Sukses Berawal dari Hobi

Ketika hobi dijadikan sebuah bisnis dan itu didorong oleh kemauan yang besar, maka hobi yang ada akan mendorong kita untuk menjadi sukses. Sudah banyak fakta, orang sukses berawal dari hobi yang kemudian ada kemauan dalam membangun bisnis itu. Seseorang yang hobi memasak akan menjadi sukses memiliki rumah makan ketika diawali dengan kemauan menjadikan hobi menjadi bisnis. Seorang penulis bisa sukses, berawal dari hobinya yang suka menulis. Seorang pesepakbola bisa jadi terkenal berawal dari hobinya yang suka main bola yang kemudian dari hobi itu dijadikan sebuah bisnis dengan mendirikan sekolah sepakbola. Di bawah ini dua sosok wanita yang berawal dari hobi menggambar kemudian bisa menjadi desainer busana yang cukup sukses.

Lily Bordir & Butik
Membordir Laba dari Bisnis Bordir Busana

lillySENI hias bordir merupakan bagian dari salah satu teknik menjahit. Tak hanya sekadar menempelkan benang pada permukaan kain, teknik membordir juga membutuhkan bakat, kecintaan, dan keahlian tersendiri untuk merajut beragam warna benang yang dipadu membentuk motif tertentu.

Berbekal bakat dan kecintaan pada seni hias bordir itulah yang membuat Lily Dharma (58) mantap merintis usaha kebaya bordir pada tahun 1972. Bagi ibu lima anak ini, kegiatan menjahit dan menggambar yang ditekuni sejak SD bukan sekadar hobi untuk mengisi waktu luang. Sejak kecil Lily sudah bercita-cita keahliannya tersebut bisa dijadikan mata pencaharian. Keinginan menjadi penjahit tercetus karena sering melihat kakaknya, Murniati yang membuka jahitan di rumah.

Seringnya melihat kakaknya bekerja, dan rajin praktik, ketrampilan menjahit Lily berkembang dengan cepat. Tak heran ketika duduk di kelas 3 SD, ia sudah bisa membuat baju sendiri dengan model yang sederhana. Di usia 14 tahun ia bisa membayar sekolah sendiri lewat order pesanan membuat baju dari teman-temannya.

Yakin dengan keahlian dan bakat yang dimiliki, wanita berdarah Minang ini nemilih melanjutkan sekolah di SKKA, sekolah kejuruan. Keinginan Lely untuk menjadi pengusaha di bidang busana semakin kuat. Setelah lulus sekolah, dengan bermodalkan satu mesin jahit ia membuka usaha jahitan.

Pesanan jahitan rupanya tak mengecewakan. Lily Dharma pun lantas menjadikan rumahnya di Jl. Hidup Baru Raya 41 Cipete Jakarta Selatan sebagai tempat usaha. Tak lama membuka usaha bordir, banyak pelanggan yang memintanya memproduksi baju jadi. Maka istri Jejen ini pun mengembangkan usaha baju muslim.

Tak ingin hanya membuat baju muslim dengan model itu-itu saja, Lily memutar otaknya untuk menciptakan kreasi baru. Kekaguman yang tinggi pada motif bordir membuat Lily memodifikasi busana muslim dan kebayanya dengan jahitan bordir. Sejak itu, bordir menjadi ciri khasnya. Kini, bukan hanya baju muslim yang dibuat, kebaya dan busana pengantinpun digarapnya. Banyak tokoh penting negeri ini yang menjadi pelanggannya, seperti Sutiyoso, Sutan Batugana, dll.

Saat ini, Lily mempekerjakan 12 orang karyawan. Pesanan makin mengalir. Pembuatan busana bordirnya kini tak cuma dipasarkan di butiknya di Cipete, tetapi juga di dua cabang butiknya, di Bandung dan Pekanbaru. Untuk kebaya dengan motif bordir, ia memberikan harga antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. “Juga menerima pesanan lho,” tambahnya menutup wawancara dengan Nuansa. /**

Eugene Effectes
Tampil Muda dengan Harajuku

eugeneJIKA Anda ditanya, apa sih harajuku? Anda mungkin akan langsung menjawab: fashion Jepang! Anda tidak salah. Tapi tidak 100% benar. Karena harajuku sebenarnya adalah sebuah nama tempat di Shibuya, Tokyo, salah satu pusat fashion di Jepang. Orang-orang Jepang pecinta fashion dari berbagai wilayah sering berkumpul di tempat ini. Ada berbagai macam gaya berbusana yang dipakai oleh orang-orang di sepanjang jalan, misalnya lolita, decora, cosplayer, dan decora. Nah, yang menarik adalah gaya muda-mudi disini tidak meniru tren fashion khusus. Mereka memadukan banyak sekali fashion hingga membetuk tren fashion harajuku yang kita kenal sekarang.

Sekarang desain fashion gaya harajuku sudah dibuat di Indonesia. “Dengan harajuku, Anda bisa tampil lebih muda dari usia sebenarnya,” demikian ditawarkan Eugenea Fitri Anggra Sora (31), atau sering dipanggin Egin, yang mempunyai merk Eugene Effectes.

Membangun Eugene Effectes bukanlah hal yang mudah bagi Egin. Lulus sekolah desainer Egin langsung bekerja di berbagai perusahaan. Karena memang sejak awal ingin mempunyai usaha sendiri, ibu dua anak ini beberapa kali pindah kerja. Tujuannya untuk mencyari pengalaman.

Keinginan untuk membangun usaha sendiri pun tercapai. Pada tahun 2008, ketika putri keduanya lahir, ia langsung berhenti bekerja dan mulai menguji-coba pola-pola yang sudah dikembangkan. “Banyak yang cocok dengan pola yang saya buat,” katanya.

Langkah selanjutnya adalah mendirikan butik di Bintaro Jaya Sektor 9 dan tak lupa mengikuti berbagai pameran, di dalam maupun di luar negeri. Hasilnya pun mulai kelihatan. Reseler datang dengan sendirinya, baik dari Indonesia maupun dari Negara tetangga. Harganya? Terjangkau lah. Kerudung sekitar Rp100 ribuan, baju Rp300ribuan. “Sekarang sedang bikin yang low, untuk konsumen menengah ke bawah,” ujarnya.

“Saya meniti karir benar-benar dari bawah. Bermula dari keinginan yang kuat, sekolah desainer, bekerja di berbagai perusahaan untuk menimba pengalaman, menjadi penjahit rumahan, hingga sekarang saya sudah mempunyai beberapa karyawan yang bekerja pabriknya yang berada di Bandung,” ujar Egin yang sejak SD memang sudah hobi menggambar ini.

Busana harajuku buatan Egin bukanlah busana muslim, tetapi busana sopan atau busana tertutup. Jika dipadukan dengan kerudung maka busana harajuku buatan Egin akan menjadi busana muslim yang elegan. Tanpa jilbab, busana ini juga pantas dipakai.

Dengan cutting mengikuti kaidah Islam, Egin ingin menunjukkan sisi lain dari baju muslim, bahwa kendati berbusana muslim, para wanita tetap dapat terlihat cantik mempesona. Sebagai seorang perancang busana, fashion stylish, dan desain kreatif, Egin ingin menjadi caracter adiffrent jilbab yang punya gaya sendiri. “Ya, inilah eugene effectes,” ujarnya. /**

Advertisements

Nanida Jenahara Nasution

BERKEMBANGNYA fashion muslimah di Indonesia merupakan sebuah hal yang menarik untuk diperhatikan. Semakin fashionable-nya para hijabers, dan bagaimana kreativitas kaum hawa  dalam memadu-padankan pakaian patut diacungi jempol.

Jenahara Nasution, anak kelima pasangan Ida Royani dan Keenan Nasution, dapat Anda jadikan kiblat fashion yang terlihat stronger, edgier, dan berbeda dari tren yang cukup dominan saat ini, seperti bentuk drape pada pakaian serta pemilihan warna nude dan pastel yang memperlihatkan feminitas serta sisi lembut wanita. Tentu, tidak ada yang salah dengan tren tersebut dan semuanya kembali ke selera dan personal style masing-masing individu.

Sempat mengambil sekolah fashion di Susan Budiharjo, Jehan berhasil membuka butik di tahun 2011. Jehan yang juga pendiri sekaligus ketua komunitas Hijabers Community ini melihat pasar yang menjanjikan untuk busana muslim. Ia pun mewujudkan ide-ide fashionnya, bersama Bayi Nurhayati, putri seniman Betawi, Benyamin. Saat ini butik Jenahara sudah ada di Jakarta, Bandung, Samarinda, Makassar dan Jogja.

Soal usahanya ini, awalnya Jehan tak memberitahukan kepada sang ibunda. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa membuat label busana muslim sendiri, tanpa harus membawa nama ibunya, Ida Royani, yang memang terkenal sebagai perancang busana muslim ternama. Padahal kesenangan Jehan pada dunia desain bisa jadi memang bakat turunan dari Ibunya. Sejak kecil ia sering menemani sang bunda belanja kain ke toko bahan atau penjahit. Di matanya saat itu, pekerjaan sebagai desainer sangat seru.

Namun belakangan Jehan pun juga membuat produk second line bekerjasama dengan sang bunda yang diberi nama ‘Jenahara by Ida Royani’. Khusus untuk label ini ia menyerahkan sang bunda untuk yang mendesain. Selain produk ini Jehan juga memiliki dua label lain, yaitu merk ‘Jenahara Black Label’ dan ‘Jenahara’. Merk ‘Jenahara Black Label’ yang berupa desain high end, Jehan menyalurkan idealismenya sebagai seorang desainer. Sementara merk ‘Jenahara’ yang terdiri dari koleksi ready to wear diproduksi secara massal.

Walau banyak yang bilang desain baju karyanya mahal, tapi ia menjamin jahitannya sangat rapih. Untuk masalah ini, ia memang belajar dari sang bunda yang selalu mengatakan, bahwa baju jangan hanya sekedar bagus modelnya saja. Tapi detail dan jahitannya juga harus diperhatikan.

Saat ini Jehan sudah memiliki 20 orang penjahit, di mana penjahit untuk bahan kaos dan katun, ia bedakan.  Karena menjahit bahan kaos memang lebih susah. Di luar dugaan Jehan, ternyata progress bisnis yang ia tekuni ini sangat pesat. Dan ia pun makin optimis akan potensi desain label karyanya di tahun-tahun mendatang. Karena disadari, bahwa Indonesia memiliki masyarakat muslim yang banyak, dan belakangan ini banyak anak muda yang modern, stylish, dan keren, tapi tetap menggunakan hijab.

Tema terbaru dari Jenahara adalah Skyscraper “Yang menginspirasi saya adalah gedung-gedung bertingkat di New York” jelas Jenahara mengenai penggunaan dominasi warna hitam,merah dan krem dalam koleksinya kali ini. //**

Aprilia Islamia: If I Want Everything, I Will Get Nothing

aprilia1

SAAT ini industri busana muslim kian berkembang, khususnya di Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia kerap dijadikan sebagai barometer fashion muslim dunia. Itu dibuktikan dengan hadirnya desainer-desainer busana muslim serta buku-buku yang membahas fashion muslim.

Islamia Aprilia Waskito (20 tahun), tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sejak 2011 silam putri ketiga dari ayah H. Mochammad Sidik Waskito, Bsc dan Ibu Hj. Lilik Rachmawati ini telah mantap menggeluti busana muslim dan telah pula memperoleh berbagai penghargaan. Diantaranya adalah penghargaan dalam Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2013, Aprilia termasuk sebagai 15 designer busana muslim ternama Indonesia. Gadis kelahiran 6 April 1993 ini pada tahun 2012 juga memperoleh awards 2nd Best Tenant periode January-June 2012 at MOSHAICT dan 2nd Best Tenant periode July-December 2012 at MOSHAICT.

Dan untuk mendukung profesinya sebagai desainer busana muslim, Islamia Aprilia juga menulis buku berjudul Moslema Style. Dalam buku ini, Mia –demikian biasa disapa– memberikan beberapa gaya berbusana yang sesuai dengan karakter rancangannya yang girlie, vintage, dan romantic. Selain itu, ada juga sketsa-sketsa rancangannya serta pola yang bisa dicontoh untuk membuat blazer dan rok.

Mengenai profesi sebagai Hijab Stylist, Mia yakin bahwa profesi ini akan terus berkembang sebagaimana Fashion, dan masyarakat akan terus menghargai seni kreasi kerudung ini. Disamping itu juga karena muslimah Indonesia makin menyadari pentingnya menutup aurat atau kerudung sebagai kewajiban, sehingga para muslimah juga akan menggunakan kreasi jilbab.

aprilia2Dan agar para perempuan muslimah dalam berpakaian menutupi aurat tetap bisa tampil gaya dan modis, merek busana muslim Aprilia berusaha menghadirkan koleksi yang modern, mengikuti tren, tetapi masih sesuai dengan syariat ajaran agama Islam. Koleksi busana muslim Aprilia banyak diburu oleh para hijabers, design yang cantik, bahan yang  nyaman dipakai, serta berbagai pilihan warna menjadi andalan. Koleksi Aprilia meliputi dress, blouse, pants, skirt, veil, dan juga accessories. Aprilia Colletctions mengutamakan  kualitas, cutting dan detail yang berkelas.

Kepada NUANSA Mia mengatakan, selain sibuk dengan brand Aprilia yang sekarang konsen di busana-busana pesta Ready to wear dan Haute Couture (premium), dia juga ingin meluaskan kategori brand Aprilia dengan Aprilia Bridal (busana pengantin), Aprilia Casual-ready to wear (busana sehari-hari), Aprilia Kidz dan Aprilia Men. “Saya juga baru membuat brand  Drape, yang menyediakan dekorasi-dekorasi rumah dan pelaminan pernikahan,” paparnya.

Ke depan, gadis penghobi traveling dan baca buku ini ingin mengembangkan bisnisnya agar lebih dikenal masyarakat, menjadi desainer yang bisa membuat bangga bangsa Indonesia di mata dunia. “Saya berharap bisa berhasil juga dalam usaha-usaha atau bisnis yang sedang proses maupun yang baru diangan-angan, agar bisa lebih banyak lagi menyerap tenaga kerja. Bahkan bisnis properti pun saya juga tertarik dan mungkin suatu saat saya akan mencobanya. Tetapi saya akan lakukan ini semua dengan step by step karena motto saya, if I want everything, I will get nothing. Insya Alloh. //**

Kerudung, Hijab, atau Jilbab?

ilustrasi

oleh: Farida Naura

Ukhti… Seringkali kita mendengar istilah berkerudung, berhijab, maupun berjilbab, namun apakah itu semua sama ? Apakah terbersit dalam benak kita, apakah kerudung, hijab, maupun jilbab adalah sesuatu yang sama saja ?

Mungkin sekilas kita katakan itu adalah sama saja, karena toh sama-sama untuk menutup “sesuatu” (aurat). Iya kan? Hmm… benarkah demikian ? Yuuk kita telusuri lebih jauh lagi mengenai kerudung, hijab, dan jilbab.

KERUDUNG

Kerudung berasal dari bahasa Indonesia, sedangkan dalam bahasa Arab disebut “Khimar” yang artinya tutup/tudung yang menutup kepala, leher, sampai dada wanita. Sekilas kerudung memiliki definisi yang hampir sama dengan jilbab, tetapi dalam kenyataannya tidak sama. Jilbab memiliki arti yang lebih luas, karena jilbab dapat diartikan sebagai busana muslimah yang menjadi satu corak, yaitu busana yang menutup seluruh tubuh, mulai dari atas kepala sampai kedua telapak kakinya yang jadi satu (menyatu) tanpa menggunakan kerudung lagi. Sedangkan khimar (kerudung) itu hanya tudung yang menutupi kepala hingga dada saja.

HIJAB

Hijab berasal dari kata “hajaban” yang artinya menutupi. Hijab menurut Al Quran artinya penutup secara umum. Suatu ketika, sahabat nabi meminta suatu barang kepada istri Nabi yang berada dibalik hijab. Sehingga dapat diartikan secara umum bahwa hijab bisa berupa tirai pembatas dan sejenisnya. Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yang menutupi/menghalangi dirinya. Jadi, setiap JILBAB adalah HIJAB, tetapi tidak semua HIJAB itu berarti JILBAB.

JILBAB

Jilbab berasal dari bahasa Arab, yang jamaknya “jalaabiib” artinya pakaian yang lapang/luas. Pengertiannya yaitu pakaian yang lapang dan dapat menutup aurat wanita, kecuali muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan saja yang ditampakkan, sesuai dengan yang tertera dalam Al Quran surah Al-Ahzab ayat 59 ”… hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…”.
Sedangkan menurut terminologi, dalam kamus yang dianggap standar dalam Bahasa Arab, jilbab berarti selendang, atau pakaian lebar yang dipakai wanita untuk menutupi kepada, dada dan bagian belakang tubuhnya.

Gimana ? Sudah jelas kan perbedaannya ?

So, dapat kita simpulkan bahwa JILBAB pada umumnya adalah PAKAIAN yang lebar, longgar, dan menutupi seluruh bagian tubuh, sebagaimana disimpulkan oleh Al Qurthuby: Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Jadi, PAKAIAN yang masih belum longgar dan belum menutup tubuh berarti BUKAN JILBAB. Yuk evaluasi diri, yang kita pakai sehari-hari itu apakah benar JILBAB atau sekedar “pembalut” tubuh yang dilengkapi KERUDUNG/KHIMAR ?