Kabupaten Boyolali

DULU KOTA SUSU SAPI, KINI TUJUAN INVESTASI

Boyolali, Jawa Tengah, sejak dulu dikenal sebagai kota susu yang komoditas susunya mampu membawa nama harum Boyolali di tingkat nasional. Bahkan sampai dibikin lagu “Susu Boyolali” dan menjadikan kabupaten tersebut semakin tenar. Hal ini dikarenakan daerah tersebut merupakan sentra peternakan sapi perah terbesar di Jawa Tengah. Daerah ini pun lantas menjadi tempat percontohan bagi peternak dari luar daerah yang ingin membudidayakan sapi perah.

Sayangnya, perkembangan sapi perah sebagai penghasil susu, belakangan ini mulai menurun. Penurunan produksi susu sapi disebabkan banyaknya peternak sapi perah yang pindah haluan memilih beternak sapi daging. Kondisi ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya mahalnya biaya pakan dan kwalitas susu yang rendah. Dan sekarang, oleh Bupati Boyolali Drs. Seno Samodro, Boyolali dikembangkan menjadi kota tujuan investasi.

SAAT SUSU SAPI JADI PENOPANG EKONOMI BOYOLALI

Memasuki wilayah Boyolali, kita akan menjumpai patung-patung sapi belang-blonteng hitam putih, dengan puting-puting susu di bagian bawah tubuhnya, di berbagai tempat. Itu patung sapi perah yang memang menjadi ikon Kabupaten Boyolali, karena daerah ini dulu merupakan penghasil susu terbesar di Jawa Tengah. Itulah sebabnya, sebagian warga Boyolali merasa sangat berutang budi pada sapi. Dan sebagai rasa terima kasih pada sapi, di hampir semua sudut kota berdiri patung sapi, bukan patung tokoh politik ataupun patung caleg.

candi lawangSEJARAH peternakan sapi di Boyolali dimulai sejak zaman Mataram Kuno. Pada zaman itu masyarakat Boyolali diperkirakan telah mengenal ternak sapi. Salah satu indikasinya, banyak ditemukan arca Lembu Nandini di wilayah ini. Di luar itu, ada pula cerita rakyat yang menunjukkan bahwa peternakan sapi sudah ada di Boyolali sejak lama.

Salah satunya, kisah perjalanan Bupati Semarang Ki Ageng Pandan Arang dari Semarang ke Gunung Jabalakat di Bayat, Klaten, pada abad ke-16 untuk memperdalam ajaran Islam.

Konon, dalam perjalanan itu Ki Ageng singgah di Boyolali untuk melaksanakan sholat. Di situ, dia bertemu seorang pencari rumput yang sangat giat bekerja. ”Untuk apa rumput itu?” tanya Ki Ageng. Si pencari rumput menjawab, untuk makanan sapi. Ki Ageng selanjutnya meramalkan, Boyolali bakal menjadi pusat sapi. Kisah itu setiap HUT Boyolali, 31 Juli, selalu diingatkan pada masyarakat.

Terlepas dari ramalan itu, Boyolali sekarang memang menjadi pusat sapi di Jawa Tengah. Boyolali menghasilkan 35,9 juta liter susu segar per tahun, meskipun penduduknya termasuk malas minum susu. Bayangkan, tingkat konsumsi susu di sana hanya 3,4 kilogram per tahun. Jauh di bawah rata-rata konsumsi susu Jateng yang mencapai 8,1 kilogram.

Sejarah Boyolali, menurut catatan Babad Tanah Jawa, dahulu merupakan tanah kekuasaan Kerajaan Mataram. Saat itu, Boyolali hanyalah hutan belantara, belum banyak penduduk tinggal di sana. Boyolali merupakan daerah strategis, wilayah yang pelintasan dari pesisir utara menuju ke selatan. Jadi, ketika ada musuh yang datang menyerang dari utara mau masuk ke wilayah Mataram bisa dipantau, bahkan dicegat di Boyolali.

Sedangkan asal muasal kata Boyolali diyakini diberi oleh Ki Pandan Arang, tokoh pendiri kota Semarang. Beliau berasal dari Tembayat, sebuah desa di Klaten. Dahulu, Ki Pandan Arang sedang melakukan perjalanan bersama anak istri ke Selatan, beliau jalan terlalu cepat sehingga anak istrinya tertinggal jauh di belakang. Akhirnya, beliau memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu istri dan anaknya.

Beliau rehat di kali Pepe, sambil berucap, ”Baya wis lali wong iki”, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah, “apakah sudah lupa orang-orang ini?” Setelah anak istrinya yang ditunggu sudah datang, kata tersebut diucapkan lagi didepan anak istrinya.

Sehingga akhirnya daerah itu dinamai Boyolali. Namun, kata Boyolali banyak disalah-maknakan menjadi “bajul kesupen” atau “buaya yang lupa”. Orang awam mengira Boyolali terdiri dari dua kata yakni “boyo” dan “lali”. Kalau digabung artinya buaya lupa. Padahal arti yang sebenarnya tidak demikian.

Luas wilayah administratif Kabupaten Boyolali 1.015,10 km2, terbagi menjadi 19 kecamatan dan memiliki 264 kelurahan. Kabupaten Boyolali dipimpin oleh seorang bupati yang menjabat selama lima tahun. Bupati dipilih melalui pemilihan umum daerah atau Pilkada yang diselenggarakan oleh KPU dan dipilih langsung oleh seluruh masyarakat Boyolali.

Kinerja Bupati dibantu oleh jajaran Muspida yang beranggotakan Kepolisian, Kejaksaan, Ketua DPRD, Dandim, Kehakiman. Dinamika politik di Boyolali sangat kondusif ini berkat, kinerja pemerintah daerah dibantu dengan masyarakat.

Secara geografis kabupaten Boyolali dibagi menjadi dua wilayah, yakni dataran tinggi dan dataran rendah. Dataran tinggi terletak di wilayah barat Boyolali yang berdekatan dengan Gunung Merapi dan Merbabu. Kecamatan yang tergolong daerah dataran tinggi adalah Kecamatan Ampel, Kecamatan Selo, Kecamatan Cepogo, dan Musuk.

Sedangkan dataran rendah meliputi daerah utara dan timur yang berbatasan dengan Surakarta. Di bagian utara terdapat waduk Kedungombo yang dahulu pembangunannya menyimpan peristiwa kontroversial. Letak Boyolali berbatasan dengan beberapa kabupaten, seperti di utara berdampingan dengan Ungaran dan Ambarawa, di Selatan berdekatan dengan Sleman dan Klaten, sedangkan di timur berbatasan dengan Surakata dan Kartosuro.

Kontribusi terbesar pemasukan daerah adalah pertanian dan peternakan, apalagi Boyolali bagian selatan yang terkenal subur karena berdampingan dengan Merapi gunung vulkanik paling aktif di dunia. Daerah Selo terkenal dengan sentra pertanian sayuran, sedangkan Cepogo menjadi sentra peternakan sapi perah.

Tanaman musiman selain sayur adalah tembakau, Boyolali juga salah satu penghasil tembakau dataran tinggi dan dataran rendah. Total produksi tembakau per tahun bisa mencapai angka 5500 ton, untuk tembakau jenis rajangan. Sedangkan tembakau daun asap yang dipakai sebagai campuran cerutu setiap tahun total bisa mencapai 2,200 ton.

Sebagian besar wilayah administrasi Boyolali adalah dataran tinggi, dengan hawa yang sejuk, sangat cocok untuk budidaya sapi perah. Ditunjang dengan ketersediaan pakan hijau yang melimpah dan sumber air bersih. Sentra peternakan sapi perah dipusatkan di Kecamatan Cepogo. Selain sapi perah, di Boyolali juga dikenal sebagai sentra peternakan sapi potong, total perkiraan jumlah sapi potong yang ada di Boyolali mencapai 87.725 ekor.

Selain susu segar dan sapi potong, di Boyolali juga terdapat sentra produksi olahan yang dibuat dari susu sapi dan daging sapi. Contohnya, dodol susu, yogurt, dan keju. Produk turunan bertujuan agar susu sapi sepenuhnya bisa dipakai secara maksimal tanpa ada yang dibuang karena kelebihan kuota. Selain olahan susu, juga ada produksi abon yang terbuat dari daging sapi, dan kripik paru. //**

PRO INVESTASI UNTUK ATASI KEMISKINAN

JogloBOYOLALI tidak main-main untuk menggaet investor luar negeri. Bahkan pemerintah sudah menyiapkan lahan 200 hektare di Kecamatan Ampel untuk disulap menjadi kawasan ekonomi khusus. Kelak, pemerintah daerah akan me¬ngembangkan lahan itu menjadi seluas 500 hektare.

Bupati Boyolali Drs. Seno Samodro mengemukakan, pemerintah akan menjadikan kawasan ekonomi khusus itu sebagai kota satelit untuk menampung 13 investor bidang tekstil terpadu asal Korea Selatan. Kecamatan Ampel terpilih menjadi kawasan ekonomi khusus karena berdasar survei se¬banyak 24 daerah kabupaten, Boyolali-lah yang terbaik dan cocok dibuat kota satelit.

Investor Korea Selatan memberikan hibah 4,8 juta dolar AS atau setara Rp 4,4 miliar untuk pembuatan master plan dan detail engineering design untuk kawasan industri baru tersebut. Ka¬wasan industri itu juga akan difokuskan ke sektor industri tekstil dan produk tekstil lain.

Kepemimpinan Bupati Boyolali Drs. Seno Samodro dan Wakil Bupati Agus Purmanto SH dengan visinya mewujudkan pemerintah Kabupaten Boyolali yang lebih sejahtera, berdaya saing dan Pro Investasi menjadi kenyataan. Di bawah kepemimpinan beliau peningkatan penanaman modal baik dari Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Boyolali cukup besar. Berdasarkan data di Badan Penanaman Modal Pelayanan Perijinan Terpadu (BPMP2T) menyebutkan hingga bulan Maret 2013 ini total Investasi di Boyolali mencapai Rp 1.947.952.705.258. Jumlah Invesatasi sebanyak itu terdiri dari PMDN sebesar Rp 1.455.252.805.358 dan PMA sebesar Rp 492.699.900.000.

Dengan peningkatan Investasi yang cukup besar ini sudah barang tentu dampaknya cukup besar pula bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Boyolali karena dengan banyak Investor yang masuk ke Wilayah kabupaten Boyolali ini membuka peluang yang cukup besar lapangan pekerjaan bagi masayakat.

Banyaknya investor yang masuk ke Boyolali secara otomatis banyak berdiri perusahaan yang sekaligus membutuhkan tenaga kerja cukup besar. Dengan kondisi ini angka pengangguran yang ada bisa terserap, yang pada akhirnya bisa mengurangi angka kemiskinan yang ada. Kondisi miskin bisa terjadi karena seseorang tidak memiliki pekerjaan pasti atau baku, sehingga tidak memiliki penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk itu dengan berdirinya beberapa sektor perusahaan baru itu bisa memberikan lapangan pekerjaan baru bagi para pencari kerja.

Untuk menarik investor ini Pemkab Boyolali melalui Badan Penanaman Modal Pelayanan Perijinan Terpadu / BPMP2T dalam melakukan pelayanan kepada Investor mengedepankan kualitas pelayanan demi terciptanya pelayanan perizinan yang lebih efisien, efektif dan berkualitas, dan menghindari pelayanan yang terkesan banyak prosedur dan berbelit-belit sehingga mengakibatkan ketidakpercayaan masyarakat dan biaya tinggi.

Untuk melaksanakan pelayanan tersebut, Pemerintah Kabupaten Boyolali menerapkan pola Pelayanan Terpadu Satu Atap/PTSP, yaitu suatu pola pelayanan perizinan satu pintu yang merupakan bentuk pelayanan yang mengedepankan layanan yang mudah, cepat, transparan dan pasti. Selain penerapan pola PTSP, Kabupaten Boyolali juga gencar melakukan promosi investasi baik di dalam daerah maupun di luar daerah. Sehingga bisa memperkenalkan Kabupaten Boyolali kepada masyarakat luas.

Pemkab Boyolali juga terus meningkatkan pembangunan Infrastruktur jalan di seluruh wilayah Kabupaten Boyolali dengan memprioritsakan anggaran untuk pembangunan infrastruktur tersebut. Jadi keperpihakkan anggaran untuk jalan di Kabupaten Boyolali dari tahun ke tahun terus ditingkatkan.

Sementara untuk penanganan kemiskinan di Kabupaten Boyolali telah dibentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan daerah Kabupaten Boyolali, dengan Surat keputusan Bupati Nomor 054/193 tahun 2013 tertanggal 23 maret 2013. Sebagai gambaran pada tahun 2008 jumlah KK miskin di Kabupaten Boyolali mengalami penurunan yang cukup significan yakni 3,85 % dibandingkan pada tahun 2007. Sedangkan pada tahun 2009 angka kemiskinan mengalami penurunan 2,27 % bila dibandingkan pada tahun 2008.//**

image courtesy of pariwisataboyolali.webs.com

Advertisements

Wisata Boyolali

BOYOLALI terletak di kaki sebelah timur Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang memiliki pemandangan sangat indah dan mempesona. Sejauh mata memandang Anda dapat menikmati sayuran hijau yang luas dan berbukit-bukit serta aktivitas Gunung Merapi yang terlihat dengan jelas aliran lahar dan asapnya. Jalur Solo-Boyolali-Cepogo-Selo-Borobudur (SSB) yang melintasi kedua gunung tersebut dipromosikan menjadi jalur wisata menarik yang menjadi pilihan bagi wisatawan baik domestik maupun negara asing dari kota budaya Surakarta menuju Candi Borobudur untuk melintasi Kabupaten Boyolali. Berikut berbagai tujuan wisata yang ada Boyolali.

• Gunung Merapi dan Gunung Merbabu

Terletak 25 km dari Kota Boyolali ke arah barat. Obyek Wisata Gunung Merapi memiliki pemandangan alam yang sangat indah serta panorama alam yang masih asli. Bagi pecinta alam yang senang berpetualang merupakan jalur terpendek untuk mencapai puncak gunung Merapi. Dengan mendaki puncak Merapi para pendaki dapat melihat matahari terbit “Sun Rise.” Fasilitas: TIC (Tourism Information Centre) Joglo Merapi I, Home Theatre New Selo, Wall Climbing, Lapangan Tenis, Gedung Diklat, Bungalow Tersenyum, Home Stay, Warung Makan/ Makanan Khas Selo, Souvenir. Keindahan Gunung Merapi dan Merbabu ini dapat dinikmati dari Ketep Pass maupun dari New Selo.

• Tlatar Reservoir

Terletak di Dukuh Tlatar, Desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali dengan jarak tempuh dari kota kira-kira 4 km ke arah utara. Nuansa pesona alam terhampar dengan latar belakang budaya desa dan air yang melimpah, aroma kelezatan masakan ikan air tawar yang disajikan baik secara goreng maupun bakar sambil memancing dan duduk santai sungguh merupakan rekreasi menyegarkan di Obyek Wisata Tlatar.

Ini adalah pemandian untuk keluarga dengan sumber air berasal dari mata air. Ada 2 buah pemandian, yaitu Pemandian Umbul Pengilon dan Pemandian Umbul Asem. Selain itu ada beberapa kolam renang rekreasi, termasuk kolam renang berstandar olimpiade.

Fasilitas yang tersedia: rumah makan lesehan, pemancingan, kios cenderamata, kolam renang anak dan dewasa, taman wisata air, lapangan woodball, panggung hiburan setiap menjelang bulan Puasa

• Pemandian Umbul Pengging

Terletak di Banyudono, merupakan wahana wisata kreasi air. Pengging memiliki keunggulan dimana dulunya merupakan tempat mandi keluarga Kasunanan Surakarta (Pemandian Tirto Marto). Sehingga di sekitar Pengging ini masih dapat ditemukan bangunan-bangunan bersejarah yang unik milik Kasunanan Surakarta. Juga terdapat makam salah seorang pujangga Keraton Surakarta yaitu Raden Ngabehi Yosodipuro.

• Air Terjun Kedung Kayang

kedung_kayangObjek wisata ini terletak di Desa Klakah yang berjarak 5 kilometer ke arah barat dari Kecamatan Selo. Daerah wisata ini memiliki pemandangan alam berupa air terjun yang terletak di antara 2 kabupaten, yaitu Boyolali dan Magelang. Air Terjun Kedung Kayang yang memiliki ketinggian 30 meter ini masih alami dan belum dieksploitasi besar-besaran, mengingat jalan menuju ke objek wisata tersebut seperti layaknya jalan di daerah perkampungan. Di sekitar objek wisata terdapat tanah datar yang cocok untuk area perkemahan. Potensial untuk aktivitas camping, hiking, climbing. Fasilitas yang tersedia berupa penginapan/ homestay, perkemahan, dan warung.

• Waduk Badhe

Terletak di Desa Bade Kecamatan Klego sekitar 40 km ke arah utara dari Kota Boyolali, waduk yang memiliki pemandangan alam yang mempesona ini dimanfaatkan sebagai sarana irigasi bagi pertanian dan perikanan bagi masyarakat sekitar. Failitas yang terdapat di sini adalah rumah makan, wisata air, pemancingan, dan area lomba burung.

• Waduk Cengklik

Obyek wisata ini terletak di Desa Ngargorejo dan Sobokerto, Kecamatan Ngemplak ± 20 km ke arah timur laut Kota Boyolali. Dari Bandara Adi Sumarmo sekitar 1,5 km (di sebelah barat bandara tepatnya). Waduk dengan luas genangan 300 ha yang dibangun pada zaman Belanda ini biasa digunakan untuk latihan sky air. Letaknya sangat strategis, berdekatan dengan Bandara Adi Sumarmo, Asrama Haji Donohudan, Monumen POPDA, dan Lapangan Golf. Fasilitas: wisata air (water resort), pemancingan (fishing area), rumah makan lesehan (floating restaurant).

• Waduk Kedung Ombo

Obyek wisata yang terletak di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, sekitar 50 km ke arah utara Kota Boyolali ini menjanjikan rekreasi hutan dan air yang menyegarkan serta pemancingan. Fasilitas: bumi perkemahan, hutan wisata, tempat pemancingan, rumah makan apung, wisata air.//**

image courtesy of wisatawonolelo.wordpress.com