Liputan Daerah: Kabupaten Sumedang

Kabupaten Sumedang
Nyaman untuk Singgah dan Wisata Kuliner

sumedang_tugu

SUMEDANG, kota kecil yang bersemboyan Sumedang Tandang Nyandang Kahayang, kini menjadi ibukota Kabupaten Sumedang, terkenal dengan tahu sumedang-nya. Kota yang mejadi tempat pengasingan seorang Srikandi Bangsa, Pahlawan Nasional dari Nangroe Aceh Darussalam, Cut Nya’ Dien di masa penjajahan Belanda, dan makam beliau pun kini menjadi salah satu objek wisata religi di Sumedang.

Zaman dahulu Sumedang terkenal dengan sebutan kerajaan Sumedang Larang. Sebuah kerajaan kecil yang didirikan oleh Baginda Prabu Resi Tajimalela. Beliau memerintah antara 1340-1350 M. Wilayah kerajaan Sumedang Larang waktu itu meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, sampai ke Bandung.

Kerajaan Sumedang Larang sempat dijadikan sasaran mengungsi kerabat Kerajaan Padjajaran beserta pusaka mereka. Sampai akhirnya Kerajaan Padjajaran benar-benar runtuh, Sumedang Larang masih tetap berdiri. Raja terakhir Sumedang Larang adalah Prabu Geusan Ulun yang memerintah pada 1608 M.

Percampuran budaya Sunda dari Bandung dan pengaruh sedikit budaya Jawa Tengah membuat kota Sumedang unik dan sangat menarik untuk dikunjungi. Apalagi bagi kita yang menempuh perjalanan darat ke arah Bandung dari Cirebon, pastilah ingin sekali singgah sebentar dan menikmati keindahan serta kuliner khas Sumedang.

Pembaca, Nuansa Persada edisi Desember 2013 ini mengekspose profil dan potensi “kota tahu” yang beberapa bulan terakhir sempat heboh karena produk senjata rakitan tersebut. Namun sayang, kami tidak sempat bertemu dan wawancara langsung dengan Bupati Sumedang H. Endang Sukandar, karena beliau keburu menghadap Yang Maha Kuasa. Selamat jalan Pak Bupati…!

Selayang Pandang
Mari Singgah… Lahap Tahunya, Tenteng Keranjangnya

Oleh-oleh yang selalu terlintas di benak banyak orang jika mendengar Sumedang, ya apa lagi kalau bukan tahu. Penganan dari kedelai ini ibarat cap abadi’yang pesonanya tersohor ke mana-mana, sama seperti asinan Bogor, mangga Indramayu, atau pisang molen Kota Bandung. Padahal, di balik tahu, masih banyak daya tarik lain di kabupaten ini, seperti objek Cadas Pangeran, Museum Prabu Geusan Ulun, makam pahlawan nasional Cut Nya Dien, air panas Conggeang, kuda renggong, adu domba, dan lain-lain.

JIKA Anda berkunjung ke Sumedang, tentu Anda akan melihat deretan kios dan toko yang menjual tahu sumedang. Si kotak kuning lezat ini sudah sejak lama menggoda setiap pengunjung kota kecil yang berjarak sekitar 45 km sebelah timur Kota Bandung ini untuk singgah, melahap dan menenteng keranjangnya. Sangat boleh jadi, jika mendengar nama Sumedang, yang pertama muncul di benak orang adalah ”tahu” dibanding dengan nama sebuah kabupaten di Jawa Barat. Kenyatannya memang demikian, di luar Jawa Barat, tahu sumedang lebih dikenal dari pada kota Sumedang itu sendiri.

Kabupaten Sumedang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Sumedang secara geografis terletak antara 6512 353 Lintang Selatan dan 107552 153 Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Sumedang sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Indramayu, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Majalengka, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Subang sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut. Luas wilayah Kabupaten Sumedang 1.522,21 km2. Kabupaten Sumedang terbagi menjadi dua puluh enam kecamatan dan 277 desa/kelurahan.

Tahu sumedang merupakan makanan ciri khas dari kabupaten ini. Saking terkenalnya makanan ini tidak hanya terdapat di Sumedang tapi juga dikota-kota lain. Selain tahu, Kabupaten Sumedang, tepatnya di daerah yang disebut Jatinangor, dikenal juga sebagai pusat pendidikan. STPDN, Ikopin, Universitas Wiyata Mukti, dan Unpad adalah empat perguruan tinggi negeri dan swasta yang berada di Jatinangor.

Karena dua image yang sudah begitu melekat di pikiran banyak orang itulah — kota tahu dan kota pendidikan — daerah lain di Kabupaten Sumedang, seperti Cipacing, tidak begitu dikenal banyak orang kecuali sebagai daerah penghasil senapan angin. Namun, sebagai daerah yang dikenal sebagai produsen kerajinan tangan lain, khususnya kerajinan tangan yang terbuat dari kayu, tidak banyak orang yang kenal. Padahal, produk kerajinan kayu dari daerah dengan luas 26,2 kilometer persegi (km²) ini sudah dipasarkan hingga ke mancanegara.

Barang-barang kerajinan yang dihasilkan dari Desa Cipacing, terdiri dari berbagai jenis. Selain wayang golek dengan berbagai tokohnya seperti Semar, Cepot (Bagong), Gareng, Dawala (Petruk), Rama, Shinta, dan lain-lain-di desa yang lokasinya tidak jauh dari pintu tol Cileunyi ini, dibuat juga berbagai kerajinan tangan lain, mulai dari produk khas Jawa Barat seperti satu set alat musik angklung dan kendang, hingga berbagai kerajinan khas daerah lain, seperti panah, tombak, hiasan dinding berbentuk cecak dan kepala orang Indian, hingga patung Asmat.

Pertanian adalah mata pencaharian utama penduduk Kabupaten Sumedang. Daerah ini terkenal dengan hasil padi. Jumlah produksi padi di Sumedang pada dua tahun terakhir ini meningkat hampir 5% per tahun. Peningkatan produksi padi tersebut merupakan capaian pemkab dalam rangka peningkatan produksi beras nasional (P2BN) yang dicanangkan pusat. “Peningkatan produksi padi sebesar 5% dari dua tahun ke belakang dengan panen tiga kali per tahun, dan ditargetkan peningkatan untuk tahun-tahun selanjutnya,” kata Dede Hermasah, Asisten Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Pemkab Sumedang.

Dede menuturkan, produksi padi di Sumedang akan terus digenjot dengan berbagai alasan, misalnya sebagai persiapan hilangnya lahan sawah akibat proyek nasional sehingga stok padi harus mencukupi serta sebagai strategi pemantapan pangan di Sumedang.

Selain itu, pertanian adalah mata pencarian utama penduduk Sumedang. Meski akan kehilangan ribuan hektare lahan sawah, Pemkab sudah mengantisipasi dengan melakukan ekstensifikasi pertanian yang dengan cara menanam padi di kebun. “Masih banyak wilayah di Sumedang yang cocok ditanami padi,” kata Dede.
Dia menambahkan, Sumedang saat ini memproduksi padi sebanyak mencapai 519.603 ton, 488.981 ton di antaranya merupakan padi dan 30.622 ton merupakan padi kebun. Produksi padi menyebar secara merata di semua kecamatan. Kecamatan penghasil padi sawah terbanyak adalah Kecamatan Buahdua dan Conggeang. Sedangkan penghasil padi ladang terbesar berasal dari Kecamatan Jatigede dan Tomo.

Di tempat terpisah, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Sumedang Yoyon Sudianto mengatakan, upaya peningkatan produksi padi tahun ini akan mengalami sedikit kendala karena penyakit blas, dan menyebabkan adanya bercak-bercak pada daun. Infeksi pada daun akan mudah berpindah atau menyebar ke daun lainnya dengan hembusan atau tiupan angin. Bila dibiarkan, penyakit ini akan mengancam padi menjadi puso.
“Harus ada pengendalian penyakit ini mengingat angin saat ini masih kencang karena ada perubahan cuaca. Jika dibiarkan tanpa pengendalian, penyakit ini bisa mengakibatkan puso,” kata Yoyon.

Angin kencang yang sering berhembus kencang terutama di Sumedang mengancam tanaman padi di ratusan hektare lahan sawah. Angin kencang ini bisa membantu menyebarkan penyakit blas. Penyakit blas atau Pyricularia grisea ini menginfeksi bagian daun padi. Di Sumedang, sudah ada 130 hektare lahan sawah, tersebar di 19 kecamatan yang sudah terserang. Penyakit ini bila tidak segera ditangani akan menyebabkan puso.

Produksi pertanian di Sumedang melejit pada tahun 2012. Pencapaian ini seiring dengan ditetapkannya Sumedang sebagai Kabupaten Agrobisnis pada 2011 lalu. Komoditas yang meningkat produksinya meliputi beras, kacang tanah, ubi jalar, talas, jagung, dan kedelai.

“Tahun 2012, ada banyak komoditas pertanian di Sumedang yang mengalami peningkatan produksi. Hal ini setelah dilakukan upaya keras untuk menggenjot pertanian seiring dengan diberlakukannya Sumedang sebagai kabupaten agrobisnis,” kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab Sumedang, Wowo Sutisna beberapa waktu lalu.

Peningkatan komoditas tersebut diantaranya, kedelai lokal meningkat 83 persen menjadi 3,483 ton sehingga ketersediaan stok kedelai di daerah juga meningkat sebanyak 50 persen. Hal ini berdampak pada kondisi pembelian kedelai impor yang menurun yang dapat merugikan petani kedelai lokal di Sumedang. Komoditas lainnya adalah beras yang meningkat sebesar 10% dari jumlah pencapaian produksi padi yang terealisasi sebanyak 704.280 ton GKG.

Menurut Wowo, keberhasilan realisasi tersebut karena adanya dukungan dari APBN dalam bentuk bantuan benih bermutu, penguatan peningkatan SDM petani melalui penguatan teknis pengelolaan usahatani. Sementara untuk komditas kacang tanah dan jagung meningkat sebanyak 80 persen. Peningkatan beberapa komoditas pertanian karena ada bantuan pengadaan bibit dari pemerintah provinsi sehingga luas tanam juga bertambah.

Meski demikian, dua produk lainnya yaitu produk buah-buahan yang menjadi komoditas unggul di Sumedang mengalami penurunan produksi akibat kurangnya pengalokasian dana untuk pengembangan komoditi. Dua produk ini yaitu Jeruk Cikoneng dan Mangga Gedong Gincu hanya mencapai target agribisnis pada tahapan pengembangan saja.

Selain padi dan palawija, kabupaten ini juga kaya akan sayuran. Mulai dari cabe merah, bawang merah sampai dengan cabe rawit terdapat di sana. Produk sayuran terbesar adalah kubis dan ketimun. Kubis banyak terdapat di Kecamatan Asukasari dan Pamulihan. Sedangkan ketimun banyak terdapat di Ujung Jaya dan Sumedang Utara.

Produk pertanian khas lokal di Kabupaten ini adalah ubi cilembu. Ubi ini cukup terkenal bagi mereka yang kerap melakukan perjalanan ke berbagai tempat wisata, baik di sepanjang jalan Ciawi menuju Sukabumi, Ciawi memnuju puncak, atau berbagai jalan menuju lokasi wisata di sekitar Bandung. Ubi ini hanya cocok tumbuh di tanah Kecamatan Tanjung Sari. Selain ubi, daerah Sumedang Selatan juga menghasilkan jeruk cikoneng, sawo semir, salak bongkok, dan pisang. Terakhir, kondisi tanahnya yang berbukit-bukit banyak dimanfaatkan menjadi lahan tanaman obat-obatan sekaligus wisata kesehatan. //**

Batik Sumedang
Geliat Nafira Batik Sumedang

nafira_sumedang

SUMEDANG, daerah sarat peninggalan budaya ini tak hanya dikenal sebagai kota tahu sumedang atau ubi cilembu, tetapi juga memiliki banyak industri kreatif lainnya. Sebut saja Batik Sumedang. Mungkin nama Batik Sumedang tidak terlalu dikenal seperti batik lain di Indonesia. Namun, Batik Sumedang kini mulai diminati pecinta batik.
Batik Sumedang juga disebut dengan Kasumedangan dan memiliki pola ceplokan. Beberapa perajin memiliki kreasi motif sendiri dan terkadang menamai batiknya sesuai dengan tempat maupun kondisi saat itu.

Salah satu pionir perajin Batik Sumedang adalah Ibu Nafisa, pemilik Nafira Collection, yang beralamat di Jl. Cipada No. 20 Sumedang, Tlp (0261) 203873, HP: 0852-21340514. Nafira Colletion yang memiliki workshop di Desa Cijeruk Di atas Cadas Pangeran ini, serta beberapa perajin lainnya yang ada di Sumedang bekerjasama dengan beberapa pihak yang peduli untuk turut mengangkat batik khas daerahnya sebagai salah satu aset budaya Indonesia.

Menurut Nafisa, Batik Sumedang sudah dipopulerkan sejak beberapa tahun lalu. Kepopuleran Batik Sumedang juga karena upaya pemerintah mensosialisasikannya dengan menganjurkan pemakaian seragam batik bagi para pegawai pemerintah daerah.

Dengan batik tulis, cap, dan printing yang dihasilkannya, Nafira Collection mengeluarkan beberapa motif pilihan, seperti Cadas Pangeran, Naga Paksi, Ragam Hias, Teratai, Cangkok Wijayakusumah, Tahu, Kuda Renggong, Sri Manganti, Hui Cilembu, Hanjuang, Binokasi dan Lingga. Beberapa motif yang dibuatnya, ada yang terinspirasi dari salah satu produk unggulan Kabupaten Sumedang yang terkenal, yaitu tahu dan ubi atau hui Cilembu. Namun, sebagian besar terinspirasi dari sejarah kerajaan Geusan Ulun di Sumedang.

Perajin batik lainnya adalah Hj. Ecin yang membuka bengkel batiknya di Desa Cibeureunyeuh Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang dengan nama Dapur Batik An-Nur Sumedang. Kemudian ada Bu Ina dengan Batik Wijaya Kusuma-nya, dan Sanggar Umimay Batik di Tanjungsari, serta Heaven Nissa Fashion di Dusun Neglasari Desa Sukamaju, Sumedang.

Menurut Nafisa, perajin batik di daerah Sumedang dituntut memiliki inovasi untuk mengangkat daerah Sumedang. Pemerintah Kabupaten Sumedang, ujar dia, sangat mendukung dalam pelestarian Batik Sumedang. Bahkan, beberapa motif Batik Sumedang dimasukkan ke dalam Peraturan Daerah.

“Misalnya motif Lingga, motif mengenai pusaka. Juga motif Ragam Hias yang ketika pada zaman Prabu Siliwangi dahulu harus ada di setiap rumah,” ujarnya.
Menurut Nafisa, masing-masing perajin mempunyai kreasi. Namun, tetap mengacu pada Perda. “Kalau di Sumedang batik memang belum terlalu memasyarakat. Apalagi perajinnya hanya sedikit. Bengkel batik hanya ada empat di Sumedang,” jelasnya.

Meski belum banyak diproduksi, Batik Sumedang, kata dia, juga mulai diminati pecinta batik di luar negeri. Ia mengaku, beberapa kali mendapat pesanan dari luar negeri. Ia berharap, pemerintah terus memberi fasilitas untuk perkembangan Batik Sumedang. Terutama dalam fasilitas pembelajaran dan pelatihan memproduksi batik dan memasarkannya. “Sebenarnya bisnis batik lumayan menjanjikan, namun belum terarah pemasarannya,” ujar Nafisa. //**

Wisata
Jelajah Wisata Sumedang

SUMEDANG, adalah kota yang eksentrik dan patut dinikmati di akhir pekan. Banyak sekali obyek wisata alam dan buatan yang bisa kita kunjungi, antara lain:

1. Monumen Lingga

Sebuah tugu berbentuk lingga ini terdapat di pusat kota dan menjadi icon bagi Kabupaten Sumedang. Sedianya monumen ini dibangun untuk mengenang jasa Pangeran Soeriatmaja yang hidup pada 1882 – 1919 M.

2. Museum Prabu Geusan Ulun

Merupakan museum yang dibangun oleh keluarga pewaris kerajaan Sumedang Larang. Dalam museum ini dipamerkan beberapa perabot dan pusaka kuno khas kerajaan tersebut. Di sana kita juga bisa melihat bagaimana dahulu Kerajaan Sumedang Larang berdiri dengan tentram di kota itu. Silsilah raja dan keturunannya juga bisa kita ketahui dari catatan yang dibuat oleh para ahli waris kerajaan.

3. Makam Dayeuh Luhur

Dayeuh luhur adalah sebuah daerah tempat raja terakhir Sumedang Larang memindahkan keratonnya. Di sanalah akhrinya Raja Sumedang itu dimakamkan. Ada makam Prabu Geusan Ulum dan istrinya Harisbaya. Di kompleks pemakaman tersebut juga terdapat makam Kyai Damang Cipaku.

4. Makam Cut Nyak Dien

Pasti kita akan bertanya-tanya mengapa makam pahlawan wanita Aceh itu ada di Sumedang. Nah, ceritanya sewaktu akhir hidupnya Cut Nyak Dien memang ditangkap dan diasingkan oleh Belanda agar tak lagi mengajak orang-orang di daerahnya untuk memberontak. Akhirnya wanita yang gagah berani tersebut diasingkan ke Jawa Barat, dan beliau meninggal serta dimakamkan di Sumedang.

5. Makam Pasarean Gede

Makam ini merupakan salah satu makam bersejarah seorang pemuka agama Islam yang menyiarkan ajaran Islam di Sumedang pada1530. Beliau adalah pangeran santri atau yang bernama asli Kosoemadinata I. Pangeran santri menjalankan syiar Islam saat Sumedang Larang diperintah oleh Kanjeng Ratu Dewi Inten Dewata atau yang terkenal dengan sebutan Ratu Pucuk Umum.

6. Makam Gunung Lingga

Meskipun namanya makam, namun kita bisa menikmati pemandangan alam yang sangat eksotik di sini. Pegunungan yang menawan, terasing, dan gundukan bukit berpadu cekungan lembah menggambarkan lukisan alam nan menawan. Sungguh sebuah penampakan alam nan unik dan patut untuk dikunjungi.

7. Makam Marongge

Sebuah makam di Sumedang yang menyimpan misteri. Di kompleks pemakaman tersebut ada sebuah kisah tentang mbah Gebug yang dikejar oleh musuhnya. Kemudian dia beserta semua saudaranya menghilang di makam tersebut. Sampai sekarang suasana penuh misteri masih dapat kita nikmati di kompleks yang sudah jarang dikunjungi oleh wisatawan tersebut.

8. Air Panas Cipanas Sekarwangi

Cipanas yang ini berbeda dengan istana Cipanas yang ada di Bogor. Sebuah wisata alam yang menghadirkan pemandian air panas alami ini dari Sumedang ini sungguh mengangumkan. Keaslian penampakan alamnya berpadu dengan banyaknya fasilitas yang disediakan bagi para wisatawan. Ketika kita berkunjung ke sana tak perlu lagi memikirkan sarana bermalam karena sudah ada kompleks penginapan bersih yang siap menyambut para tamu agar betah berwisata di sana. Wisata ini terdapat sekitar 15 km arah utara kota Sumedang. Sungguh memikat karena letaknya di bawah kaki Gunung Tampomas, Desa Sekarwangi, Kabupaten Sumedang.

9. Sumber Air Panas Cilengsing

sumedang_wisataair

Letaknya tak jauh dari Cipanas Sekarwangi, yaitu di Desa Cilangkap Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang. Wisata Air Panas Cilengsing ini kandungan belerangnya sangat banyak sehingga seringkali dijadikan alternatif bagi orang-orang untuk menyembuhkan penyakit seperti sakit kulit, capek-capek, dan beberapa penyakit lainnya.

10. Cadas Pangeran

Tugu peringatan berbentuk patung dua orang pembesar zaman penjajahan Belanda yang berada di Sumedang ini ditujukan untuk mengenang jasa Pangeran Kornel. Beliau adalah seorang pangeran yang menentang penjajahan Belanda. Dalam tugu tersebut digambarkan sang Pangeran berdamai dengan guberbur Hindia Belanda Daendles namun jabat tangannya terasa sangat hati-hati dan siaga penuh.

11. Bumper Kiara Payung

Lokasi perkemahan Pramuka ini terletak di wilayah Jatinangor, dekat dengan salah satu sekolah kedinasan di Sumedang. Daerah yang menjadi wewenang Pemda Jabar ini sering dipakai untuk berkemah para Pramuka dan kegiatan jambore daerah maupun tingkat provinsi.

12. Copanteuneun

Memandang sebuah kolam besar yang terbentuk secara alami, akan membuat mata kita menjadi segar dan penuh binar bahagia. Apalagi kalau sampai bisa memancing ikan atau menangkapnya di sana. Wisata yang terletak hanya 5 km dari Kota Sumedang ini memang kaya harmoni. Bisa dijadikan referensi bila ingin memancing di kaki Gunung Tampomas.

13. Kampung Toga

Kalau obyek wisata yang satu ini memang sengaja dibuat untuk memberikan sarana rekreasi keluarga yang murah, meriah, sehat, alami, dan mendidik. Kampung tanaman obat-obatan, begitu kepanjangannya hanya terletak 3 km dari pusat Kota Sumedang. Berkunjung ke sana menyenangkan bagi keluarga beserta anak-anak mereka. //**

Advertisements

Masjid Agung Sumedang

masjidagung_sumedang

KALAU Anda berwisata ke Kota Sumedang, Jawa Barat, jangan hanya memborong tahu pong-nya saja yang tersohor dan memang nikmat. Coba sempatkan mampir pula ke Masjid Agung Sumedang yang bersejarah itu untuk sholat berjamaah.

Arsitektur masjid ini bergaya Cina dengan jumlah tiang seluruhnya 166 buah, 20 buah jendela berukuran tinggi 4 meter dan lebar 1,5 meter. Di bagian depan terdapat ukiran kayu jati sebagai ornamen. Menara adzan utamanya berbentuk limas yang disebut mamale dengan tinggi 35,5 meter.
Di masjid ini terdapat Al-Qur’an berukuran besar terbuat dari kayu yang ditempatkan di depan masjid. Keberadaannya menarik perhatian sejumlah jamaah yang baru kali pertama bertandang, sehingga banyak wisatawan yang menyempatkan diri berfoto di samping Al Qur’an raksasa tersebut. Selain Al Qur’an kayu, di masjid ini juga terdapat tiga buah beduk berukuran panjang 3 meter dan diameter 0,6 meter serta mimbar juga dari kayu jati bertiang 4 yang sudah berumur ratusan tahun.

Masjid yang pernah menjadi pusat penyebaran Islam di Sumedang dan sekitarnya ini semula berada Kampung Sukaraja yang dibangun tahun 1781-1828, pada masa pemerintahan Bupati Sumedang Pangeran Korner. Kemudin pada masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata yang bergelar Pangeran Sugih pada tahun 1836-1882 M, masjid ini dipindahkan ke lokasinya yang sekarang, di atas tanah wakaf dari R. Dewi Siti Aisyah, seluas 6.755 meter persegi.

Pembangunan masjid di lokasi barunya sekarang di mulai tanggal 3 juni 1850 M dan selesai tahun 1854 M dengan Imam pertama Penghulu RH. Muhammad Apandi.

Restorasi Masjid Agung Sumedang pertama kali dilakukan pada tahun 1913 M oleh Pangeran Aria Soeriaatmadja yang bergelar Pangeran Mekah. Selanjutnya tahun 1962, 1982, dan terakhir tahun 2002 seperti terlihat sekarang, yang peresmiannya dilakukan Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan pada 22 April 2004.

Mudah sekali mencapai Masjid Agung Sumedang yang berada di Alun-alun Kota Sumedang, Jalan Prabu Geusan Ulun, Kelurahan Regol Wetan, kecamatan Sumedang Selatan ini. Dari Terminal bus antarkota Sumedang, Anda tinggal naik angkot yang melewati alun-alun dengan ongkos Rp 3.000 per orang. Manggaaa mampir! //**