Presiden Jokowi: “Negara Lain Lebih Takut kepada Kita”

Presiden Joko Widodo Beserta Jajaran Pengurus LDII, Istana Negara

Menyambut pelaksanaan MEA yang dicanangkan mulai Januari 2015 membuat Negara-negara ASEAN, Pada pilar pertama cetak biru MEA, dinyatakan bahwa: ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, aliran modal yang lebih bebas dan tenaga kerja terampil dalam berbagai sektor termaksud sektor pariwisata. Bila tidak siap, maka aliran bebas barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil terlihat sebagai ancaman daripada peluang. MEA dalam upaya peningkatan kemakmuran ekonomi dilakukan melalui penguatan daya saing untuk memenangkan kompetisi global, melalui tahapan integrasi pasar domestik sebagai pasar tunggal dan integrasi basis produksi sehingga pada akhirnya mendorong peningkatan daya saing dalam menembus pasar global.

Siap tidak siap, Negara-negara ASEAN harus siap dalam menghadapi arus bebas tenaga kerja terampil dari Negara tetangganya. Untuk itulah pentingnya peningkatan SDM agar mampu bersaing dalam mengisi lapangan kerja di berbagai sector. Menyikapi itu, Presiden Jokowi cukup yakin bahwa tenaga kerja Indonesia sebenarnya sudah cukup mampu bersaing dengan tenaga kerja dari Negara lain. Bahkan banyak para ahli dari Indonesia yang bekerja di Negara-negara maju serta Negara berkembang dalam membangun pertumbuhan Negara mereka. “justru sebenarnya mereka (Negara lain) lebih takut kepada kita karena kita memiliki tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang. Hal itu tentu menjadi perhatian khusus dalam peningkatan SDM di Negara mereka.”

Terkait hal itu, Presiden Jokowi mengapresiasi langkah-langkah LDII sebagai salah satu ormas Islam terbesar yang turut berperan aktif dalam pembinaan SDM dan peningkatan dan pemberdayaan UKM guna menghadapi MEA. Apa yang dilakukan LDII merupakan salahsatu kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa Indonesia. Hal ini disampaikan ketika Presiden Jokowi menerima jajaran pengurus DPP LDII di Istana Merdeka, Kamis (08/01) kemarin. Didampingi Menteri Sekretaris Negara Mensesneg Pratikno, dan Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Machasin.

Usai pertemuan, Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam menyampaikan butir-butir pertemuan dengan Presiden Jokowi antara lain LDII sudah melakukan kegiatan peningkatan SDM baik formal maupun informal bekerjasama dengan ormas-ormas Islam lain serta instansi pemerintah terkait MEA 2015. Kemudian LDII mendorong agar pemerintah turut membantu penguatan ekonomi syariah. Karena sejatinya ekonomi syariah, bukan saja atribut Islam, tapi atribut semua umat. Karena konsep ekonomi syariah merupakan yang adil. Terkait radikalisme yang marak belakangan ini, LDII bekerjasama dengan PBNU berencana menyelenggarakan pendidikan deradikalisasi. Karena radikalisme ini tidak cocok di Indonesia yang berfalsafahkan Pancasila. LDII sangat toleran terhadap kemajemukan yang ada, karena itu kerukunan antar umat beragama penting dijaga dalam kerangka NKRI. “Dalam Hal ini Presiden Jokowi mendukung sekali apa yang sudah dilakukan LDII”, imbuh Syam.

Mendukung apa yang disampaikan Abdullah Syam, Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo menegaskan bahwa dakwah yang dilakukan LDII merupakan dakwah bil haal, dakwah yang bersifat solusi. Kegiatan-kegiatan yang LDII lakukan merupakan gabungan dari penguasaan ilmu dan pengamalan ilmu yang terkait dengan persoalan kemasyarakatan. Misal, peningkatan religiusitas di Indonesia, bagaimana kita meningkatkan kerukunan intra maupun inter umat beragama. Dalam hal pembinaan SDM, LDII concern membina mulai sejak usia dini hingga dewasa. Sehingga bisa terwujud tri sukses generus yang mandiri.

Di akhir pertemuan, LDII berencana menggelar seminar atau semacam lokakarya Ekonomi Syariah dan memohon agar Presiden Jokowi dapat menghadiri acara tersebut. [eko]

Advertisements

Jokowi – Prabowo

oleh: Ir. H. Teddy Suratmadji, MSc

Judul tulisan ini bukan karena urut alfabet dimana “J” disebut duluan daripada “P”. Bukan pula diurut umur yang muda disebut duluan, atau berdasarkan berat badan yang ramping disebut duluan. Judul seperti itu karena Capres Joko Widodo datang ke Rapimnas LDII 2014 duluan, baru kemudian Capres Prabowo Subianto belakangan.

Di Rapimnas13-15 Mei 2014, DPP LDII berhasil menghadirkan kedua Capres di hari pertama di sore hari dan di hari kedua di malam hari. Sebuah upaya yang patut diacungi jempol karena saat itu adalah hari-hari genting penentuan mitra koalisi.

Tulisan ini bukan akan mengulas curriculum vitae atau membahas visi-misi keduanya melainkan hendak menjelaskan untuk apa LDII mengumpulkan para pengurus organisasi dari seluruh tanah air kalau hanya untuk mendengarkan visi-misi para Capres? Bukankah LDII ormas Islam yang tidak mengurusi politik praktis?

LDII menyatakan diri sebagai ormas yang “Netral-Aktif”. Netral artinya tidak memihak siapapun. Aktif artinya tidak golput alias harus memilih.

Kenetralan LDII dibuktikan dengan kehadiran kedua Capres di Rapimnas LDII 2014. Kalau LDII tidak netral, tidak mungkin LDII menghadirkan keduanya. Sebaliknya kalau salah satu diantara keduanya tahu bahwa LDII tidak netral, dia juga mungkin tidak akan datang di Rapimnas LDII.

LDII memutuskan untuk netral karena misi LDII adalah dakwah, dan dakwah itu perlu diterima oleh segala kalangan. Bayangkan kalau LDII tidak netral. Sudah tentu ada segelintir orang merasa dipilih-kasihi: mengapa LDII memihak sono dan bukan sini?

LDII tidak sendirian. Muhammadiyah sebagai ormas Islam besar juga menyatakan netral. Bahkan ruling party PD juga sampai tulisan ini naik cetak masih menyatakan netral.

Sikap LDII untuk netral itu mendatangkan hikmah. Pertama, karena kenetralannya LDII tidak bisa ikut kampanye baik sekedar menggunakan atribut LDII apalagi menampilkan pengurus LDII. Artinya, di tengah hiruk-pikuknya massa kampanye, warga LDII mah tetap istiqomah saja dengan aktifitas dakwahnya. Kedua,kelak dengan yang kalah hubungan tetap baik, apalagi dengan yang menang.

Lalu aktifnya dimana? Bukankah “aktif” itu kontradiktif dengan “netral”?

Aktifnya warga LDII adalah di TPS, di bilik suara. “Aktif ghoib”, aktif manakala tidak ada seorangpun yang melihat. Dengan mengucapkan Bismillaah, pilihan dijatuhkan dengan menusuk kertas suara. Josss..!!

Agar warga LDII tidak golput itulah maka diselenggarakan Rapimnas 2014, dimana DPP LDII memfasilitasi untuk mempertemukan para Pimpinan DPW Provinsi dan DPD Kabupaten-Kota dari seluruh Indonesia dengan para Capres. Sebab bagaimana warga LDII di daerah-daerah mau menetapkan pilihan jika tidak pernah muwajjahah bertatap wajah? Idealnya, setidaknya Pimpinan dari ratusan PC dan ribuan PAC hadir, tapi mana ada gedung yang muat?

Para Capres Jokowi-Prabowo adalah putera-putera terbaik pilihan rakyat Indonesia. Setelah melewati proses yang luar biasa ketatnya, dan menyisihkan banyakputera-putera Indonesia lainnya, hanya keduanya itulah yang lolos. Didukung 4 parpol (PDIP-Nasdem-PKB-Hanura) dan 6 parpol (Gerindra-PPP-PAN-PKS-PG-PBB) yang -di atas kertas- ekivalen dengan dukungan masing-masing 49,9 juta dan 61,1 juta suara, artinya, ada 100 juta lebih rakyat di belakang keduanya. Vox populi, vox dei– suara rakyat, suara Tuhan. Wowww..!!

Nah, lewat para Pimpinan DPW dan DPD itulah gesture, body language, penampilan, dan visi-misi keduanya bisa dijelaskan kepada warga LDII di seluruh Indonesia. Jadi apalagi yang diragukan saat di bilik suara ketika memilih sesuai nurani? Josssss..!!