penghasil susu, belakangan ini mulai menurun. Penurunan produksi susu sapi disebabkan banyaknya peternak sapi perah yang pindah haluan memilih beternak sapi daging. Kondisi ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya mahalnya biaya pakan dan kwalitas susu yang rendah. Dan sekarang, oleh Bupati Boyolali Drs. Seno Samodro, Boyolali dikembangkan menjadi kota tujuan investasi.

SAAT SUSU SAPI JADI PENOPANG EKONOMI BOYOLALI

Memasuki wilayah Boyolali, kita akan menjumpai patung-patung sapi belang-blonteng hitam putih, dengan puting-puting susu di bagian bawah tubuhnya, di berbagai tempat. Itu patung sapi perah yang memang menjadi ikon Kabupaten Boyolali, karena daerah ini dulu merupakan penghasil susu terbesar di Jawa Tengah. Itulah sebabnya, sebagian warga Boyolali merasa sangat berutang budi pada sapi. Dan sebagai rasa terima kasih pada sapi, di hampir semua sudut kota berdiri patung sapi, bukan patung tokoh politik ataupun patung caleg.

candi lawangSEJARAH peternakan sapi di Boyolali dimulai sejak zaman Mataram Kuno. Pada zaman itu masyarakat Boyolali diperkirakan telah mengenal ternak sapi. Salah satu indikasinya, banyak ditemukan arca Lembu Nandini di wilayah ini. Di luar itu, ada pula cerita rakyat yang menunjukkan bahwa peternakan sapi sudah ada di Boyolali sejak lama.

Salah satunya, kisah perjalanan Bupati Semarang Ki Ageng Pandan Arang dari Semarang ke Gunung Jabalakat di Bayat, Klaten, pada abad ke-16 untuk memperdalam ajaran Islam.

Konon, dalam perjalanan itu Ki Ageng singgah di Boyolali untuk melaksanakan sholat. Di situ, dia bertemu seorang pencari rumput yang sangat giat bekerja. ”Untuk apa rumput itu?” tanya Ki Ageng. Si pencari rumput menjawab, untuk makanan sapi. Ki Ageng selanjutnya meramalkan, Boyolali bakal menjadi pusat sapi. Kisah itu setiap HUT Boyolali, 31 Juli, selalu diingatkan pada masyarakat.

Terlepas dari ramalan itu, Boyolali sekarang memang menjadi pusat sapi di Jawa Tengah. Boyolali menghasilkan 35,9 juta liter susu segar per tahun, meskipun penduduknya termasuk malas minum susu. Bayangkan, tingkat konsumsi susu di sana hanya 3,4 kilogram per tahun. Jauh di bawah rata-rata konsumsi susu Jateng yang mencapai 8,1 kilogram.

Sejarah Boyolali, menurut catatan Babad Tanah Jawa, dahulu merupakan tanah kekuasaan Kerajaan Mataram. Saat itu, Boyolali hanyalah hutan belantara, belum banyak penduduk tinggal di sana. Boyolali merupakan daerah strategis, wilayah yang pelintasan dari pesisir utara menuju ke selatan. Jadi, ketika ada musuh yang datang menyerang dari utara mau masuk ke wilayah Mataram bisa dipantau, bahkan dicegat di Boyolali.

Sedangkan asal muasal kata Boyolali diyakini diberi oleh Ki Pandan Arang, tokoh pendiri kota Semarang. Beliau berasal dari Tembayat, sebuah desa di Klaten. Dahulu, Ki Pandan Arang sedang melakukan perjalanan bersama anak istri ke Selatan, beliau jalan terlalu cepat sehingga anak istrinya tertinggal jauh di belakang. Akhirnya, beliau memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu istri dan anaknya.

Beliau rehat di kali Pepe, sambil berucap, ”Baya wis lali wong iki”, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah, “apakah sudah lupa orang-orang ini?” Setelah anak istrinya yang ditunggu sudah datang, kata tersebut diucapkan lagi didepan anak istrinya.

Sehingga akhirnya daerah itu dinamai Boyolali. Namun, kata Boyolali banyak disalah-maknakan menjadi “bajul kesupen” atau “buaya yang lupa”. Orang awam mengira Boyolali terdiri dari dua kata yakni “boyo” dan “lali”. Kalau digabung artinya buaya lupa. Padahal arti yang sebenarnya tidak demikian.

Luas wilayah administratif Kabupaten Boyolali 1.015,10 km2, terbagi menjadi 19 kecamatan dan memiliki 264 kelurahan. Kabupaten Boyolali dipimpin oleh seorang bupati yang menjabat selama lima tahun. Bupati dipilih melalui pemilihan umum daerah atau Pilkada yang diselenggarakan oleh KPU dan dipilih langsung oleh seluruh masyarakat Boyolali.

Kinerja Bupati dibantu oleh jajaran Muspida yang beranggotakan Kepolisian, Kejaksaan, Ketua DPRD, Dandim, Kehakiman. Dinamika politik di Boyolali sangat kondusif ini berkat, kinerja pemerintah daerah dibantu dengan masyarakat.

Secara geografis kabupaten Boyolali dibagi menjadi dua wilayah, yakni dataran tinggi dan dataran rendah. Dataran tinggi terletak di wilayah barat Boyolali yang berdekatan dengan Gunung Merapi dan Merbabu. Kecamatan yang tergolong daerah dataran tinggi adalah Kecamatan Ampel, Kecamatan Selo, Kecamatan Cepogo, dan Musuk.

Sedangkan dataran rendah meliputi daerah utara dan timur yang berbatasan dengan Surakarta. Di bagian utara terdapat waduk Kedungombo yang dahulu pembangunannya menyimpan peristiwa kontroversial. Letak Boyolali berbatasan dengan beberapa kabupaten, seperti di utara berdampingan dengan Ungaran dan Ambarawa, di Selatan berdekatan dengan Sleman dan Klaten, sedangkan di timur berbatasan dengan Surakata dan Kartosuro.

Kontribusi terbesar pemasukan daerah adalah pertanian dan peternakan, apalagi Boyolali bagian selatan yang terkenal subur karena berdampingan dengan Merapi gunung vulkanik paling aktif di dunia. Daerah Selo terkenal dengan sentra pertanian sayuran, sedangkan Cepogo menjadi sentra peternakan sapi perah.

Tanaman musiman selain sayur adalah tembakau, Boyolali juga salah satu penghasil tembakau dataran tinggi dan dataran rendah. Total produksi tembakau per tahun bisa mencapai angka 5500 ton, untuk tembakau jenis rajangan. Sedangkan tembakau daun asap yang dipakai sebagai campuran cerutu setiap tahun total bisa mencapai 2,200 ton.

Sebagian besar wilayah administrasi Boyolali adalah dataran tinggi, dengan hawa yang sejuk, sangat cocok untuk budidaya sapi perah. Ditunjang dengan ketersediaan pakan hijau yang melimpah dan sumber air bersih. Sentra peternakan sapi perah dipusatkan di Kecamatan Cepogo. Selain sapi perah, di Boyolali juga dikenal sebagai sentra peternakan sapi potong, total perkiraan jumlah sapi potong yang ada di Boyolali mencapai 87.725 ekor.

Selain susu segar dan sapi potong, di Boyolali juga terdapat sentra produksi olahan yang dibuat dari susu sapi dan daging sapi. Contohnya, dodol susu, yogurt, dan keju. Produk turunan bertujuan agar susu sapi sepenuhnya bisa dipakai secara maksimal tanpa ada yang dibuang karena kelebihan kuota. Selain olahan susu, juga ada produksi abon yang terbuat dari daging sapi, dan kripik paru. //**

PRO INVESTASI UNTUK ATASI KEMISKINAN

JogloBOYOLALI tidak main-main untuk menggaet investor luar negeri. Bahkan pemerintah sudah menyiapkan lahan 200 hektare di Kecamatan Ampel untuk disulap menjadi kawasan ekonomi khusus. Kelak, pemerintah daerah akan me¬ngembangkan lahan itu menjadi seluas 500 hektare.

Bupati Boyolali Drs. Seno Samodro mengemukakan, pemerintah akan menjadikan kawasan ekonomi khusus itu sebagai kota satelit untuk menampung 13 investor bidang tekstil terpadu asal Korea Selatan. Kecamatan Ampel terpilih menjadi kawasan ekonomi khusus karena berdasar survei se¬banyak 24 daerah kabupaten, Boyolali-lah yang terbaik dan cocok dibuat kota satelit.

Investor Korea Selatan memberikan hibah 4,8 juta dolar AS atau setara Rp 4,4 miliar untuk pembuatan master plan dan detail engineering design untuk kawasan industri baru tersebut. Ka¬wasan industri itu juga akan difokuskan ke sektor industri tekstil dan produk tekstil lain.

Kepemimpinan Bupati Boyolali Drs. Seno Samodro dan Wakil Bupati Agus Purmanto SH dengan visinya mewujudkan pemerintah Kabupaten Boyolali yang lebih sejahtera, berdaya saing dan Pro Investasi menjadi kenyataan. Di bawah kepemimpinan beliau peningkatan penanaman modal baik dari Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Boyolali cukup besar. Berdasarkan data di Badan Penanaman Modal Pelayanan Perijinan Terpadu (BPMP2T) menyebutkan hingga bulan Maret 2013 ini total Investasi di Boyolali mencapai Rp 1.947.952.705.258. Jumlah Invesatasi sebanyak itu terdiri dari PMDN sebesar Rp 1.455.252.805.358 dan PMA sebesar Rp 492.699.900.000.

Dengan peningkatan Investasi yang cukup besar ini sudah barang tentu dampaknya cukup besar pula bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Boyolali karena dengan banyak Investor yang masuk ke Wilayah kabupaten Boyolali ini membuka peluang yang cukup besar lapangan pekerjaan bagi masayakat.

Banyaknya investor yang masuk ke Boyolali secara otomatis banyak berdiri perusahaan yang sekaligus membutuhkan tenaga kerja cukup besar. Dengan kondisi ini angka pengangguran yang ada bisa terserap, yang pada akhirnya bisa mengurangi angka kemiskinan yang ada. Kondisi miskin bisa terjadi karena seseorang tidak memiliki pekerjaan pasti atau baku, sehingga tidak memiliki penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk itu dengan berdirinya beberapa sektor perusahaan baru itu bisa memberikan lapangan pekerjaan baru bagi para pencari kerja.

Untuk menarik investor ini Pemkab Boyolali melalui Badan Penanaman Modal Pelayanan Perijinan Terpadu / BPMP2T dalam melakukan pelayanan kepada Investor mengedepankan kualitas pelayanan demi terciptanya pelayanan perizinan yang lebih efisien, efektif dan berkualitas, dan menghindari pelayanan yang terkesan banyak prosedur dan berbelit-belit sehingga mengakibatkan ketidakpercayaan masyarakat dan biaya tinggi.

Untuk melaksanakan pelayanan tersebut, Pemerintah Kabupaten Boyolali menerapkan pola Pelayanan Terpadu Satu Atap/PTSP, yaitu suatu pola pelayanan perizinan satu pintu yang merupakan bentuk pelayanan yang mengedepankan layanan yang mudah, cepat, transparan dan pasti. Selain penerapan pola PTSP, Kabupaten Boyolali juga gencar melakukan promosi investasi baik di dalam daerah maupun di luar daerah. Sehingga bisa memperkenalkan Kabupaten Boyolali kepada masyarakat luas.

Pemkab Boyolali juga terus meningkatkan pembangunan Infrastruktur jalan di seluruh wilayah Kabupaten Boyolali dengan memprioritsakan anggaran untuk pembangunan infrastruktur tersebut. Jadi keperpihakkan anggaran untuk jalan di Kabupaten Boyolali dari tahun ke tahun terus ditingkatkan.

Sementara untuk penanganan kemiskinan di Kabupaten Boyolali telah dibentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan daerah Kabupaten Boyolali, dengan Surat keputusan Bupati Nomor 054/193 tahun 2013 tertanggal 23 maret 2013. Sebagai gambaran pada tahun 2008 jumlah KK miskin di Kabupaten Boyolali mengalami penurunan yang cukup significan yakni 3,85 % dibandingkan pada tahun 2007. Sedangkan pada tahun 2009 angka kemiskinan mengalami penurunan 2,27 % bila dibandingkan pada tahun 2008.//**

image courtesy of pariwisataboyolali.webs.com

Wisata Boyolali

BOYOLALI terletak di kaki sebelah timur Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang memiliki pemandangan sangat indah dan mempesona. Sejauh mata memandang Anda dapat menikmati sayuran hijau yang luas dan berbukit-bukit serta aktivitas Gunung Merapi yang terlihat dengan jelas aliran lahar dan asapnya. Jalur Solo-Boyolali-Cepogo-Selo-Borobudur (SSB) yang melintasi kedua gunung tersebut dipromosikan menjadi jalur wisata menarik yang menjadi pilihan bagi wisatawan baik domestik maupun negara asing dari kota budaya Surakarta menuju Candi Borobudur untuk melintasi Kabupaten Boyolali. Berikut berbagai tujuan wisata yang ada Boyolali.

• Gunung Merapi dan Gunung Merbabu

Terletak 25 km dari Kota Boyolali ke arah barat. Obyek Wisata Gunung Merapi memiliki pemandangan alam yang sangat indah serta panorama alam yang masih asli. Bagi pecinta alam yang senang berpetualang merupakan jalur terpendek untuk mencapai puncak gunung Merapi. Dengan mendaki puncak Merapi para pendaki dapat melihat matahari terbit “Sun Rise.” Fasilitas: TIC (Tourism Information Centre) Joglo Merapi I, Home Theatre New Selo, Wall Climbing, Lapangan Tenis, Gedung Diklat, Bungalow Tersenyum, Home Stay, Warung Makan/ Makanan Khas Selo, Souvenir. Keindahan Gunung Merapi dan Merbabu ini dapat dinikmati dari Ketep Pass maupun dari New Selo.

• Tlatar Reservoir

Terletak di Dukuh Tlatar, Desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali dengan jarak tempuh dari kota kira-kira 4 km ke arah utara. Nuansa pesona alam terhampar dengan latar belakang budaya desa dan air yang melimpah, aroma kelezatan masakan ikan air tawar yang disajikan baik secara goreng maupun bakar sambil memancing dan duduk santai sungguh merupakan rekreasi menyegarkan di Obyek Wisata Tlatar.

Ini adalah pemandian untuk keluarga dengan sumber air berasal dari mata air. Ada 2 buah pemandian, yaitu Pemandian Umbul Pengilon dan Pemandian Umbul Asem. Selain itu ada beberapa kolam renang rekreasi, termasuk kolam renang berstandar olimpiade.

Fasilitas yang tersedia: rumah makan lesehan, pemancingan, kios cenderamata, kolam renang anak dan dewasa, taman wisata air, lapangan woodball, panggung hiburan setiap menjelang bulan Puasa

• Pemandian Umbul Pengging

Terletak di Banyudono, merupakan wahana wisata kreasi air. Pengging memiliki keunggulan dimana dulunya merupakan tempat mandi keluarga Kasunanan Surakarta (Pemandian Tirto Marto). Sehingga di sekitar Pengging ini masih dapat ditemukan bangunan-bangunan bersejarah yang unik milik Kasunanan Surakarta. Juga terdapat makam salah seorang pujangga Keraton Surakarta yaitu Raden Ngabehi Yosodipuro.

• Air Terjun Kedung Kayang

kedung_kayangObjek wisata ini terletak di Desa Klakah yang berjarak 5 kilometer ke arah barat dari Kecamatan Selo. Daerah wisata ini memiliki pemandangan alam berupa air terjun yang terletak di antara 2 kabupaten, yaitu Boyolali dan Magelang. Air Terjun Kedung Kayang yang memiliki ketinggian 30 meter ini masih alami dan belum dieksploitasi besar-besaran, mengingat jalan menuju ke objek wisata tersebut seperti layaknya jalan di daerah perkampungan. Di sekitar objek wisata terdapat tanah datar yang cocok untuk area perkemahan. Potensial untuk aktivitas camping, hiking, climbing. Fasilitas yang tersedia berupa penginapan/ homestay, perkemahan, dan warung.

• Waduk Badhe

Terletak di Desa Bade Kecamatan Klego sekitar 40 km ke arah utara dari Kota Boyolali, waduk yang memiliki pemandangan alam yang mempesona ini dimanfaatkan sebagai sarana irigasi bagi pertanian dan perikanan bagi masyarakat sekitar. Failitas yang terdapat di sini adalah rumah makan, wisata air, pemancingan, dan area lomba burung.

• Waduk Cengklik

Obyek wisata ini terletak di Desa Ngargorejo dan Sobokerto, Kecamatan Ngemplak ± 20 km ke arah timur laut Kota Boyolali. Dari Bandara Adi Sumarmo sekitar 1,5 km (di sebelah barat bandara tepatnya). Waduk dengan luas genangan 300 ha yang dibangun pada zaman Belanda ini biasa digunakan untuk latihan sky air. Letaknya sangat strategis, berdekatan dengan Bandara Adi Sumarmo, Asrama Haji Donohudan, Monumen POPDA, dan Lapangan Golf. Fasilitas: wisata air (water resort), pemancingan (fishing area), rumah makan lesehan (floating restaurant).

• Waduk Kedung Ombo

Obyek wisata yang terletak di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, sekitar 50 km ke arah utara Kota Boyolali ini menjanjikan rekreasi hutan dan air yang menyegarkan serta pemancingan. Fasilitas: bumi perkemahan, hutan wisata, tempat pemancingan, rumah makan apung, wisata air.//**

image courtesy of wisatawonolelo.wordpress.com

Liputan: Kabupaten Badung, Bali

Kabupaten Badung

Inilah Pintu Etalase Bali.

Badung adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Bali. Daerah ini yang juga meliputi Kuta dan Nusa Dua adalah sebuah obyek wisata yang terkenal. Badung merupakan pintu etalase Bali sebagai daerah pariwisata budaya.  Ibukota Badung dulu berada di Denpasar. Tahun 1999 terjadi kerusuhan besar di Bali, dimana Kantor Bupati Badung di Denpasar dibakar sampai rata dengan tanah. Setelah saat itu, hingga sekarang, ibukota Badung berada di Mangupura. Mengangkat profil Kabupaten Badung inilah yang mengawali terbitan Nuansa pada tahun 2013 ini. Berikut liputannya;

Pariwisata Masih Menjadi Andalan

Kalau Anda masih perlu berpikir untuk mengetahui di mana Kabupaten Badung, pasti tidak demikian jika Anda mendengar kata Denpasar, Bali. Everybody knows Denpasar, Bali. Semua orang tahu di mana Denpasar, Bali. Bahkan Bali pernah dinobatkan sebagai One of The Must Visited Place Before You Die, salah satu tempat yang harus dikunjungi sebelum Anda meninggal. Badung adalah salah satu kabupaten yang ada di Bali, yang terkenal dengan tempat wisata Kuta.

KATA orang, Bali adalah Kuta. Dengan melihat Kuta saja, orang sudah merasa menikmati “pengalaman Bali”. Kuta memang tren. Kuta adalah industri wisata, Kuta adalah etalase Bali. Siapa yang “memiliki” Kuta bisa dibayangkan sudah menangguk keuntungan dari bisnis pariwisata yang semakin “gemuk”.

Badung sebagai “pemilik” Kuta memang beruntung. Karena Kuta memiliki daya sihir bagi banyak pengunjung Bali. Dengan sumber pendapatan asli daerahnya yang diperoleh dari sektor pariwisata tersebut, Kabupaten Badung kini tercatat paling kaya di Bali. Bahkan daerah yang memiliki sejumlah kawasan wisata terkenal itu selama ini menyumbangkan sebagian pendapatan pajak hotel dan restoran kepada kabupaten lain di Bali setiap tahun. Selain Kuta, Badung juga memiliki Nusa Dua, Jimbaran, dan Seminyak.

Ibukota Kabupaten Badung adalah Mangupura. Kota ini ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Badung sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2009 tanggal 16 November 2009. Sebelumnya, ibu kota Kabupaten Badung terletak di wilayah Kota Denpasar.

Mangupura secara khusus dikembangkan sebagai kawasan perkotaan lengkap dengan infrastruktur serta sarana dan prasarana pelayanan publik sesuai standar kawasan perkotaan. Wilayah Mangupura meliputi 9 desa dan kelurahan di Kecamatan Mengwi, yaitu: Desa Mengwi, Desa Gulingan, Desa Mengwitani, Desa Kekeran, Kelurahan Kapal, Kelurahan Abianbase, Kelurahan Lukluk, Kelurahan Sempidi, dan Kelurahan Sading.

Nama Mangupura terbentuk dari dua suku kata yakni mangu (berasal dari bahasa Jawa Kuna mango, lango, langu, dan langen yang artinya perasaan rindu menjadi terpesona oleh karena keindahan; segala sesuatu yang indah yang menimbulkan rasa cinta; serta keindahan, menawan hati, dan memikat), dan pura (dari bahasa Sanskerta, yakni dari akar kata pur yang berarti kota, benteng, atau kota yang berbenteng). Dengan demikian, Mangupura mengandung arti ibukota yang menawan hati; ibukota yang merupakan tempat untuk mencari keindahan, kedamaian dan kebahagiaan; ibukota yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakatnya; dan ibukota yang menumbuhkan rasa aman bagi masyarakatnya.

Dalam catatan sejarah, Badung mengingatkan orang akan peristiwa heroic yang terjadi pada tanggal 20 September 1906. Awalnya adalah pada tahun 1904. Sebuah kapal China berbendera Belanda bernama “Sri Komala” kandas di pantai Sanur. Pihak pemerintah Belanda menuduh masyarakat setempat melucuti, merusak dan merampas isi kapal dan menuntut kepada raja atas segala kerusakan itu sebesar 3.000 dolar perak dan menghukum orang-orang yang merusak kapal. Penolakan raja atas tuduhan dan pembayaran kompensasi itu, menyebabkan pemerintah Belanda mempersiapkan expedisi militernya yang ke-6 ke Bali pada tanggal 20 September 1906. Tiga batalyon infantri dan 2 batalyon pasukan arteleri segera mendarat dan menyerang Kerajaan Badung.

Setelah menyerang Badung, Belanda menyerbu kota Denpasar, hingga mencapai pintu gerbang kota, mereka belum mendapatkan perlawanan yang berarti namun tiba-tiba mereka disambut oleh segerombolan orang-orang berpakaian serba putih, siap melakukan “perang puputan” (mati berperang sampai titik darah terakhir). Dipimpin oleh raja para pendeta, pengawal, sanak saudara, laki perempuan menghiasi diri dengan batu permata dan berpakaian perang keluar menuju tengah-tengah medan pertempuran. Hal itu dilakukan karena ajaran agamanya bahwa tujuan ksatria adalah mati di medan perang sehingga arwah dapat masuk langsung ke surga. Menyerah dan mati dalam pengasingan adalah hal yang paling memalukan. Raja Badung beserta laskarnya yang dengan gagah berani dan tidak kenal menyerah serta memilih melakukan perang puputan akhirnya gugur demi mempertahankan kedaulatan dan kehormatan rakyat Badung.

Kabupaten Badung berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebelah utara, Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Bangli di sebelah Timur, di sebelah Selatan adalah berbatasan dengan Samudra Indonesia dan disebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tabanan.  Secara keseluruhan, wilayah kabupaten Badung  berjumlah 41.862 hektar. Seluruh wilayah ini terdiri dari  lahan sawah  10.125 Ha,  lahan kering dan lahan lainnya  31.727 Ha.

Arus wisatawan ke Kabupaten Badung sangat besar. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Ida Bagus Kade Subhiksu mengatakan, kunjungan wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata pada semester pertama tahun ini naik 7,73% dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Sampai semester pertama tahun ini, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke daerah kita mencapai sekitar 1,4 juta dengan didominasi wisatawan asal Australia dan China,” katanya.
Menurut dia, dominasi wisatawan Australia terjadi karena jarak yang dekat dan kemudahan aksesibelitas. “Mereka masih menyenangi daerah pantai seperti Kuta, karena kebanyakan yang datang orang muda, yang orang tua juga suka Kuta. Jadi Kuta itu seperti rumahnya sendiri,” ujarnya.

Hingga saat ini, sektor pariwisata masih menjadi andalah pemerintah daerah di Bali dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Ketua Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Provinsi Bali Jro Mangku Gde Suwena Putus Upadesa mengatakan dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan, daya tarik wisatawan dalam dan luar negeri ke Bali adalah adat dan budaya, menyusul keindahan panoraman alam.//**

Kota Hantu Itu Kini Jadi Kota Wisata

Kota Sawahlunto, Sumatera Barat
Menuju Heritage City

Pada masa kolonial Belanda Sawahlunto dikenal sebagai kota arang karena menjadi lokasi pertambangan batubara. Para pekerja adalah orang-orang pribumi asal Sumatera dan Jawa. Mereka bekerja, makan, hingga tidur dengan rantai di kaki. Karena itu, mereka disebut dengan “Orang Rantai”. Kini, kota itu telah dikembangkan menjadi kota wisata sejarah yang menyajikan cerita-cerita masa kolonial Belanda. Kota Sawahlunto kini dipromosikan sebagai Heritage City,

Kota Hantu itu Kini jadi Kota Wisata

Tulisan dengan huruf kapital “SAWAHLUNTO” yang terpampang di tengah bukit hijau yang indah itu dari kejauhan mirip dengan tulisan “HOLLYWOOD” yang ada di distrik Los Angeles, AS.  Sawahlunto adalah salah satu kota di Provinsi Sumatra Barat yang memiliki lanskap alam yang indah dan cerita warisan kolonial Hindia Belanda. Semua masih tetap ada meski dalam masa yang berbeda.

SAWAHLUNTO, kota Kuali yang berjarak 90 km dari kota Padang ini di abad pertengahan ke-19 merupakan sebuah kota tambang. Ir. De Greve lah yang menemukan batubara di Sungai Ombilin. Lalu di tahun 1888 pemerintah Hindia Belanda mulai mendirikan berbagai fasilitas pertambangan batubara.

Selama lebih dari 100 tahun, tepatnya sejak 1891 ketika kolonial Belanda membuka tambang batu bara, kota itu terus berdenyut. Batu bara ibarat magnet yang menarik banyak orang berpindah ke Sawahlunto, baik dari Eropa maupun seluruh nusantara.

Keadaan itu berubah ketika cadangan batu bara menipis dan berkurangnya operasional PT Bukit Asam Unit Produksi Ombilin. Puncaknya setelah era reformasi, tambang liar marak di mana-mana. Tiap jengkal tanah di Sawahlunto dikeruk serampangan, meninggalkan kerusakan
lingkungan yang teramat parah.

Sejak surutnya penambangan batu bara, Sawahlunto memang terancam menjadi ghost city (kota hantu). Kota yang indah di masa lalu dengan banyak bangunan-bangunan peninggalan Belanda itu menjadi lesu seiring makin berkurangnya batu bara. Selama ini, warga Sawahlunto memang menggantungkan kehidupannya pada si emas hitam. “Pada 2003, kalau siang hari kita bisa main badminton di Jalan Pasar Remaja karena sepinya. Pukul tujuh malam saja jalan-jalan di kota sudah sepi. Kalaupun punya uang, kita tak bisa beli apa-apa, karena tidak ada pedagang yang berjualan,“ kata Amran Nur, walikota Sawahlunto.

Sekarang, Sawahlunto kembali menemukan kejayaannya. Orang kini mengenal Sawahlunto sebagai salah satu tempat tujuan wisata yang unik. Kota tua itu tertata rapi, bersih, aman, dan nyaman. Perekonomian juga menggeliat. Pendapatan per kapita penduduknya kedua tertinggi di Sumbar. Tak ditemukan peminta-minta di seantero kota. Tingkat kemiskinan terendah kedua di seluruh Indonesia setelah Denpasar, Bali.

Di bidang pendidikan, pengelolaannya dinilai yang terbaik di Sumatra Barat. Jumlah penduduk kembali bertambah setelah berkurang secara signifikan sejak awal 2000. Dan, yang paling penting, Sawahlunto kini tak menggantungkan hidupnya pada batu bara. Tanaman cokelat, karet, dan pariwisata menjadi andalan masa depan.

“Dulu, sepertinya akan kiamat saja tanpa batu bara. Sekarang tidak lagi,“ ujar Walikota Sawahlunto Amran Nur. Sejak pertama menjabat sebagai walikota, Amran Nur memang menaruh perhatian pada peningkatan ekonomi rakyat. Latar belakangnya sebagai pengusaha di Jakarta mendorong ia selalu berpikir bagaimana meningkatkan income perkapita warga. “Apabila pendapatan meningkat maka masalah pendidikan, agama, dan kesehatan akan lebih gampang dikelola,” tutur mantan pengusaha di bidang pengolahan air minum ini berprinsip.

Peningkatan pendapatan masyarakat dilakukan dengan mengembangkan sektor pertanian. Luas Sawahlunto yang mencapai 270 ribu hektare memungkinkan untuk itu. Mulailah digalakkan berbagai program, mulai dari tanam cokelat, karet, mahoni, pemeliharaan sapi, sampai peternakan ayam. Bibit tanaman dan pupuk diberikan secara gratis.

Untuk mendukung itu, di desa-desa dibangun jalan sentra produksi yang memudahkan warga pergi ke ladang atau sawahnya. Program itu menunjukkan hasil. Amran memang tidak mendatangkan investor untuk berinvestasi di bidang pertanian. Ia mendorong warga mengusahakan tanahnya sendiri agar menjadi tuan atas lahannya.

Di bidang perdagangan, ia juga tak memberi peluang mal berdiri di kota kecil itu. “Mal itu tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi peningkatan ekomoni rakyat,“ ujarnya beralasan. Ia lebih memilih memberdayakan pedagang. Bahkan, Amran melegalkan pedagang kecil untuk berjualan di pusat keramaian, Lapangan Segitiga.

Ia mengaku, banyak hal yang dilakukan untuk menata Sawahlunto. Tapi, yang utama adalah mengubah mind set warga. Kalau warga sudah merasakan manfaat program yang ditawarkan, akan mudah mengaturnya. Ia pun memberi contoh dengan ikut menanam cokelat, karet, dan beternak ayam.

Perubahan-perubahan yang dilakukan Amran juga kadang menimbulkan pro dan kontra. Misalnya, saat menata tambang liar. Ia memilih melakukannya pelan-pelan dengan cara persuasif sambil tetap melakukan penegakan hukum. Sekarang, tak ada lagi tambang liar. Bukit-bukit yang tadinya rusak oleh penambang liar, kini mulai menghijau. “Kalau saya memikirkan populer saja, tidak akan ada perubahan,” katanya.

Pengembangan wisata dimulai dengan pembukaan museum stasiun kereta api, Tambang Mbah Soero, dan Gudang Ransoem. Lalu, berkembang dengan adanya Waterboom, resor, kebun binatang, areal pacuan kuda, areal motocross, dan sebagainya. “Prinsip kita, wisata itu harus untung, kecuali museum,“ tuturnya.

Kondisi Kota Sawahlunto memang sudah jauh membaik. Secara fisik, kota ini tertata rapi dan jalan-jalan bersih. Dua sungai yang membelah kota bebas dari sampah. Beberapa waktu lalu, sebuah majalah berita nasional di Jakarta memilih Sawahlunto sebagai kota kecil paling layak huni di Indonesia.

Sementara, Wakil Walikota Sawahlunto, Erizal Ridwan, ketika menerima NUANSA di rumah dinas mengatakan, dulu orang Sawahlunto, jika ditanyakan asalnya akan menjawab dengan menunduk dan suara pelan. Itu menandakan ia minder dengan daerahnya. Bahkan, PNS dari daerah lain yang dipindahkan ke Sawahlunto berpikir bahwa dia telah melakukan kesalahan sehingga dipindahkan ke kota kuali ini. Kini, kondisinya berputar terbalik. Warga begitu bangga dengan kota ini.

“Kalau dulu orang bilang, Sawahlunto bapaga kawek, masuk mudo kalua gaek, sekarang berubah, masuk mudo kalua padek (Sawahlunto berpagar kawat, masuk muda keluar tua, sekarang berubah, masuk muda keluar kaya),” ujarnya. //**

———– ## ———–

Walikota Sawahlunto, Ir. H. Amran Nur:
“Ini Pekerjaan Panjang dan Serius”

SAWAHLUNTO bekas kota tambang batu bara peninggalan kolonial Belanda yang kini menjadi kawasan wisata ini kini sedang mempersiapkan diri menjadi situs warisan dunia. Pemerintah Kota Sawahlunto sedang memproses usulan agar kota ini masuk World Heritage Cities Programme UNESCO sebagai kota tambang batu bara bersejarah. Mereka siap menghadapi proses yang panjang penjurian.

Wali Kota Sawahlunto Amran Nur mengakui persiapan Sawahlunto sebagai kota warisan dunia itu butuh persiapan panjang dan serius. Dokumen yang dipersiapkan juga sangat banyak. “Ini pekerjaan serius, jadi tidak bisa buru-buru, daripada nanti ditolak. Malaka saja butuh persiapan 10 tahun untuk mengajukan jadi kota warisan dunia, dan Sawahnto baru menyiapkannya 1 tahun,” kata Amran Nur.
Amran Nur memang punya andil besar dalam perubahan Sawahlunto dari kota tambang batu bara yang mati setelah aktivitas penambangan menurun setelah dieksploitasi lebih satu abad diubah menjadi kota wisata tambang.

Rongsokan peninggalan pertambangan batu bara seperti bekas pabrik, bekas lubang tambang, kereta api uap, gudang ransum, sejumlah bangunan tua kini dikelola untuk wisata dengan sangat bagus. Semakin hari, Sawahlunto semakin menarik dikunjungi. Di sudut-sudut jalan raya terdapat bangku taman untuk beristirahat menikmati kota.

Ada puluhan bangunan bersejarah peninggalan Kolonial Belanda di kota, semuanya terawat. Gedung ruang pertemuan di masa lalu yang dibangun pada 1910 dengan nama ‘Gluck Auf’, tempat para pejabat Kolonial menari dan menyanyi, kini menjadi Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. Ada kafe di sampingnya yang setiap hari melayani aneka makanan khas setempat.
Pada hari jadi kota Sawahlunto setiap Desember selalu ada festival yang meriah, mulai dari pesta rakyat seperti Makan Bajamba hingga Festival Kesenian Multicultural Mancanegara ‘Sawahlunto Internasional Music Festival’. Festival itu menampilkan musisi dari tujuh negara dan lima benua. Di antaranya Australia, Meksiko, Korea Selatan, Belgia, Uzbekistan, Kamerun, dan Taiwan. //**

———– ## ———–

Tanpa Batubara, Sawahlunto Tetap Membangun

SELAMA ini Kota Sawahlunto tidak bisa dipisahkan dari tambang batubara. Itu karena tambang batubara telah ada di Sawahlunto sejak tahun 1888. Bahkan Kota Sawahlunto menjadi terkenal lantaran di sana ada tambang batubara. Tapi potensi Sawahlunto tidak hanya tambang batubara. Kota Sawahlunto terdiri dari kawasan hutan lindung (26,5%) dan kawasan budidaya (73,5%). Sebagian tanah digunakan untuk perkebunan campuran (34,1%), hutan lebat dan belukar (19,5%). Lalu ada pula kawasan danau akibat bekas galian penambangan batubara (0,2%).

Melihat luasnya lahan perkebunan rakyat, timbul ide Walikota Sawahlunto Amran Nur untuk memberikan bibit tanaman perkebunan secara gratis kepada masyarakat.  Warga bisa memilih sendiri tanaman, namun disarankan yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti karet, coklat, kemiri, mohoni dan tanaman lain.

Menariknya, warga hanya tinggal menyiapkan lahan. Sedangkan biaya tanam ditanggung pemerintah. Untuk setiap pohon yang ditanam pemerintah memberikan sejumlah dana untuk pemeliharaan tanaman. “Berapapun  jumlah tanaman yang dibutuhkan warga akan kita berikan,” kata Amran Nur.

Keberhasilan program ini, kata Amran, memang tidak akan terlihat dalam waktu cepat. Tapi mungkin bisa dinikmati setelah tujuh tahun atau setelah tanaman menghasilkan. Misalnya ketika karet bisa disadap, coklat berbuah atau mohoni bisa ditebang. Program ini diluncurkan pertama kali tahun 2003 silam. Sebagian penduduk yang mengikuti program ini telah menikmati penghasilan yang baik. Menurut Amran, ada warga yang memiliki beberapa hektar kebun karet berpenghasilan Rp 5 juta sebulan. Bahkan ada warga  berpenghasilan Rp 20 juta sebulan.

Bila penghasilan warga sudah baik, kata Amran, ketergantungan kepada batubara akan berkurang. Bahkan minat warga untuk mencari rezeki juga akan berkurang. “Kalau di kampungnya penghasilannya lumayan, untuk apa mereka pergi merantau,” kata Amran. Dalam berbagai kesempatan, Aman Nur sering mengatakan, tanpa batu bara Kota Sawahlunto akan tetap membangun dengan program peningkatan ekonomi kerakyatan. Dikatakannya, bahwa program pembangunan peningkatan ekonomi kerakyatan di Sawahlunto dinyatakan berhasil.

Indikator dari keberhasilan ini dapat dilihat dari pendapatan perkapita warga Sawahlunto yang setiap tahun meningkat. Meningkatnya pendapatan perkapita daripada warga juga bisa dilihat dimana jumlah warga miskin Sawalunto pada 2004 berjumlah 16 % dari jumlah pendudukan dan pada 2010 hanya tinggal 5 % jauh dibawah target nasional 2014 yaitu 8%.
Untuk meningkatkan kesejahteraan warga lanjut Amran Nur, disamping melaksanakan program pembangunan peningkatan ekonomi kerakyatan juga melaksanakan pembangunan di bidang kesehatan. Disamping adanya program jaminan kesehatan bagi PNS dengan ASKES juga ada program Jamkesda dan Jamkesnas serta program JPKM untuk jaminan kesehatan masyarakat.

Dengan program Jaminan Pemeliharan Kesehatan Masyarakat (JPKM) untuk pembayaran premi sebesar Rp 12 Ribu/bulan setiap orang dan untuk membayar preminya ditanggung 50% oleh Pemko dan 50% dibayar oleh peserta. Melalui program JPKM ini sasaran akan dicapai adalah jika ada warga Sawahlunto yang sakit jangan sampai miskin dengan menjual harta mereka seperti sapi untuk biaya berobat, tapi jika sudah masuk JPKM kita tidak memikirkan lagi untuk biaya berobat karena sudah ditanggung JPKM.

Wako mengharapkan kepada warga Sawahlunto yang belum masuk atau menjadi peserta JPKM untuk segera mendaftar masuk menjadi anggota JPMK. Masih terdapat 15% warga Sawahlunto yang belum masuk JPKM, ungkapnya. Lebih jauh dijelaskan, Pemko tidak saja melaksanakan program pembangunan peningkatan usaha ekonomi kerakyatan, juga melaksanakan program pembangunan dibidang sektor pertanian, perikanan, perkebunan dan Pariwisata, dengan tujuan akhirnya adalah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, tegas Amran Nur.  //**

———– ## ———–

Songket Silungkang Menembus Tradisi

KOTA Sawahlunto kini sedang bergiat melestarikan kain tradisional mereka yang nyaris punah, Songket Silingkang. “Kami ingin melestarikan kain tradisional. Itu sebabnya Pemerintah Daerah Sawahlunto memberikan berbagai pelatihan untuk mengembangkan kain songket Silungkang,” kata Dewi Irzam, Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sawahlunto kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Pada puluhan tahun lalu kain songket Silungkang sempat mengalami masa jaya. Hasil tenunan yang indah dan rapi jadi pembicaraan di seantero Sumatera Barat. Penjualan songket bahkan merambah ke negeri jiran seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Sayang kini masa kejayaan songket Silungkang mulai meredup, permintaan terus menurun. Jumlah pengrajin juga mengalami penurunan yang signifikan, walaupun produksi kain Songket tidak pernah berhenti.

Proses pembuatan songket Silungkang yang memiliki desain eksklusif cukup lama dan rumit. Satu kain songket membutuhkan waktu pengerjaan hingga satu bulan. Proses tenunan dibuat dengan benang rangkap. Itu pula yang membuat kain menjadi indah, elegan dan mewah. Sejak dulu pembuatan satu kain Silungkang tak bisa cepat, perlu ketelitian tinggi dan harus hati-hati. Proses yang rumit itu membuat harga jual satuan songket bisa mencapai Rp 450.000,- hingga Rp 800.000,-

Untuk membangkitkan kembali kejayaan kain Silungkang, para perajin songket di Sawahlunto mulai mengubah tradisi. Kalau sebelumnya songket hanya digunakan untuk acara-acara adat atau pernikahan, kini mereka mencoba meniru sukses kain Batik yang terus eksis dengan berbagai modifikasi. Para perajin songket pun mulai membuat tas, dompet, dan sandal pesta berbahan dasar songket.

Tapi karena harga kainnya sudah mahal, maka itu juga berimbas pada harga produk modifikasinya. Harga sebuah dompet pun mencapai Rp 500.000. Sedangkan satu tas sekitar Rp 1 juta lantaran menghabiskan satu lembar kain. Belum lagi ditambah dengan modifikasi lain berupa kulit ular asli dan upah pekerja.

Keindahan kain songket hanya bisa tercipta dengan adanya ketelitian, ketekunan, dan kesabaran sang pengrajin. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah tenun songket yang bagus. Begitu pula dengan kesuksesan, tak akan pernah tercipta tanpa adanya ketekunan, ketelitian, serta kesabaran dari sang pelaku usaha. Peluang sukses dengan menekuni bisnis fashion pun menjadi salah satu contoh usaha yang dapat dicoba. //**

Benteng Pendem, Simbol Kegagahan Ngawi Tempo Dulu

KEGAGAHAN Ngawi tempo dulu digambarkan dengan berdirinya benteng Van Den Bosch, yang masyarakat kini lebih sering menyebutnya dengan Benteng Pendem. Sampai saat ini tembok dan tiang-tiang penyangganya masih berdiri kokoh, hanya saja telah pudar dimakan usia. Tampak jelas jika bangunan Benteng Van Den Bosch ini dibangun sebagai zona pertahanan pada waktu pemerintahan Belanda dulu.

Benteng Pendem Ngawi terletak di jalur pertemuan Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, tepatnya di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Keberadaan benteng ini tak banyak dikenal orang, bahkan nyaris terlupakan. Selama puluhan tahun benteng ini tidak boleh dijamah oleh publik karena merupakan daerah kekuasan militer. Padahal, jika ditelisik, benteng ini merupakan bangunan bersejarah yang patut dilindungi dan dikenal oleh masyarakat.

Benteng Pendem Ngawi dibangun oleh Gubernur Jenderal Defensieljn Van Den Bosch sekitar dua abad lalu atau pada tahun 1839, dengan memanfaatkan keberadaan aliran Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Selain berfungsi untuk zona pertahanan, pembangunan benteng ini juga untuk memudahkan arus tranportasi di aliran dua sungai.

Dipercaya, para pedagang dari Surakarta-Yogyakarta pada waktu dulu harus lewat Ngawi jika menuju bandar di Surabaya, demikian juga halnya dengan para pedagang dari arah Pacitan, Madiun, dan Maospati. Hal inilah yang menggolongkan Ngawi sebagai tempat strategis karena merupakan pertemuan jalur perdagangan air lewat Bengawan Solo.

Benteng ini dulunya juga untuk melumpuhkan transportasi logistik para pejuang kemerdekaan pasukan Pangeran Diponegoro. Bersamaan dengan itu, terjadi perang di Ngawi antara pasukan Bupati Madiun-Ngawi yang memihak Diponegoro dengan Belanda. Kemudian, setelah Indonesia merdeka, tepatnya sejak tahun 1962, Benteng Van Den Bosch dijadikan markas Yon Armed 12 yang sebelumnya berkedudukan di Kabupaten Malang. Pada waktu itu, kegiatan latihan militer dan kesatuan juga dipusatkan di areal benteng.

Karena kondisi bangunan tidak mendukung untuk perkembangan dan kemajuan kesatuan, maka sekitar 10 tahun kemudian Yon Armed 12 menempati lokasi baru di Jalan Siliwangi, Kota Ngawi. Namun, sebagian area benteng masih digunakan untuk gudang persenjataan.

Bangungan Benteng Pendem Ngawi terdiri dari pintu gerbang utama, ratusan kamar untuk para tentara, halaman rumput di tengah bangunan, dan beberapa ruang yang dulunya diyakini sebagai kandang-kandang kuda.

Selain itu, bangunan benteng ini dikelilingi gundukan tanah yang sengaja dibangun untuk menahan serangan dan luapan air Bengawan Solo. Hal inilah yang membuat bangunan benteng seperti terpendam. Bangunan ini juga dikelilingi parit air selebar 5 meter, hanya saja saat ini paritnya telah tertutup tanah.

Kini, pihak Yon Armed 12 dan pemerintah daerah setempat ingin agar Benteng Van Den Bosch menjadi objek wisata sejarah di Kabupaten Ngawi. Pihak Yon Armed kini terus melakukan pembenahan.

Sejak dibuka untuk umum, masyarakat bisa melihat bangunan benteng dari dekat. Hanya dengan membayar tiket retribusi sebesar Rp1.000 per orang, masyarakat bisa melihat sisa-sisa kekuatan Benteng Pendem pada masa penjajahan Belanda. Lokasi wisata sejarah ini pun juga mudah dijangkau dengan alat transportasi karena letaknya berada di pusat Kota Ngawi. //**

Objek Wisata di Ngawi

  1. 1.      Air Terjun Pengantin

Air terjun pengantin berada di Dusun Besek, Desa Hargo Mulyo, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi. Air terjun yang berada di kaki Gunung Lawu ini memiliki pancaran air yang deras dan segar. Tumpahan air terjunnya terdiri dari dua sisi sehingga disebut dengan Air Terjun Pengantin. Obyek wisata ini termasuk masih perawan dan baru saja dikembangkan menjadi sebuah tempat rekreasi keluarga.

  1. 2.      Water Boom Tirto Nirmolo

Waterboom ini terletak di jalan raya yang merupakan penghubung antara Kota Ngawi dan Madiun. Waterboom Tirta Nirmolo ini merupakan pengembangan objek wisata di Prambanan, Jawa Tengah. Kehadirannya di Kota Ngawi membawa suasana tersendiri sehingga bisa menjadi tujuan wisata bagi penduduk setempat atau penduduk kota lain. Sarana permainan yang ada di water boom Ngawi ini antara lain seluncuran panjang, ember tumpah, dan berbagai permainan untuk anak.

  1. 3.      Wisata Trinil

Trinil merupakan salah satu daerah di Ngawi yang sangat bersejarah. Karena di daerah tersebut telah ditemukan fosil tengkorak pitecanthropus erectus yang dahulu ditemukan oleh Eugene Dubois dari Belanda. Di kawasan wisata arkeologi Trinil, Ngawi ini kemungkinan besar masih banyak fosil manusia purba lainnya.

  1. 4.      Wisata Tawun

Tawun merupakan objek wisata yang terletak 7 km sebelah timur Kota Ngawi. Obyek wisata yang berupa pemandian alam ini terletak di Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi.  Mata air pemandian tersebut berasal dari dalam tanah, menyembul dari akar-akar pohon. Inilah yang membuat wisata Tawun sungguh memesona.

  1. 5.      Pesanggrahan Srigati

Pesanggrahan ini terletak di desa Babadan Kecamatan Paron yang berada kurang lebih 12 km arah selatan kota Ngawi. Keberadaannya di kawasan hutan Ketonggo yang masih termasuk wilayah KPH Babadan dan KPH Geneng Kabupaten Ngawi dan lokasinya dapat dicapai dengan menggunakan berbagai jenis kendaraan umum. Di lokasi ini terdapat sebuah petilasan Raja Majapahit yang disebut Pesanggrahan Srigati dimana pada jaman dahulu dipercaya sebagai tempat beristirahatnya Prabu Brawijaya setelah kalah perang melawan Raden Patah pada tahun 1293.

Kuliner di Ngawi

  1. 1.         Tepo Tahu

Tahu tepo terbuat dari beras dan tahu. Masakan khas Ngawi ini terasa sekali harum daun pisangnya ketika disajikan. Penyajiannya menggunakan tahu yang digoreng setengah matang atau sesuai selera, dipotong kecil-kecil. Kemudian diberi potongan daun seledri dan kol atau kubis. Setelah itu diberi potongan tauge atau kecambah pendek dan disiram dengan kecap berbumbu pedas khas Ngawi.

  1. 2.       Nasi Pecel  

Pecel Ngawi biasanya disajikan dengan cara dipincuk, yaitu semacam bungkus segitiga yang terbuat dari daun kemudian disemat dengan lidi bambu di bagian dalamnya. Bumbu pecel Ngawi agak berbeda dari pecel Madiun yang halus. Bumbu pecel khas Ngawi ditumbuk kasar dan rasa pedasnya agak menyengat. Pelengkapnya biasanya terdiri dari rempeyek yang renyah khas Ngawi, telur asin yang masir, dan sambal tumpang.

  1. 3.       Ledre

Ledre adalah jajanan khas Ngawi yang sudah berpuluh bahkan beratus tahun lalu hadir meramaikan kuliner kota tersebut. Bentuk Ledre seperti opak gapit tapi digulung. Rasa pisang raja yang manis sungguh menggoda selera untuk menikmati camilan Ngawi yang renyah ini. Ledre banyak dijual di toko oleh-oleh khas Ngawi.

  1. 4.       Wedang Cemue

Wedang Cemue merupakan minuman khas Ngawi yang mirip dengan sekoteng atau ronde. Wedang cemue sangat cocok jika dijadikan teman makan pisang goreng di kala hujan.

  1. 5.       Sate Ayam

Sate Ayam kha Ngawi memiliki perbedaan dibanding sate ayam dari Madura maupun Ponorogo yang ada di dekat kota tersebut. Di Ngawi, sate ayam dibumbui dengan bumbu kacang yang diberi sedikit kecap. Tidak seperti sate madura yang penuh dengan kecap serta sate Ponorogo yang putih bersih tanpa kecap.

  1. 6.       Kripik Tempe

Kripik tempe sering diidentikkan dengan jajanan khas Malang, padahal awalnya jajanan ini justru dibuat oleh penduduk Ngawi dan Madiun. Keripik Tempe khas Ngawi memiliki cita rasa khas, daun jeruk dan kencurnya sangat terasa dengan dibubuhi sedikit cabe jadi ada aroma pedas serta gurih di sana. //**

FOTO: bentengvanderwijck.wordpress.com