Peluang dan Tantangan AEC 2015, Are You Ready?

Anda tentu sudah sering mendengar tentang AEC (ASEAN Economic Community), atau yang dalam bahasa Indonesia disebut MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Tetapi barangkali ada diantara pembaca yang masih bingung, apa sih AEC atau MEA itu? Secara sederhana, AEC atau MEA dapat diartikan sebagai sebuah kesepakatan negara-negara ASEAN tentang kerjasama di bidang tenaga kerja, dimana semua masyarakat di negara ASEAN dapat bekerja lintas negara se-ASEAN dengan mudah tanpa membutuhkan surat ijin atau visa kerja. Setiap masyarakat ASEAN berhak melamar pekerjaan di negara kawasan ASEAN dengan syarat yang sama. Contoh: Warga negara Vietnam melamar pekerjaan menjadi pegawai supermarket di Indonesia dengan syarat yang sama dengan masyarakat Indonesia. Pertanyaannya sekarang, siapkah kita bersaing dengan mereka?

Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Masyarakat Indonesia yang sejak lama bermimpi ingin bekerja di luar negeri, seperti Malaysia atau Singapura, sebentar lagi bakal menjadi kenyataan. Tak perlu ijin khusus atau visa bekerja. Tapi apakah benar akan semudah itu? Sebelum menjawabnya, marilah kita coba analisa peluang tersebut berdasarkan pengalaman kita selama ini. Manakah yang lebih banyak, Indonesia mengirim tenaga kerja level menengah ke bawah ataukah tenaga profesional? Dan jika ada warga negara asing yang tinggal di Indonesia, pekerjaan apakah yang paling banyak mereka dapatkan di negara ini? Dengan menjawab dua pertanyaan di atas, kita tahu apakah AEC atau MEA ini lebih banyak memberikan peluang kepada anak negeri ini, ataukah justru membuat peluang yang ada hilang disambar orang.

INDONESIA, dengan luas wilayah mencapai 5.193.250 km² (mencakup daratan dan lautan), dan berlimpahnya sumber daya alam (SDA), sebenarnya kita memiliki banyak sekali potensi yang “tertidur” dan belum dikelola dengan efektif, efisien dan maksimal.

Potensi yang “tertidur” tersebut selama ini belum dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi masyarakat Indonesia sendiri. Kurangnya daya juang, pendidikan (knowledge) dan rendahnya kreativitas membuat rakyat kita lebih banyak menjual SDA basic yang belum dikelola lebih lanjut ke luar negeri.

Masuknya warga negara Asing yang ber-mindset entrepreneurial ke Indonesia akan membuat kekayaan alam kita dikelola oleh mereka. Memang hal itu otomatis akan membuat banyak lapangan kerja baru yang bermunculan, tapi yang ironi bangsa kita bekerja pada mereka. Bukankah itu artinya kita menjadi tamu di rumah sendiri?.

Rasa nasionalisme rakyat kita yang rendah juga dapat menjadi problem tersendiri di tahun 2015. Secara logika sederhana pendapat ini dapat dibuktikan. Jika ada dua pelamar di perusahaan Indonesia, yang satu warga negara Singapura dan satunya adalah warga negara kita sendiri, manakah yang lebih diutamakan? Manakah yang akan menempati posisi lebih tinggi? Jawabannya: orang asing yang akan diutamakan.

Hal ini disebabkan ada sebuah perasaan bangga dapat mempekerjakan orang asing tersebut. Hal ini tidak akan ditemukan di negara maju. Mereka akan lebih mengutamakan pekerjaan yang baik untuk saudara se-negara-nya dan memberikan pekerjaan “berbahaya” atau beresiko tinggi kepada warga negara asing.

Problem selanjutnya yang akan mendera negara ini pada AEC2015 juga disebabkan kurangnya kualitas dan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Problem yang paling terlihat jelas adalah dari faktor bahasa, pengetahuan dan teknologi.

Mayoritas penduduk Indonesia yang hampir berjumlah 250 juta ini memiliki kendala di bahasa asing seperti Bahasa Inggris dan Mandarin. Padahal ketika kita bicara tentang AEC maka mau tidak mau bahasa akan menjadi sebuah “kebutuhan” mendasar untuk berada di posisi penting sebuah perusahaan. Dan sayangnya mayoritas rakyat kita belum siap untuk hal itu.

Dari sisi pengetahuan dan teknologi, tidak semua rakyat Indonesia “melek” teknologi, bahkan di beberapa daerah pedalaman Indonesia masih ada masyarakat yang buta huruf. Lalu bagaimanakah nasib bangsa ini menghadapi AEC?

Dengan kondisi tanpa AEC saja jumlah angka pengangguran di Indonesia masih tinggi, bagaimanakah setelah AEC? Apakah Indonesia akan menjadi tamu di rumahnya sendiri?

Sebenarnya problem ini bisa teratasi dengan baik jika kita mampu mengembangkan nasionalisme kita, meningkatkan kemampuan kita, dan rakyat Indonesia dapat kompak bersatu mempromosikan hal-hal yang bisa mendatangkan keuntungan bagi Indonesia pada saat berlakunya AEC tahun 2015, misalnya industri Pariwisata.

Beberapa waktu yang lalu Direktorat Jenderal Kerjasama Asean Kementrian Luar Negeri bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaksanakan kegiatan sosialisasi menuju Masyarakat Ekonomi Asean 2015 bertempat di Gedung Grhadika Bhakti Praja, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang.

Beberapa point penting yang disampaikan, dibahas dan didiskusikan dalam forum tersebut adalah:

1. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean 2015 tersebut bisa menjadi tantangan, peluang dan ancaman, bergantung kesiapan seluruh stake holder suatu negara, sehingga Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum tersebut sebagai tantangan dan peluang dengan meningkatkan daya saing, dengan menjadi “pemain” bukan “penonton.”

2. Beberapa hal yang menjadi kendala bagi Indonesia adalah lemahnya daya saing, infrastruktur dan konektivitas antar daerah;

3. Jumlah usaha kecil dan menengah di Jawa Tengah sebanyak 7,8 juta, dengan 3,6 juta merupakan UKM non-pertanian. Jawa Tengah juga banyak memiliki cluster-cluster unggulan sehingga Pemerintah Daerah seyogyanya senantiasa mendorong pertumbuhan dan daya saingnya;

4. Beberapa hambatan Indonesia ekspansi ke negara Asean yang lain adalah kurangnya upaya promosi, sejumlah produk Indonesia identik dengan produk negara lain, kurangnya kompetensi tenaga kerja dan fluktuasi nilai tukar mata uang;

5. Beberapa peluang Indonesia ekspansi ke negara Asean yang lain adalah sumberdaya yang melimpah, kejenuhan terhadap barang impor murah dari China, dan upah tenaga yang masih relatif murah. Peluang tersebut antara lain industri perikanan, makanan dan minuman, otomotif, industri kreatif, industri militer, industri perlengkapan olah raga, sektor konstruksi, sektor ketenagakerjaan, pengolahan hasil laut/perikanan, sektor kesehatan, sektor pertanian dan sektor energi;

6. Beberapa komoditi ekspor Indonesia ke Singapura : minyak dan gas, bahan perhiasan dari logam mulia, suku cadang pesawat terbang, kertas, minyak kelapa sawit mentah, sayur dan buah-buahan segar, produk pertanian (keladi, talas, ubi kayu), produk perkebunan (kopi, kakao, jambu mente), ikan hias, produk makanan olahan, produk alas kaki, produk spa / aromatherapy, produk kosmetik, produk kerajinan, produk furniture, produk perikanan dan peralatan hotel;

7. Beberapa komoditi ekspor Indonesia ke Filipina : pupuk urea, komponen dan suku cadang kendaraan bermotor, helmet, produk olahan plastik, makanan minuman (kopi, teh, kakao, kecap manis, coklat powder, tepung terigu, meises), kendaraan bermotor (Toyota Innova dan Avanza), batubara, nikel, pasir kwarsa, dan furniture;

8. Beberapa komoditi ekspor Indonesia ke Brunei Darussalam : beras, sayur mayur, buah-buahan, pupuk, traktor, dokter, perawat, produk olahan hasil laut/ikan/air tawar, tenaga kerja dan sektor konstruksi. /**

Masih Banyak Orang Indonesia Tak Tahu MEA 2015

SOSIALISASI Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 belum merata di semua level masyarakat. Bahkan, 77% orang Indonesia tidak tahu tentang MEA 2015. Demikian yang diungkapkan Shinta Widjaja Kamdani, CEO Sintesa Group, dalam acara South-East Asia Summit 2014 yang digelar The Economist beberapa waktu lalu.

Menurutnya, untuk bisa memiliki daya saing yang baik, semua lapisan masyarakat perlu memahami betul konsekuensi dari MEA. Langkah-langkah aktif pun mulai dilakukan pemerintah dengan merilis iklan yang belakangan ini muncul di layar televisi. Sosialisasi juga perlu dilakukan terhadap sektor swasta dan UKM yang bisa terdampak langsung.

“Pemahaman perusahaan-perusahaan swasta tentang MEA juga masih terbatas, harus ada forum bagi perusahaan-perusahaan di ASEAN untuk meningkatkan pemahaman serta kerjasama yang baik,” ungkap Shinta.

Chaly MahSelain itu, ia juga menyoroti mindset orang kebanyakan terkait tantangan MEA terhadap usaha kecil dan menengah. Seharusnya, pola pikir yang dibentuk bukanlah cara bagaimana mengamankan UKM dari kompetisi (proteksionisme), namun mengolah daya saing melalui pengembangan kompetensi dan capacity building. Pemerintah pun diharapkan meningkatkan peranserta sektor swasta untuk mengantisipasi berbagai perubahaan yang terjadi seiring MEA 2015.

Di sisi lain, Chaly Mah, CEO Deloitte Asia Tenggara, mengatakan terbentuknya komunitas ekonomi ASEAN adalah peluang untuk menciptakan pasar yang lebih besar. Kerjasama antarnegara pun bisa dilakukan sehingga negara-negara anggota dapat saling membantu.

“One single market dapat menjadi peluang untuk production base yang kuat, meskipun di sektor services (skilled labor) terdapat isu yang cukup sentral terkait perbedaan standar kualitas. Meski begitu, implementasi MEA 2015 bukanlah titik akhir karena ini adalah proses panjang dan masing-masing negara dapat mengembangkan diri sepanjang perjalanan,” tutup Chaly Mah. /**

Advertisements

Menjelang MEA 2015, Siap Tidak Siap Harus Siap

BERBAGAI peluang dan tantangan telah menanti Indonesia. Menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 atau yang sering kita sebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),  tantangan dan peluang adalah dimana berbagai daerah belum banyak merespon, sehingga hal ini dikhawaatirkan akan banyak kesempatan yang hilang.

AEC dipilih oleh negara-negara ASEAN untuk meningkatkan kemakmuran ekonomi rakyatnya secara bersama-sama, mengingat cara ini merupakan opsi yang paling efisien dibandingkan bila upaya peningkatan kemakmuran dilakukan secara unilateral.

Masyarakat Ekonomi ASEAN dalam upaya peningkatkan kemakmuran ekonomi dilakukan melalui penguatan daya saing untuk memenangkan kompetisi global, melalui tahapan integrasi pasar domestik sebagai pasar tunggal dan integrasi basis produksi sehingga pada akhirnya mendorong peningkatan daya saing dalam menembus pasar global. Oleh sebab itu, pencapaian MEA dilakukan melalui empat tahapan strategis, meliputi: pencapaian pasar tunggal dan kesatuan basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing, pertumbuhan ekonomi yang merata dan terintegrasi dengan perekonomian global.

Jika Indonesia tidak siap, dikhawatirkan aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan modal, akan menjadi ancaman daripada peluang.

Dalam menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015,  Indonesia yang merupakan Negara yang populasinya terbesar di kawasan ASEAN ini, sebetulnya memiliki kekuatan ekonomi yang cukup kuat. Selalin kekayaan alam yang luar biasa, terdapat  juga berbagai jenis suku, bahasa dan adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke.  Pertumbuhan ekonomi yang tinggi (4,5%) akan menjadi modal yang penting untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia menuju AEC tahun 2015.

Indonesia perlu meningkatkan kepercayaan diri, bahwa sebetulnya kita memiliki kekuatan untuk bisa bangkit dan terus menjaga kesinambungan stabilitas ekonomi kita. Mau tidak mau, siap atau tidak siap, Indonesia harus menyongsong datangnya AEC 2015, karena AEC 2015 menciptakan peluang serta kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa Indonesia mampu bersaing menghadapi mereka dalam segala hal. /*